NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Matahari pagi di hari Minggu memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah pepohonan di sepanjang gang sempit rumah Alya. Suasana pemukiman yang tenang itu mendadak semarak saat suara gelak tawa dan langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah luar. Dua gadis dengan pakaian kasual penuh warna melangkah antusias menuju rumah kayu berdinding biru pudar.

Klek.

"Alya! Good morning, Sunshine!" panggil Adel nyaring saat menolak pintu rumah Alya yang kebetulan memang sedang terbuka sedikit.

Di tangan kanan Adel, menjinjing dua kantong plastik besar berlogo restoran makanan cepat saji terkenal yang aromanya langsung menguar memenuhi ruangan. Di belakangnya, Jesica menyusul dengan wajah ceria sambil membawa beberapa botol minuman bersoda dan camilan manis.

Alya yang sedang menyapu lantai ruang tamu mendongak terkejut. "Adel? Jesica? Kalian... kok pagi-pagi banget sudah di sini? Naik apa ke sini?"

Jesica langsung merebut sapu dari tangan Alya dan menyandarkannya ke dinding. "Gak usah nanya-nanya dulu! Kita ke sini sengaja mau check on you, memastikan sahabat jenius kita ini gak mengurung diri di kamar sambil meratapi kejahatan Clara kemarin!"

"Betul banget!" timpal Adel, meletakkan kantong-kantong yang penuh berisi ayam goreng renyah, kentang goreng, dan burger ke atas meja kayu. "Hari ini agenda kita murni Girl Talk! Pokoknya gak ada bahasan soal rumus matematika atau catatan Pak Joko. Cuma ada kita bertiga, makanan enak, dan gosip!"

Alya tidak bisa menahan senyum hangatnya melihat kepedulian kedua sahabatnya. Ibu Alya yang mendengar keramaian dari dapur keluar sambil tersenyum ramah, menyapa Adel dan Jesica yang langsung mencium tangan beliau dengan sopan. Setelah ibu Alya berpamitan untuk pergi menyiram tanaman di halaman samping, ketiga gadis itu meluruskan kaki di atas karpet tipis ruang tamu.

Sembari mengunyah kentang goreng dan meminum soda dingin, percakapan mengalir begitu deras. Adel dan Jesica menceritakan betapa puasnya mereka saat melihat wajah pucat Clara yang dipermalukan dan diancam secara telak oleh Devan di depan kelas IPA 1 pada hari Jumat kemarin.

"Sumpah ya, Al, muka Clara pas Devan ngomong soal mencabut kerja sama perusahaan itu bener-bener priceless! Kayak mayat hidup!" celoteh Adel heboh dengan tangan penuh bumbu kentang. "Semua anak di kelas langsung sadar kalau Devan tuh bener-bener gak main-main kalau udah urusan sama lo."

Jesica yang sedang meneguk sodanya menatap Alya lekat-lekat, menyadari tatapan Alya yang mendadak sedikit melamun dan salah tingkah setiap kali nama Devan disebutkan. Jesica menyunggingkan senyum curiga, meletakkan botol minumannya.

"Eh, sebentar deh..." Jesica menopang dagu, memicingkan mata. "Al, dari tadi pas kita bahas Devan, muka lo kok malah agak memerah gitu? Terus kemarin pas pulang sekolah, lo kan pulang bareng Devan bawa kotak-kotak kue itu. Ada kejadian apa yang belum lo ceritain ke kita?"

Alya tertegun sejenak. Jemarinya yang memegang kentang goreng mendadak kaku. Sisi defensifnya sempat berbisik untuk menyimpan rapat-rapat apa yang terjadi pada hari Jumat sore hingga malam itu. Namun, menatap wujud ketulusan dan binar rasa peduli di mata Adel dan Jesica, Alya sadar bahwa kedua sahabatnya ini berhak tahu seberapa jauh Devan telah bertindak untuk membantunya.

Alya menghembuskan napas pelan, meletakkan makanannya, lalu merapatkan duduknya ke arah Adel dan Jesica. "Sebenarnya... ada sesuatu yang terjadi pas hari Jumat sore kemarin."

"Hah?! Apaan, Al?! Buruan cerita!" Adel langsung menggeser duduknya rapat-rapat, matanya berbinar penasaran.

Alya mulai menceritakan detail demi detail dengan suara lirih. Ia menceritakan bagaimana Devan tidak membawa dua ratus kue itu ke tempat pembuangan sampah atau membiarkannya basi, melainkan mengajaknya langsung ke sebuah panti asuhan di ujung kota. Alya menceritakan betapa takjubnya ia saat melihat sosok Devan yang biasanya dingin dan acuh tak acuh mendadak berubah menjadi sangat hangat, memangku anak-anak panti, dan ternyata sudah menjadi donatur rutin di sana selama bertahun-tahun tanpa pernah memamerkannya di sekolah.

"Ya ampun... Devan Narendra? Pangeran es sekolah kita punya sisi malaikat kayak gitu?!" pekik Jesica menutup mulutnya dengan kedua tangan, takjub luar biasa. "Gue gak salah denger, kan?"

"Tunggu, ceritanya belum selesai," lanjut Alya dengan pipi yang mulai terasa panas. "Pas malam harinya... Devan WhatsApp aku. Dia minta nomor rekening Ibu buat bayar kue-kue itu."

"Terus, terus?" Adel mendesak panik, memegang lengan baju Alya.

"Aku bilang ke dia... bayar setengah harga aja, dua ratus ribu, karena aku juga seneng kuenya bisa dimakan anak-anak panti," Alya menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tapi Devan nolak. Dia malah mentransfer uang ke rekening Ibuku... sebesar lima juta rupiah."

"APA?! LIMA JUTA RUPIAH?!"

Jeritan heboh Adel dan Jesica seketika meledak bersamaan di ruang tamu itu, sampai-sampai Adel hampir tersedak kentang gorengnya sendiri. Keduanya melompat dari posisi duduk dengan mata membelalak sempurna seolah baru saja mendengar kabar bahwa Alya menang undian lotre nasional.

"DEMI APA, ALYA SARASWATI?! LIMA JUTA?!" teriak Adel heboh sembari mengguncang-guncang kedua bahu Alya. "Itu uang buat beli kue pasar atau buat beli saham katering Dapur Saras?! Banyak banget!"

"Gila! Bener-bener gila!" Jesica ikut bersorak gembira, menepuk-nepuk tangannya dengan wajah kaget sekaligus histeris. "Dua ratus kue harga aslinya empat ratus ribu, dibayar lima juta?! Itu mah namanya modal nikah, Al!"

Wajah Alya seketika merah padam sampai ke telinga mendengar godaan tanpa filter dari Jesica. "Kalian jangan ngaco! Aku sempat menolak keras, aku mau transfer balik sisanya malam itu juga!"

"Terus Devan ngomong apa pas lo mau balikin?" tanya Jesica antusias dengan senyum jahil yang makin melebar.

Alya menunduk, memilin ujung bajunya salah tingkah. "Dia... dia ngirim pesan suara. Dia bilang uang itu murni dari tabungan pribadinya. Dia gak maksud merendahkan aku, tapi uang itu dianggap sebagai uang muka buat pesanan rutin kue ke panti asuhan minggu depan. Dia juga... dia bilang dia ketagihan sama kue buatan aku dan mau jadi pelanggan setia pertama."

Mendengar penjelasan itu, Adel dan Jesica langsung saling berpelukan dan bergulingan di atas karpet sambil berteriak-teriak histeris menahan gemas.

"ARGHHH! MODUS TINGKAT DEWA!" jerit Adel sembari menepuk-nepuk paha Jesica heboh. "Alya! Itu tuh modus paling elegan dan paling mahal dalam sejarah SMA Nusa Bangsa! Mana ada cowok ngasih uang muka lima juta cuma demi punya alasan buat chatan dan ketemu lo tiap minggu?!"

"Betul banget!" timpal Jesica dengan tatapan menggoda yang membuat Alya semakin tidak berani mendongak. "Alya, sadar gak sih lo? Es batu raksasa sekolah kita itu beneran udah leleh total sama lo! Dia tuh sengaja bungkus perasaannya pakai alasan 'anak panti' dan 'investasi bisnis' biar harga diri lo yang tinggi itu gak tersinggung! Devan tuh perhatian banget sama lo, Al!"

"Kalian jangan ngarang yang enggak-enggak, itu cuma bentuk bantuan profesional—" potong Alya mencoba membela diri dengan suara yang semakin memelan.

"Profesional matamu!" goda Adel tertawa lepas sambil menyenggol pinggang Alya. "Kalau profesional, dia cukup bayar empat ratus ribu, Al! Tapi ini lima juta plus dipasangi benteng perlindungan dari ancaman Clara! Coba aku tanya, pernah gak Devan kayak gitu ke cewek lain? Gak pernah kan?!"

Alya terdiam, kehilangan kata-kata untuk membalas. Di dalam hati kecilnya, ia tidak bisa memungkiri bahwa ada desiran hangat yang sangat asing namun indah melingkupi dadanya setiap kali mengingat suara berat Devan di pesan suara malam itu.

Suasana pagi di rumah sederhana itu pun dipenuhi oleh riuh tawa, godaan bertubi-tubi dari kedua sahabat terbaiknya, dan kehangatan Girl Talk yang berhasil menghapus seluruh sisa keraguan Alya. Di balik perjuangan kerasnya menembus impitan hidup, Alya kini sadar bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian. Ia memiliki sahabat yang selalu ada di sisinya, dan seorang Devan Narendra yang dengan cara anggunnya telah menjadi bagian penting dari kisah perjalanannya

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!