Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari mimpi buruk
Tangan Ages gemetar hebat saat memencet tombol darurat yang menempel di dinding.Ia ingin memanggil dokter tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Melihat tanda panggilan dari ruang ICU,Dokter dan beberapa perawat segera memasuki ruang ICU.Ages terpaksa mundur beberapa langkah agar tidak mengganggu pemeriksaan.Jantungnya berdegup begitu cepat.
"Dok..." Ia hanya mampu memanggil lirih.
Dokter mengamati monitor, kemudian menyinari kedua mata Kalandra dengan senter kecil.
"Kala..."
Suara dokter terdengar lembut. "Kalau kamu bisa mendengar saya, coba gerakkan jari tanganmu."
Ruangan kembali sunyi.Beberapa detik berlalu tiba-tiba jari telunjuk Kalandra kembali bergerak sangat pelan.Namun kali ini semua orang melihatnya.
Perawat langsung tersenyum lega. "Dok, ada respons."
Dokter mengangguk. "Bagus."
Ages yang berdiri di belakang dokter langsung menutup wajahnya.Air matanya kembali jatuh. "Alhamdulillah..."
Namun dokter segera menoleh. "Pak Ages."
"Iya, Dok?"
"Ini pertanda baik, tetapi kondisinya masih kritis."
Senyum di wajah Ages kembali memudar.
"Jangan berharap beliau langsung sadar.Kami masih harus terus memantau pembengkakan di kepalanya."
Ages mengangguk. "Saya mengerti."
Beberapa jam kemudian.Dokter mengizinkan Ages masuk seorang diri.Ruangan ICU begitu tenang.
Ages duduk di samping ranjang.Tangannya kembali menggenggam jemari Kalandra. "Kala."
"Papa enggak akan ke mana-mana lagi." Ia mengusap pelan tangan putranya.
"Selama ini Papa pikir bekerja keras adalah cara terbaik membahagiakan kamu."
"Ternyata papa salah." Ages tersenyum pahit. "Yang kamu butuhkan bukan hadiah atau uang tapi waktu Papa."
Air mata kembali jatuh."Maaf...Papa benar-benar minta maaf,dek."
Ages mengusap pelan pipi Kalandra yang pucat.Pipi yang sering ia cium saat kala masih kecil terasa begitu halus namun sedikit dingin.
"Dek,tolong jangan siksa papa seperti ini Nak.Papa gak tau akan seperti apa kalau kamu gak mau buka mata dan ninggalin papa." Dadanya semakin sesak bisa membayangkan hal itu. "Mungkin papa akan gila.."
Ages membeku,setetes airmata keluar dari ujung mata Kalandra. "Adek,dengar papa kan? Ayo dek buka matanya,papa yakin kamu kuat..kamu bisa."
.
.
Di luar ICU...Kakek Sabiru duduk bersama Sean, Arsen, dan Tamara.Tamara sudah sadar dari pingsannya dan sempat mendapat perawatan dari suster.Meski wajahnya masih pucat, ia terus memandangi pintu ICU.
"Pi..Mi..."
Sean memecah keheningan. "Hari itu...Kala sebenarnya cerita."
Tamara menoleh. "Cerita apa bang?"
"Dia bilang Papanya mulai berubah." Sean menundukkan kepala. "Aku pikir cuma perasaannya saja."
Arsen menghela napas panjang. "Bukan cuma kamu.Papi juga terlambat menyadarinya."
"Abang gak berusaha menemani Kala saat dia sendiri,pi."
Tamara mengusap pelan punggung Sean. "Jangan menyalahkan diri,abang sudah jadi kaka terbaik kok buat adek.Hanya saja Allah sedang memainkan takdirnya untu kita."
Sean mengangguk mengerti,ia tak lagi bicara.Hanya matanya saja yang sejak tadi menatap pintu ICU.
Kakek Sabiru memejamkan mata. "Semoga Allah memberi Ages kesempatan memperbaiki semuanya."
"Aamiin.."
"Iya yah,Arsen juga berdo'a seperti itu." jawab arsen. "Gak bisa Arsen bayangkan kalau Ages sampe kehilangan Kala mungkin hidupnya akan hancur."
Menjelang malam,monitor jantung Kalandra menunjukkan kondisi yang semakin stabil.
Dokter kembali melakukan pemeriksaan.Dan kali ini kelopak mata Kalandra bergerak pelan.
"Kala?" Dokter mendekat. "Kalau kamu mendengar saya, coba buka matamu."
Kelopak mata itu kembali bergerak sangat perlahan.Sedangkan Ages yang berdiri di sisi ranjang hampir tidak berani bernapas.
"Kala..."
Satu harapan kembali tumbuh.Perlahan...Kalandra berhasil membuka matanya sedikit.
Pandangannya masih buram.Lampu ruangan terasa menyilaukan hingga ia berkedip beberapa kali.
Suara alat monitor terdengar semakin cepat.
"Bagus."
Dokter tersenyum. "Coba pelan"
Kalandra menggerakkan bola matanya perlahan.Pandangan itu akhirnya berhenti pada satu wajah.
Ages Sabiru..sang papa.
Mata pria itu merah karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
"Kala..." Suara Ages pecah. "Papa di sini."
Bibir Kalandra bergerak pelan.Namun tidak ada suara yang keluar.Ia tampak kebingungan.
Dokter segera mendekat. "Jangan dipaksa bicara dulu."
Kalandra hanya menatap Ages beberapa detik.Kemudian perlahan, air mata mengalir dari sudut matanya.
Melihat itu, Ages langsung menggenggam tangan putranya lebih erat."Jangan nangis,dek.Semua salah papa,papa minta maaf."
Kalandra masih belum mampu berbicara.Ia hanya memejamkan mata kembali karena kelelahan.Namun sebelum benar-benar tertidur akibat obat-obatan,jemari kanannya bergerak pelan.
Membalas genggaman tangan Ages.Gerakan yang sangat kecil tapi cukup membuat Ages kembali menangis.
Ia merasakan bahwa putranya masih mau menerima kehadirannya.Meski jalan untuk memperbaiki hubungan mereka masih panjang.Meski luka di hati Kalandra belum tentu sembuh dalam waktu dekat.
Setidaknya malam ini Ages mendapat satu kesempatan yang hampir direnggut darinya.Kesempatan untuk kembali menjadi seorang ayah bagi putra yang paling ia cintai.
Keesokannya,
Pagi mulai menjelang, sinar matahari mulai masuk melalui jendela kamar rawat.
Kalandra yang baru beberapa jam dipindahkan dari ICU perlahan membuka matanya.
Kepalanya masih terasa berat.Seluruh tubuhnya nyeri.Namun, kali ini kesadarannya jauh lebih baik.
"Selamat pagi."
Seorang perawat tersenyum sambil memeriksa infusnya. "Gimana rasanya?"
"Kepala masih pusing..." lirih Kala
Perawat mengangguk. "Itu normal. Yang penting jangan dipaksakan bergerak."
Kalandra mengangguk pelan.
Saat perawat keluar, ia mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit.Tangan kanannya masih bisa bergerak.Lengan kirinya yang digips terasa berat.
Perlahan ia mencoba menggeser kaki kanannya.Tidak bergerak,Kalandra mengernyit.Ia mencoba lagi,tetap tidak ada respons.
Aneh...
Ia mengalihkan pandangan ke kaki kirinya.Perlahan ia mencoba menggerakkannya.Tetap sama,tidak ada gerakan dan rasa.
Wajah Kalandra mulai berubah.Ia kembali mencoba, kali ini lebih keras.Namun kedua kakinya tetap diam.Dadanya mulai berdebar.
"Kenapa..." Suara lirihnya terdengar panik.
Ia mencubit pahanya sendiri dengan tangan kanan namun tidak terasa.
Mata Kalandra langsung membelalak."Kenapa...?"
Tangannya mulai gemetar. "Papa.."
Suara itu semakin keras."Pap!"
Di luar ruangan, Ages yang sedang berbicara dengan dokter langsung berlari masuk.
"Kala!"
Kalandra menatap ayahnya dengan wajah pucat. "Pap..."
"Ada apa?"
"Kakiku..."
Ages langsung mendekat.
"Kenapa dengan kakimu?"
"Aku..." Air mata mulai menggenang. "...enggak bisa gerakin."
Wajah Ages langsung berubah.
Dokter dan beberapa perawat segera masuk ke kamar.
"Pak Ages, mohon beri kami ruang."
Ages mundur dengan napas yang memburu.Dokter mulai melakukan pemeriksaan.
"Kala, coba gerakkan jari kaki kananmu."
Kalandra berusaha sekuat tenaga.Tidak ada gerakan.
"Yang kiri."
Tetap tidak ada.
Dokter kemudian menyentuhkan alat pemeriksa pada beberapa bagian kaki. "Apakah terasa?"
Kalandra menggeleng.
"Bagian ini?"
Tetap menggeleng.
Ruangan menjadi sunyi.Dokter saling berpandangan dengan perawat.
"Dok..." Suara Ages mulai bergetar. "Kenapa anak saya?"
Dokter menarik napas panjang. "Kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan."
Beberapa jam kemudian,hasil pemeriksaan akhirnya keluar.Seluruh keluarga berkumpul di ruang konsultasi.Ages duduk paling depan.Tangannya terus saling menggenggam.
Dokter membuka hasil pemindaian."Pak Ages."
"Iya, Dok."
"Kecelakaan yang dialami Kalandra bukan hanya menyebabkan patah tulang dan pergeseran pada sendi lutut."
Ages mulai merasa sesak.
"Dari hasil pemeriksaan, kami menemukan adanya gangguan pada saraf di bagian kaki akibat benturan keras."
Ruangan mendadak sunyi.
"Apakah itu berbahaya, Dok?" tanya Arsen.
Dokter mengangguk pelan. "Untuk saat ini, gangguan tersebut menyebabkan Kalandra belum mampu menggerakkan kedua kakinya dengan normal."
Ages menatap dokter tanpa berkedip. "Maksud Dokter..."
Suara Ages hampir hilang. "...Kala tidak bisa berjalan?"
Dokter menjawab dengan hati-hati. "Saat ini, Kalandra mengalami kelumpuhan sementara pada kedua kakinya."
Tamara langsung menutup mulutnya.Sean menundukkan kepala.Kakek Sabiru memejamkan mata sambil beristigfar.
Ages membeku.Seluruh tubuhnya terasa lemas.
"Tapi...masih ada harapan." lanjutnya
Semua orang kembali mengangkat kepala.
"Kami melihat sarafnya masih memiliki respons. Artinya, peluang pemulihan masih ada, meskipun prosesnya bisa memerlukan waktu yang panjang."
"Berapa lama, Dok?"
"Belum bisa dipastikan." jawab dokter.
"Mungkin beberapa bulan atau bahkan bisa lebih lama.Kalandra membutuhkan pengobatan, rehabilitasi, dan fisioterapi secara bertahap." lanjutnya
Ages mengangguk pelan.Namun air matanya sudah lebih dulu jatuh.
Ketika dokter keluar,Ages kembali memasuki kamar putranya.Kalandra masih menatap kedua kakinya.Tatapannya kosong.
"Pap..." Suaranya begitu pelan.
"Iya, Nak."
"Aku..." Air matanya mengalir. "...enggak bisa jalan lagi ya?"
Kalimat itu membuat Ages kehilangan seluruh kekuatannya.Ia segera duduk di sisi ranjang."Bukan begitu."
"Tapi dokter tadi bilang..."
"Dokter juga bilang masih ada harapan." potong Ages
Kalandra menggigit bibirnya."Kalau...kalau aku enggak bisa main basket lagi?"
"Aku enggak bisa karate dan naik motor lagi?"
Satu demi satu pertanyaan itu menusuk hati Ages.Ia tidak tahu harus menjawab apa.Yang mampu ia lakukan hanyalah menggenggam tangan putranya.
"Kita hadapi sama-sama.Papa enggak akan ninggalin kamu."
Kalandra menundukkan kepala."Aku takut." Tangisnya akhirnya pecah. "Aku takut jadi beban."
Mendengar itu, Ages langsung memeluk putranya dengan sangat hati-hati."Jangan pernah bilang begitu."
"Kamu bukan beban tapi kamu anak Papa selamanya."
Tangisan keduanya memenuhi ruangan.Di balik pelukan itu, Ages menutup matanya rapat.Rasa bersalah yang selama ini ia pendam kini terasa berlipat ganda.
Seandainya malam itu ia menepati janji.
Seandainya ia tidak membiarkan Kalandra pulang sendirian dalam keadaan terluka.Mungkin putranya tidak perlu terbaring di ranjang rumah sakit dan tidak perlu mendengar kenyataan pahit bahwa untuk sementara, ia kehilangan kemampuan untuk berjalan.
Ya Allah... ambil semua rasa sakit itu dariku jika Engkau mengizinkan. Asal jangan biarkan putraku kehilangan harapan.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋