Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dan Keluarga Baru Aulia
"Kita satu pemikiran bang, aku akan mulai dengan mengirimkan bukti penggelapan pajak dan korupsi dia pada perusahaan. Selanjutnya, bukti rekaman kejahatan keluarga Malik pada keluarga Sinclair. Tapi itu... setelah pernikahan Dhira dan Arkan, setalah malam ini... berita tentang kehancuran dua keluarga. Kehancuran seorang ibu, yang sudah kehilangan respect dari putrinya. Kehancuran keluarga Sinclair, karena kehilangan keturunan yang sangat baik. Hhhh...." Rahman menoleh
"Kenapa?" tanya Rahman
"Aku... ikut merasakan sakitnya jadi Dhira bang, padahal... aku hanya memiliki kakek sebagai keluarga kandung. Tak pernah merasakan atau pun mendapatkan kondisi, seperti yang Dhira rasakan. Rasanya.... sakit, menjadi anak yang terabaikan." jawab Aulia, dengan suara bergetar
Tes
Tanpa sadar, air matanya menetes. Air mata pertama, untuk orang yang tak ada hubungan darah dengannya. Rahman mengangkat tangan kanan, dengan pelan ia mengusap pipi Aulia yang basah.
"Itu artinya... kamu masih manusia." ucap Rahman, sedikit bergurau. Aulia sedikit tertawa, seraya memukul pelan dada Rahman.
"Abang pikir, Aulia apa sekarang?" tanya nya seraya mencebik, Rahma menghembuskan nafas panjang.
"Artinya... kamu meski di luar terlihat cuek, kuat, tegar dan bar-bar. Tapi hatimu lembut, dan memang seperti itu. Rasa empati yang kamu rasakan, sangatlah besar. Tanpa sadar, kamu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hanya saja, kamu tak tau bagaimana cara mengekspresikan nya. Seperti dulu, waktu abang masih tinggal bersamamu. Kamu ingat? Siapa yang celaka dan terluka, siapa juga yang menangis?" wajah Aulia memerah malu, karena di ingatkan hal konyol dulu.
"Abang... ga usah di ingatkan." ucap Aulia, Rahman tertawa
"Adik... itu artinya, hati mu sangatlah lembut. Abang yang terperosok ke jurang, tapi kamu yang menangis meraung. Apa kamu ingat, apa yang kamu katakan dulu? Kamu...
"ABANG UDAH" Rahman kembali tertawa
"Ok ok, sorry... tapi harus kamu tau Lia, kamu adalah permata hati kami. Jangan menangis, karena itu juga melukai kami." ucap Rahman, Aulia mengangguk
Rayan yang sejak tadi, ada di depan pintu. Akhirnya masuk, setelah abang dan adiknya terdengar bergurau.
"Bersihkan lukamu" ucap Rayan, seraya menyingkirkan abangnya. Rahman hanya menggelengkan kepalanya, adiknya tak mau kalah ternyata.
"AULIA" teriak Dhira dari luar
"Astagaaaa... ini ruang kerja ayah, berubah jadi medan perang kah? Meja setebal dan sekeras ini, hancur? Siapa yang... Aulia, tangan lo.. Apa ini, lo yang lakuin? " tanya Dhira, seraya mendekat. Dhira meringis, melihat Rayan mengobati luka Aulia.
"Sakit ya?" tanya Dhira, dengan kedua matanya yang memerah
"Hei... gue ga papa, ini cuma luka kecil." ucap Aulia
"Tapi tangannya berdarah Lia, itu pasti perih." balas Dhira
"Lia, lu ga papa kan?' tanya Danish dan Arkan, yang baru saja masuk. Mereka juga kaget, dengan kondisi ruangan ini. Meja hancur, juga barang berserakan di dekat Aulia.
Aulia menatap ketiga teman barunya, perasaan hangat yang berbeda. Inikah... rasanya di pedulikan, oleh orang lain yang baru kenal?
"Gue ga papa, om... mejanya... nanti Aulia ganti." ucap Aulia, seraya menatap ayah Brahma dengan tatapan bersalah.
Rasa shock saat ia masuk, berubah menjadi kagum dan takjub. Meja sekeras dan setebal itu, hancur oleh gadis yang terlihat lemah.
"Hahaahha... luar biasa Lia, om ga masalah. Tapi... kalo mau di maafkan, ada satu permintaan om padamu." ucap ayah Brahma, Aulia mengangguk pelan
"Apa om?" tanya Aulia
"Panggil om..... Ayah... bisa kan?" pinta ayah Brahma
DEG
Ayah?
"Apa boleh?" tanya Aulia dengan suara bergetar, ia sudah memiliki bapak Amir. Tapi... entah kenapa, ini terasa berbeda.
"Tentu saja, kamu juga panggil tante... Ibu" jawab ibu Ayu bersemangat
"A aku..." Aulia menatap Arkan dan Dhira, keduanya tersenyum dan mengangguk
"A-ayah... ibu..." ucap Aulia, berbarengan dengan air mata yang kembali lolos.
"Ya sayang" jawab kedua orang tua Arkan, ibu Ayu pun tak kuasa menahan haru. Rayan langsung bangun dari duduknya, memberikan tempat untuk kedua orang tua Arkan.
Kedua orang tua Arkan memeluk Aulia, Aulia kembali merasakan sesak yang berbeda. Ia menghembuskan nafas, sembari menutup kedua matanya. Yang lagi-lagi, meneteskan air matanya. Aulia membalas pelukan hangat tersebut, ada rasa yang tak pernah ia rasakan.
"Ayah... ibu..." panggil Aulia lagi
Panggilan yang bukan hanya tertuju pada ayah Brahma dan ibu Ayu, namun panggilan itu ia tujukan pada kedua orang tuanya juga. Semua orang di ruangan itu, seolah bisa merasakan dalamnya panggilan tersebut.
"Ehem... makanan dari ibu Ulfa sudah datang, beliau juga sudah tiba sejak tadi. Makan dulu sayang..." ucap bu Ayu, sembari mengusap pipinya yang basah.
"Mau makan di sini, apa di ruang makan? Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya ayah Brahma
"Emmm... sudah ayah, terima kasih bu. Kita makan bareng di bawah aja, tapi ruang kerja ayah?" Aulia menatap hasil luapan emosinya
"Sudah biarkan saja, nanti ayah panggil tukang ke sini. Ayo turun..." ajak ayah Brahma, seraya mengulurkan tangannya. Aulia menatap ibu Ayu, ibu Ayu mengangguk. Akhirnya Aulia pun, menerima uluran tangan ayah Brahma.
"Ayah maaf, nanti biar Aulia yang bayar tagihan nya." ucap Aulia, seraya berjalan keluar
"Apa ayah terlihat semiskin itu?" tanya ayah Brahma, Aulia menggaruk kepala dengan tangan satunya.
Ibu Ayu yang tak pernah melihat suaminya selembut itu, sedikit merasa heran. Bahkan pada Dhira pun, tak sampai segitunya. Meski terlihat sayang, tapi... berbeda. Ibu Ayu merangkul bahu Dhira, mencium pelipis sang calon menantu.
"Hihi... Ga papa bu, Dhira ga iri. Dhira justru senang, punya ipar seperti Aulia." ucap Dhira tulus, seraya tertawa kecil.
Rahman, Rayan, Danish dan Arkan... ke empat pria itu saling tatap.
"Sepertinya, mereka lupa keberadaan kita." ucap Danish
"Hmmm... bagi mereka, kita hanyalah makhluk tak kasat mata." sambung Arkan
"KITA HANYALAH FIGURAN" ucap Rahman dan Rayan bersamaan, mereka berempat berjalan keluar ruangan.
.
.
"Duh jeng, maaf ya pernikahan Dhira di walikan oleh kakak kandungnya. Ayahnya sedang ada meeting, yang tak bisa di tinggal." ucap ibunya Dhira, Emily. Aulia tersenyum menyeringai, seandainya Emily tau meeting yang di lakukan suaminya. Adalah private meeting, di salah satu rumah mewah yang ada di perum elit.
"Ga papa jeng Emily, yang penting sah." balas ibu Ayu, membuat Emily tersenyum kaku.
Di sisi lain, ada yang menatap benci pada Dhira. Dan Danish menyadari hal itu, ia menatap tak suka pada siluman itu.
'Jadi itu, siluman ular beludak yang di maksud Arkan. Hiii... ' ucap Danish dalam hati
"Kenapa? Ga suka ya, liat ade gue mau merit sama laki yang lu incer?" tanya Aulia
DEG
Sepupu dan kakak Dhira langsung menoleh, mereka terkejut dengan kehadiran Aulia yang tiba-tiba.
"Selamat menelan kebencian itu sampai mati" ucap Aulia lagi, ia berjalan pergi
"Kita mulai saja akad nya, takut terlalu malam." ucap ayah Brahma
Semua orang berkumpul di rumah tengah, yang sudah di sulap menjadi tempat acara sederhana nama terlihat elegan dan mewah.
"Saya nikah kan..."
"SAAAHHH"
"Alhamdulillah"
.
'BRENGSEK... GUE GA TERIMA LU BAHAGIA, DHIRA!!!'
...****************...
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
votenya emak🥰
lanjuttttt yg bykkkk🤭😄💪