Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Argaya
"Argaya Putri Permana."
Nama itu nempel di kepala Mas Arga kayak paku. Tiap merem, kebayang bayi merah kurus pake selang.
3 hari setelah chat Rayya, Mas Arga kurus 2 kilo. Nggak nafsu makan. Kerja ngelamun.
Naya nyodorin gambar. "Ayah, ini Naya gambar Ayah + Mama + Naya. Kok Ayah sedih?"
Mas Arga senyum dipaksa. "Nggak sayang. Ayah cuma capek."
Jam 10 malem, Sinta ngetok pintu kamar tamu. Bawa 2 gelas susu anget.
"Mas, minum," dia taruh di meja. Duduk di kursi, jarak 2 meter.
Mas Arga nggak nengok. "Makasih Sinta."
"Rayya chat aku lagi," Sinta ngeluarin HP. "Katanya Argaya udah boleh pulang dari inkubator. Beratnya naik jadi 2.1kg."
Mas Arga merem kenceng. "Sinta... jangan cerita..."
"Harus Mas," Sinta suaranya nggak ngejek. Capek. "Karena nama 'Argaya' itu ada nama Mas di situ. Arga + ya. Mau nggak mau Mas bakal denger nama itu seumur hidup."
Dia geser HP ke Mas Arga. Foto baru: Rayya gendong bayi pake baju pink. Tutup muka bayi pake stiker love.
"Rayya bilang, dia nggak akan maksa Mas tanggung jawab. Dia nggak akan nuntut nafkah. Dia cuma... mau Mas tau, kalau Mas punya anak kedua."
Mas Arga nutup muka pake dua tangan. "Aku tau Sinta... aku tau... tapi aku udah milih kamu + Naya..."
"Aku tau Mas," Sinta motong. "Makanya aku nggak nyuruh Mas dateng. Aku cuma nanya... Mas sanggup nggak denger nama 'Argaya' tiap hari tanpa hancur?"
Hening. 1 menit.
Mas Arga ngangkat muka. Matanya merah. "Nggak sanggup Sinta. Sakit. Sakit kayak ditusuk tiap ada orang manggil nama itu."
Sinta manggut. Pelan. "Berarti Mas masih punya hati. Masih ngerasa bersalah. Bagus."
Dia berdiri. Jalan ke kamar Naya. Balik bawa buku gambar Naya yang kemarin.
Sinta buka halaman kosong. Ngambil pulpen Mas Arga.
"Mas, kita bikin perjanjian baru ya," katanya sambil nulis. "Perjanjian Ayah + Ibu buat Naya."
Isinya 3 poin:
Ayah nggak akan sebut nama 'Argaya' di depan Naya.
Ibu nggak akan ngungkit Rayya di depan Ayah.
Kita berdua fokus bikin Naya bahagia. Titik.
"Tanda tangan Mas," Sinta nyodorin pulpen.
Mas Arga tanda tangan. Gemeter. "Arga Permana".
Sinta juga tanda tangan. "Sinta Permana".
Kertas itu dia lipet, masukin ke Al-Quran kecil di meja.
"Udah Mas. Sekarang nama itu jadi rahasia kita. Rahasia yang nggak akan Naya tau sampe dia gede."
Minggu depannya, Naya ulang tahun ke-9. Tema: Unicorn.
Rumah dirias pink-ungu. Temen-temen Naya rame. Mas Arga yang masak. Sinta yang foto-foto.
Pas tiup lilin, Naya merem, berdoa. Terus dia bilang kenceng: "Aku berdoa Ayah + Mama nggak berantem lagi!"
Semua tamu tepuk tangan. Mas Arga + Sinta salaman di depan semua orang. Salaman kaku. Tapi salaman.
Malamnya pas beres-beres, Mas Arga nemu kertas di bawah sofa. Tulisan Naya, pake crayon:
"Ayah jangan sedih ya. Kalau Ayah sedih, Naya juga sedih. Naya sayang Ayah. Naya sayang Mama."
Mas Arga nangis di kamar mandi. Nggak keluar suara. Bahunya ngejang.
Sinta denger dari luar. Dia nggak ngetok. Cuma nyelipin tisu dari bawah pintu.
Besoknya, Sinta dapet chat dari nomor Rayya yang baru lagi.
"Mbak, aku mau pindah ke Surabaya. Jauh dari Jakarta. Biar Mas Arga tenang. Biar Mbak tenang. Aku nggak akan ganggu lagi. Doain aku ya Mbak. Doain Argaya."
Sinta screenshot. Terus dia tunjukin ke Mas Arga pas lagi makan siang. Naya lagi sekolah.
"Mas, Rayya mau pindah Surabaya."
Mas Arga diem. Sendoknya berhenti di tengah jalan ke mulut.
"Bagus," katanya pelan. "Jauh. Biar... biar aku bisa lupa."
Sinta ngangkat alis. "Lupa Mas? Lupa sama anak sendiri?"
"BUKAN LUPA SINTA!" Mas Arga bentak. Pertama kalinya bentak. Terus dia langsung nunduk. "Maksud aku... lupa rasa bersalahnya. Kalau dia jauh, aku nggak tiap hari keinget."
Sinta diem. Terus dia dorong piring Mas Arga. "Makan Mas. Nasi anget. Biar angetin hati Mas yang dingin."
Pas Mas Arga suap pertama, HP Sinta bunyi lagi. Chat dari Rayya: foto KTP Surabaya baru + tiket kereta.
Caption: _"Pamitan Mbak. Makasih udah jadi guru terbaik aku. Guru tentang 'jangan rebut laki-laki orang'. Maaf ya Mbak."_
Sinta nggak bales. Dia cuma arsip chat itu ke folder "Bukti".
Malamnya jam 12, Mas Arga kebangun. Denger Sinta nangis pelan di kamar.
Dia ngetok pelan. "Sinta... kamu kenapa?"
Pintu dibuka dikit. Mata Sinta sembab. "Nggak apa-apa Mas. Mimpi buruk."
" mimpi apa?" Mas Arga nanya, khawatir beneran.
Sinta senyum getir. "Mimpi Naya gede. Terus ada temennya bilang 'Naya, kamu tau nggak? Kamu punya adek tiri namanya Argaya di Surabaya'. Terus Naya nanya ke aku: Mama, Argaya itu siapa?"
Mas Arga lemes. Nyender ke kusen pintu.
"Mas, kita nggak bisa ngubur nama itu selamanya Mas," bisik Sinta. "Suatu hari Naya bakal tau. Dari internet. Dari omongan orang. Dari KTP Mas Arga yang ada 2 anak."
Mas Arga merem. "Terus kita harus gimana Sinta?"
"Kita siapin Mas," Sinta megang gagang pintu. "Siapin jawaban yang jujur. Tapi nggak nyakitin. Jawaban yang bikin Naya bangga punya Ayah yang berani ngaku salah. Bukan Ayah yang ngubur rahasia."
Dia tutup pintu pelan. "Klik".
Mas Arga balik ke kamar tamu. Nggak tidur. Dia buka laptop. Ngetik di notes:
"Kalau Naya nanya tentang Argaya nanti...
Jawab: Nak, dulu Ayah pernah salah. Ayah bikin adek kamu sama Bibi Rayya. Tapi Ayah milih kamu. Karena kamu anak pertama Ayah. Anak yang Ayah tunggu 5 tahun. Argaya itu bukti Ayah pernah bodoh. Kamu bukti Ayah mau jadi bener."
Dia save. Judul filenya: "Untuk Naya Kelak".
Jam 4 pagi, adzan subuh. Mas Arga sholat. Sujudnya lama banget.
"Ya Allah... kalau Engkau takdirin Naya tau tentang Argaya... kasih aku kata-kata yang bener Ya Allah. Jangan kasih aku bohong lagi..."
Pas salam, HP-nya getar. Chat terakhir dari Rayya sebelum ganti nomor:
"Mas, aku udah di kereta. Surabaya 8 jam. Titip salam buat Naya ya Mas. Bilang Tante Rayya sayang sama Mbak Naya. Dan... Mas, maafin aku juga ya. Aku yang ngejar Mas duluan."
Mas Arga nggak bales. Dia hapus chat itu. Terus dia buka galeri. Foto terakhir: foto Naya tiup lilin kemarin.
Dia zoom ke muka Naya. Senyumnya lebar. Giginya ompong 1.
"Maafin Ayah ya Nak... Ayah pernah mau ninggalin kamu demi orang lain. Nggak akan lagi. Demi Allah nggak akan lagi."
Di kamar, Sinta juga belum tidur. Dia megang kunci kuning Unit 704. Dicium.
"1 bulan Mas Arga lulus ujian konsisten.
Ujian kedua: 'Ujian Lupa'.
Ujian ketiga: 'Ujian Jujur ke Naya'."
Dia merem. Bisik ke diri sendiri: "Sinta... kamu belum maafin dia. Tapi kamu udah ngasih dia rumah. Itu cukup. Buat sekarang."