Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Beberapa menit yang lalu.
"Xin Ai, aku terkejut kau bisa membunuh goblin-goblin itu dengan mudah," ucap seorang pria bertato naga hitam yang melingkar di lengannya, senyumnya lebar penuh pujian yang terdengar tulus.
Xin Ai, gadis muda dengan tombak masih tergenggam erat di tangannya, mencabut senjata itu dari tubuh goblin terakhir yang baru saja dia tumbangkan, tersenyum tipis penuh rasa bangga. Dia membungkuk sopan. "Terima kasih pujiannya, Senior Xuan Chen."
Keempat pria di sekelilingnya tertawa ringan, saling bertukar pandang sekilas. Xuan Chen, yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu, memberikan kode kecil dengan matanya kepada ketiga rekannya—sebuah isyarat yang lewat begitu cepat hingga Xin Ai, yang masih terlalu polos dan bersemangat, sama sekali tidak menyadarinya.
"Kau berbakat," lanjut Xuan Chen, menepuk bahu Xin Ai dengan ramah. "Bagaimana kalau kau yang menghadapi bos dungeon ini? Anggap saja sebagai latihan sebelum benar-benar bergabung dengan tim kami secara resmi."
Mata Xin Ai berbinar mendengar tawaran itu. "Sungguh? Aku boleh mencobanya?"
"Tentu saja," Xuan Chen tersenyum lebih lebar. "Kami akan berjaga di belakang, memastikan kau aman. Anggap ini kesempatan untuk menunjukkan kemampuanmu."
Xin Ai mengangguk penuh semangat, tidak menyadari sedikit pun keanehan dalam nada suara mereka. "Baik! Aku akan berusaha sebaik mungkin!"
Mereka berjalan bersama menuju ruangan besar di ujung dungeon, tempat sesosok monster besar menyerupai kalajengking raksasa, ekornya yang berduri mengangkat tinggi bersiap menyerang siapa pun yang mendekat.
Xin Ai maju sendirian, tombaknya digenggam erat, sementara keempat pria itu berdiri di ambang pintu, menonton tanpa berniat membantu sedikit pun.
Pertarungan itu berlangsung lama dan berat. Kalajengking raksasa itu jauh lebih kuat dari perkiraan Xin Ai, ekornya berhasil menggores lengannya beberapa kali, racunnya membuat penglihatannya sedikit kabur. Tenaganya yang sudah terkuras habis melawan gerombolan goblin sebelumnya membuatnya semakin kesulitan mengimbangi serangan bertubi-tubi dari monster itu.
"Ugh—!" Xin Ai jatuh berlutut, napasnya tersengal, tubuhnya penuh luka gores, tombaknya nyaris terlepas dari genggaman tangannya yang gemetar.
Melihat itu, Xuan Chen akhirnya memberi isyarat kepada tiga rekannya. Mereka bergerak serentak, mengeroyok monster itu dengan mudah, menghabisinya dalam hitungan detik dengan kekuatan gabungan yang jauh melampaui kemampuan Xin Ai seorang diri.
Xin Ai, meski kelelahan, tersenyum lega melihat monster itu akhirnya tumbang, merasa lega sekaligus malu karena tidak bisa menyelesaikannya sendiri.
"Terima kasih, Senior. Aku benar-benar tidak sekuat itu, ya," ucapnya, tertawa kecil menahan malu.
Namun tawa itu segera memudar ketika dia menyadari sesuatu yang aneh dalam tatapan keempat pria yang kini berjalan mendekat ke arahnya, langkah mereka lambat, senyum di wajah mereka tidak lagi terasa seperti senyum ramah seorang senior.
"...Senior?" Xin Ai mundur selangkah, insting yang belum sepenuhnya dia pahami mendorongnya menjauh.
Keempat pria itu terus mendekat, langkah mereka semakin memepet, hingga punggung Xin Ai membentur dinding dungeon yang dingin dan keras.
"Ada apa?" tanyanya lagi, suaranya mulai bergetar, matanya menyapu wajah keempat pria yang mengelilinginya dengan cepat, mencari celah untuk kabur yang tidak dia temukan.
Ketiga anak buah Xuan Chen bergerak mendekat, mencengkeram kedua lengan Xin Ai dari sisi kiri dan kanan, menahannya dengan kuat meski dia meronta sekuat tenaga.
"Lepaskan!" Xin Ai menjerit, mencoba menarik lengannya lepas, tetapi cengkeraman itu terlalu kuat untuk tubuhnya yang sudah lemas kehabisan tenaga.
Xuan Chen melangkah maju, tangannya terulur mendekati bagian pelindung dada armor Xin Ai, mulai membuka pengait-pengaitnya satu per satu dengan gerakan yang tenang, seolah tidak peduli sedikit pun dengan tubuh yang meronta di hadapannya.
"Senior, hentikan! Kumohon, hentikan!" Xin Ai berteriak, air mata mulai mengalir deras di pipinya, tubuhnya terus meronta sekuat sisa tenaga yang ada, tetapi setiap perlawanannya sia-sia di bawah cengkeraman ketiga pria yang menahannya.
Xuan Chen tidak menghiraukan permohonan itu, tangannya terus bergerak tanpa ragu sedikit pun, seringai tipis terukir di wajahnya yang dulu terlihat begitu ramah.
Kepanikan dan keputusasaan yang membuncah di dada Xin Ai akhirnya meledak menjadi satu teriakan terakhir, sekeras yang bisa dia keluarkan, menggema jauh menembus lorong-lorong dungeon yang gelap.
"TOLONG AKU!!"