NovelToon NovelToon
Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Status: tamat
Genre:Romansa / Cinta Murni / Cintapertama / Tamat
Popularitas:27.2k
Nilai: 5
Nama Author: She_Na

Awal hubungan yang berbeda agama itu kini telah bersatu. Abhiyasa dan Hani sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan setelah ikrar janji suci pernikahan mereka diucapkan.


"Aku menyesal."

Kalimat itu diucapkan oleh Hani ketika sedang duduk berdua dengan suaminya.

Kaget? Tentu saja Abhiyasa kaget mendengar istrinya mengatakan menyesal ketika bersamanya.

Bagaimana kehidupan keluarga Abhiyasa dan Hani selanjutnya?

Apakah keluarga mereka akan tetap bahagia?

Atau mungkin kehidupan rumah tangga mereka tidak semulus yang mereka inginkan?

Apalagi putra mereka didiagnosa memiliki penyakit yang membuat mereka sangat khawatir.

Bisakah mereka menghadapi cobaan-cobaan yang hadir dalam rumah tangga mereka?

Ikuti selalu kisah menarik dari kelanjutan cerita kehidupan rumah tangga Abhiyasa dan Hani!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon She_Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Anugerah

Kini Hani ditemani oleh Abhiyasa, suaminya, memasuki ruangan dokter yang bertuliskan dr. Vina Wicaksana SpOG di pintu ruangan tersebut.

Dokter Vina menyambut dengan senyumnya ketika Hani memasuki ruangannya. Dia sudah mengetahui keadaan Hani dari status medis rumah sakit tersebut yang dikirimkan oleh perawat padanya.

"Silahkan Bu Hani berbaring di sini, saya akan memeriksa Ibu," ucap dokter Vina sambil menunjuk tempat tidur yang digunakan untuk memeriksa.

Hani menoleh ke arah Abhiyasa, ada keresahan dalam matanya. Abhiyasa tersenyum dan menggapai tangan istrinya, kemudian dia menuntunnya menuju tempat tidur tersebut.

Hani memang tidak mengetahui apa maksud dari pemeriksaan tersebut. Dia benar-benar khawatir jika ada masalah serius dengan kandungannya. Dia tidak berpikir tentang kehamilan, karena sudah sejak lama kehamilan itu tidak datang padanya, meskipun dia dan Abhiyasa sudah berusaha agar bisa segera hamil. Karena itulah dia mengira jika ada masalah dengan kandungannya.

Terlihat jelas ketakutan dan keresahan dari wajah Hani. Bahkan kini dia berusaha untuk tidak mendengar apa pun dengan larut dalam pikirannya sendiri.

Abhiyasa berada di samping istrinya sambil memegang erat tangan istrinya agar istrinya itu tidak lagi resah dan takut dengan pemeriksaan tersebut.

Dokter Vina mulai memeriksa keadaan Hani, kemudian dia menggunakan alat USG untuk memeriksa kandungannya. Bibir dokter Vina melengkung ke atas ketika melihat layar yang terhubung pada alat USG tersebut.

"Selamat Pak, Bu, usia kandungannya tiga minggu, masih sangat rentan sekali. Sebaiknya Ibu beristirahat total terlebih dahulu hingga badan Ibu fit kembali," tutur dokter Vina sambil tersenyum pada Hani dan Abhiyasa.

"Hamil? Dua minggu? Saya hamil dok?" tanya Hani seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Dokter Vina tersenyum padanya. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,

"Benar Bu, Ibu sedang hamil. Sebaiknya Ibu lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan tubuh Ibu. Jangan memforsir tenaga Ibu karena usia kandungannya masih sangat rentan, apa lagi Ibu semalam mengalami pingsan, jadi lebih baik Ibu beristirahat total terlebih dahulu."

Mata Hani berkaca-kaca mendengar penjelasan dari dokter Vina. Dia memandangi layar yang memperlihatkan janin yang ada dalam kandungannya itu dengan perasaan haru dan tidak percaya.

Setelah itu Hani dan Abhiyasa berkonsultasi dengan dokter Vina mengenai kandungannya. Mereka berdua sangat antusias dengan kehadiran bayi yang ada dalam kandungan Hani saat ini. Mereka berdua sangat bahagia dan merasa Allah telah memberikan anugerah pada mereka setelah kesulitan dan ujian yang diberikan Allah pada mereka.

Setelah pemeriksaan selesai, Hani diperbolehkan pulang saat itu juga. Abhiyasa membeli obat di apotek klinik tersebut sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter Vina padanya.

Kini Hani dan Abhiyasa dalam perjalanan pulang setelah mendapatkan obat tersebut. Di dalam mobil, Hani dengan bahagianya mengusap pelan perutnya. Bahkan senyum bahagianya itu tidak pernah pudar dari bibirnya.

Abhiyasa sedikit melirik ke arah istrinya yang duduk di sampingnya. Dia pun tersenyum bahagia melihat kebahagiaan istrinya yang terpancar saat ini. Dalam hatinya mengucap syukur sebanyak-banyaknya atas anugerah yang diberikan oleh Allah pada keluarganya.

"Honey, sebentar lagi keluarga kita akan bertambah. Pasti Aksa sangat senang mendengar berita jika dia akan segera memiliki adik," ucap Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.

Hani menoleh ke arah suaminya. Dia tersenyum penuh kebahagiaan, matanya berbinar dan berkata,

"Aku juga sangat senang sekali. Kehamilan ini sudah sangat lama ku nantikan. Apa kamu tidak senang Sayang?"

"Tentu saja aku sangat senang sekali. Bukankah kamu tau jika aku sudah sangat lama menantikan kehadiran seorang bayi dalam rumah kita?" tanya Abhiyasa dengan mata yang berbinar diiringi dengan senyuman kebahagiaannya.

"Apa ini semacam anugerah dari Allah setelah ujian yang diberikannya untuk kita?" tanya Hani dengan serius memandang suaminya.

Abhiyasa yang masih fokus pada kemudi dan jalanan di depannya, kini tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya. Kemudian dia berkata,

"Allah selalu tau apa yang terbaik bagi umatnya. Kita harus selalu percaya, bertawakal pada Nya dan tidak boleh berburuk dangka pada Nya."

Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum menanggapi penuturan suaminya meskipun suaminya tidak melihat ke arahnya saat ini. Dia kembali sibuk mengusap-usap perutnya, mencurahkan rasa syukur dan kasih sayang pada bayi yang masih ada dalam kandungannya.

"Sayang, kali ini bersiap-siaplah untuk memberikan semua yang diinginkan oleh anakmu ini. Aku ingin ngidam yang enak-enak dan mahal-mahal. Nanti, pasti kamu akan merasakan indahnya direpotkan oleh istri yang sedang ngidam," ujar Hani sambil tersenyum pada suaminya.

Tiba-tiba saja mobil tersebut berhenti, tepat bersamaan dengan lampu lalu lintas yang menyala merah serta perkataan Hani yang mengagetkan Abhiyasa.

Abhiyasa menoleh ke arah istrinya dan tersenyum padanya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya dan berkata,

"Aku pasti akan dengan senang hati melakukannya Sayang. Tapi... ini bukan wujud dari balas dendam ketika hamil Aksa bukan?"

"Maksud kamu aku akan balas dendam karena pada saat hamil Aksa aku gak ngidam sama sekali?" tanya Hani dengan mengerucutkan bibirnya.

Abhiyasa terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini. Dia mencubit gemas bibir istrinya yang mengerucut seraya berkata,

"Apa ini tandanya bibir ini menggodaku dan ingin mendapatkan ciuman dariku?"

Sontak saja tangan Hani mencoba melepaskan tangan Abhiyasa dari bibirnya. Sayangnya Abhiyasa tidak mau melepaskannya. Dia masih saja menjahili istrinya dan terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini.

"Itu lampunya sudah hijau," ucap Hani dengan suara yang tidak jelas karena bibirnya yang masih dibungkam oleh tangan Abhiyasa.

Seketika tangan Abhiyasa lepas dari bibir Hani. Tangannya segera berpindah pada kemudi, memegangnya untuk bersiap melajukan mobilnya.

Dia menghela nafasnya dan menatap istrinya dengan seringainya seolah akan melakukan sesuatu padanya.

Hani tertawa melihat reaksi suaminya yang sangat gampang sekali dibohonginya. Abhiyasa hanya tersenyum melihat istrinya yang terlihat sangat bahagia saat ini. Bahkan ketika mobil itu kembali melaju di saat lamu hijau menyala, Hani masih saja tertawa, dia bahagia telah bisa mengelabuhi suaminya yang selalu menjahilinya.

Setelah beberapa saat, mobil mereka memasuki halaman rumah yang mereka tempati selama ini. Tampak Aksa bersama dengan kedua kakek dan neneknya sedang bermain di halaman rumah mereka.

Aksa berlari menghampiri mama dan papanya diikuti oleh kedua kakek dan neneknya yang berjalan cepat mengejar cucu mereka.

"Mama... Papa...!" seru Aksa sambil berlari ingin memeluk tubuh mamanya.

Hani dan Abhiyasa menunduk untuk menyambut putra kesayangan mereka. Tubuh Aksa pun berada di tengah-tengah tubuh Hani dan Abhiyasa yang merapat untuk menyambut pelukan putra mereka.

Aksa sedikit merenggangkan pelukannya. Dia menatap mamanya seraya berkata,

"Mama baik-baik saja kan?"

"Tentu saja Mama baik-baik saja," jawab Hani sambil tersenyum pada putra kesayangannya.

"Bagaimana dengan Aksa? Apa jagoan Papa ini baik-baik saja semalaman tidak bersama Mama dan Papa?" tanya Abhiyasa dengan tatapan menyelidik pada putra kesayangannya.

"Aksa baik-baik saja dong. Aksa kan kuat. Kalau Mama bagaimana? Kenapa Mama kemarin bisa pingsan Ma, Pa?" tanya Aksa kembali pada kedua orang tuanya.

Hani mengambil tangan putranya dan meletakkannya pada perutnya. Kemudian dia berkata,

"Itu semua karena ada sesuatu di dalam sini?"

Dahi Aksa mengernyit, dia terlihat sedang bingung saat ini. Dengan menampakkan wajah polosnya itu dia pun berkata,

"Memangnya di dalam perut Mama ada apanya?"

1
Ghina Azfa
karya yang bagus 👍👍
王贝瑞: Mampir juga kak ke Biru si ketos bad boy dan Love My Stepbrother😄
total 1 replies
Zaenab Usman 💓
luar biasa
ZaeV92
bintang lima buat karya keren nya kak
dek faaa
semoga pernikahan keduanya berkahir bahagia
👑Nara 👩‍❤️‍💋‍👨 Hansen👑
semangat kak naaa
BabyCat
ya Allah neng. aku kira menyesal kenapa. si eneng mah ada-ada aja😂😂
She_Na: Hehehe... makasih udah baca karyaku kak😁🥰💜
total 1 replies
Fahri Kiyozie
lanjut kk ceritanya bagus
She_Na: 🥰 makasih ya kak. ikuti terus lanjutan ceritanya😍💜
total 1 replies
Lina Zascia Amandia
Karya baru nih..... smg sukses She Na
She_Na: makasih kak🥰😍😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!