Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"
Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUBUR MASA LALU
Velin diam untuk beberapa saat.
" Mas tahu, kamu masih mencintai mas. Mas menyesal telah mengkhianatimu hanya demi seorang anak yang sebenarnya tidak bisa mas berikan. Mas minta maaf sayang. Tolong beri mas satu kesempatan lagi. Kalau mas berani mengkhianati kamu lagi, maka kamu boleh tinggalkan mas untuk selamanya." Pinta Zayn.
" Heh untuk apa aku jatuh ke lubang yang sama? Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua buat orang yang sudah nyakitin aku. Lebih baik segera pergi dari sini. Kedatangan kalian tidak di inginkan." Ujar Velin.
Nyonya Yuli beranjak mendekati Velin, " Sayang, mama juga minta maaf padamu. Semua ini terjadi karena kami termakan bujuk rayuannya Siska. Kalau saja Siska tidak membawa laporan palsu itu, kami tidak mungkin menyakitimu. Bukan kah waktu itu sudah tidak ada masalah lagi? Kamu mau menerima anak itu sebagai anakmu kan? Jadi mama mohon jangan perbesar masalah ini. Zayn sudah memutuskan hubungan dengan Siska, sekarang sudah waktunya kalian bersama. Anggap saja masalah ini sebagai badai rumah tangga kalian berdua."
" Maaf nyonya Yuli, saya rasa urusan anak saya dengan anak anda sudah selesai. Tidak ada yang perlu di perbaiki lagi. Masalah Zayn menyakiti anak saya, tidak saya perhitungkan merupakan keberuntungan bagi keluarga anda. Jadi akan lebih baik jika anda mau menerima akibat dari perbuatan kalian berdua. Jangan seret anak saya ke jurang penderitaan lagi. Pintu masih berada di tempat yang sama ketika anda masuk tadi, silahkan anda meninggalkan rumah ini. Kami punya banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan." Usir tuan Wijaya secara halus.
Zayn menatap Velin, " Sayang, apa kamu benar benar mau menikah dengan Zayn?"
Velin menghembuskan kasar nafasnya. " Ya, jika dia sudah sadar nanti aku pasti akan menikahinya."
Jawaban Velin membuat hati Zayn terluka.
" Tapi kamu tidak mencintainya? Lalu bagaimana kamu bisa bahagia?"
Velin menatap tajam ke arah Zayn, " Apa cinta kita membuat aku bahagia?" Zayn bungkam.
" Tidak mas." Lanjut Velin. " Justru cinta kita membuat aku menderita sampai penderitaan itu terasa mendarah daging dalam tubuhku. Pengkhianatan dan hinaanmu membuat harga diriku jatuh sejatuh jatuhnya mas. Aku bahkan tidak mampu menatap wajah orang orang yang mencibir dan menertawakan aku. Kalau bukan karena Bram, aku tidak akan pernah bisa melihatmu dan Siska hancur. Aku membencimu mas, sangat sangat membencimu." Imbuh Velin berapi api.
" Maafkan aku!" Ucap Zayn.
" Pergilah dari hidupku! Dan jangan lagi campuri urusanku. Sudah cukup aku kau buat menderita selama ini. Hidup damai itu lebih baik daripada kamu harus menjadi pengemis cinta di depanku." Ucap Velin.
" Baiklah aku akan pergi, tapi aku tidak akan mau melepaskan kamu begitu saja. Saat ini kamu sedang emosi, aku akan kembali setelah kamu lebih tenang." Ucap Zayn. Ia menatap tuan dan nyonya Wijaya. " Pa, ma aku pulang dulu."
Zayn menggandeng tangan ibunya meninggalkan rumah milik keluarga Wijaya.
Velin mendaratkan pantatnya dengan kasar.
" Pusing aku pa, ma. Masalah satu belum selesai, timbul lagi masalah masalah lainnya." Keluh Velin.
" Beginilah hidup nak, yang penting kamu harus sabar dan tetap optimis." Sahut tuan Wijaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini tiba acara pemilihan pergantian CEO perusahaan ZA group. Para petinggi perusahaan sudah berkumpul di ruang rapat termasuk Zayn. Velin masuk dengan di dampingi oleh Daniel dan tuan Wijaya beserta Arnold.
" Selamat pagi semuanya." Sapa Velin.
" Pagi nona." Jawab mereka.
Acara pun segera di mulai. Berdasarkan hasil pemungutan suara dan kepemilikan saham, akhirnya Velin telah sah menjadi direktur utama perusahaan ZA group yang langsung mengajukan pergantian nama menjadi AW group. Zayn nampak lesu, ia di turunkan jabatannya menjadi manager pemasaran yang berarti ia lebih sering menghabiskan waktu di lapangan. Dan tentunya tidak bisa bertemu dengan Velin selain saat rapat.
" Terima kasih atas dukungan kalian semua. Mohon bimbingannya dan kerja samanya supaya saya bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik." Ucap Velin di penghujung acara.
" Sama sama nona, kami percaya dengan bakat anda selama ini nona."
" Terima kasih."
Velin dan yang lainnya meninggalkan ruang rapat. Zayn kembali mencoba mendekati Velin.
" Selamat sayang, akhirnya keinginanmu tercapai." Ucap Zayn.
" Kita sudah bercerai. Aku sekarang atasanmu, jadi panggil yang sopan." Ucap Velin.
" Ah maaf, nona Wijaya."
Velin berlalu begitu saja menuju ruangannya di ikuti Daniel dan yang lainnya. Sampai di ruangan yang dulu di tempati Zayn, Velin segera meminta seseorang untuk mendekorasi ulang ruangannya. Meskipun ruangan itu hasil dekorasinya dulu, namun ia menginginkan suasana baru. Ia ingin melupakan masa lalunya bersama Zayn.
" Sayang, meskipun kamu sudah jadi pemimpin di sini, jangan lupakan perusahaan pokok milik papa ya." Ujar tuan Wijaya.
" Tentu saja pa." Sahut Velin. " Terima kasih atas dukungan papa, kalau papa tidak menutup berita itu, aku yakin mereka tidak akan memilihku meskipun aku pemilik saham tertinggi di sini. Makasih ya pa." Velin memeluk sang ayah tercinta.
" Apapun akan papa lakukan untukmu sayang." Ucap tuan Wijaya mengelus kepala putrinya.
" Jangan lupakan janjimu pada Bram. Papa tidak mau punya anak pembohong atau pun anak yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain."
" Siap pa." Sahut Velin.
Drt.. Drt...
Ponsel Velin berdering, rupanya telepon dari pihak rumah sakit.
" Halo."
" Halo nyonya, saya mau mengabarkan kalau tuan Bram sudah siuman."
" Apa???"
" Iya nyonya, tuan Bram sudah siuman. Beliau menanyakan anda terus. Apa anda mau ke sini?"
" Baiklah aku akan segera ke sana." Velin mematikan sambungan teleponnya.
" Bram sudah sadar?" Tanya tuan Wijaya.
" Iya pa, aku harus ke sana." Sahut Velin. Ia menatap Daniel, " Coba pastiin kalau tante Siska nggak ada di sana Niel."
" Oke bentar." Daniel mengotak atik ponselnya. " Aman Vel, Siska nggak ada di sana. Mungkin dia lagi sibuk cari mangsa lagi." Ucap Daniel.
" Syukurlah kalau gitu, aku bisa menemui Bram." Sahut Velin.
" Aku ikut." Ujar Daniel.
" Nggak usah, kamu kembali ke kantor aja. Aku udah banyak menyita waktumu." Ujar Velin.
" Aku pergi dulu pa."
Velin meninggalkan perusahaannya menuju rumah sakit tempat Bram di rawat. Sesampainya di sana ia segera menuju ruangan Bram yang sudah di pindah di kamar inap VIP nomer satu.
Ceklek...
Velin membuka pintunya, Bram yang sedang berbaring di ranjang menoleh ke arahnya.
" Hai." Sapa Velin menghampiri Bram.
" Mau apa kamu ke sini?"
Deg...
Jantung Velin terasa berhenti berdetak mendengar ucapan dingin yang keluar dari bibir Bram.
" Tentu saja aku mau menjengukmu." Sahut Velin duduk di kursi samping ranjang.
" Kamu mau memastikan apakah aku masih hidup atau sudah mati, begitu kan?"
Velin melongo mendengar ucapan Bram. Bram jauh berbeda dari sebelumnya. Apa otaknya bermasalah? Pikir Velin.
" Aku... "
" Pergi!!!"
Lagi lagi Velin terkejut dengan sikap Bram yang menurutnya berubah drastis.
" Bram, a... aku.. "
" Aku bilang pergi! Aku tidak mau kamu ada di sini." Ucap Bram.
Entah mengapa ada perasaan tidak nyaman di dalam hati Velin ketika Bram tidak menginginkan kehadirannya. Ia berbalik badan melangkah menuju pintu. Saat ia hendak membuka handle pintu tiba tiba...
TBC....