~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Malam semakin larut di Pondok Pesantren Al-Falah, meninggalkan kesunyian yang kian pekat membungkus rumah ndalem. Setelah tangis hancurnya mereda di depan Gus Zayyan, Nayanika hanya terduduk diam di tepi ranjang kamar perawatan. Kata-kata Zayyan yang berjanji akan menjadi pelindung dan rumahnya masih terngiang-ngiang, beradu dengan rasa sesak akibat ditinggal kedua orang tuanya ke luar negeri.
Namun, di tengah kemelut hatinya, jiwa keras kepala anak Jakarta di dalam diri Naya menolak untuk larut dalam kenyamanan ndalem. Ia menatap gamis hitam milik Bu Nyai yang longgar di tubuhnya, lalu menatap pintu jati yang menghubungkan kamarnya dengan bagian rumah utama.
Gue nggak bisa tinggal di sini, batin Naya ketat. Kalau gue menetap di ndalem, sandiwara apa lagi yang harus gue hadapi di depan santri lain? Gue ke sini buat pembuktian, bukan buat bersembunyi di balik ketiak Gus Kaku.
Sekitar pukul tiga subuh, saat seisi ndalem dan seluruh barak pesantren masih terlelap dalam mimpi, Naya memantapkan niatnya. Dengan gerakan super senyap, ia mengemas pakaiannya, memastikan plester bekas infusnya tertutup rapat oleh manset, lalu menyelinap keluar melalui pintu samping ndalem. Udara malam yang sedingin es menusuk kulitnya, namun Naya terus melangkah tertatih membelah kegelapan, menyusuri jalan setapak menuju kompleks asrama putri biasa. Ia menyelinap masuk ke kamarnya sebelum selawat tarhim berkumandang, merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipisnya yang keras tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Mbak Naya? Astagfirullah, Mbak Naya sudah kembali?!"
Sebuah bisikan panik yang teramat familier menyentak kesadaran Naya. Ia membuka matanya yang terasa berat, mendapati wajah Aliyah sudah berada beberapa sentimeter di atas wajahnya. Di sebelah Aliyah, Sarah berdiri dengan mata melotot lebar sembari memegangi gayung mandi.
Naya mengucek matanya, berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih terasa agak kaku. "Apasih, Al, Sar... Pagi-pagi udah hobi banget bikin kaget."
"Mbak Naya... kemarin pingsan lama sekali, kami semua cemas luar biasa," ujar Aliyah, suaranya pelan dan teramat sopan, khas tutur kata santriwati yang menjaga adab. "Kami ber doa sejak kemarin siang, Mbak. Pengurus bilang Mbak Naya dibawa ke Poskestren pusat karena dehidrasi berat. Tapi pas kami cek ke sana tadi malam, kamar Poskestren kosong kering. Mbak Naya sebenarnya dirawat di mana?"
Naya berdeham kaku, membetulkan posisi duduknya sembari memutar otak mencari alasan yang masuk akal. Gengsinya menolak keras untuk membocorkan bahwa ia baru saja bermalam di kamar eksklusif rumah ndalem, apalagi statusnya yang sudah menjadi istri siri dari Gus idola mereka.
"Oh... itu. Gue... eh, saya dipindahin ke ruang perawatan dalam, Sar, Al. Katanya obatnya lebih lengkap di sana. Karena gue lemes banget, jadi nggak sempat ngabarin kalian," dusta Naya, mencoba terdengar sesantai mungkin sembari menarik ujung mansetnya agar bekas tusukan jarum infus premium tidak terlihat.
"Alhamdulillah kalau begitu, Mbak Naya," sahut Sarah, mengembuskan napas lega. Namun, sedetik kemudian, Sarah mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada yang teramat heboh. "Tapi, Mbak Naya tahu tidak? Subuh ini seisi asrama putri gempar luar biasa! Benar-benar gempar, Mbak!"
Naya mengerutkan keningnya, berpura-pura bingung. "Gempar kenapa?"
"Ustadzah Maryam dan Fida, Mbak!" potong Aliyah dengan suara yang sedikit bergetar karena takjub. "Kemarin sore, setelah jamaah ashar, Ustadzah Maryam terlihat mengemas seluruh kitab dan pakaiannya ke dalam taksi dengan wajah menangis sesenggukan. Katanya, beliau dipecat secara tidak hormat oleh Mbah Yai Usman langsung setelah beliau pulang dari luar negeri!"
"Betul, Mbak Naya!" timpal Sarah bersemangat, matanya berbinar-binar. "Tidak hanya itu, Fida juga kena takzir pengusiran! Tadi subuh, orang tuanya datang dari kota seberang menggunakan mobil pribadi untuk menjemputnya paksa. Semua santri senior tidak ada yang berani bersuara. Kabarnya, mereka berdua kena murka besar dari ndalem karena masalah pelanggaran disiplin berat. Mbak Naya tahu sesuatu tidak tentang hal ini? Kan kejadiannya tepat setelah Mbak Naya pingsan di halaman?"
Naya terdiam sejenak. Gema suara Gus Zayyan di ruang sidang kemarin kembali berputar di kepalanya. "Dia adalah istri saya, dunia dan akhirat saya. Siapa pun yang menyentuhnya, berurusan dengan saya."
Menahan debaran janggal di dadanya, Naya menggelengkan kepala dengan ekspresi sedatar mungkin. "Enggak tahu. Gue... saya kan pingsan, mana tahu urusan begituan. Mungkin mereka emang kena karma instan aja gara-gara hobi menindas orang lain."
Aliyah menatap Naya dengan pandangan jeli, menyadari ada yang aneh dengan ketenangan sahabat kotanya itu, namun adab santrinya menahan Aliyah untuk tidak mendesak lebih jauh. "Nggih sudah, Mbak Naya. Yang penting Mbak Naya sudah sehat. Mari bersiap, sebentar lagi jam kajian kitab di madrasah dimulai. Pengganti Ustadzah Maryam kabarnya akan langsung masuk hari ini."
Siang harinya, matahari kembali naik tegak di atas langit Al-Falah. Naya berjalan diapit oleh Sarah dan Aliyah menyusuri koridor panjang menuju aula madrasah putri. Suasana di sepanjang koridor terasa jauh lebih tenang tanpa adanya lirikan sinis dari Fida atau bayangan intimidasi dari Ustadzah Maryam. Santri-santri lain yang biasanya ikut menjauhi Naya, kini tampak bersikap lebih segan.
"Mbak Naya, kitab Safinatun Najah-nya tidak ketinggalan, kan?" tanya Aliyah lembut sembari merapikan letak kitab di dekapannya.
"Aman, Al. Udah gue bawa kok di tas," jawab Naya santai.
Namun, langkah kaki mereka mendadak melambat saat dari arah berlawanan di ujung koridor, sesosok pria jangkung dengan jubah abu-abu bersih dan peci hitam melangkah dengan wibawa yang teramat pekat.
Gus Zayyan.
Suasana koridor yang tadinya riuh oleh bisikan santriwati seketika senyap. Semua santriwati yang berpapasan langsung menepi, menundukkan kepala dalam-dalam demi menjaga pandangan dan memberikan jalan bagi sang putra mahkota pesantren.
Jantung Naya mendadak berdegup maraton. Sontak, memori tentang bagaimana hangatnya genggaman tangan Zayyan semalam saat berlutut di depannya membuat wajah Naya kembali memanas. lIa sempat ingin berbalik arah, namun posisi Sarah dan Aliyah yang berada di sisi kiri dan kanannya mengunci pergerakannya.
Zayyan terus melangkah maju. Dari balik lensa kacamatanya, sepasang mata elang pria itu langsung mengunci sosok Naya. Ada keterkejutan yang samar di wajah kaku Zayyan saat menyadari bahwa wanita yang beberapa jam lalu dicarinya di kamar perawatan ndalem, kini justru sudah berdiri di sini, kembali mengenakan seragam santri biasa di asrama umum.
Ketika jarak mereka hanya tersisa tiga langkah—jarak aman yang pernah disepakati Zayyan dulu—Zayyan menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan ketiga santriwati itu.
Suasana mendadak terasa mencekam. Sarah dan Aliyah segera menundukkan kepala mereka dalam-dalam, merapatkan kitab ke dada mereka dengan tubuh yang sedikit gemetar karena segan.
"Assalamualaikum, Gus Zayyan..." sapa Aliyah dan Sarah bersamaan dengan nada suara yang teramat sopan, memberikan salam khas santri jelata kepada keluarga pengasuh.
Naya berdiri mematung. Di tengah pergolakan batinnya, kehadiran Sarah dan Aliyah di sisinya memberikan rasa aman dan jangkar realitas yang kuat. Sifat bar-bar dan gengsi kotanya melebur dengan sedikit adab pesantren yang mulai ia pelajari. Naya menarik napas dalam, menegakkan posisinya, lalu ikut menundukkan kepalanya tipis demi menghormati formalitas di depan publik.
"Waalaikumussalam," jawab Zayyan, suaranya bariton, rendah, dan bergetar penuh penekanan yang tersembunyi.
Zayyan tidak menatap Sarah ataupun Aliyah. Sorot matanya menghujam lurus ke arah Naya, meneliti setiap jengkat wajah istrinya, memastikan bahwa kondisi fisik Naya benar-benar sudah membaik setelah nekat kabur dari ndalem di subuh buta tadi. Ada kilat kemarahan yang tertahan karena Naya mengabaikan perintah istirahatnya, namun ada pula rasa lega yang teramat dalam di dalam manik mata pria dua puluh sembilan tahun itu.
"Bagaimana keadaanmu... Nayanika?" tanya Zayyan, nadanya terdengar formal di telinga orang lain, namun Naya tahu ada tuntutan penjelasan yang teramat besar di balik pertanyaan itu.
Naya mengatur riak wajahnya agar terlihat setenang mungkin di depan kedua sahabatnya. lIa mendongak tipis, menentang tatapan Zayyan dengan kilat keras kepala yang menjadi ciri khasnya.
"Sudah jauh lebih baik, Gus. Terima kasih atas... fasilitas perawatannya kemarin," jawab Naya, menekankan kata 'fasilitas' sebagai sandi rahasia di antara mereka agar tidak memicu kecurigaan Sarah dan Aliyah. "Saya sudah siap untuk mengikuti kelas madrasah hari ini dengan tenang."
Zayyan mengetatkan rahangnya mendengar jawaban formal istrinya yang seolah ingin menegaskan kembali dinding batas di antara mereka. Pria itu terdiam selama beberapa detik, menciptakan keheningan yang membuat Sarah dan Aliyah semakin menundukkan kepala mereka karena bingung mengapa sang Gus menahan mereka di tengah koridor.
"Bagus kalau begitu," ucap Zayyan akhirnya, suaranya kembali sedingin es. "Pastikan kamu menjaga kesehatanmu dengan baik, Nayanika. Aturan di Al-Falah tidak akan melonggar hanya karena seseorang baru saja sembuh dari sakit."
"Tentu saja, Gus Kaku... eh, Gus Zayyan," jawab Naya hampir saja keceplosan, membuat Sarah di sebelahnya menyenggol sikut Naya dengan panik.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Zayyan memutar tubuhnya dengan sentakan halus, melanjutkan langkah kakinya yang lebar menuju kantor utama yayasan, meninggalkan koridor putri dengan sisa aura intimidasi yang membuat napas Sarah dan Aliyah akhirnya bisa berembus lega.
Begitu punggung tegap Gus Zayyan menghilang di balik belokan koridor, Sarah langsung memegangi dadanya, megap-megap seperti kekurangan oksigen.
"Astagfirullah hal adzim, Mbak Naya! Mbak Naya ini nekat sekali!" pekik Sarah dengan suara berbisik yang super heboh. "Bisa-bisanya Mbak Naya menatap langsung mata Gus Zayyan seperti itu?! Tadi itu auranya menyeramkan sekali, Mbak! Saya sampai takut kalau kita semua bakal kena takzir karena menghalangi jalan beliau!"
"Betul, Mbak Naya," Aliyah ikut menyahut, matanya menatap Naya dengan dahi berkerut dalam, penuh dengan rasa selidik yang tajam. "Tapi... saya merasa ada yang aneh, Mbak. Gus Zayyan biasanya tidak pernah berhenti untuk menanyakan kondisi santriwati secara personal di tengah koridor seperti tadi. Apalagi sampai menyebut nama Mbak Naya dengan penekanan seperti itu. Mbak Naya... sebenarnya tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami, kan?"
Naya membuang pandangannya ke arah halaman madrasah, mencoba menyembunyikan senyum tipis dan debaran aneh di dadanya yang kembali bergejolak akibat tatapan Zayyan tadi.
"Nggak ada, Al. Lu berdua aja yang terlalu lebay mikirnya," elak Naya sembari merangkul pundak Sarah dan Aliyah, memaksa kedua sahabatnya untuk kembali berjalan menuju aula kelas. "Udah ah, ayo cepat masuk kelas. Keburu ustadzah yang baru datang, nanti malah kita beneran kena takzir jemur di lapangan lagi."
Sarah dan Aliyah terpaksa mengikuti tarikan tangan Naya, meskipun sisa-sisa kecurigaan dan tanda tanya besar tentang hubungan terselubung antara santri baru asal Jakarta itu dengan sang Gus Mahkota kini mulai berembus pelan di antara mereka, menjadi sebuah sumbu rahasia yang siap meledak kapan saja di Pondok Pesantren Al-Falah.
BERSAMBUNG
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak