BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Safe House dan Pengakuan di Balik Selimut
Pukul 02.15 dini hari. Sebuah rumah minimalis modern yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan pinus pinggiran kota menjadi satu-satunya tempat yang terang di tengah kegelapan malam. Ini adalah safe house milik Pratama Corp—tempat yang didesain untuk bertahan dari serangan skala militer, namun kini justru terasa seperti tempat paling tenang di dunia bagi dua orang yang baru saja lolos dari maut.
Begitu pintu baja otomatis tertutup rapat dan terkunci, Rani merosot jatuh ke lantai kayu, napasnya tersengal panjang. Seluruh tubuhnya dipenuhi bercak jelaga, gaun satin hitamnya koyak di bagian bahu, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai.
Riko, yang masih mengenakan kaos taktis yang juga penuh debu, segera berlutut di depan istrinya. Dia tidak langsung menyentuh Rani, melainkan menatap wajah wanita itu dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran yang mendalam.
"Kamu terluka?" suara Riko serak, masih menyimpan sisa ketegangan perang.
Rani menggeleng pelan, meski tangannya gemetar hebat. Dia mendongak, menatap mata Riko yang dalam, dan untuk pertama kalinya, semua tembok ego yang dia bangun selama ini runtuh. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya mengalir jatuh di pipinya yang kotor oleh debu. "Aku... aku takut sekali, Riko. Aku pikir tadi kita akan mati bersama."
Riko menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa memancar dari bahunya yang merosot. Dia menarik Rani ke dalam pelukan yang sangat erat, tidak peduli dengan kotoran yang menempel di baju mereka. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak hari ini, tidak akan pernah."
Tiga puluh menit kemudian, suasana berubah menjadi lebih domestik. Riko telah menyiapkan air hangat di kamar mandi safe house. Karena keterbatasan fasilitas dan kebutuhan untuk tetap waspada, Rani membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Di balik pintu kamar mandi, Rani membiarkan air hangat mengalir deras, membasuh seluruh sisa jelaga, debu, dan ketakutan dari tubuhnya. Setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti penghapus memori buruk malam ini. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin yang berembun. Dia bukan lagi CEO Rani Group yang ditakuti; dia hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa hidupnya kini memiliki arti lain di luar lembar kontrak bisnis.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi hotel yang tersedia di sana, dia mendapati Riko sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu sudah membersihkan dirinya, mengenakan kaos polos berwarna abu-abu yang memperlihatkan lekuk bahunya yang kokoh.
Keheningan di kamar itu terasa sangat tebal, namun kali ini terasa manis, bukan mencekam.
Riko menoleh, matanya terpaku pada Rani selama beberapa detik. Ada binar kekaguman yang jujur di sana, sesuatu yang belum pernah Rani lihat sebelumnya saat pria itu sedang dalam mode "CEO" atau "Pelindung".
"Kamu aman sekarang," bisik Riko pelan.
Rani berjalan mendekat, lalu duduk di samping Riko. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga dia bisa merasakan panas tubuh pria itu. "Riko... kita sudah selamat dari ledakan itu. Rumahku hancur, mungkin besok berita akan menyebut kita sudah tidak ada. Tapi... setelah ini, apa?"
Pertanyaan Rani menggantung di udara. Ini adalah inti dari segala konflik mereka selama tiga bulan terakhir. Kontrak pernikahan itu sebentar lagi akan berakhir secara administratif. Namun, apa yang terjadi di safe house ini—semua ketakutan, perlindungan, dan kecupan-kecupan yang terjadi—telah melampaui dokumen apa pun.
Riko menoleh sepenuhnya, menatap Rani dengan intensitas yang membuat napas Rani tertahan. Dia meraih tangan Rani, menyatukan jemari mereka di atas pangkuannya.
"Kamu bertanya tentang kontrak itu?" tanya Riko lembut.
Rani mengangguk pelan.
Riko terdiam sejenak, lalu memberikan senyuman kecil yang tulus. "Sejak awal, aku memang datang kepadamu untuk membalas dendam pada dunia yang membuangku. Kamu memberiku platform, dan aku memberimu kesuksesan. Tapi, Rani... setiap kali aku melihatmu berdiri di depan musuh, setiap kali aku melihat egomu yang retak saat kamu ketakutan, aku sadar sesuatu."
"Apa itu?" suara Rani nyaris berbisik.
"Aku tidak ingin menjadi suami kontrakmu lagi," ucap Riko, suaranya mantap dan jujur. "Aku tidak ingin menjadi elang yang kamu sewa untuk melindungimu. Aku ingin menjadi pria yang berdiri di sampingmu, bukan sebagai mitra bisnis, tapi sebagai seseorang yang mencintaimu lebih dari saham, proyek, atau dendam apa pun."
Mendengar kalimat itu, jantung Rani berdegup kencang, kali ini karena rasa bahagia yang meluap-luap. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Rani mendekat, menempelkan keningnya di kening Riko, memejamkan mata.
"Aku selalu merasa aku harus menjadi Alpha agar tidak ada yang bisa menyakitiku," bisik Rani dengan suara serak. "Tapi denganmu... aku merasa nyaman menjadi diriku yang rapuh. Terima kasih, Riko. Terima kasih karena sudah membuat kontrak itu jadi tidak berarti lagi."
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, di sebuah tempat persembunyian yang tak diketahui siapa pun, Riko menarik pinggang Rani, membaringkan tubuh mereka ke atas ranjang. Tidak ada bantal guling, tidak ada sekat, tidak ada lagi dusta.
Riko mengecup lembut ujung hidung Rani, lalu berbisik di bibirnya, "Mulai malam ini, tidak ada lagi Rani CEO dan Riko yang bangkrut. Hanya ada kita. Dan besok pagi, saat matahari terbit, kita akan membangun kembali segalanya dari nol. Bersama."
Rani melingkarkan lengannya di leher Riko, menarik pria itu semakin dekat. "Aku akan menunggumu di sana, suamiku."
Ciuman yang mereka bagi malam itu adalah segel dari komitmen baru. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi drama bisnis yang memaksa mereka untuk bersandiwara. Malam itu, di dalam pelukan yang hangat, mereka akhirnya tidur dengan nyenyak, membiarkan dunia di luar sana terus berputar, karena bagi mereka, dunia mereka sudah lengkap di dalam kamar kecil ini.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄