Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR GENDONG ANAK TETANGGA,TANGAN KAKU
Beberapa hari setelah pulang dari kebun dengan badan penuh lumpur, suasana kembali tenang dan santai. Nggak ada pekerjaan berat, jadi kami hanya duduk-duduk di teras kantor sambil ngobrol dan sesekali membantu warga yang butuh bantuan ringan saja.
Pagi itu, Bu Ani tetangga yang rumahnya nggak jauh dari kantor lewat sambil menggendong anaknya yang masih berumur sekitar satu tahun. Wajahnya kelihatan agak kewalahan, karena sambil gendong dia juga membawa keranjang berisi sayuran dan belanjaan lain.
Begitu melihat kami, dia langsung menyapa. “Wah, kebetulan sekali ketemu kalian. Bisa tolong jagain si Dito sebentar nggak? Saya harus ke warung sebelah ambil barang yang ditinggal, nggak bawa tangan lagi kalau harus bawa dia juga.”
“Boleh kok Bu, serahkan saja ke sini. Kami jagain sampai Ibu pulang,” jawab Sari langsung sigap.
Bu Ani pun menurunkan anaknya pelan-pelan ke pelukan Sari.
“Dito anaknya anteng kok, nggak rewel biasanya. Kalau mau nangis dikasih mainan ini saja. Saya sebentar saja ya, paling sepuluh menit sudah balik.”
“Siap Bu, hati-hati jalannya,” jawab kami serempak.
Setelah Bu Ani pergi, kami semua langsung mengerumuni si kecil yang masih duduk manis di pangkuan Sari. Wajahnya bulat, matanya melotot penasaran melihat wajah-wajah baru di depannya.
“Wah, lucu sekali dia. Lembut dan harum juga badannya,” kata Rara sambil mengelus kepalanya pelan.
Bima dan Ojak yang jarang berurusan dengan anak kecil, cuma bisa menonton dari sambil sambil tersenyum canggung.
“Gimana rasanya ya gendong anak kecil begini? Saya belum pernah sama sekali, takut salah pegang nanti dia menangis,” kata Bima sambil menggaruk kepalanya.
“Kalau saya sih takut nanti dia jatuh atau merasa nggak nyaman. Tangan saya ini besar dan kasar, takutnya nggak pas,” tambah Ojak.
Mendengar itu, Sari dan Rara malah tertawa. “Ya sudah, coba saja pelan-pelan. Nggak susah kok, asalkan pegangnya mantap dan nggak gemetar.”
Karena penasaran, akhirnya Bima memberanikan diri lebih dulu. “Baiklah, saya coba dulu ya. Kalau ada yang salah, langsung bilang saja.”
Dengan hati-hati sekali, dia mengangkat si Dito dari pangkuan Sari. Tangannya bergerak lambat, satu tangan menopang pantatnya dan satu lagi menahan punggungnya. Tapi karena dia terlalu tegang, tangannya jadi kaku banget, nggak bisa bergerak sama sekali.
“Gimana? Sudah nyaman belum?” tanyanya dengan suara pelan dan agak tegang.
“Sudah, tapi jangan kaku begitu dong. Tangannya rileks saja, biar dia juga nyaman,” kata Rara sambil menahan ketawa melihat posisi Bima yang kaku seperti patung.
Bima mencoba merilekskan badannya, tapi makin dipikir makin tegang. Tangannya terasa berat, padahal anak itu cuma beratnya sekitar tujuh atau delapan kilogram saja. Dalam waktu lima menit saja, tangannya sudah mulai terasa pegal dan gemetar sedikit.
“Waduh… kok rasanya makin berat ya? Padahal cuma sebentar,” keluh Bima sambil memegang erat-erat, takut sampai terlepas.
“Karena kamu tegang terus, ototnya jadi kerja keras. Coba tarik napas panjang, rileks sedikit,” saran Sari.
Belum sampai sepuluh menit, Bima sudah menyerah. “Sudah, sudah, saya nggak sanggup lagi. Tangan saya rasanya mau kaku dan mati rasa nih! Lebih baik kamu yang pegang lagi saja.”
Dia pun menyerahkan si Dito kembali ke Sari dengan napas terengah-engah, seolah baru saja mengangkat karung beras yang beratnya puluhan kilogram.
Giliran Ojak yang penasaran melihat tingkah Bima. “Kamu ini lemah sekali sih! Lihat saja saya, pasti lebih enak dan nggak kaku.”
Dia maju dengan percaya diri, lalu mengangkat si Dito dengan gaya yang lebih santai. Tapi sama saja nasibnya. Awalnya dia bilang ringan, tapi setelah dua menit, posisinya mulai berubah. Badannya mulai membungkuk sedikit, bahunya terangkat naik, dan tangannya perlahan-lahan mengeras sampai nggak bisa ditekuk lagi.
“Wah… kok benar juga rasanya makin lama makin berat ya? Padahal kelihatan kecil saja,” gumamnya sambil memegang lebih erat.
“Kan sudah dibilang, jangan dipikirkan terus. Anggap saja dia seperti bantal empuk, bukan beban berat,” ledek Bima yang sudah pulih tenaganya.
Ojak mencoba mengikuti saran itu, tapi tetap saja gagal. Karena dia orangnya agak gempal dan biasa pakai tenaga kasar, pegangannya jadi terlalu kaku dan kencang. Si Dito yang tadinya diam saja, mulai menggerak-gerakkan badannya seolah merasa nggak nyaman.
“Waduh, jangan-jangan saya pegang terlalu kuat sampai dia nggak bisa napas?” kata Ojak panik, tapi tangannya malah makin mengeras karena bingung.
“Sudah, sudah, kembalikan saja ke sini sebelum dia mulai menangis dan kamu malah pingsan karena tangan kaku,” kata Rara sambil mengambil alih si Dito kembali dengan lembut.
Begitu tangannya kosong, Ojak langsung menggerak-gerakkan kedua tangannya berulang kali. “Aduh… rasanya kaku banget sampai ke siku. Seolah-olah tangan saya sudah jadi kayu keras, nggak bisa ditekuk lagi. Padahal cuma dipegang lima menit saja!”
Sari dan Rara hanya bisa tertawa melihat kelakuan kedua pemuda itu. “Kalian ini lucu sekali. Kerja angkat kayu, besi, sampai karung singkong yang beratnya dua kali lipat saja nggak mengeluh, tapi cuma gendong anak kecil sebentar saja sudah kaku dan lemas.”
“Beda rasanya dong! Kalau angkat barang, kita tahu cara pegangnya. Kalau gendong anak, takut salah pegang, takut jatuh, jadinya tegang terus. Lama-lama ototnya jadi kaku sendiri,” jawab Bima sambil terus menggosok lengannya yang masih terasa pegal.
Mereka pun duduk santai lagi, melihat Sari dan Rara yang bisa menggendong si Dito dengan santai sambil mengayun-ayunkan kaki, bahkan sambil mengobrol dan minum air tanpa terlihat lelah sedikit pun.
“Lihat saja mereka, bisa santai saja. Kalau sudah biasa, memang nggak terasa berat. Kalau baru pertama kali dan terlalu dipikirkan, pasti jadi begini,” kata Ojak sambil menggeleng-geleng kepala.
Belum lama kemudian, Bu Ani kembali datang sambil tersenyum. “Wah, terima kasih banyak ya sudah jagain. Nggak rewelkan dia?”
“Nggak sama sekali Bu, dia anaknya baik sekali. Cuma kami berdua ini yang malah kaku tangannya karena baru pertama kali coba gendong,” jawab Bima sambil menunjuk ke dirinya dan Ojak, bikin Bu Ani tertawa mendengarnya.
"Hahaha! Memang begitu rasanya kalau baru pertama kali. Lama-lama terbiasa kok, nggak akan terasa berat lagi,” kata Bu Ani sambil menerima anaknya kembali.
Setelah Bu Ani pergi, mereka masih saja membahas kejadian tadi. Bima dan Ojak terus menggerak-gerakkan tangannya berulang kali supaya rasa kaku itu hilang.
“Besok-besok kalau mau gendong anak lagi, saya harus belajar cara rileks dulu. Jangan sampai tegang terus, nanti tangan jadi kaku kayak orang tua yang sakit sendi,” kata Bima sambil tertawa sendiri.
“Betul juga. Tadi saya kira bisa saja, ternyata lebih susah dari mengangkat batang pohon yang beratnya dua kali lipat. Setidaknya hari ini dapat pelajaran baru: gendong anak itu butuh kelembutan, bukan cuma tenaga besar saja,” tambah Ojak.
Sari menyimpulkan sambil tersenyum. “Iya, itulah bedanya. Kalau barang cukup tenaga, kalau manusia butuh hati dan ketenangan. Kalau kita tegang, yang dipegang pun ikut merasa nggak nyaman.”
Hari itu berakhir dengan cerita lucu lagi. Bukan karena ada hal yang rusak atau salah paham, tapi karena pengalaman baru yang bikin sadar bahwa hal yang kelihatan mudah belum tentu semudah yang dibayangkan apalagi kalau terlalu tegang dan dipikirkan berlebihan.
Dan sejak hari itu, kalau ada yang menyebut soal menggendong, Bima dan Ojak selalu jadi bahan ledekan karena tangannya yang sempat kaku hanya karena menjaga anak kecil sebentar.