Selama 4 tahun Paula bekerja keras dan rajin menabung demi mengejar impiannya untuk bertemu Paulo Dybala, pemain sepak bola favoritnya yang akan berlaga di Piala DuniaQatar. Hasil dari kerja kerasnya selama ini, akhirnya ia bisa membeli tiket pesawat ke Qatar.
Sesampainya di Doha, Qatar, ia justru bertemu dengan seorang lelaki yang tengah terluka parah tergeletak di dekat penginapannya. Rasa kemanusiaan membuatnya tergerak untuk menolong lelaki tersebut. Ia membawa lelaki itu masuk ke dalam kamar dan mengobatinya.
Saat malam, cuaca Doha sangat dingin. Penginapan murah yang Paula tempati hanya memiliki satu ranjang dan satu selimut. Paula rasanya hamper mati kedinginan. Terpaksa ia ikut berbaring di samping Hamish dan memakai selimut bersama.
Menjelang pagi, tiba-tiba polisi Qatar datang menggerebek mereka. Karena tidak bisa menunjukkan bukti surat nikah, mereka terancam sanksi penjara selama dua tahun dengan tuduhan perzinahan. Mereka diberi pilihan untuk menikah atau dipenjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Malam Romantis
Setelah melewati momen membahagiakan di stadion, Paula dan Hamish kembali ke apartemen. Keduanya terus bergandengan tangan sampai tiba kembali di apartemen.
"Apa kamu senang?" tanya Hamish.
Paula tak lantas menjawabnya. Wanita itu memberikan pelukan kepada suaminta. "Terima kasih untuk malam ini. Aku sangat senang sampai tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya."
Setiap kali mengingat momen bersama Dybala, ia ingin menangis bahagia. Apa yang didapatkannya jauh melebihi ekspektasinya.
Seorang wanita muda yang bermodalkan nekad dan tabungan selama 5 tahun bekerja akhirnya bisa mewujudkan impian menonton pertandingan tim Argentina. Bahkan, ia bisa bertemu langsung dengan Paulo Dybala.
Meskipun banyak kesusahan yang sempat dialaminya selama di Qatar, ia tak menyesal karena akhirnya mimpi itu menjadi nyata. Semua tak terlepas dari campur tangan Hamish.
"Aku tidak menyangka akan mendapatkan sesuatu seindah ini," ungkap Paula dengan mata berkaca-kaca.
Hamish mengusap tetasan air mata itu dengan jemarinya. "Itu masih tidak sebanding dengan apa yang pernah kamu lakukan untukku. Segalanya bisa aku lakukan untukmu," kata Hamish.
Ucapan lelaki itu terdengar begitu lembut di telinga Paula. Hamish menarik tangan Paula, mengajaknya duduk berhadapan di atas sofa.
Saat Hamish menyibakkan rambut serta memagut bibirnya, mereka terbawa suasana. Sesekali tatapan mereka diselingi tatapan mesra yang seakan mampu bicara antara mata dengan mata.
"Paula," panggil Hamish.
"Hm?" Paula menatap wajah Hamish sembari tersenyum.
"Boleh aku jujur padamu?" tanyanya.
Pula terlihat heran. Ia menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan.
"Aku ... Bolehkah ...." Hamish terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Paula mengerutkan dahi. Ia tak tahu apa yang Hamish maksudkan.
Hamish menatap dalam-dalam wajah Paula. Ia kesampingkan rasa malunya sekarang. "Aku ingin kita tidur bersama!" katanya dengan tegas.
Paula tertegun.
"Sebagai suami istri," lanjut Hamish.
Wajah Paula langsung memerah. Padahal Hamish yang mengatakannya namun ia yang merasa malu. Ia bahkan tak bisa lagi menatap mata lelaki itu.
"Apa permintaanku berlebihan? Kamu belum mau, ya?" tabya Hamish.
Paula merasa ragu. Ia menggigit bibirnya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya, namun ada rasa takut tanpa sebab saat Hamish membahas hal itu.
"Baiklah, kalau memang kamu belum mau." Hamish menjadi pasrah menunggu Paula yang tak kunjung menjawabnya, padahal ia sudah sangat malu mengutarakan hasrat itu.
Hamish mencium pipi Paula. "Tidurlah, selamat malam," ucapnya seraya berjalan meninggalkan Paula.
Tanpa disangka-sangka, ketika ia sampai di ambang pintu kamar, ada tangan lembut yang melingkar di pinggangnya. Paula mengejar dan memeluknya.
"Ayo," lirih Paula.
Hamish melebarkan matanya. Bunga-bunga seakan bermekaran di hati mendengar kata itu. Ia berbalik dan langsung mengangkat tubuh Paula secara tiba-tiba sampai membuat wanita itu memekik kaget. Saat tatapan mereka bertemu, Paula kembali tampak malu-malu.
Hamish merebahkan Paula di atas ranjang miliknya. Ia mengungkung wanita cantik itu di bawahnya. Tanpa berkata-kata, keduanya kembali saling memagut bibir dengan mesra.
Hamish melepaskan ciuman mereka. Ia melepaskan pakaiannya tepat di hadapan Paula. Pencahayaan lampu yang temaram masih memberikan gambaran yang jelas bagi pahatan dada bidang Hamish yang begitu menggoda.
Paula sudah pernah melihatnya saat mengobati Hamish dulu. Bahkan bekas luka yang pernah tertoreh di sana masih membekas. Namun, kali ini melihat pemandangan itu semakin membuatnya malu.
Setelah melepaskan pakaiannya sendiri, dengan lembut Hamish membantu Paula melepaskan pakaiannya. Paula hanya bisa pasrah dan menahan malu saat Hamish melucuti pakaiannya satu per satu.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Paula akan melakukan hal seintim itu dengan lelaki bernama Hamish. Cinta begitu cepat tumbuh tanpa disadari dari pernikahan terpaksa yang pernah merek lakukan.
"Paula, aku mencintaimu," ucap Hamish.
Dengan tubuh yang sama-sama polos, keduanya berpelukan, saling memberi sentuhan satu sama lain dan menanggalkan rasa malu mereka. Malam ini yang ada hanya keromantisan di antara keduanya.
berharap hamish nyusul perjuangin cintanya
lanjut thor
lanjutin ngapa hikss
ceritanya bagus seru gak monoton