Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyaruri
"Lihat foto selanjutnya! Ini diambil tahun 1943, sudah 77 tahun yang lalu. Lihat yang jelas, apa lo mengenalinya?"
"Ti--tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Pasti kamu mengeditnya!" tukas Dharma.
Nirmala yang penasaran ikut melihat foto itu. "Astaga! Bagaimana bisa? Apakah ini asli?
Tentu saja Dharma dan Nirmala tercengang melihat foto-foto itu. Tak ada yang aneh ketika melihat foto pertama, yaitu foto pernikahan mereka. Ayah dan ibunya Nirmala berada di sisi kiri, kemudian Dharma dan Nirmala tampak di tengah. Sedangkan di sisi kanan adalah Tante Ruri dan salah satu anaknya, mereka adalah sisa keluarga Dharma yang masih hidup.
Namun, foto-foto selanjutnya sungguh di luar nalar. Bagaimana Tante Ruri ada di foto yang diambil tahun 1940-an itu adalah hal yang mustahil. Bagaikan pinang dibelah dua, wanita di foto-foto tersebut adalah Tante Ruri dengan usia tak jauh beda dan kecantikan yang tetap sama.
"Obi, kamu jangan mengada-ada! Kalau itu benar Tante Ruri, semestinya saat ini dia sudah berumur lebih dari 100 tahun!" seru Dharma.
"Ini tidak mungkin Obi!" tambah Nirmala.
"Lalu menurut lo, berapa usianya sekarang? Justru dia tak tampak menua sedikit pun! Lo tidak menyadarinya?" tukas Obi.
***
Waktu berlalu dalam sepi, Nirmala sedang disibukkan oleh pikirannya sendiri. Dia tak juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Perkataan Obi mengenai monster dan foto-foto ganjil itu tak mudah dia cerna.
Obi sendiri sedari tadi memandangi Dharma di sofa kecil seberangnya. Ada kesan curiga, kesal, dan marah di wajahnya. Kakinya bergerak tak tenang layaknya sedang menjahit.
Dharma termangu memandangi foto-foto di HP Obi. Antara percaya dan tidak, Dharma memilih untuk diam seribu bahasa. Dia ingat hampir 10 tahun tidak bertemu memang tantenya itu tak tampak semakin tua.
Terlintas di ingatannya kepedihan saat kehilangan kedua orangtuanya. Sang paman memberitahu Dharma bahwa bapak dan ibunya mengalami kecelakaan pesawat terbang. Saat itu Dharma masih berumur 5 tahun dititipkan kepada paman, adik dari bapak. Dharma sendiri tidak diajak karena orangtuanya berencana melakukan perjalanan ke luar negeri pulang pergi dalam sehari.
Sejak saat itu Dharma diasuh oleh paman dan bibi. Namun, karena kesibukan paman bekerja di pengeboran minyak lepas pantai maka jarang sekali berada di rumah. Terkadang 6 bulan baru bisa cuti, itu pun hanya selama 2 minggu. Paman sebetulnya orang yang perhatian, hampir setiap hari jika ada kesempatan selalu menelepon ke rumah bertanya kabar.
Sunyaruri, itulah nama lengkap tantenya yang biasa dia panggil Tante Ruri. Rambut panjang tersanggul rapi dan senyum lebar adalah hal yang melekat pada ingatan tentangnya. Dharma tak mampu mengingat kapan Tante Ruri hamil, tiba-tiba Dharma mempunyai seorang adik laki-laki. Tak lama kemudian juga ada adik perempuan. Suasana di rumah sudah tak lagi sama saat Dharma menginjak kelas 4 SD, paman memindahkannya ke sebuah pondok madrasah.
Tak lama setelah kejadian itu Dharma tinggal di pondok bersama anak-anak yatim piatu lainnya. Tante Ruri pun sangat jarang mengunjunginya. Dharma sendiri tak tahu siapa yang membiayai sekolahnya hingga dewasa.
Terbiasa hidup mandiri, Dharma pun sekolah sambil bekerja seadanya. Dharma cukup pintar dan selalu mendapatkan beasiswa hingga lulus kuliah.
***
Trrt!
Trrt!
Trrt!
Sebuah panggilan masuk ke HP Obi, Dharma menyerahkannya.
"Tuan, saya sudah di halaman!"
"Ok, tungguin sebentar." Menutup sambungan telepon. "Perlu lo ketahui Dharma, sebenarnya novel yang Nirmala tulis itu adalah sebuah pancingan."
"Apa maksudmu?"
"Gue bukanlah pembunuh berantai yang sebenarnya. Novel itu untuk memancingnya keluar."
"Jadi kau sengaja?"
"Terpaksa, karena kepolisian selalu menemui jalan buntu dalam penyelidikan. Sedangkan pembunuh berantai itu masih berkeliaran. Entah berapa jumlah korban sebenarnya."
"Benarkah hal itu, Nirmala?"
"Benar, Mas. Ada tertulis di kontrak kerjaku."
"Lalu apa hubungannya dengan Tante Ruri?"
"Saat novel gue itu mulai terkenal, sebuah paket misterius dikirimkan ke alamat gue. Awalnya gue kita itu dari fans, tapi ternyata isinya adalah barang-barang dari lima korban yang tertulis di novel gue itu."
"Lalu?"
"Seorang detektif membantu gue menyelidiki asal pengiriman paket itu. Setelah penyelidikan dan penelusuran yang cukup lama, dia mendapatkan sebuah petunjuk bahwa pengirimnya tinggal di salah satu aset milik tante lo."
"Bisa saja orang lain, bukan?"
"Bisa juga lo pelakunya!"
"Sinting kau, Obi!"
"Enggak gue pungkiri, gue sempat curiga sama lo saat lo dekat dengan Nirmala. Memang rumit, tetapi semua saling terkait. Tentang penemuan katana dan koper komandan Harada yang berisi catatan Unit 731 gue dapatkan dari seorang informan. Selang berapa lama kemudian kebetulan sekali Nirmala cerita sama gue tentang lo dan emas di kostin itu."
"Jadi kamu sudah lama menyelidiki tentang aku?"
"Target utama gue adalah pembunuh berantai itu dan misteri unit 731. Entah takdir apa, gue malah melihat target gue di pernikahan lo dan Nirmala."
"Tidak ada bukti valid, bisa saja foto-foto itu kebetulan mirip Tante Ruri."
"Terserah lo ...."
"Cukup, Obi! Jangan paksa Dharma!"
"Oke. Sekarang gue harus segera mendatangi acara di Jakarta. Frans sudah menunggu di depan. Gue permisi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," timpal Nirmala. "Bagaimana selanjutnya, Mas?"
"Aku akan menemui Tante Ruri sendiri."
"Aku ikut, Mas!"
"Jangan. Aku antar kamu ke rumah ayah ibumu."
"Tapi, Mas ...."
"Jagalah bayi kita."
"Kamu sudah tahu, Mas?" Nirmala terkejut.
"Entah mengapa kamu merahasiakan kehamilanmu, sudah jelas ada dua strip di test pack yang kutemukan di laci meja kerjamu. Sejak kapan?"
"Tiga minggu, Mas ...," jawab Nirmala lirih. "Tapi kamu tidak tahu bebanku, Mas. Ibu dulu sulit hamil dan sering keguguran, aku takut mengalami hal yang sama. Aku takut mengecewakanmu, Mas."
Dharma beranjak dari tempat duduknya mendatangi Nirmala di sofa panjang itu. Tak ada kata maaf terucap saat tubuh mereka bertemu, mereka bisa saling memahami perasaan masing-masing. Lengan Dharma merangkul pundak Nirmala yang perlahan membenamkan kepalanya di bahu Dharma. Sebuah kecupan lembut berpagut di antara bibir mereka.
Suasana semakin panas ....
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.