Jatuh cinta pada pandangan pertama itulah yang dirasakan oleh Fayyola Mafaza Orlin. Gadis cantik yang tengah menempuh pendidikan disalah satu universitas ternama di ibukota. Gadis yang baru berusia 20 tahun itu telah dibuat jatuh cinta dengan salah satu dokter yang sempat menangani dirinya saat ia menjadi salah satu korban dari kecelakaan maut.
Adam Geovano Abhivandya, seorang dokter tampan yang sangat masuk kedalam kriteria imam idaman seorang Fayyola. Siapa sih yang tak terpikat dengan dokter yang sangat di gandrungi oleh para kaum hawa itu jika laki-laki itu memiliki paras bak dewa Yunani dengan kumis tipis, hidung mancung, bulu mata lentik yang membuat para kaum hawa tampak insecure, bibir merah alami, rahang yang tegas dan jangan lupakan bola mata hazel yang mampu menghipnotis semua orang yang bertatapan dengannya tak terkecuali dengan Fayyola. Karena ia akui ia menyukai laki-laki berprofesi sebagai dokter itu yang berawal dari mata hingga turun ke hati. Tapi sayangnya dokter tampan itu sangat sulit untuk bisa ia taklukan pasalnya dokter yang sangat ia idam-idamkan itu sangat sulit ia ajak bercengkrama ditambah banyak perempuan lain yang juga tengah mengejar dokter tampan incarannya itu.
Dan apakah Fayyola atau sering di panggil Yola itu akan menyerah begitu saja saat melihat banyaknya saingan mendapatkan hati dokter Adam dan memilih mencari pria idaman yang lain yang memiliki profesi sama dengan dokter Adam? Atau justru dia berhasil meluluhkan hati dokter Adam yang sangat ia idam-idamkan itu dan menyingkirkan semua saingannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28
Yola dan Erland telah sampai di apartemen pribadi milik Yola satu jam yang lalu. Dan saat Yola di sibukkan dengan mengolah steak yang akan ia buat, Erland memilih untuk menyibukkan dirinya dengan game online di ponselnya. Hingga teriakan Yola menghentikan kegiatannya itu.
"Kak, steaknya sudah jadi. Makan dulu!" teriak Yola dari arah dapur. Erland yang mendengar hal tersebut dengan cepat ia bergegas mendekati Yola. Dan saat dirinya memasuki area dapur, Erland langsung bisa mencium bau khas steak yang sangat menggiurkan itu.
"Wahhhhh dari baunya saja sepertinya enak nih," ujar Erland sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang diatas meja didepannya telah tersedia steak buatan Yola.
Yola yang masih sibuk membersihkan peralatan dapurnya pun ia menolehkan kepalanya kearah Erland. Lalu setelahnya ia segara mengeringkan tangannya sebelum dirinya mendekati laki-laki itu.
"Cobain Kak," ujar Yola dengan berdiri di hadapan Erland dan hanya terhalang oleh meja makan saja.
Erland menganggukkan kepalanya antusias, kemudian ia mulai mengiris steak tersebut dan setelahnya ia mulai melahapnya.
"Gimana Kak? Enak tidak?" tanya Yola khawatir jika masakan yang ia buat itu kurang bumbu.
Dan kekhawatirannya itu semakin menjadi saat Erland tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi. Bahkan ekspresi wajah laki-laki itu terlihat sangat aneh dengan kunyahan yang sangat pelan.
"Kak, kenapa kakak ngunyahnya pelan banget? Apa masakan Yola tidak enak? Kurang apa? Kurang bumbunya? Atau masih amis? Ayo Kak jawab, masakan Yola enak tidak?" ucap Yola.
Erland menatap wajah Yola lalu setelahnya ia menggelengkan kepalanya yang membuat wajah Yola lesu seketika.
"Tuh kan masakan Yola tidak enak," ucap Yola dengan menundukkan kepalanya dan hal tersebut membuat Erland tertawa.
Yola yang mendengar tawa Erland pun ia menegakkan kepalanya kembali dengan kerucutan di bibirnya.
"Ck, Kakak ngetawain Yola karena masakan Yola tidak enak?" ujar Yola yang bukannya dijawab oleh Erland, laki-laki itu justru semakin menertawakan dirinya.
"Kak Er, ishhh. Ya udahlah, ketawa sana sepuasnya. Yola gak peduli," ucap Yola kemudian ia melepas apronnya dan menaruh apron tersebut ke atas meja sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya ingin meninggalkan area tempat makan tersebut. Tapi saat dirinya melewati tempat Erland duduk, lengannya dicekal oleh laki-laki tersebut.
"Tunggu dulu. Kakak kan belum menjawab tentang masakan kamu ini," ujar Erland.
"Gak perlu dijawab juga Yola sudah tau jawabannya," ucap Yola.
"Oh ya, memangnya kamu tau Kakak mau jawab apa?"
"Kakak mau jawab kalau masakan Yola tidak enak sama sekali. Iya kan?" tuduh Yola yang membuat Erland menggelengkan kepalanya.
"Salah besar. Kakak tidak ingin menjawab seperti itu. Tapi Kakak mau menjawab kalau masakan kamu ini rasanya tidak jauh beda dengan steak yang sering di buat Mommy Kakak dan kakak yakin Dokter Adam akan menyukainya," ujar Erland dengan senyumannya. Dan hal tersebut membuat Yola melengkungkan bibirnya menjadi sebuah senyuman.
"Benarkah dokter Adam akan menyukainya? Dan darimana Kakak bisa sangat yakin kalau dokter Adam akan menerima masakan Yola?" Erland tampak menggaruk tengkuknya. Ia lupa jika dirinya masih menyembunyikan hubungannya dengan Adam. Tapi sebenarnya ia juga tak yakin tentang masakan Yola itu akan diterima atau tidak oleh Adam, tapi jika sampai Adam benar-benar merasakan masakan Yola ini ia sangat-sangat yakin laki-laki itu akan sangat menyukainya, masalahnya masakan Yola benar-benar sangat mirip dengan masakan Mommy Della.
"Kak, jangan bengong dong dan cepat jawab pertanyaan Yola tadi," ucap Yola sembari menepuk pundak Erland yang membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya.
"Ya---ya Kakak hanya menebak saja. Sudah lah Kakak mau lanjut makan karena Kakak habis ini harus segera pergi. Mommy Kakak tadi menelepon, meminta Kakak untuk mengantar beliau ke suatu tempat. Dan kamu tidak papa kan nanti ke rumah sakit pakai taksi online? Dan taksinya biar Kakak yang pesanin sekarang ya," ujar Erland dan saat dirinya ingin mulai mencarikan taksi online untuk Yola, perempuan itu lebih dulu mengentikan niatannya tadi.
"Tidak usah Kak. Aku disini ada motor. Nanti aku kesana pakai motor aku saja," ucap Yola.
"Kamu yakin mau ke rumah sakit pakai motor?" Yola menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu, yang penting kamu hati-hati, oke," ucap Erland yang lagi-lagi diangguki oleh Yola.
"Siap bos laksanakan. Ya sudah kalau gitu Kakak lanjut makanannya dan Yola mau siap-siap masukin steak buat dokter adam kedalam kotak makan," ujar Yola yang diangguki oleh Erland. Yola yang melihat anggukan dari Erland pun dengan cepat ia bergegas menuju ke dalam dapur lagi. Semangat dan tingkat kepedean dirinya akan masakkan yang dia buat itu meningkat, saat Erland mengatakan jika masakannya itu enak dan terlebih laki-laki itu juga yakin jika dokter Adam akan menyukainya.
"Semoga apa yang di katakan oleh Kak Erland tadi benar. Jika Dokter Adam akan menerima masakanku ini," batin Yola sembari menatap daging steak tadi dengan seulas senyumannya sebelum tangannya kini bergerak untuk menyusun steak tadi kedalam kotak makan dengan menambahkan sedikit sayur sebagai pelengkap makanan itu.
Tak hanya makanan saja yang Yola siapkan untuk Adam melainkan ia juga menyiapkan minuman berupa lemon tea yang sudah ia masukkan ke salah satu botol minuman koleksinya yang masih baru.
Dan setelah dirinya selesai mengemas semuanya didalam lunch bag, ia segara menghampiri Erland yang ternyata juga sudah selesai makan masakkannya tadi.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Erland sembari menatap kearah tangan Yola yang tengah membawa lunch bag tadi.
Yola menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Ya sudah kalau begitu kita bareng saja keluarnya. Kakak juga mau pergi soalnya," ujar Erland.
"Baiklah. Ayo kita pergi sekarang," ucap Yola lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya diikuti oleh Erland dibelakangnya.
Mereka berdua terus berjalan beriringan hingga sampai di basemen apartemen Yola.
"Kakak pergi dulu. Kamu hati-hati dijalan. Jika ada sesuatu langsung kabarin Kakak," ucap Erland.
"Iya Kak. Kakak juga hati-hati ya. Salam untuk Mommy Kakak," ujar Yola yang dibalas anggukan serta senyuman oleh Erland sebelum laki-laki itu segara masuk kedalam mobilnya. Dan sebelum mobil itu pergi dari basemen tersebut, Erland menyempatkan untuk membunyikan klakson mobilnya untuk sekedar berpamitan kepada Yola. Dan hal tersebut dibalas dengan lambaian tangan dari Yola.
Yola terus menatap kepergian mobil tersebut hingga sudah tak bisa ia lihat lagi dan barulah dia bergegas menuju ke motor maticnya yang sudah beberapa hari ini tak ia pakai itu. Lalu tak membuang-buang waktu lagi, Yola segara menaiki dan menjalankan motor tersebut menuju kearah rumah sakit.
Dan tanpa Yola ketahui jika ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya sedari tadi dan saat dirinya sudah benar-benar keluar dari area apartemen, orang tersebut mengikutinya dari belakang.