NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Ini bukan urusan Mama," ucap Dixon dengan suara bariton yang teramat dingin dan datar.

Rahang tegas pria berusia 39 tahun itu mengeras sempurna, menolak memberikan penjelasan apa pun kepada sang ibu. Tatapan elangnya sekilas beralih pada Cia, memancarkan aura dominasi yang sangat pekat, seolah-olah menegaskan bahwa urusan di antara mereka berdua belum selesai.

Suasana di depan konter kue itu menjadi sangat canggung dan mencekam. Cia yang merasa atmosfer semakin menjepitnya, langsung mengambil kesempatan ini untuk mundur dari pusaran ketegangan keluarga Alessandro. Dengan wajah yang sengaja dibuat pucat, gugup, dan penuh kepasrahan yang menggemaskan, ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"M-Maaf, Tuan, Nyonya... Saya... saya permisi ke belakang dulu untuk mengambil sisa pesanan Nyonya," cicit Cia dengan suara bergetar luhur, berakting seolah dirinya hanyalah pegawai rendahan yang ketakutan setengah mati terjebak di antara orang-orang berkuasa.

Namun, baru saja Cia hendak membalikkan badannya, pintu kaca toko kue kembali berdenting nyaring.

Sesosok pria muda bertubuh jangkung dengan setelan kasual yang rapi melangkah masuk. Pria itu adalah salah satu pelanggan setia toko kue tersebut, seorang pengusaha muda lokal yang beberapa kali terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Cia sejak gadis itu mulai bekerja di sana.

Mata pria itu seketika berbinar cerah begitu menangkap sosok Cia di balik konter. Tanpa memedulikan keberadaan Dixon dan Elena yang berdiri tegak di sana, pria itu melangkah lebar mendekati meja kasir dengan senyum lebar yang penuh harap.

"Hai, Valencia! Kebetulan sekali kamu yang jaga hari ini," sapa pria itu dengan nada suara yang sangat ramah dan hangat. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat mata Cia. "Oh ya, soal pertanyaan saya tempo hari... bagaimana? Apakah kamu mau mempertimbangkan dan menerima lamaran pernikahan saya?"

Deg.

Kata 'lamaran' yang lolos dari bibir pelanggan pria itu seketika memotong seluruh pasokan udara di dalam ruangan.

Di tempatnya berdiri, tubuh Dixon Luca Alessandro seketika menegang kaku. Sepasang mata elangnya yang tadi dingin mendadak menggelap, dipenuhi kilat kemarahan yang luar biasa dahsyat. Dada bidangnya bergemuruh hebat, dan tangannya yang bertumpu di atas etalase kaca mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam.

Dixon merasakan gelombang panas yang membakar ulu hatinya—sebuah rasa cemburu dan posesif yang teramat liar dan tak terkendali. “Lamaran? Gadis ini... wanita yang kesuciannya telah kuambil, berani mempertimbangkan lamaran pria lain di depan mataku?!” geram Dixon dalam hati.

Pria berkuasa itu melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak dengan pelanggan pria tersebut. Dari tenggorokan Dixon, terdengar suara geraman rendah yang sangat dalam dan mengancam, bagai seekor singa jantan yang siap menerkam siapa saja yang berani menyentuh wilayah kekuasaannya. Aura membunuh yang dipancarkannya begitu pekat, membuat toko kue yang semula harum manis mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang siap meledak.

Nyonya Elena yang berdiri di samping putranya menyaksikan seluruh perubahan drastis itu dengan mata membelalak sempurna. Ia menangkap dengan sangat jelas bagaimana putranya yang selama belasan tahun ini sedingin es dan tak tersentuh wanita, kini justru tampak seperti pria yang kehilangan akal sehat akibat cemburu buta hanya karena mendengar pelayan toko itu dilamar pria lain.

Elena menyunggingkan senyum misterius di sudut bibirnya. “Menarik... sangat menarik,” batin sang matriark, menyadari bahwa ia baru saja menemukan kelemahan terbesar dari putra tunggalnya yang tak terkalahkan.

Melihat kilat amarah yang membakar sepasang mata elang Dixon, Cia tahu kartu as lainnya telah jatuh tepat di tangannya. Pelanggan pria yang tiba-tiba datang melamar ini adalah amunisi terbaik yang dikirimkan takdir. Di balik wajahnya yang tampak bingung dan bimbang, batin Cia bersorak puas. Permainan psikologis ini harus dinaikkan ke tingkat yang paling ekstrem.

Cia sengaja menggigit bibir bawahnya pelan, menatap pelanggan pria itu dengan tatapan yang dibuat seolah-olah ia sedang menimang keputusan besar dalam hidupnya.

"Soal lamaran itu..." Cia jeda sejenak, sengaja mencuri pandang ke arah Dixon sebelum kembali menatap pelanggan itu dengan senyum manis yang dipaksakan. "Aku rasa... tawaranmu tidak buruk. Menikah dan membangun rumah tangga sepertinya pilihan yang bagus untuk masa depanku sekarang."

Brak!

Dixon tidak lagi mampu menahan lahar cemburu yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Pria berusia 39 tahun itu menghentakkan telapak tangannya ke atas meja konter marmer dengan sangat keras, membuat deretan toples kue di dekatnya bergetar nyaring.

"Dia tidak akan pernah menerima lamaran darimu! Keluar dari sini sekarang juga!" bentak Dixon dengan suara bariton yang menggelegar, sarat akan otoritas mutlak yang tak terbantahkan.

Aura membunuh yang menguar dari tubuh tegap Dixon membuat pelanggan pria itu tersentak mundur seketika. Nyali pengusaha muda itu menciut habis melihat tatapan mata Dixon yang siap mencabik-cabiknya hidup-hidup. Tanpa menunggu hitungan ketiga, pria itu langsung membalikkan badan dan lari terbirit-birit keluar dari toko kue, menyelamatkan diri dari amukan sang monster.

Setelah pria itu pergi, Cia segera melipat kedua tangannya di dada. Ia memasang wajah yang sangat kesal, cemberut, dan menatap Dixon dengan pandangan menantang—sebuah akting berani yang sengaja ia tunjukkan untuk memancing reaksi paling liar dari pria itu.

"Kenapa Tuan selalu ikut campur dalam hidup saya?!" protes Cia dengan nada suara yang meninggi dan kesal. "Pertama, Tuan memecat saya dari perusahaan. Semalam, Tuan mendadak muncul jadi pahlawan. Dan sekarang? Tuan mengusir pria yang berniat baik pada saya! Saya ini wanita biasa, Tuan Dixon. Saya juga ingin menikah, punya suami, dan hidup tenang. Apa itu salah?!"

"Valencia, jaga ucapanmu!" desis Dixon, rahangnya mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang. Jarak di antara mereka terkikis habis saat Dixon mencondongkan tubuhnya ke depan wajah Cia. "Kau pikir kau bisa menikah dengan pria lain setelah apa yang terjadi di antara kita, hm?!"

"Memangnya kenapa kalau saya menikah dengan orang lain? Hubungan kita sudah selesai sejak saya keluar dari kantor Tuan!" tantang Cia lagi, membusungkan dadanya menolak mundur.

Perdebatan panas itu terjadi begitu cepat, membakar atmosfer toko kue menjadi sangat pekat. Dixon yang sudah kehilangan seluruh akal sehat dan kendali dirinya akibat ego dan rasa kepemilikan purba yang tersulut, akhirnya mengeluarkan kalimat yang selama ini terkunci rapat di dasar hatinya.

"Kau tidak akan menikah dengan bajingan mana pun, Valencia!" geram Dixon rendah, mengunci tatapan matanya langsung ke manik mata Cia. "Karena aku... aku sendiri yang akan menikahimu!"

Deg.

Kata-kata mutlak itu menggema kuat, seketika membungkam seluruh ruangan. Di sudut meja, Nyonya Elena yang sejak tadi menyaksikan perdebatan panas itu langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak sempurna di balik rasa syok yang teramat sangat. Putranya yang sedingin es, kini melamar seorang pelayan toko dengan cara yang begitu agresif di depan matanya sendiri.

Sementara itu, di balik wajah Cia yang pura-pura terkejut dan membeku, sebuah senyuman iblis yang teramat puas terukir di dalam hatinya. “Target terkunci. Selamat datang di nerakaku, Dixon Luca Alessandro.”

1
Hasti Asti
semangat terus kak berkata, cerita kamu bagus
sryharty
sebelum pembalasan kamu terendus Amora,,kamu harus bikin duda karatan bertekuk lutut sama kamu cia,,biar si duda ga bisa jauh2 dari kamu,,kalo jauh dari kamu langsung gila,,jadi nanti si Amora tidak bisa banyak tingkah
aku
kudukung pembalasanmu dg 🌹 go cia go!!
aku
aduh aq juga tercia cia nih 😁 gasss ciaaaa 😃
Hasti Asti
lanjut kak😍
sryharty
kenapa seh ka up nya irit banget
Shion Hin
hohoho mulai seru 🔥🔥🔥
Marsya
wah mw nambah bacanya lagi,klanjutannya pasti lbih seru🤭🤭🤭🤭
Shion Hin
ayo kak semangat... 🔥🔥🔥🙏
sryharty
kenapa up nya cuma satu2 yah
Yuyun Suprapti
crazy up dong kk thor🤭💪
Shion Hin
😍
Rahman Hayati
wow
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
sryharty
ka doubel up lah
sryharty
😁 pokonya kamu harus jual mahal cia,,jangan kejar2 duda karatan
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
Rahman Hayati
jgn terlalu tua lah Thor yg sedang sedang saja umurnya
sryharty
semoga sampai selesai alurnya masih bagus
sryharty
si duda karatan udah mulai Ter cia2 neh
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
Shion Hin
huaaaa.... gk sabar deh ... 🥺
sryharty
pasti nanti cia hamil,,bawa kabur nanti anaknya cia
biar si duda karatan kelabakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!