Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jarak Antara Bumi dan Langit
Puncak Daun Gugur adalah wilayah pribadi Penatua Kuang yang terletak di dataran tinggi Sekte Dalam. Berbeda dengan Asrama Murid Luar yang bising dan penuh persaingan, tempat ini sangat sunyi. Kabut spiritual yang tebal menyelimuti hutan bambu ungu, menciptakan udara yang begitu murni hingga satu tarikan napas saja bisa memperpanjang umur manusia fana.
Bagi para kultivator, tempat ini adalah surga. Namun bagi Awan yang berjalan mengikuti Penatua Kuang di jalan setapak, kabut spiritual itu tidak lebih dari sekadar udara pagi yang sejuk. Paru-parunya tidak bisa menyerap Qi, sehingga semua kemewahan energi alam ini terbuang sia-sia pada dirinya.
Mereka tiba di sebuah pelataran kayu di tepi tebing yang menghadap ke lautan awan. Sebuah meja teh kecil dari batu giok telah disiapkan.
"Duduklah," perintah Penatua Kuang.
Awan melepaskan ikatan pedang Bumi Pijar dari punggungnya. Saat ia meletakkan pedang itu di lantai pelataran kayu, terdengar suara derak keras. Kayu besi yang menyusun pelataran itu retak menahan beban tiga ratus kilogram.
Penatua Kuang melirik pedang berkarat itu, alisnya sedikit terangkat. Ia menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen, lalu dengan gerakan kasual—tanpa menggunakan tenaga yang terlihat—ia menyentil salah satu cangkir itu ke arah Awan.
Wusss!
Cangkir porselen kecil itu melesat membelah udara dengan kecepatan setara panah yang ditembakkan dari busur raksasa, diiringi distorsi Qi yang tajam.
Mata Awan menajam. Ia menangkap cangkir itu dengan telapak tangan kanannya.
BAM!
Suara benturan teredam terdengar. Tangan Awan terdorong mundur hingga menyentuh dadanya. Air teh di dalam cangkir beriak keras, beberapa tetes tumpah mengenai kulit perunggunya, mendesis panas. Telapak tangan Awan seketika terasa kebas, seolah ia baru saja menangkap bola meriam besi.
Namun, cangkir porselen itu tidak pecah. Penatua Kuang telah melapisi cangkir rapuh itu dengan Qi Inti Emas pelindung yang begitu sempurna hingga tenaga kinetik hantaman tidak menghancurkannya.
"Tanganmu bergetar," ucap Penatua Kuang, menyesap tehnya dengan tenang.
Awan meletakkan cangkir itu di atas meja, diam-diam memutar pergelangan tangannya di bawah meja untuk meredakan rasa kebas yang menembus hingga ke tulangnya. "Tenaga Guru luar biasa."
"Itu bahkan belum seperseratus dari kekuatan penuhku, Awan," Penatua Kuang menatap lurus ke mata murid barunya. "Aku melakukan itu untuk menyadarkanmu. Jangan biarkan kemenanganmu di reruntuhan menutupi akal sehatmu. Kau mengira kau sudah kuat?"
"Tidak, Guru," jawab Awan jujur. Ia teringat betapa lemahnya ia saat menghadapi cakar api raksasa di alun-alun tadi.
"Bagus. Karena jika kau besar kepala, kau akan mati sebelum bulan ini berakhir," Penatua Kuang meletakkan cangkirnya. "Tubuh fanamu telah mengalami perubahan yang mengerikan. Kau telah mencapai batas kekuatan yang setara dengan kultivator Alam Fondasi Roh. Di pertarungan jarak dekat, tidak ada kultivator Pengumpul Qi yang bisa bertahan dari ayunan pedang beratmu."
Penatua Kuang berdiri, melangkah ke tepi tebing.
"Namun, apa yang akan kau lakukan jika musuhmu adalah seorang ahli Fondasi Roh sejati yang bisa memanipulasi elemen dari jarak seratus meter? Atau lebih buruk, seorang ahli Inti Emas yang bisa melayang di langit dan menghujanimu dengan sihir tanpa perlu menyentuh tanah?" Penatua Kuang menoleh. "Kau tidak bisa memukul apa yang tidak bisa kau capai. Fisikmu terikat pada gravitasi bumi."
Awan terdiam. Ia mengepalkan tangannya. "Saya baru saja memahami Cikal Bakal Niat Pedang. Saya bisa memproyeksikan tekanan udara untuk menyerang jarak jauh."
"Sejauh apa? Sepuluh meter? Dua puluh meter?" Penatua Kuang menggeleng. "Dan seberapa sering kau bisa menggunakannya sebelum pikiranmu hancur karena kelelahan mental? Niat Pedang tanpa Qi sebagai bahan bakarnya ibarat menyalakan api menggunakan darahmu sendiri. Itu jalan bunuh diri."
Awan menundukkan wajahnya. Kata-kata sang guru menelanjanginya, memperlihatkan jurang besar antara dirinya dan para penguasa langit. Hukum kultivasi memang tidak adil. Ototnya memiliki batas jangkauan, sementara Qi tidak terbatas ruang.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Guru?" tanya Awan, matanya memancarkan kehausan akan ilmu yang tak bisa dipadamkan.
Penatua Kuang tersenyum tipis. "Sederhana. Jika musuhmu berada di langit, maka kau harus belajar menjejak udara. Jika sihir mereka tidak terlihat, tubuhmu harus cukup kuat untuk menghancurkan sihir itu hanya dengan menabraknya."
Sang Penatua kembali ke meja dan mengulurkan tangannya. "Tapi sebelum itu, mari kita lihat seberapa banyak kekayaan yang kau rampok dari sarang serigala Klan Wu dan Zhao."
Awan mengangguk. Ia melepaskan belasan Kantong Penyimpanan dan Cincin Tata Ruang dari pinggangnya, lalu menuangkan seluruh isinya ke pelataran kayu.
Gemerincing! Klotak!
Dalam sekejap, gunung kecil harta karun menutupi sebagian pelataran. Lebih dari dua ribu Batu Roh tingkat menengah, tumpukan gulungan sihir sekte tingkat tinggi, puluhan senjata spiritual yang memancarkan pendar cahaya, dan botol-botol pil langka berserakan di bawah sinar matahari.
Penatua Kuang, yang merupakan ahli Inti Emas yang telah melihat banyak kekayaan, tak bisa menahan diri untuk tidak terbatuk pelan melihat pemandangan itu.
"Bocah... Kau benar-benar merampok seluruh elit generasi ini," Penatua Kuang menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak heran Tetua Wu dan Zhao ingin memakanmu hidup-hidup. Nilai barang-barang ini setara dengan jatah sumber daya satu puncak sekte selama setahun!"
"Saya tidak bisa menggunakan senjata spiritual, gulungan sihir, maupun pil berbasis Qi ini, Guru," kata Awan santai, menunjuk ke tumpukan harta itu seolah itu hanyalah tumpukan daun kering. "Saya ingin Guru menukarkan semua barang rongsokan ini dengan sesuatu yang bisa membuat fisik saya melampaui batas bumi."
Penatua Kuang terdiam, menatap murid fananya dengan rasa kagum yang disembunyikan. Kultivator lain akan membunuh demi satu buku sihir di tumpukan itu, tapi Awan membuangnya tanpa ragu karena tahu apa yang benar-benar ia butuhkan.
"Ada satu barang yang bisa kubeli dari Paviliun Harta Karun Dalam untukmu. Sesuatu yang biasanya hanya digunakan untuk menghukum siluman bersayap tingkat tinggi agar mereka tidak bisa terbang," ucap Penatua Kuang, memungut cincin spiritual milik Zhao Meng dan membuang isinya yang lain.
Penatua Kuang menjentikkan jarinya, dan seluruh gunung harta itu tersedot masuk ke dalam cincin spiritual tersebut.
"Tunggu di sini. Rapikan tempat tinggal barumu di paviliun sebelah barat. Berlatihlah memegang pedang barumu itu. Mulai besok, hidupmu akan kembali menjadi neraka."
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Awan sudah berdiri di halaman paviliun barat.
Sesuai perintah, ia mengayunkan pedang Bumi Pijar sebanyak sepuluh ribu kali. Setiap ayunan membuat ototnya menjerit. Pedang berkarat seberat tiga ratus kilogram itu benar-benar menguras staminanya jauh lebih cepat dari Kayu Besi Hitam. Ubin batu di bawah kakinya telah retak parah hanya karena menahan pergeseran titik berat tubuhnya.
"Sembilan ribu sembilan ratus... sembilan puluh sembilan... Sepuluh... ribu!"
DHUUUM!
Awan menjatuhkan pedang berat itu ke tanah, napasnya menderu. Keringat membasahi tubuhnya, menguap ke udara pagi yang dingin.
Penatua Kuang berjalan memasuki halaman, melempar sebuah kotak kayu hitam berukir naga ke arah Awan. Awan menangkapnya. Kotaknya terasa sangat berat untuk ukurannya yang kecil.
"Buka," kata Penatua Kuang.
Di dalam kotak itu, terdapat empat buah gelang tebal yang terbuat dari logam berwarna abu-abu gelap kusam. Gelang-gelang itu memancarkan hawa medan magnet yang sangat aneh. Di setiap gelang, terdapat satu lubang kecil seukuran koin.
"Itu adalah Gelang Penekan Inti Bumi," jelas Penatua Kuang. "Artefak tingkat menengah yang bekerja bukan dengan menyerap Qi dari tubuh pengguna, melainkan digerakkan dengan Batu Roh. Masukkan satu Batu Roh ke dalam slotnya, dan gelang itu akan melipatgandakan gravitasi lokal yang menimpa anggota tubuhmu."
Mata Awan berbinar. Ia mengeluarkan empat keping Batu Roh tingkat menengah dan memasukkannya ke slot masing-masing gelang.
Ia memasang dua di pergelangan tangannya, dan dua di pergelangan kakinya.
KLIK.
Begitu Batu Roh terpasang sempurna, array formasi kuno di dalam gelang itu aktif.
BRUUUK!
Awan langsung jatuh tersungkur dengan wajah menghantam tanah. Kawah sedalam setengah meter seketika terbentuk di bawah tubuhnya.
Tubuhnya terasa seperti dijatuhi gunung. Darah di dalam pembuluhnya seolah dipaksa mengalir mundur. Tekanannya sangat berbeda dengan Ruang Penekan Jiwa di menara. Di sana, tekanan menimpa dari atas ke seluruh ruangan. Gelang ini, secara spesifik menarik tulang lengan dan kakinya secara individual menuju pusat bumi dengan gaya tarik sebesar dua ton per anggota tubuh!
"A-Arrrgh..." Awan mengerang, menancapkan jari-jarinya ke tanah, berusaha menolak bumi untuk berdiri. Otot-otot perunggunya yang ditenagai Darah Fana Purba bergetar hebat.
"Kau ingin melangkah di udara?" Suara Penatua Kuang terdengar tenang dari atasnya. "Maka kau harus terbiasa dengan tekanan yang seratus kali lebih berat dari gravitasi bumi. Hanya ketika kau bisa bergerak normal memakai gelang itu, maka saat gelang itu dilepas... otot kakimu akan memiliki daya tolak yang cukup untuk memecah kepadatan udara dan menjadikannya pijakan!"
Awan memuntahkan seteguk darah, tapi senyum gila terukir di wajahnya.
Beban. Siksaan fisik. Ini adalah jalan Dao yang paling ia pahami.
"Luar... biasa..." geram Awan, otot punggungnya berkontraksi saat ia berhasil mengangkat bahunya setengah meter dari tanah. "Saya... tidak akan... melepaskan gelang ini... bahkan saat tidur."
Penatua Kuang mengangguk puas. "Mulai hari ini, kau dilarang turun dari Puncak Daun Gugur sampai kau bisa melompat setinggi pohon bambu ungu itu dengan memakai keempat gelang tersebut. Tetua Wu dan Tetua Zhao telah mengerahkan mata-mata mereka di seluruh sekte. Jika kau keluar, mereka akan mencari alasan apa pun untuk mencabikmu."
"Saya mengerti, Guru," Awan memaksakan diri merangkak mendekati Bumi Pijar.
Beban dua ton di setiap lengan. Tiga ratus kilogram pedang berkarat. Ia menolak untuk hanya berbaring. Dengan tangan gemetar, ia menggenggam gagang pedang tersebut, bersiap memulai sepuluh ribu tebasan ronde kedua di bawah siksaan gravitasi yang baru.