"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Angka penjualan real-time turun seperti lampu dimatikan.
Raka mematikan iklan random pack pukul sembilan lewat dua belas. Lima menit kemudian, Reza sudah berdiri di ruang rapat dengan laptop terbuka dan suara tertahan.
"Kita terlihat mengaku bersalah."
"Kita mengakui risiko," jawab Raka.
"Publik tidak membedakan itu."
Nadia, yang baru masuk dari panggilan video, menjawab lebih dulu. "Maka kita bedakan untuk mereka. Mengakui risiko desain bukan mengakui semua tuduhan. Tapi menyangkal semuanya saat ada keluarga nyata dirugikan akan lebih buruk."
Yusuf membawa data mentah. Video anonim itu pola pembeliannya cocok dengan beberapa transaksi: satu akun dewasa membeli pack resmi, lalu ada pembelian kedua di marketplace dengan harga tinggi. Anak dalam video kemungkinan membeli dari pasar sekunder, bukan langsung dari AKN.
Raka tidak terlihat lega.
"Tetap ada anak yang terdorong membeli karena takut kehabisan."
Naya membuka layar komentar. Ada dua dunia bertabrakan di sana. Pemain remaja membela Saga mati-matian. Orang tua memaki AKN tanpa membaca penjelasan. Akun anonim mendorong tagar boikot. Beberapa akun baru memakai kalimat yang sama persis, seolah disalin dari satu dapur.
"Ada serangan terkoordinasi," kata Naya.
Nadia mengangguk. "Mungkin. Tapi jangan jadikan itu tameng untuk mengabaikan masalah asli."
Dimas mengepal. "Jadi kita dipukul orang luar dan tetap harus mengakui salah?"
"Kita mengakui bagian yang benar," jawab Raka. "Dengan begitu bagian yang palsu tidak bisa menunggangi semuanya."
Kalimat itu sederhana, tetapi berat. Bagi tim yang masih baru belajar menjadi perusahaan, rasanya seperti diminta berdiri di tengah hujan sambil memilih air mana yang bersih.
Reza memegang tepi meja. "Kalau kita menerima framing itu, semua produk koleksi bisa disalahkan."
"Kita tidak sedang mengadili semua produk koleksi," kata Raka. "Kita mengurus produk kita."
Perdebatan berlangsung hampir satu jam. Reza menolak kata krisis desain. Yusuf menunjukkan akun pembeli berulang dan lonjakan pencarian "cara dapat rare Saga". Nadia memisahkan tiga hal di papan: tuduhan palsu, risiko nyata, dan tindakan perusahaan.
"Jangan membela bagian yang memang perlu diperbaiki hanya karena musuh memakai isu itu," kata Nadia.
Akhirnya Raka menulis keputusan.
Iklan random pack dihentikan.
Refund window dibuka untuk pembelian resmi oleh wali atau pembeli yang belum membuka pack.
Verifikasi usia dan kontrol orang tua ditambahkan.
Probability card ditampilkan jelas.
Basic set non-random dibuat agar pemain bisa mulai tanpa berburu pack langka.
Batas belanja bulanan diterapkan di akun resmi.
Daftar itu membuat ruangan terasa lebih dingin daripada pendingin udara.
Yusuf langsung menghitung dampak kas. Kalau refund maksimal terjadi, cadangan operasional dua bulan akan terpotong hampir setengah. Kalau basic set dicetak cepat, biaya produksi naik karena kemasan baru harus dipisah. Kalau verifikasi usia diterapkan terburu-buru, konversi pembelian turun.
Semua angka buruk.
Tetapi ada satu angka yang lebih buruk jika diabaikan: kepercayaan.
Bima mengangkat tangan. Ia Raka mengangguk.
"Saat saya di-PHK, saya percaya Pak Raka karena Bapak memberi saya kesempatan tanpa mempermainkan saya," katanya pelan. "Kalau pembeli merasa kita mempermainkan mereka, mereka tidak akan memberi kesempatan kedua."
Raka menatapnya sebentar.
Di wajah Bima tidak ada teori bisnis. Hanya ingatan tentang orang yang pernah berada di ujung jalan dan tahu betapa mahalnya rasa percaya.
"Masukkan itu ke prinsip layanan pelanggan," kata Raka. "Bukan kalimatnya. Maknanya."
Naya mengetik cepat.
Reza membaca daftar itu. "Ini akan menurunkan pendapatan."
"Ya."
"Titan akan bilang kita mengaku produknya berbahaya."
"Kita jawab dengan desain baru, bukan teriakan."
Untuk beberapa detik, Reza terlihat ingin keluar. Lalu ia mengambil spidol dan menambahkan satu baris.
Turnamen uji tidak memakai hadiah uang tunai.
Raka melihatnya.
Reza tidak menatap balik. "Saya masih percaya game ini tidak salah. Tapi saya salah membaca seberapa cepat rasa langka bisa berubah jadi tekanan."
Kalimat itu tidak terdengar seperti permintaan maaf penuh. Itu lebih seperti orang sombong yang baru rela memindahkan satu batu dari jalannya. Untuk Reza, itu sudah besar.
Live klarifikasi dilakukan malam itu.
Raka membuka dengan menyebut data tanpa membuka identitas anak dalam video. Ia tidak menyebut keluarga itu pembohong. Ia juga tidak membiarkan komentar menyalahkan orang tua.
"Kami tidak bisa mengatur seluruh pasar sekunder," katanya. "Tapi kami bertanggung jawab atas desain, iklan, batas pembelian, dan kanal resmi kami."
Nadia menjelaskan refund dan privasi. Yusuf menunjukkan tanggal pelaksanaan kebijakan. Reza mengambil bagian terakhir.
"Saga Nusantara bukan dosa karena berbentuk kartu koleksi," katanya. "Tetapi pertumbuhan kemarin membuat kami melihat risiko yang saya, sebagai penanggung jawab strategi, nilai terlalu ringan. Random pack dihentikan sementara. Basic set non-random akan jadi pintu masuk utama."
Komentar tidak langsung membaik. Ada yang mengejek mereka tunduk. Ada yang menuduh ini drama pemasaran. Tetapi di antara itu, komentar orang tua mulai muncul.
Terima kasih ada refund.
Anak saya boleh main kalau ada basic set.
Tolong jangan tampilkan rare card seperti jackpot.
Naya menandai komentar itu untuk tim produk. Dimas, yang biasanya mencari kalimat paling seru, kali ini hanya menyalin keluhan orang tua ke dokumen.
Lalu satu komentar muncul dari akun yang memakai foto profil toko kecil.
Saya toko mitra. Aturan baru berat, tapi setidaknya jelas. Kalau semua ikut, kami ikut.
Komentar itu disukai ratusan kali.
Tidak spektakuler. Tidak membuat angka penjualan meledak. Namun bagi Raka, itu sinyal yang lebih penting daripada teriakan fans. Di tengah badai, pihak yang harus menanggung aturan masih mau berdiri di bawah payung AKN.
Yusuf mencatatnya sebagai indikasi retensi mitra.
Reza mencatatnya sebagai bukti bahwa pembatasan tidak langsung membunuh jaringan.
Dimas hanya menatap layar lama-lama, lalu berkata, "Ternyata jadi perusahaan itu capek sekali."
Nadia menjawab tanpa menoleh, "Selamat datang."
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, beberapa orang tertawa.
Dalam dua jam, refund resmi berjalan. Jumlahnya menyakitkan, tetapi terkendali. Penjualan random pack turun ke nol. Waiting list basic set naik pelan.
Yusuf mengirim ringkasan kerugian sementara. Raka menyetujui tanpa mengubah keputusan.
Menjelang tengah malam, surat masuk dari Bu Lestari Handayani, pejabat Disperindag yang menangani pengawasan perdagangan daerah.
Isi suratnya formal dan dingin. AKN diminta membawa data penjualan, refund, iklan, kanal distribusi, probability card, dan kebijakan perlindungan konsumen untuk penjelasan.
Tanggal: besok pagi.
Nama Bu Lestari membuat Nadia langsung membuka folder regulasi. Perempuan itu dikenal tidak suka perusahaan yang datang membawa alasan viral sebagai pelindung. Tahun lalu, dua merek mainan impor dipaksa menarik produk karena klaim hadiah yang kabur. Sebulan lalu, sebuah platform voucher didenda karena syarat promosi disembunyikan di halaman belakang.
"Beliau bukan tipe yang bisa dibeli dengan presentasi cantik," kata Nadia.
"Bagus," jawab Raka.
Reza menoleh. "Bagus?"
"Kalau kami salah, dia akan memukul bagian yang salah. Kalau tuduhan palsu, dia juga akan lihat data."
Nadia menatap Raka sejenak. "Itu optimis."
"Tidak. Itu alasan kenapa kita siapkan data lengkap."
Raka membagi tugas tanpa menaikkan suara. Yusuf mengunci angka transaksi. Bima menghubungi toko mitra untuk bukti harga. Naya menyiapkan arsip iklan yang sudah dimatikan. Dimas mengumpulkan komplain pelanggan tanpa menghapus yang paling menyakitkan. Reza mengambil probability sheet dan desain basic set.
Tidak ada yang bertanya apakah lembur dihitung.
Mereka semua tahu besok pagi bukan hanya soal menghindari sanksi. Kalau AKN lolos dengan data bersih, perusahaan kecil itu akan punya satu senjata baru: reputasi bahwa mereka bisa diaudit.
Reza membaca surat itu di layar ruang rapat yang sudah sepi. Semua orang lain mulai bergerak menyiapkan dokumen. Ia tetap duduk beberapa detik, menatap dashboard penjualan yang kini nol.
Dua minggu lalu, angka nol berarti belum mulai.
Malam ini, angka nol berarti ia sendiri ikut menekan rem.
Raka berdiri di pintu. "Pulang dulu?"
Reza menggeleng. "Saya rapikan probability sheet."
"Besok bukan panggung debat."
"Saya tahu." Reza menatap layar. "Besok angka saya yang ditanya."
Di ruang live yang kosong, lampu merah kamera mati. Untuk pertama kalinya sejak Saga viral, tidak ada angka penjualan yang bergerak.
Yang bergerak hanya daftar refund.