NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana rasanya?

Sejak sore di mana Julian mengantarkan Sabrina kembali ke kostnya, benih keakraban di antara mereka mulai tumbuh pesat.

Hari-hari berikutnya di Universitas Artha Persada tak lagi sama bagi Sabrina. Lorong-lorong kampus yang tadinya terasa asing dan membingungkan, kini selalu diwarnai kehadiran sosok senior berprestasi dari jurusan Manajemen tersebut.

Kehadiran Julian di kehidupan Sabrina terasa mengalir begitu alami. Hampir setiap pagi dan sore, sedan hitam mengilap milik Julian tampak terparkir setia di depan Gang Perintis, menunggu Sabrina keluar dari kostnya.

Julian seolah selalu punya sejuta alasan yang masuk akal, mulai dari searah ingin beli kopi dekat kosan, sekadar melintas, hingga alasan klasik, takut Sabrina terlambat kelas pagi.

Lama-kelamaan, rasa canggung yang sempat membentengi Sabrina meluruh sepenuhnya. Dinding pemisah antara anak beasiswa dari desa dan mahasiswa elit kota meluap begitu saja disapu keramahan Julian yang jujur dan konsisten.

Pagi itu, udara kampus UAP terasa sejuk diselimuti kabut tipis. Mobil Julian baru saja meluncur mulus memasuki area parkir khusus Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Di dalam kabin, alunan lagu favorit yang biasa mereka dengarkan bersama mengalun lembut. Sabrina tak lagi duduk kaku seperti pertama kali, ia kini tertawa lepas menanggapi cerita kocak Julian tentang dosen Manajemen yang kerap lupa menaruh kacamata di atas kepalanya sendiri.

"Beneran, Kak? Terus mahasiswanya tidak ada yang berani bicara?" tanya Sabrina seraya terkekeh pelan, membetulkan letak tali tasnya.

"Nggak ada yang berani!" sahut Julian ikut tertawa renyah, mengacak rambut depannya dengan gaya santai yang selalu berhasil membuat dada Sabrina berdesir.

"Semua cuma bisa nahan tawa sampai jam kuliah usai. Makanya, kalau Bu Maya di kelasmu galak, dosen di jurusanku beda lagi, sukanya bikin senam jantung."

Julian mematikan mesin mobil, lalu berbalik penuh menatap Sabrina. Sorot matanya hangat, dihiasi senyum tipis yang selalu membuat Sabrina merasa dihargai.

Tanpa ragu, Julian mengulurkan tangan, membantu merapikan tatanan rambut Sabrina yang sedikit berantakan tertiup angin pendingin mobil.

"Jadwal kuliahmu selesai jam berapa hari ini?" tanya Julian lembut. Sabrina sempat terpaku sejenak merasakan sentuhan singkat jemari Julian di dekat pelipisnya, sebelum akhirnya menjawab.

"Hari ini ada praktikum Sanitasi & Hygiene di laboratorium, Kak. Mungkin baru kelar jam empat sore."

"Oke, pas banget," puji Julian seraya mengedipkan sebelah matanya jahil.

"Jam empat sore aku selesai rapat BEM. Nanti tunggu di depan lobi Gedung B, ya. Jangan coba-caba kabur naik bus atau pesan ojek online. Biar aku yang antar pulang."

"Nanti merepotkan Kak Julian lagi..." celethuk Sabrina, walau sejujurnya ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya.

"Bicara merepotkan sekali lagi, aku denda kau untuk menciumku," potong Julian cepat, diiringi tawa renyahnya yang khas.

"Lagian, rutin mengantar-jemput anak berprestasi kayak kamu itu investasi pahala buat aku."

Sabrina tak sanggup menahan senyumnya lebih lama lagi. Keakraban yang terjalin erat dalam beberapa pekan terakhir ini telah mengubah rutinitas jalannya di kampus.

Sabrina akhirnya mengangguk malu-malu.

"Nah, gitu dong," sahut Julian puas, senyum mewahnya mengembang lebar menatap Sabrina.

Ia lalu membukakan pintu mobil dari dalam dengan santai. Sabrina melangkah keluar menembus sejuknya udara pagi kampus, disusul Julian yang berjalan memutar dan mengambil posisi persis di sampingnya.

Seperti hari-hari biasa, langkah kaki Julian yang lebar sengaja diperlambat, menyelaraskan irama jalan mereka menyusuri selasar UAP yang mulai ramai oleh lalu-lalang mahasiswa.

Sepanjang koridor menuju Gedung B, sapaan hangat dan lambaian tangan dari rekan-rekan sesama mahasiswa tak henti-hentinya mengarah pada Julian.

Sosok senior populer itu membalasnya dengan ramah, namun fokus dan perhatian utamanya tetap tertuju pada gadis bergaun sederhana di sebelahnya.

Julian dengan sigap membantu mengambil alih dua modul tebal yang didekap Sabrina ketika melihat mahasiswi itu kerepotan.

"Jangan lupa makan siang nanti, ya. Kalau praktikumnya selesai lebih cepat, langsung kirim pesan ke aku," pesan Julian lembut tatkala mereka akhirnya tiba di depan ruang praktikum Sabrina.

"Iya, Kak Julian. Makasih banyak ya buat tumpangan pagi ini, dan buat bantuannya," jawab Sabrina tulus, mengutarakan rasa terima kasih yang tak pernah luput ia ucapkan.

"Sama-sama, Sabrina. Belajar yang rajin ya," ujar Julian seraya mengacak pelan puncak kepala Sabrina sebelum berbalik menuju gedungnya sendiri.

Sabrina mematung sejenak di ambang pintu, menyentuh kepalanya yang baru saja diusap lembut oleh Julian.

Debaran halus di dadanya kian kencang bergetar, menegaskan betapa hadirnya sosok senior itu kini telah menjadi bagian yang paling manis dalam lembaran hidupnya di Universitas Artha Persada.

Saat Julian melangkah menyusuri lorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Langkah tegapnya baru saja berbelok mendekati pintu ruang kelas Manajemen Strategis ketika tiga sosok pria yang sangat familier tampak menyandar santai di pilar koridor, menunggunya dengan sunggingan senyum jahil di wajah masing-masing.

"Wah, pangeran kampus kita beberapa hari ini sepertinya sangat sibuk," kata Adrian membuka suara. Ia bersedekap dada, menatap Julian dari atas sampai bawah dengan binar mata penuh godaan.

"Iya, sibuk sama cewek kampung," sahut Rian menimpali. Ia mengibaskan berkas di tangannya seraya tertawa remeh, merujuk pada pemandangan rutin beberapa pekan terakhir di mana Julian selalu terlihat bersama Sabrina, gadis beasiswa berpenampilan sederhana dari jurusan Manajemen Perhotelan.

"Udah lain seleranya kayaknya sekarang," ucap Fano tak mau kalah, menyikut pinggang Rian seraya mengembuskan napas jenaka.

"Dari deretan mahasiswi hits UAP yang ngantre dari ujung lorong ke ujung gerbang, jatuhnya malah sama anak perhotelan dari desa yang ke mana-mana bawa buku tebal."

Julian menghentikan langkahnya tepat di hadapan ketiga sahabatnya itu. Alih-alih tersinggung atau terpancing emosi, raut wajahnya tetap tenang.

"Sekali-kali seleranya beda, bisa kan?" kata Julian santai seraya bersedekap dada, menyandarkan separuh bahunya pada pilar koridor.

"Hahaha! Iya juga sih, bosan kan makan steak tiap hari? Jadi pengen cicip singkong," canda Rian meledak dalam tawa, diikuti kekehan geli dari Adrian.

Fano ikut melangkah maju, memiringkan kepalanya dengan raut wajah jahil dan alis terangkat.

"Gimana rasanya, enak nggak singkongnya?" tanya Fano setengah berbisik, menantikan jawaban liar dari sang pangeran kampus.

Julian hanya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. Sorot matanya nampak tenang tanpa beban sedikit pun saat ia membetulkan posisi jam tangan di pergelangan kirinya.

"Belum diicip," sahut Julian santai, nada suaranya begitu ringan seolah topik yang mereka bahas hanyalah angin lalu.

Tanpa menunggu balasan atau tawa riuh dari ketiga temannya yang melongo, Julian menepuk pelan bahu Fano, lalu melangkah santai melintasi mereka dan masuk ke dalam kelasnya.

Ia meninggalkan Adrian, Rian, dan Fano yang saling pandang di luar lorong, sementara di balik pintu kelas, Julian duduk di bangkunya seraya mengulas senyum misterius, menyimpan rapat-rapat pikiran dan niat sebenarnya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!