NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12

Hawa dingin yang mencekam di dalam ruang tengah malam itu terasa semakin pekat, seolah-olah membekukan udara di sekitarnya. Siska masih berdiri mematung di anak tangga terakhir. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri dengan sangat erat, mencoba menahan jeritan histeris yang hendak meledak dari tenggorokannya. Air mata ketakutan mengalir deras, membasahi pipinya yang sudah seputih kertas.

​Di atas lantai semen yang kini telah digenangi oleh darah merah kehitaman, sebuah pemandangan yang teramat sangat biadab sedang berlangsung di depan matanya.

​Mbak Selfi sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan. Tubuh wanita yang dulunya begitu lembut dan penuh kasih sayang itu kini terbaring terlentang dengan posisi kaku. Kulitnya yang semula bersih berangsur-angsur berubah warna menjadi abu-abu pucat, persis seperti warna kulit mayat yang sudah lama membeku. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya, direnggut paksa oleh kutukan cincin pesugihan kuno yang masih melingkar erat di jari manis tangan kanannya.

​Di atas dada Mbak Selfi, makhluk iblis yang bersemayam di dalam tubuh bayi Doni sedang bergerak dengan sangat agresif.

​Makhluk kecil itu tidak lagi terlihat seperti bayi suci berusia seratus hari yang lucu. Kedua bola matanya menyala dengan warna merah darah yang sangat terang dalam kegelapan ruangan, memancarkan rasa lapar yang amat sangat kelam. Mulut mungilnya terbuka lebar, memperlihatkan deretan gigi-gigi kecil yang mendadak tumbuh menjadi sangat tajam dan runcing seperti jarum besi.

​Tanpa ada rasa iba sedikit pun terhadap ibu yang telah mengandung dan melahirkannya, bayi iblis itu mulai menyerang tubuh Mbak Selfi. Dengan gerakan yang sangat cepat dan buas, mulut kecilnya yang dipenuhi gigi tajam itu langsung mengoyak daster kuning yang dikenakan Mbak Selfi.

​Sreeet... Kreeek...

​Suara kain yang robek diikuti oleh suara kunyahan yang mengerikan mulai menggema di dalam ruang tengah yang sunyi. Bayi Doni mulai menggigit dan mengoyak bagian dada serta payudara Mbak Selfi dengan sangat ganas. Makhluk itu memakan daging ibunya sendiri tanpa sisa, seolah-olah bagian tubuh itu adalah makanan pengganti susu yang paling nikmat setelah menanti selama seratus hari.

​Darah segar berwarna merah pekat menyembur keluar dari dada Mbak Selfi, membasahi wajah dan seluruh tubuh mungil bayi Doni. Namun, makhluk itu tidak berhenti. Dia justru mengeluarkan suara kekehan kecil yang sangat serak dan berat, seolah merasa sangat puas dengan apa yang sedang dilakukannya.

​"Mbak... Mbak Selfi..." bisik Siska dengan suara yang terputus-putus.

​Siska ingin sekali berlari menerjang maju. Dia ingin menarik makhluk iblis itu menjauh dari tubuh kakak iparnya. Dia ingin menyelamatkan Mbak Selfi. Namun, kakinya terasa seperti terpaku mati di atas lantai kayu anak tangga. Hawa gaib yang sangat berat di sekitar tempat itu mengunci seluruh pergerakan tubuhnya, membuatnya hanya bisa menjadi saksi bisu dari sebuah kekejaman yang tidak masuk akal.

​Keganasan bayi Doni semakin tidak terkontrol. Setelah menghabiskan bagian dada luar tanpa sisa, makhluk kecil itu menggunakan kedua tangan mungilnya yang berkuku tajam untuk merobek lebih dalam. Suara derak tulang rusuk Mbak Selfi yang patah terdengar sangat jelas di telinga Siska.

​KRETEKKK...

​Setiap kali suara tulang yang patah itu terdengar, dada Siska terasa seperti dihantam oleh batu besar. Rasa mual dan ngeri bercampur menjadi satu, membuat isi perutnya bergolak hebat.

​Bayi iblis itu memasukkan tangan kecilnya ke dalam rongga dada Mbak Selfi yang sudah terbuka dan hancur. Dengan satu sentakan yang sangat kuat, makhluk itu menarik keluar organ jantung Mbak Selfi yang masih berdenyut lirih untuk terakhir kalinya. Jantung yang selama seratus hari ini berdetak demi menyayangi Doni, kini justru menjadi santapan terakhir bagi kutukan pesugihan tersebut.

​Siska melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana bayi Doni mengunyah jantung tersebut dengan rakus. Darah hitam kental mengalir dari sela-sela bibir kecil sang bayi, menetes ke atas lantai semen dan menyatu dengan genangan darah sebelumnya.

​Kematian Mbak Selfi malam itu terjadi dengan sangat tragis dan memilukan. Wanita yang tidak tahu apa-apa itu harus merenggang nyawa di tangan darah dagingnya sendiri akibat rasa penasaran sesaat terhadap sebuah cincin kuno di dalam lemari rias tua.

​Siska sudah tidak kuasa lagi menahan penderitaan batin yang teramat sangat luar biasa ini. Kepalanya terasa sangat pening, pandangan matanya mulai kabur dan berputar-putar. Oksigen di sekitar ruangan seolah-olah lenyap, membuatnya sangat sulit untuk bernapas. Adegan gila dan berdarah di depannya benar-benar telah menghancurkan dinding pertahanan mentalnya sebagai seorang manusia biasa.

​Tepat ketika bayi Doni yang berlumuran darah penuh di wajahnya itu perlahan memalingkan kepalanya ke arah tangga, menatap Siska dengan dua titik merah menyala yang kelaparan, kesadaran Siska runtuh sepenuhnya.

​Tubuh Siska lemas seperti pakaian basah. Dia ambruk ke depan, jatuh pingsan di atas anak tangga kayu, membiarkan kegelapan malam menelan seluruh rasa takutnya sebelum makhluk iblis itu melangkah mendekatinya.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!