Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman yang Gagal—Alara Malah Menikmati Kerja Bakti
Aksi nekat Alara yang melabrak Selir Shina di taman tempo hari ternyata berbuntut panjang dan berbumbu drama. Seperti yang sudah bisa ditebak oleh nalar sehat Alara, Shina langsung lari terbirit-birit sambil menangis bombay menuju kediaman Ibu Suri.
Di sana, selir ular itu memutarbalikkan fakta secara total, membuat narasi seolah-olah Alara telah kerasukan setan reog, bertindak beringas, dan mencoba mematahkan pergelangan tangannya tanpa alasan yang jelas.
Alhasil, sebuah dekrit hukuman resmi turun ke Istana Dingin tepat pada siang hari yang terik.
"Menghukum Selir Alara Villin untuk membersihkan seluruh area Kolam Teratai Barat yang telah lama terbengkalai, serta mencabut seluruh rumput liar di sekelilingnya dalam waktu tiga hari berturut-turut tanpa bantuan pelayan satu pun!" Kasim kepala utusan Ibu Suri membacakan gulungan kain sutra kuning itu dengan suara cempreng bernada tinggi. Setelah selesai, dia melirik Alara dengan pandangan luar biasa sinis.
"Jika tugas ini tidak selesai tepat waktu, jatah kiriman makanan Anda dari Paviliun Naga Emas akan dihentikan secara total!"
Lily yang berdiri di samping Alara langsung lemas seketika. Lututnya gemetar, membayangkan area Kolam Barat yang terkenal kotor, berlumpur dalam, dan kabarnya agak angker karena jarang dilewati orang.
Namun, reaksi Alara justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Sepasang mata bulatnya mendadak berbinar cerah bagai lampu neon yang baru diganti watt-nya.
‘Hah? Bersihin kolam yang udah lama terbengkalai?’batin Alara kegirangan dalam hati. ‘Berarti di sana ekosistemnya masih alami banget. Kalau kolam penuh lumpur dan gak keurus, otomatis di dalamnya banyak belut raksasa, ikan liar yang gemuk-gemuk, atau minimal banyak rebung bambu yang tumbuh subur dong?! Wah, ini mah ladang pangan gratis!’
"Siap, laksanakan dengan penuh khidmat! Bilang sama Ibu Suri, saya menerima hukuman ini dengan lapang dada, tangan terbuka, dan penuh suka cita lahir batin," jawab Alara bersemangat berapi-api. Tanpa menunda waktu, dia langsung menyambar sebatang sapu lidi besar dan sebuah keranjang bambu raksasa yang tergeletak di pojok paviliun.
Kasim kepala utusan itu langsung melongo di tempat. Mulutnya sedikit menganga, bingung melihat reaksi Alara. Dia mengira selir buangan ini akan menangis histeris, bersujud memohon ampun, atau minimal pingsan karena syok. Tapi wanita di depannya ini malah terlihat seperti emak-emak komplek yang siap menyerbu pasar murah demi sembako diskonan.
Sore harinya, Kolam Teratai Barat yang biasanya sunyi senyap dan dianggap menyeramkan oleh para pelayan istana, mendadak berubah fungsi menjadi arena *outdoor activity* pribadi milik Alara.
Alara sudah melakukan modifikasi radikal pada pakaiannya. Dia menggulung lengan gaun sutranya yang longgar sampai ke batas siku, lalu mengikat bagian bawah rok berlapisnya tinggi-tinggi hingga ke atas paha, mengekspos celana kain pendek yang sengaja dia gunting dan jahit ulang sendiri dari pakaian lamanya. Tanpa ada rasa jijik atau ragu sedikit pun, Alara langsung melompat masuk ke dalam lumpur kolam yang syukurnya hanya setinggi lutut orang dewasa.
"Wah, gila! Ini mah bukan tempat hukuman, ini namanya harta karun karunian Tuhan!" seru Alara riang saat telapak tangannya yang telanjang berhasil meraba sesuatu yang licin dan bergerak aktif di dalam lumpur hitam.
*SPLASH!*
"LILY! LIHAT GUE! GUE DAPET IKAN GABUS SEGEDE PAHA ANAK SAPI!" teriak Alara heboh, mengangkat tinggi-tinggi seekor ikan air tawar raksasa yang sedang menggelepar hebat di genggaman tangannya. Wajah mulus Alara kini sudah penuh dengan coretan-coretan lumpur hitam pekat, membuatnya terlihat mirip tentara yang sedang melakukan penyamaran di hutan. Namun, senyum di bibirnya mengembang lebar sewangi bunga mawar.
Lily yang menonton jalannya "eksekusi hukuman" dari pinggir kolam hanya bisa menepuk jidatnya berkali-kali dengan ekspresi wajah pasrah. "Gusti, Selir... tolong jaga sedikit kehormatan dan martabat Anda sebagai wanita istana. Anda itu selir resmi Kekaisaran Ruelle, kenapa tingkah lakunya malah jadi mirip nelayan tangkap ikan di kampung halaman hamba?"
"Halah, martabat dan kehormatan itu gak bisa digoreng garing dan gak bikin perut kenyang, Lily! Lagian gak ada yang lihat ini," sahut Alara cuek, melempar ikan gabus jumbo itu ke dalam keranjang bambunya dengan akurat. "Ini ikan kalau nanti malam kita bakar pake sisa bumbu kecap manis madu kiriman Paviliun Naga Emas semalam... beuh, rasanya pasti mantap jiwa sampai ke ubun-ubun!"
Alara kembali membungkukkan tubuhnya, mengubek-ubek lumpur kolam dengan riang gembira sembari menyanyikan lagu-lagu pop modern zaman abad ke-21 dengan lirik yang dia ganti sesuka jidatnya sendiri.
Sementara itu, di balik koridor batu lantai atas yang posisinya menghadap langsung ke arah Kolam Barat, sesosok pria jangkung bermata elang sedang berdiri bersedekap dada di balik pilar besar.
Kaisar Kaivan awalnya sengaja mengalihkan rute perjalanannya ke arah sini karena dia menerima laporan dari Kasim Wen bahwa Ibu Suri menjatuhkan hukuman fisik yang cukup berat pada Alara. Pikiran jaimnya mengira bahwa Alara pasti akan menangis menderita, kelelahan, dan mungkin akan memohon bantuan atau keadilan kepadanya agar terbebas dari hukuman. Tapi, pemandangan riil di bawah sana benar-benar menghancurkan seluruh ekspektasi logis di kepala Kaivan.
Alara sama sekali tidak terlihat menderita atau tertekan. Wanita aneh itu justru kelihatan... sangat menikmati hidupnya. Tubuhnya berlumuran lumpur hitam, dia bernyanyi-nyanyi dengan bahasa asing yang tidak masuk ke dalam kamus bahasa kekaisaran, dan bolak-balik berhasil menangkap ikan dengan tangan kosong seolah-olah kolam terbengkalai itu adalah area pemancingan komersial miliknya sendiri.
"Wanita itu... benar-benar tidak memiliki urat malu dan urat takut di dalam tubuhnya," gumam Kaivan dengan suara baritonnya yang rendah. Namun anehnya, sepasang matanya sama sekali tidak bisa beralih dari memandang sosok Alara. Ada pancaran energi kehidupan yang begitu besar, liar, dan jujur menguar dari diri wanita itu—sesuatu yang belum pernah Kaivan temukan pada selir-selir atau permaisuri mana pun di istana yang selalu bersikap palsu, kaku, dan penuh kepura-puraan demi mencari mukanya.
KRETEK.
Karena terlalu fokus memandang ke bawah, Kaivan tidak sengaja menggeser posisi kakinya dan menginjak sebatang ranting pohon kering di koridor. Suara patahan kecil itu ternyata cukup untuk memicu pendengaran Alara yang sangat tajam.
Secara refleks, Alara mendongakkan kepalanya yang penuh coretan lumpur ke arah atas.
Mata bulat Alara langsung beradu pandang dengan sepasang mata elang milik Kaivan yang sedang kedapatan menonton aksinya dari balik pagar pembatas koridor atas. Bukannya merasa malu, cemas, atau buru-buru merapikan pakaiannya yang compang-camping mirip gembel istana, Alara justru mengangkat sebelah tangannya yang penuh lumpur hitam, lalu melambai-lambaikannya dengan sangat heboh ke arah sang Kaisar agung.
"WOI! YANG MULIA KAISAR KULKAS!" teriak Alara tanpa beban dari dalam kolam, suaranya menggema memecah kesunyian taman. "LAGI NYANTAI ATAU LAGI JALAN-JALAN SORE YA? SINI TURUN, YANG MULIA! LUMPUR DI SINI SEGER BANGET LHO, HITUNG-HITUNG SEBAGAI FASILITAS *SPA* ALAMI BIAR WAJAH ES ANDA ITU GAK CEPET KERIPUT KARENA KEBANYAKAN MIKIR NEGARA!"
Kasim Wen yang berdiri setia di belakang punggung Kaivan langsung pucat pasi sewarna kertas. Lututnya lemas dan dia hampir saja jatuh berlutut ke lantai karena syok yang teramat sangat. "Lancang... Selir Alara benar-benar sudah kehilangan kewarasannya dengan mengajak Yang Mulia Kaisar yang agung untuk ikut mandi lumpur bersama..."
Rahang tegas Kaivan mendadak mengeras. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sekuat tenaga menahan luapan emosi campur aduk antara rasa kesal karena diledek, sekaligus rasa geli yang luar biasa hebat yang kembali mendera dinding dadanya. Dia melangkah maju satu tindak ke tepi pagar pembatas, menatap tajam ke arah Alara yang berada di bawah sana dengan pandangan yang dia buat se angker mungkin.
"Alara Villin! Jaga ucapan dan kelakuanmu! Kau di sana sedang menjalankan hukuman berat dari Ibu Suri, bukan sedang bermain-main di pasar malam!" bentak Kaivan dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan penuh wibawa kekaisaran yang mutlak.
"Lah, emang saya lagi dihukum kok, Yang Mulia! Ini buktinya rumput-rumput liarnya udah saya cabutin sampai bersih, sekalian saya bersihin ikan-ikan liarnya biar ekosistem kolam Anda ini kembali seimbang dan estetik!" sahut Alara gak mau kalah, suaranya tetap lantang dan bertenaga.
Dia kemudian membungkuk, mengambil seekor ikan gabus paling besar dan paling gemuk dari dalam keranjang bambunya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara ke arah posisi Kaivan berdiri.
"Yang Mulia! Nanti malam kalau kerjaan Anda sudah selesai, mampir ya ke Istana Dingin! Saya mau bakar ikan gabus super jumbo ini.
Tenang saja, gak bakal saya mintai duit ganti rugi ayam panggang yang semalam kok. Kali ini hidangannya *free* alias gratis tis tis, khusus demi mempererat tali silaturahmi antara hubungan suami dan istri!" Alara nyengir kuda dengan sangat lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih di balik wajah cantiknya yang penuh coretan lumpur hitam.
Mendengar frasa 'mempererat tali silaturahmi hubungan suami istri' dan ajakan makan malam di kamar selir secara terang-terangan seperti itu, wajah Kaivan yang biasanya seputih pualam dan sedingin salju mendadak merona merah samar sampai ke ujung kedua telinganya.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normal. Dia benar-benar tidak tahu apakah harus mengeksekusi wanita ini karena telah menggodanya secara kurang ajar di depan umum, atau harus heran dengan urat malu Alara yang tampaknya sudah putus total tanpa sisa sejak jatuh ke kolam minggu lalu.
"Siapa juga yang sudi memakan ikan kotor penuh lumpur menjijikkan seperti itu!" sentak Kaivan ketus dengan nada suara yang sedikit meninggi karena salah tingkah.
Tanpa menunggu balasan dari Alara lagi, sang Kaisar Es buru-buru membalikkan badannya secara dramatis dan berjalan pergi meninggalkan koridor dengan langkah kaki seribu yang sangat cepat, mengabaikan Kasim Wen yang terengah-engah berusaha mengejar langkah lebar sang majikan.
Alara yang melihat pelarian super cepat dari suaminya itu langsung meledak dalam tawa cekikikan yang geli. "Hahaha! Lucu banget sih itu kulkas dua pintu berjalan.
Digodain soal hubungan suami istri dikit aja langsung kabur dengan wajah merah begitu. Fiks, aslinya dia itu cowok pemalu yang jago lawak, tapi ketutup sama gengsi kekaisaran aja!"
Malam harinya, di dalam Paviliun Naga Emas yang megah, meja makan pribadi milik Kaisar dipenuhi oleh belasan piring perak berisi makanan mewah hasil masakan koki terbaik kerajaan. Namun, Kaivan sama sekali tidak menyentuh makanan-makanan mahal tersebut.
Pikirannya terus-menerus melayang pada aroma gurih ikan bakar yang samar-samar tercium terbawa angin malam dari arah Istana Dingin, serta bayangan senyuman bar-bar dari seorang wanita berwajah penuh lumpur hitam yang dengan berani menawarkannya makan malam bersama.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang kesepian, sang Kaisar Es merasakan... kalau malam ini istananya yang luas dan megah terasa terlalu sepi dan membosankan tanpa kehadiran selir sialan yang hobi bikin jantungan itu.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪