NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERLAMBAT SEKOLAH

Pak Sasmita berhenti tepat di depan kami. Bayangannya menutupi ujung sepatuku yang penuh debu. Di tangannya, buku kedisiplinan terbuka pada halaman yang sudah dipenuhi nama dan garis merah. Aku mengenal buku itu. Anak yang terlambat tiga kali harus membersihkan halaman sekolah selama seminggu.

“Kalian terlambat lagi,” katanya.

Kata lagi membuat dadaku semakin sesak. Pada hari pertama, kami terlambat karena air sungai naik. Sekarang kami datang setelah mengambil jalur memutar karena babi hutan. Aku takut semua alasan itu terdengar seperti cerita yang dibuat-buat oleh anak yang tidak mampu bangun pagi.

“Maaf, Pak,” jawabku.

Pak Sasmita memandang Nira. Napas adikku masih cepat. Kain pembalut pada tumitnya tampak dari atas sepatu cokelat yang kebesaran. Ia berdiri dua langkah di belakangku, seolah tubuhku dapat menyembunyikannya dari hukuman.

“Berangkat pukul berapa?” tanya Pak Sasmita.

“Sebelum terang, Pak.”

“Lalu mengapa baru tiba sekarang?”

Aku membuka mulut, tetapi kata-kataku saling bertabrakan. Aku ingin menjelaskan dengan urut: sungai, semak yang bergerak, anak babi, suara induknya, jalur lama, akar yang membuatku jatuh. Namun, setiap bagian terdengar semakin tidak masuk akal ketika kususun dalam pikiran.

Nira tiba-tiba maju. “Ada babi hutan, Pak.”

Pak Sasmita mengangkat alis.

“Bukan di sekolah,” lanjut Nira cepat. “Di jalur setelah sungai. Kak Langga membawa aku memutar lewat bukit. Lengan Kakak kena batu.”

Barulah aku melihat goresan panjang di lenganku. Saat jatuh di jalur berbatu, aku terlalu memikirkan sepatu hingga tidak merasa kulitku terkelupas. Darah sudah mengering dan bercampur debu.

Pak Sasmita menutup buku kedisiplinan. “Masuk ke kantor.”

Aku menelan ludah. Nira menggenggam ujung bajuku. Kami mengikuti Pak Sasmita ke ruangan kecil di samping ruang guru. Di dinding tergantung foto presiden, peta kecamatan, dan jam bulat yang berdetak sangat keras. Setiap bunyinya membuatku semakin yakin bahwa kami akan dihukum.

Bu Satya sedang menyusun buku nilai. Ketika melihat kami, ia segera berdiri.

“Ada apa?”

“Mereka terlambat,” kata Pak Sasmita. “Katanya ada babi hutan di jalan.”

Bu Satya tidak tertawa. Ia meminta kami duduk, lalu mengambil kapas dan obat merah dari lemari. Aku menolak ketika ia hendak membersihkan lenganku, tetapi ia menatap dengan cara yang membuatku menurut.

“Ceritakan dari awal,” katanya.

Kali ini aku mencoba lebih tenang. Aku menjelaskan bahwa Nira baru kembali sekolah setelah kakinya terluka. Aku menceritakan jalur utama yang melewati semak, bunyi dengusan, dan jalan lama yang memutar di sisi bukit. Aku juga mengatakan bahwa kami tidak berlari karena balutan kaki Nira dapat terbuka.

Pak Sasmita mendengarkan sambil berdiri dekat jendela. Wajahnya tetap tegas, tetapi ia tidak lagi membuka buku kedisiplinan.

“Berapa jauh rumah kalian?” tanyanya.

“Lebih dari tujuh kilometer, Pak,” jawabku.

“Setiap hari berjalan?”

Aku mengangguk.

“Tidak ada kendaraan?”

“Sepeda tidak bisa lewat jalan dusun. Kalau sampai jalan kabupaten, kami sudah dekat sekolah.”

Pak Sasmita memandang peta kecamatan di dinding. Jarinya mencari Dusun Wanasetra, tetapi nama dusun kami tidak tercetak. Yang terlihat hanya nama desa dan garis jalan utama. Aku merasa aneh melihat tempat kelahiranku tidak ada di sana. Rumah kami, sungai, Tikungan Batu Tidur, dan kebun kopi seperti tidak cukup penting untuk diberi tanda.

“Jalur mana yang kalian pakai?” tanya Bu Satya.

Aku mendekati peta dan menunjuk daerah kosong di kaki Bukit Giriwungu. “Kira-kira dari sini, Bu. Lalu turun ke sungai dan keluar dekat pasar.”

“Berapa anak sekolah yang tinggal di sana?”

Aku menghitung dalam hati. Ada aku dan Nira, tiga anak keluarga Pak Lurah lama, dua anak Bu Mirah, Gala tidak tinggal di dusun kami, lalu anak-anak kecil yang baru masuk kelas satu.

“Sembilan,” kataku. “Kalau yang belum sekolah tidak dihitung.”

Bu Satya mengambil buku catatan. “Sebutkan namanya.”

Aku menyebut satu per satu: aku, Nira, Karsa, Lila, Banu, Ratri, Dewa, Sari, dan Damar. Beberapa masih bersekolah di kelas rendah. Damar bahkan sering digendong ayahnya sampai melewati sungai karena tubuhnya kecil.

Pak Sasmita duduk di kursi. “Mengapa sekolah belum pernah menerima laporan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Bagi kami, jalan itu sudah ada sejak orang tua kami kecil. Kami mengeluh ketika hujan, tetapi tidak pernah berpikir sekolah perlu mengetahui. Orang dewasa di dusun sering mengatakan bahwa hidup memang begitu. Jika ingin sekolah, kami harus kuat berjalan.

“Ayah sedang mencoba membuat jembatan bambu,” kata Nira. “Tapi belum jadi.”

“Jembatan yang sekarang apa?” tanya Bu Satya.

“Batu,” jawab Nira. “Kalau air tinggi, batunya hilang.”

Ruangan menjadi sunyi. Dari kelas terdengar anak-anak membaca perkalian bersama-sama. Aku menunduk, malu karena telah membuat banyak orang menunggu pelajaran. Namun, untuk pertama kali, rasa malu itu bercampur dengan sesuatu yang lain. Aku mulai merasa keterlambatan kami bukan hanya kesalahan kami.

Pak Sasmita akhirnya berkata, “Aturan tetap harus dijaga. Sekolah tidak dapat berjalan kalau semua siswa datang sesuka hati.”

Aku mengangguk cepat.

“Tetapi aturan juga harus melihat keadaan,” lanjutnya. “Hari ini kalian tidak dihukum. Besok usahakan berangkat lebih awal.”

Aku ingin mengatakan bahwa kami sudah berangkat sebelum ayam berkokok. Namun, aku menahan diri. Bu Satya tampaknya memahami. Ia menutup buku catatannya dan bertanya kepada Pak Sasmita apakah ia boleh memeriksa jalur kami.

“Untuk apa?”

“Supaya kita tidak hanya mendengar cerita anak-anak.”

Pak Sasmita berpikir sejenak. “Jangan sendiri.”

“Aku bisa menemani,” kataku tanpa sadar.

Bu Satya tersenyum. “Kau sudah melewati jalan itu sepuluh kali minggu ini. Hari Minggu biar Ibu yang belajar mengikuti langkahmu.”

Setelah luka di lenganku dibersihkan, kami diizinkan masuk kelas. Jalu melihat dari bangkunya ketika aku berjalan melewati pintu. Ia sempat memandang sepatuku, tetapi kali ini tidak berkata apa-apa. Gala bergeser memberi tempat dan membisikkan bahwa Bu Satya pasti akan pulang sebelum tikungan ketiga.

Aku hampir tertawa. Saat Bu Satya mulai mengajar, ia tidak langsung membuka buku. Ia meminta seluruh kelas menuliskan jarak rumah masing-masing dari sekolah. Sebagian anak menulis lima ratus meter, satu kilometer, atau dua kilometer. Ketika aku menulis lebih dari tujuh kilometer, Gala menatap angkaku dua kali. Bahkan teman-teman yang selama ini mengejek tidak lagi tertawa. Untuk sesaat, papan tulis dipenuhi jarak yang berbeda-beda, seolah menunjukkan bahwa kami duduk di kelas yang sama setelah menempuh dunia yang tidak sama.

Sepanjang pelajaran, pikiranku terus tertuju pada buku kecil Bu Satya yang berisi sembilan nama. Nama-nama itu selama ini hanya terdengar ketika guru memanggil daftar hadir. Sekarang nama kami menjadi bukti bahwa ada anak-anak yang setiap pagi mempertaruhkan kaki untuk sampai ke ruang kelas.

Saat pulang, Bu Satya memanggilku di gerbang. Ia membawa payung hitam dan sepasang sepatu olahraga yang dibungkus koran.

“Bilang kepada orang tuamu,” katanya, “hari Minggu pagi Ibu akan datang ke rumah kalian.”

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!