NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Sinar matahari sore Los Angeles yang membakar aspal perlahan meredup, digantikan oleh jajaran lampu merkuri jalanan yang mulai menyala satu per satu.

Sepulangnya dari Oakridge High School, Issabelle von Reichenbach tidak membuang waktunya sedikit pun untuk meratapi kepalanya yang pening atau debaran aneh pasca-insiden koridor bersama Navarro Von-riccardo.

Bagi seorang yang dibesarkan di bawah doktrin ketat klan militer Jerman, waktu adalah Barang yang terlalu mewah untuk dihambur-hamburkan.

Begitu menginjakkan kaki di rumah kecil keluarga Wadde’, Issabelle langsung melesat menuju kamar bawah tangganya yang sunyi.

Ia melepas seragam sekolahnya dengan cepat, melipatnya rapi, lalu menggantinya dengan pakaian kerja yang jauh lebih fungsional.

Sepotong kaus oblong hitam polos yang pas di tubuh, celana kargo kelabu dengan saku taktis di kedua sisinya, serta sepasang sepatu bot kulit hitam yang biasa ia gunakan untuk bergerak lincah.

Setelah mengikat rambutnya tinggi-tinggi menjadi ponytail yang kokoh, ia menyambar jaket hoodie besar berwarna gelap dan langsung berjalan cepat menuju tempat kerja pertamanya: bengkel milik Harrison Wadde’.

...ooOoo...

Pekerjaan di hari pertamanya berjalan dengan sangat baik, bahkan melampaui ekspektasi siapa pun di tempat itu.

Pengetahuan mekanis tingkat tinggi yang dimiliki Issabelle—yang aslinya dilatih untuk memodifikasi kendaraan taktis di Frankfurt—membuatnya mampu menyelesaikan penyetelan mesin twin-turbo pada sebuah mobil sport klasik dalam waktu beberapa jam saja.

Jemarinya bergerak cekatan di antara oli, kunci pas, dan kabel-kabel rumit, bekerja tanpa banyak bicara layaknya sebuah mesin cetak bertenaga tinggi.

Harrison yang awalnya memandang remeh terpaksa terdiam memperhatikan bagaimana anak tirinya itu bekerja dengan efisiensi yang menakutkan.

Jam dinding di sudut bengkel sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika Issabelle mengelap tangannya yang bernoda oli menggunakan kain perca.

Suasana bengkel sudah sepi, menyisakan Harrison yang sedang menghitung lembaran uang di balik meja kasir kayu yang berbau rokok murah.

Harrison melangkah mendekat, lalu melemparkan beberapa lembar uang dolar sebagai upah harian ke atas meja di depan Issabelle.

Dengan gerakan kasar, pria paruh baya itu menaik-turunkan alisnya yang tebal, menatap Issabelle dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan kebencian lawas.

"Kau memang lebih baik bekerja kasar seperti ini," kata Harrison, suaranya parau dan berbau alkohol.

Ia mendengus sinis, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rapi. "Asal jangan jadi jalang saja di luar sana. Aku tidak sudi menampung anak harammu lagi di rumahku nanti, sama seperti ibumu yang membawa sial itu."

Sloane yang kebetulan baru keluar dari ruang istirahat belakang sambil menenteng bekal Makan langsung menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca menahan hinaan suaminya.

Issabelle tidak berkedip.

Wajahnya tetap sekaku balok es, tidak ada kilatan luka atau air mata di manik mata abu-abunya. Hinaan Harrison tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelitik harga dirinya.

Ia meraih lembaran uang dolar tersebut, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku kargo celananya.

Sebelum melangkah pergi, Issabelle memutar tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam mata Harrison dengan pandangan yang begitu tajam hingga membuat pria paruh baya itu refleks mundur setengah tapak.

"Aku akan menjalang setelah ini," ucap Issabelle, suaranya terdengar sangat kaku, dingin, dan tanpa emosi.

"Dan aku bukan seperti ibuku yang bodoh."

Tanpa menunggu balasan atau makian lanjutan dari Harrison, Issabelle menarik tudung hoodie-nya ke atas kepala, lalu melangkah keluar meninggalkan bengkel yang pengap itu, berjalan cepat menuju halte bus umum yang kebetulan terletak tidak jauh dari sana.

...ooOoo...

Suasana malam di dalam bus umum berukuran besar itu terasa begitu sunyi dan dingin.

Hanya ada beberapa penumpang yang duduk berjauhan, sebagian besar dari mereka adalah pekerja paruh waktu yang tertidur kelelahan dengan kepala bersandar pada kaca jendela yang bergetar.

Issabelle memilih duduk di barisan tengah, bersandar pada kursi kulit sintetis yang robek di beberapa bagian.

Namun, baru tiga halte terlewati, insting yang telah diasah selama bertahun-tahun di Frankfurt mendadak mengirimkan sinyal bahaya yang mutlak ke pusat sarafnya.

Seluruh bulu kuduk Issabelle meremang. Udara di dalam bus mendadak terasa pekat.

Ada sesuatu yang mencurigakan.

Melalui pantulan samar dari kaca jendela bus yang gelap, Issabelle bisa merasakan ada sepasang mata yang terus mengawasinya sejak ia naik.

Fokus pandangan itu terlalu konstan, terlalu terlatih, dan tidak memiliki pola seperti penumpang biasa yang tidak sengaja menatap orang lain.

Seseorang sedang menguncinya sebagai target buruan.

Apakah aliansi pemberontak dari Jerman sudah berhasil melacak paspor palsuku hingga ke Los Angeles? batin Issabelle, dadanya mendadak terasa sesak oleh amarah dan kewaspadaan yang memuncak.

Issabelle tidak mau mengambil risiko bertarung di dalam ruang sempit seperti bus umum yang bergerak.

Dengan gerakan yang sangat tenang, ia bangkit dari kursinya, melangkah menuju pintu tengah, dan menekan tombol berhenti darurat dengan cepat.

Begitu bus berhenti mendadak di pinggir jalan raya yang dikelilingi oleh jajaran gedung tua, Issabelle melompat turun ke atas trotoar yang basah oleh sisa hujan.

Dari sudut matanya, ia melihat sesosok pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam ikut melompat turun dari pintu belakang bus, menjaga jarak sekitar sepuluh meter di belakangnya.

Issabelle menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan di balik kegelapan tudungnya.

Kau salah memilih tempat untuk bermain, Brengsek, desisnya dalam hati.

Ia mempercepat langkah kakinya, berbelok masuk ke dalam sebuah lorong sempit di antara dua gedung yang mengarah ke bagian belakang sebuah bar malam eksklusif.

Sembari berjalan dengan ritme yang cepat, kedua tangan Issabelle bergerak lincah di bawah kain hoodie-nya yang longgar.

Dengan beberapa sentakan kancing dan lipatan yang ia pelajari di akademi militer, dalam hitungan detik hoodie besar yang ia pakai bertransformasi, menyusut dan mengencang menjadi sepotong gaun malam mini yang pas membungkus lekuk tubuh rampingnya—sebuah trik penyamaran cepat ala backstage agen lapangan.

Ia melepas ikatan rambutnya, mengacak-acak rambutnya yang panjang dengan jemarinya agar terlihat sedikit berantakan layaknya seorang wanita yang siap menghabiskan malam di lantai dansa.

Di belakangnya, langkah kaki pria misterius itu masih terdengar konstan mengikutinya, melangkah pelan namun penuh kepastian.

Issabelle tetap berjalan santai, mengarahkan langkah kakinya menuju pintu masuk sebuah bar malam eksklusif bernama The Velvet Eclipse yang dipenuhi oleh jajaran mobil mewah dan dentuman musik bas yang berat dari dalam.

Beruntung baginya, penjaga pintu berbadan besar di depan bar tidak menahannya sama sekali; penampilan barunya dengan gaun mini hitam yang menawan membuat para penjaga langsung membukakan tali pembatas dengan senyuman lebar.

Begitu melangkah masuk ke dalam interior bar yang dipenuhi oleh keremangan lampu neon merah dan kepulan asap, Issabelle tersenyum dingin.

Ia membantah lirih dalam hati, Ucapkan selamat tinggal pada dunia malam ini, Brengsek.

Melalui pantulan cermin besar di dekat area bar utama, Issabelle melihat pria berjaket kulit hitam itu ternyata juga berhasil menyusup masuk ke dalam, matanya masih melacak rambutnya di antara kerumunan orang yang menari.

Issabelle semakin menyunggingkan senyuman sinisnya.

Ia memutar tubuhnya, berjalan dengan langkah anggun menuju ke arah koridor sepi yang mengarah ke toilet bagian belakang.

Begitu melangkah masuk ke area lorong toilet yang sepi dari jangkauan pengunjung dan dentuman musik, Issabelle tidak membuang fraksi detik yang krusial.

Mendengar langkah kaki di belakangnya semakin mendekat, ia langsung berbalik dengan gerakan secepat kilat, meladeni pria itu tanpa peringatan apa pun.

KREK! BUGH!

Sebuah pukulan lurus dari pria itu berhasil dihindari Issabelle dengan memiringkan kepalanya ke kiri.

Detik berikutnya, perkelahian jarak dekat yang sangat brutal terjadi di koridor sempit tersebut.

Issabelle benar-benar berkelahi mengeluarkan seluruh tenaganya—ia melayangkan pukulan kombinasi, sikutan tajam ke arah rahang, dan tendangan menyapu yang mengincar lutut lawan.

Namun, pria berjaket kulit itu ternyata tak kalah tangguh.

Ia memiliki pertahanan yang sangat kokoh, mampu menahan hantaman siku Issabelle dengan lengannya dan membalas dengan kuncian-kuncian berat yang biasa digunakan oleh pasukan elite profesional.

Ketegangan memuncak di antara sapuan angin dan benturan fisik, hingga saat sebuah kesempatan terbuka ketika pria itu mencoba menerjang pinggangnya—Issabelle menggunakan bobot tubuh lawan, memutar poros kakinya, dan dengan satu sentakan otot punggung yang luar biasa—

BRUKKK!

Issabelle membanting tubuh pria besar itu ke atas lantai beton koridor dengan teknik bantaran judo yang sempurna.

"Ahhh...!" pria itu berteriak kesakitan saat punggungnya menghantam lantai dengan keras.

Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, Issabelle sudah melompat di atas tubuhnya, menindih dada pria itu dan mengunci kedua lengannya di belakang punggung dengan kuncian yang mematikan.

Napas Issabelle memburu pendek, matanya berkilat penuh amarah yang dingin.

Di dalam kepalanya, ia menebak-nebak dengan cepat: Apakah ini salah satu musuh Daddy yang sudah tahu keberadaanku?

"Brengsek!!!" desis Issabelle tanpa basa-basi, menekankan lututnya lebih dalam ke atas tulang rusuk pria di bawahnya.

"Katakan, kau dari klan mana?!"

Pria di bawah kunciannya tidak menjawab, ia hanya meringis menahan sakit yang luar biasa di persendian lengannya.

Hingga tiba-tiba... suara tepuk tangan yang lambat dan berirama menggema dari arah ujung koridor yang gelap di belakang Issabelle.

PROK! PROK! PROK!

Tubuh Issabelle seketika menegang sempurna karena terkejut.

Instingnya berteriak bahwa ada predator lain yang jauh lebih berbahaya di tempat ini.

Ia dengan cepat membalikkan kepalanya, namun tetap mempertahankan kunciannya pada pria di bawahnya.

Di sana, berdiri seorang remaja dengan kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka, bersandar pada dinding koridor dengan gaya yang sangat santai dan angkuh.

Itu Navarro Von-riccardo.

DEG.

Jantung Issabelle seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh.

Navarro melangkah mendekat secara perlahan, sepasang mata gelapnya menatap pemandangan di depannya dengan senyuman puas yang sarat akan kegilaan romantis sekaligus kecerdasan yang menakutkan.

"Sejak awal aku sudah menduga... kau bukan hanya sekadar anak haram dari keluarga Wadde’," ucap Navarro, suaranya yang berat dan bariton terdengar bergema begitu pekat di koridor yang sunyi.

Ia menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Issabelle, menunduk untuk menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu gadis itu.

"Dari awal aku sudah merasa familier dengan tatapan matamu, Issabelle. Dan juga... tato kecil di balik tempat ini," lanjut Navarro, mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah bagian belakang telinga kirinya sendiri—mengindikasikan posisi yang sama pada tubuh Issabelle.

Di balik helaian rambut Issabelle yang kini terurai berantakan, terdapat sebuah tato kecil hitam yang sangat rapi: gambar kartu As Sekop yang menyatu dengan sebuah mahkota kecil.

Itu adalah simbol darah, tanda kepemilikan, dan segel tingkat tinggi.

Navarro tersenyum miring, matanya berkilat penuh kemenangan.

"Sebuah tato kecil. Tapi aku sudah melihatnya dengan sangat jelas... saat kita berciuman di koridor air panas tadi siang. Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku."

Napas Issabelle tertahan di tenggorokan.

Ia tidak menyangka bahwa di sela-sela lumatan ciuman agresif Navarro tadi siang, pria itu tidak hanya sedang memuaskan obsesi fisiknya, melainkan juga sedang memindai tubuhnya secara mendetail seperti seorang detektif terlatih.

"Kau bukan hanya sekadar gadis pindahan biasa dari Jerman," ucap Navarro lagi, nadanya merendah menjadi bisikan yang menindas.

"Hanya mereka yang sama-sama terjun ke dalam Dunia Bawah Jerman yang mengerti arti dari tato kartu As dan mahkota itu."

Navarro menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dan kebetulan... aku memiliki beberapa kenalan lama di Frankfurt. Aku juga pernah beberapa kali melakukan perjalanan bisnis bersih bersama ayahku ke Jerman. Itulah kenapa aku bisa memahami dan menguasai beberapa bahasa asing, termasuk bahasamu."

Mata gelap Navarro kemudian beralih menatap pria yang saat ini sedang dikunci di bawah tubuh Issabelle.

Pria berjaket kulit itu mendadak mengangguk hormat ke arah Navarro, menandakan bahwa ia bukan seorang musuh, melainkan bagian dari rencana ini.

"Dan melihat apa yang baru saja kau lakukan dengan salah satu pengawal terbaikku ini..." Navarro kembali menatap Issabelle, senyuman gilanya semakin melebar sempurna saat ia menyimpulkan hasil analisisnya.

"Tato khusus itu, efisiensi gerakanmu, dan cara perkelahianmu yang dingin... tidak salah lagi."

Navarro mencondongkan tubuhnya ke depan, membisikkan satu nama klan legendaris yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Issabelle seketika membeku.

"Kau... berasal dari klan Dark Dubois?"

DEG.

Issabelle terdiam seratus bahasa.

Cengkeraman tangannya pada pengawal di bawahnya perlahan melonggar karena syok mental yang luar biasa.

Brengsek! Bajingan ini benar-benar menjebakku! amuk Issabelle dalam hati, rahangnya mengetik rapat menahan badai kepanikan.

Topeng penyamarannya hancur total, dan kini ia menyadari bahwa pria remaja di depannya ini bukanlah sekadar berandalan sekolah yang terobsesi pada fisiknya, melainkan seorang pewaris yang baru saja mengunci seluruh rahasia hidup dan matinya di dalam satu genggaman tangan yang mutlak.

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!