Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: DI UJUNG IBADAH SANG KOLONEL
Setelah mendengar seluruh paparan dan laporan resmi dari Letkol Reyes Adrian Miguel, Kolonel Victoria Reins Mari terdiam sejenak. Matanya kembali menatap lembar manifes berisi nama-nama tim andalan yang dibawa dari Saksana Guard. Dengan gerakan perlahan namun tegas, Victor menutup map dokumen di hadapannya, memberikan isyarat visual kepada bawahannya bahwa laporan kedatangan sore itu telah selesai dan diterima dengan baik.
"Bagus, Reyes. Silakan kembali ke kediamanmu. Biarkan seluruh jajaran stafmu beristirahat dan memulihkan fisik malam ini. Katakan pada mereka, besok pagi kita sudah mulai aktif bertugas secara penuh," ujar Victor, suaranya terdengar bariton dan sarat akan wibawa seorang pucuk pimpinan. "Besok jam delapan pagi, saya akan memimpin langsung rapat koordinasi perdana di ruang data Mako. Kumpulkan seluruh staf baru, termasuk jajaran satuan pendidikan Tamtama dan Perwira yang lain. Kita satukan persepsi operasi pendidikan di Bukit Raya ini."
"Siap, laksanakan, Komandan!" jawab Letkol Reyes Adrian Miguel tegas. Ia segera berdiri, menghentakkan tumit sepatunya, memberikan hormat tertinggi, lalu melangkah tegap keluar dari ruangan kerja Danpusdikmil.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan, ketegangan di bahu tegap Victor runtuh seketika. Pria berpostur 195 sentimeter itu menyandarkan punggungnya yang lelah pada kursi kebesaran, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat dada sejak beberapa menit lalu.
Jika kilas balik ditarik ke belakang, semesta benar-benar menjadi saksi betapa kerasnya Victor mencoba melarikan diri dari bayang-bayang Ayuni Ameera Bakri. Selama lima tahun terakhir, Victor telah mengajukan mutasi kedinasan ke berbagai daerah terpencil, bertugas di mana saja sejauh mungkin, melintasi pulau-pulau terluar, hingga akhirnya memilih tinggal di perantauan yang sangat jauh dari keluarga besarnya sendiri. Semua itu ia lakukan hanya demi satu tujuan fana, mengubur ingatan tentang wanita manis itu. Namun, ke mana pun kakinya melangkah, bayangan Ayu seolah telah menyatu dengan udara yang ia hirup.
Lihatlah dirinya sekarang. Penyesalan itu datang beriringan dengan rasa hancur yang terlambat. Andaikan saja dulu Victor mau menurunkan egonya, andaikan ia lebih percaya pada ucapan wanita cantiknya itu bahwa takdir Tuhan akan selalu memberikan jalan terbaik bagi mereka yang mau berjuang, sudah pasti saat ini mereka bisa bersatu di bawah satu atap yang sah.
Roda takdir memang terkadang mempermainkan manusia dengan cara yang paling kejam. Dua bulan setelah beberapa tahun perpisahan mereka berlalu, sebuah hidayah besar mengetuk pintu hati keluarga Mari. Atas garis hidup yang tidak pernah disangka-sangka, seluruh keluarga besar Victor akhirnya memeluk agama Islam, menjadi mualaf yang taat. Namun, tangis syukur keluarga itu berubah menjadi sayatan sembilu bagi Victor. Tembok perbedaan keyakinan yang dulu ia takuti kini telah roboh atas kehendak Tuhan, tetapi sayangnya, pintu itu roboh saat wanita yang paling ia cintai di dunia ini sudah terlanjur menikah dengan pria lain pilihan keluarganya tepat tiga tahun yang lalu.
Jika dihitung-hitung, rasa kesepian dan kehampaan hidup Victor kini sudah berjalan genap lima tahun. Dan beberapa waktu lalu, hatinya seperti dihantam gada besi hingga bertambah sakit luar biasa saat mendengar kabar dari adiknya, Shaneen, bahwa Ayu telah melahirkan seorang putra kecil yang sangat tampan bernama Arkan. Kabar itu menjadi tamparan paling nyata bahwa wanita yang amat ia cintai kini telah sepenuhnya bahagia, membangun istana kecilnya sendiri bersama pria pilihan keluarganya, tanpa menyisakan tempat sedikit pun untuk namanya lagi.
Victor terus mengutuki dirinya sendiri. Bodoh. Hanya kata itu yang pantas disematkan pada dirinya yang dulu terlalu penakut dan kini tertinggal sangat jauh di belakang. Di mata para prajurit bawahannya, Kolonel Victor adalah sosok komandan yang tak kenal waktu lelah, dingin, kaku, dan tidak pernah sedikit pun melirik atau sekadar menyapa wanita-wanita cantik yang mengantre di luaran sana untuk memenangkan hatinya. Mereka mengira sang Kolonel begitu gila hormat dan jabatan. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena hatinya sudah mati rasa, terkunci rapat di masa lalu.
Tangan besar Victor perlahan bergerak menuju saku dalam seragam PDL lorengnya. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang sudah agak usang di bagian sudutnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah benda di dalamnya terbuat dari kaca yang mudah pecah, Victor membukanya.
Di sana, di balik plastik bening yang bersih, sebuah foto lama masih setia tersimpan dengan rapi. Foto dua manusia yang sama-sama mengenakan seragam loreng kebanggaan TNI AD. Di dalam foto itu, Ayuni Ameera Bakri tampak begitu cantik dan manis, tersenyum lebar ke arah kamera dengan binar mata yang jernih. Kedua tangan mungil Ayu tampak memeluk erat lengan kekar Victor, menyandarkan kepalanya dengan penuh kenyamanan di bahu kokoh pria yang amat ia cintai waktu itu. Kedekatan yang begitu hangat, yang kini hanya menjadi selembar kertas mati yang memicu denyut perih di ulu hati Victor.
Memori lama mendadak berputar tanpa izin di kepala Victor. Dulu, jika para prajurit di lapangan melihat bagaimana kaku dan seramnya sosok Victor saat memimpin latihan, mereka pasti tidak akan pernah percaya bahwa ada satu orang wanita sipil—yang kemudian memakai loreng—yang bisa memarahinya habis-habisan jika ia telat makan atau lupa meminum vitaminnya.
Ayu adalah wanita yang sangat cerewet, satu-satunya wanita selain ibu kandungnya yang memiliki keberanian mutlak untuk menunjuk hidung sang komandan raksasa itu jika sudah mulai mengabaikan kesehatannya sendiri demi tugas. Dan anehnya, Victor yang keras kepala selalu tunduk, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum pasrah menerima omelan panjang dari wanita cantiknya.
Mengingat itu semua, Shaneen bahkan pernah memarahinya habis-habisan hingga menangis. Adiknya itu merutuki ketidakbecusan Victor sebagai seorang pria yang tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkan wanitanya sendiri hingga titik darah penghabisan.
"Kak Victor itu bodoh! Laki-laki macam apa yang melepaskan wanita yang sudah menunggunya bertahun-tahun hanya karena takut karirnya terhambat? Kakak tidak becus jadi pria! Kakak tidak punya nyali untuk memperjuangkan wanita yang mencintai kakak dengan tulus!" kata-kata Shaneen waktu itu sangat tajam, menusuk tepat di ulu hatinya karena semua yang diucapkan adiknya adalah kebenaran yang mutlak.
Malam semakin larut di Bukit Raya, menyisakan desau angin pegunungan yang dingin menusuk tulang. Di dalam kamar pribadinya di rumah jabatan Danpusdikmil, Victor baru saja menyelesaikan ibadah shalat malamnya di atas sejadah hijau tua.
Suasana sunyi merayap seiring dengan kedua tangan Victor yang terangkat tinggi di depan dada. Di ujung doa dan pintanya pada sang pencipta, benteng pertahanan seorang Kolonel yang ditakuti ribuan prajurit itu runtuh sepenuhnya. Air mata yang sengaja ia sembunyikan rapat-rapat dari pandangan dunia, kini mengalir deras membasahi pipinya yang tirus. Bahu kekarnya bergetar hebat di bawah temaram lampu kamar, menumpahkan segala sesak, kesepian, dan rasa bersalah yang ia pikul sendirian selama lima tahun ini.
Dalam isak tangisnya yang tertahan, Victor menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Ia sengaja mengubur suaranya agar tak pernah ada satu pun ajudan atau anggota jaga di luar rumah yang melihat sisi terlemah dari seorang komandan. Di atas sejadah itu, ia hanya bisa memasrahkan hatinya yang hancur, bersiap menghadapi hari esok di mana ia harus berdiri tegap memimpin rapat, menatap mata Kapten Ayuni Ameera Bakri bukan lagi sebagai wanita cantiknya yang cerewet, melainkan sebagai seorang bawahan yang sudah menjadi milik sah pria lain.