Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di mana Tiara?
"Maafkan aku, kak ... tolong jangan hiraukan aku. Masalah dendam itu sudah terpatahkan, semua sudah usai, kakak mencintai Daniel jadi tidak perlu mengakhiri hubungan kalian. Biar aku yang pergi, kak. Anggap ini tidak pernah terjadi, aku tidak mencintai Daniel begitupun sebaliknya dan aku yakin kelak Daniel bisa cinta sama-kakak."
"Apa kamu pikir kakak bisa bahagia di atas penderitaanmu?" Moza menggenggam tangan Tiara. "Sudah cukup kamu menderita sendirian hanya untuk menjaga perasaan kakak, sekarang jawab pertanyaan kakak, apa kamu bahagia dengannya?"
Tiara menggeleng lemah, bahagia dari mana? Justru dia tertekan, meskipun semua kebutuhannya dipenuhi, percuma jika ia hanya dijadikan budak nafsunya.
***
Begitu meninggalkan Bali, Daniel sengaja memutus alat komunikasinya, ia menyampingkan masalah pribadi agar lebih leluasa menyelesaikan masalah perusahaan.
Design hasil rancangan designer interior milik perusahaannya diklaim perusahaan asing, bahkan kabarnya mereka sudah mulai melakukan pembangunan Villa dengan keuntungan milyaran tersebut.
"Anda tidak bisa dipercaya, saya sudah menanamkan saham besar untuk proyek ini, tapi kenapa kita terancam batal melakulan pembangunan itu?"
"Saya memutuskan hubungan kerja sama dengan kalian sebelum mendapatkan kerugian yang lebih besar ini."
"Siapa yang berkhianat di sini?"
Kepala Daniel terasa seperti mau pecah, ia tidak mau menyanggah apapun, sebab semua terjadi akibat kegagalannya memimpin perusahaan. Ini bukan masalah biasa yang bisa diselesaikan dalam waktu satu malam, Daniel menerima amukan dari beberapa rekan kerjanya, bukan tidak mau melawan hanya saja ia tidakau memperpanjang masalah, lebih baik bekerja dan mencari bukti daripada membual dan memberikan alasan yang hanya akan menyita waktu, setelah orang-orang itu membubarkan diri dari ruang rapat, Daniel membentuk tim khusus untuk menyelidiki dan mencari dalang dibalik kekacauan yang sudah terjadi.
"Ada satu nama yang aku curigai, Diko! Sebelum dia bergabung tidak pernah terjadi malasalah besar di sini, jadi awasi setiap pergerakannya, jangan lewatkan informasi sekecil apapun itu!"
Dan, yang lebih mengejutkan adalah klarifikasi sepihak yang dilakukan Moza di depan umum, kenapa wanita itu melakukannya disaat yang tidak tepat? Daniel marah bukan karena merasa dicampakan, tetapi tindakan Moza semakin mencoreng nama baiknya.
"Apa-apaan, dia?" Kening Daniel mengernyit, bahkan kedua alisnya hampir menyatu saat melihat vidio Moza yang ditunjukkan Wira.
Daniel menghubungi Moza, tetapi tidak bisa dihubungi.
"Kenapa semua jadi kacau seperti ini?" Daniel benar-benar merasa tertekan, satu masalah belum selesai, sekarang sudah muncul satu masalah lagi.
"Kenapa kau marah? Apa kau sudah jatuh cinta dengannya?" pertanyaan Wira membuat Daniel semakin kesal.
"Bukan urusanmu, cepat kerjakan tugasmu!" Daniel memutuskan untuk menemui Moza.
Daniel hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumah Moza, kini mobil lamborgini miliknya sudah berhenti di halaman rumah Moza.
Belum sempat ia menekan bel, pintu sudah terbuka dari dalam, Moza pun tidak mengira jika Daniel ada di depan rumahnya, dan kini keduanya saling berhadapan.
"Ada angin apa kamu datang ke sini sebelum aku mint?" tanya Moza, sebenarnya ia merindukan Daniel, tetapi mengingat apa yang dilakukan Daniel kepada Tiara membuatnya marah.
"Apa maksud pengakuanmu itu?" tanya Daniel tanpa basa-basi, ia tidak perlu berpura-pura lagi karena Moza sendiri yang sudah mengakhiri hubungan mereka.
Moza tersenyum sinis, Daniel bahkan tidak minta maaf karena sudah memermainkan perasaannya selama ini, ia bersedekap dada di depan pintu, seolah tidak mengijinkan Daniel masuk ke rumahnya.
"Kenapa? Kau takut orang-orang beransumi lain? Aku bahkan belum mengungkapkan semuanya, bagaimana seorang Daniel yang sesungguhnya, tidak punya hati dan selalu mau menang sendiri!"
"Apa maksudmu?" tanya Daniel, baru pertama kali Moza bersikap dingin kepadanya. "Apa yang belum kau uangkapkan? Tentang aku yang tidak mencintaimu? Tentang dendam itu? Itu tidak ngaruh untukku!"
"Lalu apa yang ngaruh untukmu? Memperkosa adikku, begitu?" Moza berteriak, ia sudah mencoba kuat menghadapi Daniel, tetapi jika teringat perbuatan Daniel kepada adiknya membuat air matanya tumpah ruah.
Daniel mundur satu langkah. "Kau---
"Ya ... aku sudah tau semuanya, di malam itu kau menodai adikku, menjadikan aku sebagai alasan agar Tiara tutup mulut dan sampai akhirnya kau mengikat adikku dengan pernikahan semu hanya menikmati tubuhnya!"!
Jantung Daniel berpacu lebih cepat, hatinya terasa ditusuk seribu jarum, ucapan Moza membuatnya khawatir.
"Bagus karena kau sudah tau semuanya. Mulai sekarang aku tidak harus sembunyi-sembunyi untuk menemui adikmu itu!"
Moza mengepalkan tangan, ia berusaha meredam emosinya, menghadapi Daniel harus dengan pikiran yang dingin. Moza melangkah mendekati Daniel, ia melingkarkan tangannya di leher Daniel, sedikit jenjit dan berbisik di telinga Daniel.
"Tapi ... kau tidak bisa bertemu dengannya lagi." Jari lentik Moza menyentuh rahang Daniel. "Jika kau mau ... aku bisa menggantikan Tiara menghangatkan ranjangmu."
"Jangan bermimpi." Daniel menjatuhkan tangan Moza, lalu masuk ke rumah itu. "Tiara keluar!" teriak Daniel, namun tidak ada tanda-tanda Tiara di sana. "Tiara jangan main-main denganku!"
"Percuma berteriak, Tiara tidak ada di sini!" Moza mengikuti Daniel ke lantai dua, pria itu terlihat memerikasa setiap ruangan yang ada.
"Di mana dia?" tanya Daniel, ia tidak menemukan Tiara di manapun.
"Aku nggak tau!"
"Jangan bohong, Moza! Di mana kau sembunyikan istriku!" teriak Daniel.
"Istri yang kau nikahi tanpa adanya cinta? Istri yang kau nikahi secara siri dan kau sembunyikan dari semua orang? Istri yang hanya kau jadikan sebagai pelampiasan nafsumu?" teriak Moza.
"Jangan main-main denganku, Moza! Bilang di mana istriku?"
"Jangan sebut adikku sebagai istrimu! Jika Tiara memang istrimu harusnya kau tidak menyiksa batinnya, dia masih terlalu muda saat kau menghancurkan hidupnya, apa kau pikir aku akan menutup mata dan telinga disaat kau mengancam batinnya?"
"Hentikan omong kosongmu itu! Sebaiknya katakan di mana Tiara, atau aku akan temukan dia dengan caraku sendiri," ucap Daniel, suaranya pelan tetapi terdengar menakutkan.
"Temukan dia jika kau bisa," jawab Moza.
"Aku bersumpah setelah ini aku pasti akan mengurungnya, jadi aku peringatkan tetap lindungi dan sembunyikan adikmu dariku sebelum aku menemukannya!"
"Kau hanya manusia biasa, Daniel. Kau tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, jika kau berniat memiliki Tiara hanya karena hasratmu itu, maka kau akan gagal. Cari dan jemput dia dengan cintamu, dengan begitu jalanmu akan dimudahkan."
Daniel tidak perduli, semua omongan Moza ia anggap seperti angin lalu, Daniel terburu menuruni anak tangga dan pergi dari rumah yang sudah menjadi milik Moza.
Sementara Moza terduduk lemas perasaan yang tidak karuan, pertama kalinya ia bersikap kasar kepada Daniel.
"Kalau kau mencintainya, kau pasti akan mencarinya," ucap Moza lirih.
***
Readers sayang, segini dulu.
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍