NovelToon NovelToon
Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:487.7k
Nilai: 4.5
Nama Author: VirentaNita

Aila. Seorang gadis muda yatim piatu ... Yang harus menghadapi dilema dengan dua pilihan sulit dalam hidupnya.

Aila di hadapkan dengan sebuah perjodohan dengan CEO muda kaya raya, Fakhri ... Putra sahabat karib Almarhumah Ibunya. Namun sebuah rintangan besar ada di depan Aila, jika Ia memilih Fakhri, lantaran sudah ada sosok Naira yang telah menempati lebih dulu ruang di hati Fakhri.

Sementara di sisi lain ada Ardan, seorang sahabat yang diam-diam menaruh rasa pada Aila.

Siapa kiranya yang akan dipilih Aila sebagai jodohnya?

Siapa yang akan dijadikan Aila sebagai pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VirentaNita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secercah Harapan

"Ardan ... Ardan ...."

Perlahan tapi pasti Aila mulai kembali membuka matanya, sembari bibirnya tiada henti menggumamkan sebuah nama. Ardan.

"Ardan ... Dia bukan Ardan kan, Mas Fakhri?"

Fakhri tersenyum getir. Tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Aila. Lantaran hatinya sendiri mulai takut jika mayat tadi benar-benar mayat Ardan.

"Katakan padaku Mas Fakhri ... Dia bukan Ardan kan?"

"Mas Fakhri ...."

Tangis Aila kembali berderai, di tatapnya Fakhri yang juga menatapnya dengan raut muka tak kalah sendu darinya.

"Tenanglah Aila ... Masih dibutuhkan identifikasi jenazah untuk mengetahui kebenarannya ...."

" ... Masih ada harapan jika mayat lelaki itu bukanlah Ardan,"

Fakhri menggenggam lembut tangan Aila. Mencoba memberi ketenangan pada gadis di depannya itu.

"Tapi jam tangan itu ...."

Ucapan Aila terhenti, mengambang tak usai. Sedetik kemudian kepalanya tertunduk sedih dengan air mata yang kembali menetes jatuh.

"Banyak orang yang memiliki jam tangan yang sama seperti Ardan, Aila,"

"Bukan hanya Ardan saja yang memiliki jam tangan seperti itu."

Aila menggangguk lirih, sedikit harapan terlihat kembali muncul di binar matanya. Dengan gerak bibir yang bergumam pelan kemudian.

"Semoga saja bukan ...."

*-*-*

"Istirahatlah ... Aku akan mengabarimu jika ada perkembangan selanjutnya."

Aila mengangguk pelan. Kemudian diraihnya handle pintu rumahnya setelah Fakhri mengantarkannya pulang sampai depan pintu rumahnya.

Takut jika Aila akan kembali pingsan lagi.

Namun baru hendak meraih gagang pintu, pintu telah dibuka lebih dulu dari dalam. Membuat Aila urung meraihnya.

Naira.

Berdiri di balik pintu dengan tatapan mata tajam, menatap bergantian Aila dan Fakhri, suaminya.

"Munafik!"

Sejurus kemudian bibirnya mengumpat kasar sembari menatap lurus wajah Aila.

"Kamu kenapa ada di sini Nai?"

Naira mengalihkan perhatiannya pada Fakhri, suaminya. Ketika mendengar lelaki itu bertanya padanya.

"Kenapa?"

"Bukankah seharusnya Aku yang menanyakan hal itu padamu, Fakhri!"

Naira kini berganti melayangkan tatapan tajamnya pada suaminya.

"Apa kalian usai pergi berkencan?" imbuh Naira dengan nada ketus.

"Nai ... Buang semua pikiran buruk itu dari kepalamu!"

"Kami baru saja mencari informasi tentang Ardan,"

"Ardan?" sela Naira. Memotong kalimat Fakhri.

"Tentang Ardan adalah urusannya Fakhri ... Mengapa kamu harus repot-repot mengurusi kekasihnya itu?"

"Apa kamu ingin memastikan sendiri kalau Ardan benar sudah mati, hingga kamu bisa menikahi Aila nantinya!"

Fakhri meraup wajahnya kasar. Frustasi dengan tingkah Naira.

"Naira ... Dengarkan Aku satu kali ini saja!"

"Ardan bukan hanya kekasih Aila, namun lebih dari itu ... Ardan adalah saudara sepupuku!"

Ucap Fakhri dengan tegas dan nada penuh penekanan pada setiap kalimatnya.

Naira hanya melengos kesal, kemudian melenggang pergi dengan Fakhri yang mengejar di belakangnya.

"Nai ...."

Fakhri mencekal lengan Naira, berusaha menghentikan Naira yang kini melangkah dengan setengah berlari sembari menangis terisak.

Tanpa sepatah kata. Naira menghempaskan kasar cekalan tangan Fakhri di lengannya.

Namun tak berhasil lantaran Fakhri memegangnya dengan sangat erat.

Detik kemudian Fakhri mendekap tubuh istrinya itu dengan sangat lembut.

"Lepaskan Aku, Fakhri ...."

"Jangan menahanku untuk terus berada di sisimu jika pada akhirnya kamu akan terus melukaiku,"

"Lepaskan saja Aku, jika kamu tak bisa menjaga hatiku ...."

Fakhri semakin mempererat pelukannya. Terdiam tak tahu harus berkata apa.

Sungguh bukan maksudnya ingin menyakiti Naira, Ia hanya ingin membantu Aila dan secepatnya menemukan Ardan. Sepupunya.

*-*-*

Hening.

Baik Naira atau pun Fakhri keduanya sama-sama diam tanpa kata.

Hanya Fakhri yang sesekali menoleh melirik istrinya itu yang terus mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil. Enggan menatapnya.

Naira masih kesal. Sebenarnya Ia hanya merasa takut. Jika pada akhirnya rasa kasihan Fakhri untuk Aila akan berubah menjadi cinta jika mereka terus bersama.

Hingga sesaat kemudian Naira yang semula enggan menatap suaminya itu memanglingkan wajahnya. Menatap lelaki yang sedari tadi duduk di sebelahnya.

Ketika Ia sadar jalan yang mereka lewati kini bukanlah jalan menuju pulang ke rumahnya.

"Kamu mau bawa Aku kemana?"

Akhirnya setelah sekian lama diam, Naira mulai angkat suara.

"Kamu akan tahu setibanya nanti kita di sana." ucap Fakhri. Tersenyum lembut.

Naira hanya menghela nafas pelan detik kemudian kembali melengos. Memalingkan wajahnya lagi dari Fakhri. Kembali menghadap jendela mobil.

Hingga tatapan kedua netranya menatap lurus ke depan ketika Fakhri mulai memelankan laju mobilnya dan berhenti sesaat setelahnya.

Naira mengernyitkan dahinya perlahan. Kemudian bergantian menatap sebuah bangunan sederhana di depannya lalu berganti menatap Fakhri, suaminya.

Fakhri hanya tersenyum sekilas melihat raut wajah bingung dan penuh tanya di wajah istrinya.

"Ayo turun," ajak Fakhri kemudian. Tanpa berniat menjelaskan apa tujuan mereka datang kemari.

"Fakhri?"

Naira mencekal lengan Fakhri sesaat. Menuntut Fakhri agar tak lagi bertele-tele dan segera menjelaskan maksud kedatangan mereka kesana.

Panti asuhan kasih bunda.

Sebuah tulisan yang terpampang jelas di depan bangunan sederhana di depan mereka.

"Dari sinilah kita akan memulai hidup kita Naira,"

"Aku tak keberatan ... Jika harus memiliki anak yang tidak terlahir langsung dari rahimmu,"

"Tidak masalah bagiku jika anak itu bukan darah dagingku,"

Fakhri menghela nafas sejenak sebelum akhirnya kembali buka suara. Memberi jeda pada kalimatnya.

"Kamu tidak keberatan kan Nai?"

" ... Jika kita akan mengangkat seorang anak yatim untuk menjadi anak kita?"

Naira terdiam. Namun terlihat jelas keharuan dari kedua netranya yang berkaca-kaca.

Tak menyangka, Fakhri akan berpikir sejauh ini untuk rumah tangga mereka. Ia bahkan rela tak memiliki seorang anak dari garis keturunannya.

"Apa kamu serius Fakhri?"

Hanya kata itu lah yang pada akhirnya mampu meluncur keluar dari bibir Fakhri.

"Tentu saja, Nai ... Aku sudah memikirkan ini sejak lama,"

" ... Untuk kita berdua."

Lenyap sudah kemarahan yang sejak tadi memenuhi ruang hati Naira. Berganti dengan kebahagiaan yang meluap-luap.

Dengan perlahan Naira dan Fakhri mulai turun dari dalam mobil. Detik kemudian melangkahkan kaki ke bangunan panti asuhan di depan mereka dengan saling bergandengan tangan.

Langkah keduanya terhenti begitu sampai di hadapan pintu masuk.

Fakhri mengetuk pelan pintu di hadapannya dan tak berselang lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan kerudung lebar datang membukakan pintu. Lantas tersenyum ramah menyambut kedatangan Fakhri dan Naira.

Lagi-lagi Naira dibuat terkejut, kedatangan Fakhri ke tempat ini ternyata bukanlah yang pertama.

Semua itu diketahuinya dari wanita paruh baya yang ternyata adalah seorang pengurus panti di sana.

Fakhri ... Telah merencanakan semua ini sejak lama. Ia bahkan telah membuat janji sebelumnya dengan pengurus panti di sana.

Perlahan, Naira mengusap sudut matanya yang mulai berair. Kala pengurus panti membawanya dan Fakhri melihat bayi-bayi mungil di sana.

Para bayi yang hidup malang tanpa kasih sayang orang tua.

Naira meraih tubuh seorang bayi yang baru berusia sekitar 3 bulan. Bayi mungil berkulit putih dengan sepasang mata bulat yang sedari tadi terus menatapnya.

Sesungging senyum terukir di bibir mungilnya ketika Naira menggendongnya dengan penuh kasih.

Membuat perasaan keibuan Naira langsung muncul detik itu juga. Membuatnya tanpa ragu menjatuhkan pilihannya.

"Bagaimana dengan anak ini Fakhri?"

"Tentu saja Nai."

Naira menciumi gemas bayi dalam gendongannya. Perasaan bahagia bercampur haru tercampur jelas di wajahnya.

Begitu pun dengan Fakhri yang diam-diam turut mengusap sudut matanya yang berair dengan gerakan cepat. Merasakan kebahagiaan yang sama dengan istrinya.

Fakhri tak lagi peduli dengan tentangan Erna.

Yang di inginkan Fakhri saat ini hanyalah bisa membahagiakan Naira. Memiliki keluarga yang utuh sebagaimana keluarga lainnya.

Saat itu pun juga, Fakhri langsung mengurusi segala keperluan dan syarat untuk bisa mengadopsi bayi untuk menjadi anak mereka.

Setelah semuanya usai. Fakhri dan Naira lantas segera membawa pulang bayi mereka.

"Kita mampir ke toko perlengkapan bayi dulu sebelum pulang," ucap Fakhri.

"Tentu saja ... Kita harus membeli semua kebutuhan Raka bukan?" jawab Naira dengan tak mengalihkan perhatiannya dari Raka. Bayi mungil di pangkuannya.

"Kita akan memulai hidup baru kita dari sini ... Bersama dengan Raka." tutur Fakhri. Kemudian.

1
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻
Nova Yuliati
😭😭😭😭😭😭
Nelli Susilawati
bahhh..lanjutannya mana thorr..gantung
Umy Daffa
saya kasih hadiah thor
Titah Novi
ceritanya gk seru,,,awalnya seru tentang poligami itu,,,eh terus diganti,,,bikin penasaran az,,,lg seru2nya malah diganti,,,
Irma Saja
masak ceritanya segitu aja.. gak seru..
seru pas diawal aja cerita dipologami, ini kan ganti cerita masak cuma dikit doank episodenya...
uda lama nggu akhirnya cm gini doank
Dina Purwasih
😲😲😲😲 end??????????????
Dina Purwasih
ah ada lanjutan ny tapi ak lupa alurnya cz udah lama banget mesti baca d bab awal
Lara Sartika: betul kk, udah lupa
awalnya bacanya enak, udak kelamaan ga up jadi gaenak deh🥴
total 1 replies
J. Marta
Sudah mendarat thor,,,,

Udh q boom like juga,

Jangan lupa mampir novelku yang lain

Love revenge, Obsesi

Tinggalin jejak juga 👍👍

Nuhun 🙏
Dina Purwasih
kapan lanjut lagi nya Thor
Berna Dheta
ini tamat ya koq lanjut
Tika Sartika
kpn up lg
Bunny🥨: Izin promo y thor^^

Yuk mampir juga diceritaku
"Terpaksa menikahi dokter dingin."
Siapa tau bisa menjadi novel favmu, yuk mampir!
Terimakasih❤
total 1 replies
Halimatus Sadiah
lnjut
Bunny🥨: Izin promo y thor^^

Yuk mampir juga diceritaku
"Terpaksa menikahi dokter dingin."
Siapa tau bisa menjadi novel favmu, yuk mampir!
Terimakasih❤
total 1 replies
Sasa Sun
aq mampir baca ka
mampir juga donk ke crt aku..

WHEN KAMA MEET SUTRA

aq tgg ya ka 🤗
Attin Nurhuda
author kemana gerangan dirimu
cegilnya_minyoongi
kapan up lg thorr??
ngk sabar nungguin kelanjutann kisah fahri dan aila
Dina Purwasih
kapan up lagi thor??
Nona Gladdys
"PERNIKAHAN LUAR BIASA" Recomend juga kak
Siti Mulyanah Ami Yusuf
lama juga up nya thor
Ira Sain
lanjut min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!