NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Rasman

Matahari sudah mulai condong ke barat, melemparkan bayang-bayang panjang yang buram di atas tanah kering.

Cahayanya yang semula benderang kini meredup, menyisakan warna jingga pekat yang entah mengapa terasa begitu menekan. Namun, usaha pencarian yang menguras peluh sejak pagi itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Nol besar.

Bu Minah berjalan gontai, menyeret langkah kaki menyusuri lorong-lorong sempit kampung yang mulai sepi.

Kakinya terasa mati rasa, seolah-olah seluruh sendinya telah lolos setelah berjam-jam tanpa henti mendatangi satu per satu rumah tetangga, kerabat dekat, hingga warung-warung kelontong terjauh.

Jawaban yang ia terima selalu seragam, sebuah gelengan kepala yang dingin dan tatapan bingung bercampur kasihan.

Tidak ada satu orang pun, bahkan anak-anak yang biasa bermain layangan di lapangan desa, yang melihat batang hidung Rasman dalam empat puluh delapan jam terakhir.

Tepat di dekat pertigaan jalan berbatu yang menuju langsung ke rumahnya, Bu Minah menghentikan langkah. Dari kejauhan, ia melihat Sapriadi dan Heri, dua teman judi Rasman berjalan mendekat.

Langkah mereka berat, dengan bahu yang merosot rendah dan wajah yang ditekuk lesu, basah oleh keringat.

Melihat kehadiran mereka, secercah harapan yang sempat padam mendadak terbersit kembali di dada Bu Minah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengabaikan rasa perih di telapak kakinya dan bergegas menyongsong kedua pria itu.

"Bagaimana, Kang? Ada ketemu?" tanya Bu Minah, suaranya melengking penuh desakan yang tak sabar.

Sapriadi menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar begitu lelah dan sarat akan keputusasaan.

Dia melirik Heri sekilas sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah penuh rasa bersalah.

"Tidak ketemu, Mbak," jawab Sardi dengan suara yang parau dan serak akibat dahaga.

"Kami sudah menyisir jalan utama dari gubuk sampai ke dekat sini. Bahkan semak-semak kanan-kirinya sudah kami sibak semua. Tapi tidak ada. Jangankan orangnya, sandal jepit atau barang kepunyaannya pun tidak ada satu pun yang tercecer di sepanjang jalan."

"Kalau begini ceritanya, lebih baik Mbak Minah langsung lapor ke Pak RT saja," saran Heri, menyela sambil menyeka keringat di dahinya menggunakan kaosnya.

"Ini sudah tiga hari, Mbak."

"Betul, Mbak," timpal Sapriadi mendukung ucapan temannya.

"Biar Pak RT nanti yang mengambil keputusan dan mengumpulkan warga kampung. Kalau orang banyak yang turun tangan, kita bisa menyisir seluruh area desa secara serentak. Kita bisa masuk sampai ke hutan-hutan di belakang desa sekalian."

Bu Minah terdiam sejenak di tengah pertigaan yang mulai temaram, meresapi saran tersebut dengan hati yang berat.

"Ya sudah, Kang, kalau memang begitu jalannya, saya akan ke rumah Pak RT sekarang juga," ujar Bu Minah dengan suara bergetar.

"Mari kami antar saja, Mbak. Biar kami juga bisa menjelaskan kronologi terakhir kali kami bersama Rasman dua malam lalu ke Pak RT. Biar laporannya lebih jelas," kata Sapriadi menawarkan diri dengan tulus.

Ketiganya kemudian berjalan tergesa-gesa menuju rumah ketua RT, berharap langkah formal ini bisa segera menguak kabut misteri yang menyelimuti hilangnya Rasman.

Sesampainya di halaman rumah Pak RT, suasana terasa agak lengang. Rumah kayu yang cukup besar itu tampak tenang.

Bu Minah menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang sedari tadi bergemuruh hebat seperti ditabuh tetabuhan, sebelum akhirnya melangkah pelan menaiki anak tangga teras rumah yang dingin.

"Assalamu’alaikum, Pak RT..." panggil Bu Minah. Suaranya yang agak bergetar memecah kesunyian.

Tak berselang lama, pintu depan berbahan kayu tebal dengan ukiran kuno itu berderit terbuka. Pak RT keluar dengan mengenakan sarung tenun dan kaus oblong putih.

Wajahnya yang tadinya tampak santai sehabis mandi mendadak berubah heran dan waspada begitu melihat Bu Minah berdiri di depannya, terlebih lagi wanita itu datang bersama dua orang pria yang ia kenal betul sebagai langganan di pos ronda.

"Wa’alaikumussalam. Lho, Bu Minah? Ada apa ini?" tanya Pak RT, matanya bergerak bergantian, menatap penuh selidik ke arah Bu Minah dan kedua teman judi Rasman.

Melihat wajah Pak RT yang penuh wibawa dan mengayomi, benteng pertahanan yang sejak pagi dibangun Bu Minah akhirnya runtuh total. Air mata yang sejak tadi ia tahan dengan sekuat tenaga di depan para tetangga, kini menetes deras memandikan pipinya yang tirus.

"Pak RT... tolong saya, Pak. Tolong... Kang Rasman... Kang Rasman sudah tiga hari ini tidak pulang ke rumah," adu Bu Minah di sela isak tangisnya yang mendadak pecah.

Pak RT tersentak kaget. Dahinya langsung berkerut dalam, menciptakan gundukan garis-garis keriput yang menandakan keseriusan situasi.

"Tiga hari? Kok baru lapor sekarang, Bu? Bagaimana cerita awal mulanya?"

Sapriadi segera maju selangkah, mengambil alih pembicaraan agar Minah bisa menenangkan diri.

"Begini, Pak RT. Terakhir kali kami lihat Rasman itu dua malam yang lalu, setelah dia main kartu sama kami di gubuk belakang desa. Tapi sampai pagi ini, dia ternyata tidak pernah sampai ke rumahnya. Kami berdua tadi sudah coba menyisir semak-semak sepanjang jalur utama dari gubuk, tapi hasilnya nihil, Pak. Tidak ada jejak sama sekali. Makanya kami sarankan Bu Minah buat langsung melapor ke bapak."

Pak RT terdiam sejenak. Ia memandangi ketiganya dengan raut wajah yang kini ikut berubah drastis menjadi sangat serius.

"Ya sudah, jangan bicara di teras. Mari masuk dulu. Silakan duduk di dalam, kita bicarakan pelan-pelan bagaimana baiknya," ajak Pak RT dengan suara rendah namun tegas.

Suasana di dalam ruang tamu Pak RT terasa begitu hening dan dingin. Hanya menyisakan suara detak jam dinding kuno yang besar dan isak tangis Bu Minah yang tertahan.

Pak RT duduk di kursi kayu panjangnya, menatap lekat-lekat ke arah Bu Minah yang duduk menunduk, lalu beralih ke kedua teman judi Rasman.

Setelah memberikan waktu beberapa saat bagi Bu Minah untuk menguasai emosinya, Pak RT akhirnya membuka suara, memulai interogasi kecil.

"Jadi, dua malam yang lalu itu adalah terakhir kalian melihat Rasman. Jam berapa tepatnya kalian berpisah malam itu?" tanya Pak RT, mengarahkan pandangan tajamnya pada Heri dan Sapriadi.

Heri yang bertubuh berdeham pelan, mencoba mengingat-ingat detail malam itu.

"Kira-kira jam satu dini hari, Pak RT. Rasman pamit pulang duluan karena uangnya sudah habis bersih setelah kalah beberapa putaran main kartu."

"Dia pulang lewat jalur mana? Jalan utama desa, atau jalan tikus yang memotong lewat kebun singkong ?" kejar Pak RT, mencoba memetakan kemungkinan yang ada.

"Setahu kami dia lewat jalan utama yang biasa, Pak. Dia tidak suka lewat kebun singkong kalau sudah lewat tengah malam karena jalannya terlalu becek dan gelap. Makanya tadi kami hanya menyisir semak-semak di kanan-kiri jalan utama itu," timpal Sapriadi.

Pak RT mengangguk-angguk paham, lalu mengalihkan pandangannya dengan lembut kepada Bu Minah.

"Bu Minah, sebelum malam kejadian itu, apakah Rasman sempat mengeluh ada masalah besar? Atau mungkin ada gelagat yang tidak biasa dari sikapnya? Masalah utang piutang yang menumpuk, atau barangkali dia sempat berselisih paham dan adu mulut dengan seseorang?"

Bu Minah menyeka sisa air matanya dengan ujung jilbab yang kusut. Ia sempat melirik kedua teman judi suaminya dengan ragu.

"Kalau masalah uang, ya begitulah, Pak RT. Bapak tahu sendiri kerjaan Kang Rasman tidak menentu, kerjanya serabutan tapi hobinya... hobinya menghabiskan uang di meja judi," jawab Bu Minah lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan karena menahan rasa malu yang amat sangat di depan tokoh masyarakat tersebut.

"Tapi kalau musuh, setahu saya Kang Rasman tidak punya, Pak. Dia memang orangnya rewel dan sering membentak kalau di rumah, tapi kalau di luar dengan teman-temannya, dia biasanya mengalah dan tidak suka cari ribut."

Pak RT menghela napas panjang dan berat. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyadari peliknya situasi ini. Kasus orang hilang secara di kampung mereka tidak pernah terjadi, ini adalah kali pertamanya, dan jika sudah melewati batas waktu tiga hari tanpa ada satu pun petunjuk, kemungkinannya bisa sangat beragam dan mengerikan, mulai dari kecelakaan tersembunyi yang tak diketahui, pergi meninggalkan desa dengan sengaja karena lari dari utang, hingga kemungkinan-kemungkinan terburuk yang melibatkan tindak kriminal.

"Begini saja," kata Pak RT akhirnya sambil berdiri dari kursinya, memantapkan keputusan yang harus diambil.

Tindakannya yang sigap seolah memberi suntikan ketenangan di tengah keputusasaan.

"Nanti, setelah asar, saya akan kumpulkan para pemuda dan warga di balai desa. Saya akan umumkan situasi ini secara resmi, biar warga bisa langsung bergerak membantu mencari Rasman."

Pak RT menatap kedua teman judi Rasman dengan sorot mata yang penuh penekanan dan tidak menerima bantahan.

"Kalian berdua, saya minta nanti wajib hadir juga di balai desa. Kita butuh kalian untuk memetakan jalur pencarian awal berdasarkan rute terakhir yang dilewati Rasman."

"Baik, Pak RT. Kami siap membantu sepenuhnya," jawab Sapriadi dan Heri serempak, merasa bertanggung jawab atas hilangnya rekan mereka.

Pak RT kemudian melangkah mendekati Bu Minah, lalu menepuk pundak wanita yang malang itu dengan ramah dan penuh simpati untuk memberikan sedikit kekuatan.

"Bu Minah pulanglah dulu ke rumah. Dan berdoa. Siapa tahu, malam ini Rasman justru pulang sendiri ke rumah karena kelaparan."

Meskipun gumpalan kecemasan di dalam dadanya belum sepenuhnya sirna. Setidaknya, kini dia tidak lagi memikul beban yang teramat berat ini seorang diri.

Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa di tubuhnya yang lelah, Bu Minah bangkit dari kursinya, menjabat tangan Pak RT.

"Terima kasih banyak, Pak RT. Terima kasih, Kang Sapriadi, Kang Heri. Saya permisi pulang dulu ke rumah." Ucap Bu Minah sebelum pergi dari rumah pak RT.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!