Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Pria Bermata Emas
Gang sempit itu masih diselimuti keheningan.
Tidak seorang pun berani bergerak.
Tiga kantung penyimpanan masih tergeletak di atas tanah.
Namun...
Tak ada yang berani menyentuhnya.
Mereka hanya memandangi sosok berjubah putih yang perlahan menjauh.
Jubah putihnya berkibar pelan diterpa angin.
Rambut putih panjangnya tergerai hingga pinggang.
Sepasang mata emasnya memantulkan cahaya matahari sore, menghadirkan kesan agung sekaligus dingin.
Wajahnya yang tampan nyaris sempurna membuat beberapa orang tanpa sadar terpaku.
Namun, tak seorang pun berani menatap terlalu lama.
Karena mereka baru saja menyaksikan...
...tiga kultivator lenyap tanpa mampu melawan.
Seorang pedagang menelan ludah.
"...Dia benar-benar manusia?"
Tidak ada yang menjawab.
Bocah yang diselamatkan masih terduduk di tanah.
Tangannya gemetar ketika memegang beberapa batu roh yang diberikan kepadanya.
Matanya memerah.
Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.
Sosok berjubah putih itu...
...telah menghilang di ujung jalan.
Bocah itu mengepalkan batu roh tersebut erat-erat.
"Aku..."
"...tidak akan melupakan kebaikan Senior."
Di sisi lain.
Avatar Chu Xuan berjalan menyusuri jalan utama Kota Canglan.
Ekspresinya tetap tenang.
Namun, di hadapannya muncul tulisan hitam.
【Sisa durasi Avatar: 14 menit 08 detik.】
Masih cukup.
Tujuannya tinggal satu.
Membeli persediaan makanan.
Setelah itu...
Kembali ke penginapan.
Sementara itu.
Di Balai Pemburu Kota Canglan.
Mo Zheng baru saja kembali.
Seorang pria tua berjanggut panjang duduk di kursi utama.
Tatapannya tajam meski usianya telah senja.
Di dadanya tergantung lencana emas Balai Pemburu.
Dialah Ketua Balai Pemburu Kota Canglan.
Xu Tianhe.
Mo Zheng memberi hormat.
"Ketua."
Xu Tianhe mengangguk.
"Ada laporan penting?"
Mo Zheng menarik napas pelan.
"Hari ini..."
"...aku bertemu seorang ahli."
Xu Tianhe tersenyum tipis.
"Kau sudah hidup lebih dari seratus tahun."
"Masih ada orang yang bisa membuatmu terkejut?"
Mo Zheng menjawab tanpa ragu.
"Ada."
"Dan..."
"...aku sama sekali tidak mampu melihat batas kekuatannya."
Senyum Xu Tianhe perlahan menghilang.
"Apa kau yakin?"
Mo Zheng mengangguk.
"Bahkan ketika beliau berdiri tepat di depanku..."
"...aku merasa seperti sedang memandang lautan tanpa tepi."
Ruangan itu menjadi sunyi.
Beberapa tetua yang sedang duduk di sana saling berpandangan.
Xu Tianhe akhirnya bertanya,
"Bagaimana penampilannya?"
Mo Zheng menjawab singkat.
"Jubah putih."
"Rambut putih."
"Mata emas."
"Hm..."
"Wajahnya..."
Mo Zheng terdiam sesaat.
"...terlalu tampan untuk kulupakan."
Ruangan kembali sunyi.
Xu Tianhe perlahan mengetukkan jarinya ke meja.
"Perintahkan seluruh anggota Balai Pemburu."
"Apabila bertemu pria dengan ciri-ciri tersebut..."
"...perlakukan sebagai tamu kehormatan."
"Tidak seorang pun boleh menyinggungnya."
"Siapa yang melanggar..."
"...akan berurusan langsung denganku."
"Baik, Ketua."
Di luar Balai Pemburu.
Avatar Chu Xuan berhenti di depan sebuah toko beras.
Tatapannya menyapu karung-karung beras yang tersusun rapi.
Di sampingnya terdapat berbagai bumbu, minyak, dan daging kering.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Kota Canglan...
Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
"Semuanya."
Pemilik toko membeku.
"...Se-Semua, Senior?"
Avatar mengangguk sekali.
Tidak menambahkan sepatah kata pun.
Pemilik toko buru-buru memanggil para pegawainya.
"Cepat!"
"Siapkan semua pesanan Senior!"
Tak seorang pun menyadari...
Di balik wajah tampan, mata emas, dan ketenangan pria berjubah putih itu...
Kesadaran Chu Xuan hanya memiliki satu pikiran.
"Akhirnya..."
"Aku tidak perlu makan bubur encer lagi."
Setelah seluruh persediaan makanan dimasukkan ke dalam kantung penyimpanan, Avatar Chu Xuan melangkah meninggalkan toko.
Jubah putihnya berkibar perlahan.
Rambut putih panjangnya bergerak lembut tertiup angin.
Sepasang mata emasnya tetap tenang, seolah tidak ada sesuatu di kota itu yang mampu menarik perhatiannya.
Namun...
Hampir setiap orang yang berpapasan tanpa sadar menepi.
Bukan karena tekanan spiritual.
Melainkan karena naluri.
Naluri yang berkata...
"Jangan menghalangi orang itu."
【Sisa durasi Avatar: 10 menit 18 detik.】
Masih cukup.
Avatar terus berjalan menyusuri jalan utama Kota Canglan.
Di sisi kiri berdiri Balai Pemburu.
Tak jauh darinya terdapat Rumah Lelang Canglan yang megah.
Sedikit lebih jauh lagi, deretan toko pil, toko senjata, dan pasar kultivator memenuhi jalan.
Untuk pertama kalinya...
Chu Xuan benar-benar melihat dunia kultivasi yang selama ini hanya dikenalnya melalui penjelasan sistem.
Tidak jauh dari sana...
Terdengar suara keributan.
Beberapa pedagang buru-buru menutup lapak mereka.
Orang-orang mulai menyingkir dari tengah jalan.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan Muda Han datang!"
"Cepat minggir!"
Kereta mewah berhenti di tengah jalan.
Di bagian depannya terukir lambang Keluarga Han.
Seorang pemuda berjubah hijau turun dengan langkah angkuh.
Di belakangnya berdiri empat pengawal.
Tatapannya menyapu kerumunan seperti sedang memandang sekumpulan semut.
Tiba-tiba...
Seorang bocah laki-laki menabrak salah satu pengawal hingga sebuah kotak kayu jatuh ke tanah.
BRAK!
Kotak itu terbuka.
Beberapa batu roh berguling keluar.
Pengawal itu langsung berteriak.
"Berani mencuri batu roh Tuan Muda!"
Bocah itu langsung pucat.
"Aku... aku tidak mencurinya!"
"Itu bukan milikku!"
Ibunya segera berlutut.
"Tuan..."
"Anakku tidak mungkin mencuri!"
Namun Han Lie hanya tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Buktikan."
Wajah wanita itu langsung kehilangan warna.
Mustahil.
Bagaimana mungkin rakyat biasa membuktikan sesuatu di hadapan keluarga kultivator?
Sementara itu...
Di hadapan Avatar, tulisan hitam perlahan muncul.
【Analisis dimulai.】
【Korban: Tidak bersalah.】
【Batu roh sengaja dijatuhkan oleh pengawal.】
【Tujuan: Pemerasan.】
【Deteksi niat buruk...】
【Han Lie: Dikonfirmasi.】
【Empat pengawal: Dikonfirmasi.】
【Syarat eliminasi telah terpenuhi.】
Avatar tetap diam.
Tatapan mata emasnya beralih kepada Han Lie.
Han Lie yang semula tersenyum tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Entah mengapa...
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Ia menoleh.
Tatapannya bertemu dengan sepasang mata emas yang tenang.
Untuk sesaat...
Seluruh suara di sekitarnya seolah menghilang.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban.
Avatar hanya berdiri.
Diam.
Namun justru keheningan itu membuat Han Lie semakin gelisah.
"Pengawal!"
"Usir dia!"
Keempat pengawal saling berpandangan.
Anehnya...
Tak seorang pun berani melangkah.
Kaki mereka terasa berat.
Seolah naluri mereka sedang memperingatkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.
Han Lie mengerutkan kening.
"Sekelompok sampah!"
Ia sendiri melangkah maju.
"Aku akan mengurusnya."
Begitu langkah ketiganya jatuh...
Avatar perlahan mengangkat tangan kanan.
Jari telunjuknya mengarah ke langit.
Lalu...
Menurunkannya perlahan.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya yang menyilaukan.
Langit di atas Kota Canglan mendadak dipenuhi awan keemasan.
Semua orang tanpa sadar mengangkat kepala.
Sebuah telapak tangan raksasa berwarna emas perlahan terbentuk di langit.
Bukan qi.
Bukan teknik bela diri.
Melainkan tekanan yang membuat seluruh udara bergetar.
Han Lie membeku.
"A-apa..."
Telapak tangan itu turun.
Tidak cepat.
Namun mustahil dihindari.
BOOOOM!
Tanah bergetar hebat.
Debu membubung ke udara.
Ketika semuanya kembali tenang...
Han Lie telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah sebuah lubang besar berbentuk telapak tangan.
Keempat pengawal berdiri gemetar.
Pedang mereka terjatuh satu per satu.
Wajah mereka pucat pasi.
Avatar menatap mereka sekilas.
Lalu memalingkan wajah.
Keempat pengawal itu langsung berlutut.
Tidak seorang pun berani mengangkat kepala.
Avatar berjalan menuju lubang besar.
Kantung penyimpanan Han Lie melayang keluar dengan sendirinya.
Ia mengambilnya.
Kemudian mengeluarkan sebagian kecil batu roh.
Batu-batu roh itu melayang pelan dan berhenti di depan ibu serta anak tadi.
"Ambillah."
Hanya tiga kata.
Wanita itu menangis sambil terus membungkuk.
"Terima kasih, Senior..."
Namun ketika ia mengangkat kepala...
Sosok berjubah putih itu sudah berjalan menjauh.
Jubah putih.
Rambut putih.
Wajah tampan yang sulit dilupakan.
Dan...
Sepasang mata emas yang membuat siapa pun tak berani menatap terlalu lama.
Di belakangnya, kerumunan tetap membisu.
Baru setelah sosok itu benar-benar menghilang di ujung jalan, seseorang berbisik dengan suara bergetar,
"...Pria bermata emas."
Tidak ada seorang pun yang membantah.
Bersambung...