NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Bab 5

"Ki Suryo Prawangsa namanya," bisik Irawan. "Muridnya almarhum Ki Timbul Hadiprayitno. Lo tau Ki Timbul?"

Lusi menggeleng. Tapi di dalam hatinya, namanya mencatat sesuatu. Prawangsa. Nama itu. Nama yang sama dengan nama kakek buyutnya. Ki Sarowang Prawangsa. Mungkinkah ada hubungan? Lusi tidak tahu. Kakek buyutnya tidak pernah bercerita banyak tentang masa lalunya. Yang ia tahu, Ki Sarowang adalah dukun sakti yang dulu pernah menjadi guru bagi banyak murid sebelum akhirnya memilih menyepi di Gunung Lawu.

Irawan jelas tidak tahu bahwa gadis di sampingnya adalah cucu buyut dari salah satu dukun paling legendaris di tanah Jawa. Bagi Irawan, Lusi hanyalah gadis biasa. Mahasiswi pendiam. Korban bullying. Target empuk.

Dan itulah ironi terbesar dalam cerita ini: ular tidak tahu bahwa tikus yang hendak ditelannya adalah anak dari seekor naga.

Pertunjukan berlangsung selama tiga jam. Lusi menonton dengan mata berbinar. Wayang, yang dulu ia anggap kuno dan membosankan, sekarang terlihat berbeda. Mungkin karena ada Irawan di sampingnya yang sesekali berbisik menjelaskan adegan. Mungkin karena cerita Bima Suci tentang pencarian jati diri dan air kehidupan terasa begitu dekat dengan hatinya.

"Selesai sudah..."

Tepuk tangan membahana. Penonton berdiri memberikan standing ovation. Ki Suryo Prawangsa bangkit dari duduknya, membungkuk hormat, dan menghilang di balik panggung.

"Yuk, gue kenalin sama kakek gue," ajak Irawan tiba-tiba.

"Ha? Sekarang? Aku? Dikenalin?" Lusi panik. "Tapi... tapi aku kan cuma…"

"Cuma apa? Cuma temen? Ya emang temen." Irawan menatapnya aneh. "Emang lo kira gue ngapain?"

Lusi terdiam. Pipinya merah padam.

Mereka berjalan melewati kerumunan, menyelinap ke belakang panggung. Di sudut, di bawah tenda kecil, Ki Suryo Prawangsa sedang duduk di kursi rotan, mengipasi dirinya dengan topi blangkon.

"Mbah!"

Irawan berlari kecil ke arahnya. Cium tangan. Hormat. Lusi mengikuti di belakang, canggung.

"Ini Mbah, temenku. Namanya Lusi Arimbi."

Ki Suryo menoleh. Matanya yang sudah mulai rabun menatap Lusi. Dan tiba-tiba…

Orang tua itu terdiam. Tangannya yang memegang kipas berhenti bergerak. Dahinya berkerut. Matanya menyipit, seperti sedang mencoba mengenali sesuatu yang ia lihat di wajah Lusi. Ada energi yang ia rasakan. Ada bayangan yang ia lihat seperti api kebiruan yang menyelimuti tubuh gadis itu.

"Arimbi..." gumamnya pelan. "Nduk... siapakah kakek buyutmu?"

Lusi tertegun. Jantungnya berhenti sejenak. "M... maksud Mbah?"

Ki Suryo menatapnya lama. Sangat lama. Ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat Irawan. Melihat aura yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang sudah mencapai tingkatan spiritual tertentu. Ada jejak energi kuno di tubuh gadis ini. Jejak yang sangat ia kenali energi yang dulu pernah ia rasakan puluhan tahun lalu, saat masih menjadi murid.

"Ki Sarowang Prawangsa," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kamu... darahnya?"

Lusi membeku. Ia ingin berbohong, tapi tatapan Ki Suryo terlalu tajam. "Saya... saya cucu buyutnya, Mbah."

Wajah Ki Suryo berubah. Ada keterkejutan di sana. Ada hormat. Dan ada... ketakutan?

"Mbah kenal kakek buyutku?"

Ki Suryo tidak menjawab langsung. Ia mengalihkan pandangannya ke Irawan, lalu kembali ke Lusi. "Apa kakek buyutmu tahu kamu di sini? Apa dia tahu kamu berteman dengan cucuku?"

"Ti... tidak, Mbah. Saya belum cerita."

Orang tua itu menghela napas panjang. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia urungkan. Sebagai gantinya, ia hanya tersenyum senyum yang tidak mencapai mata. "Kamu sering-sering main ke rumah ya, Nduk. Mbah senang sekali bisa bertemu dengan keturunan beliau. Sungguh... senang sekali."

Irawan memandangi keduanya dengan bingung. "Mbah, kenalin? Mbah kenal kakek buyutnya Lusi?"

"Sudah, sudah. Nanti Mbah cerita lain waktu." Ki Suryo bangkit, memberikan isyarat bahwa percakapan selesai. "Lusi, jaga dirimu baik-baik. Dan..." Ia berhenti sejenak. "...jangan lupa siapa dirimu sebenarnya."

Lusi tidak mengerti arti kata-kata itu. Tapi ia akan mengingatnya. Dan suatu hari nanti, ia akan memahaminya.

Dua minggu setelah pertunjukan wayang. Sebuah kafe di Jalan Prawirotaman.

"Aku suka kamu, Lus."

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Lusi yang sedang menyesap matcha latte-nya langsung tersedak. Matanya membelalak. Tangannya yang memegang gelas bergetar hebat.

"Ha... hah?"

Mereka duduk di sudut kafe yang remang-remang. Lampu gantung dari rotan menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding bata ekspos. Di atas meja, dua gelas minuman dan sepiring kentang goreng yang sudah mulai dingin. Lagu "Yellow" dari Coldplay mengalun pelan dari speaker.

Irawan duduk di seberangnya, kedua tangan memegang gelas kopi, matanya menatap Lusi dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lesung pipinya tidak muncul karena ia tidak tersenyum. Wajahnya serius. Sangat serius.

"Gue serius, Lus. Tiga bulan ini gue mikirin lo terus. Setiap hari. Setiap malem. Lo itu... beda. Lo nggak kayak cewek-cewek lain yang cuma peduli sama penampilan atau followers Instagram. Lo tuh... lo tuh..." ia menghela napas, mencari kata-kata. "Lo tuh tenang. Kayak... kayak hujan di pagi hari. Nggak berisik, tapi bikin adem."

Jantung Lusi berhenti.

Harusnya ada peringatan di kepalanya. Harusnya ada alarm yang berbunyi. Terlalu cepat. Terlalu sempurna. Terlalu indah untuk jadi kenyataan. Tapi Lusi sudah terlalu mabuk oleh tiga bulan perhatian, tiga bulan kebaikan, tiga bulan lesung pipi dan suara bariton yang setiap malam mengisi kepalanya. Madu itu sudah terlalu banyak ia teguk. Racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh.

"Gue tahu ini cepat. Tapi gue nggak mau main-main, Lus. Kalau lo mau... gue pengen lo jadi pacar gue. Yang serius. Yang bener-bener."

Satu tetes air jatuh ke meja. Lusi baru sadar itu air matanya sendiri.

"Aku... aku juga suka Kakak..." Suaranya pecah. "Eh... Wan. Aku juga suka Wan. Dari pertama ketemu di tangga..."

Lesung pipi itu muncul. Irawan tersenyum senyum paling tulus yang pernah Lusi lihat dan tangannya terulur ke atas meja, menggenggam tangan Lusi.

"Makasih ya Lus.”

Setelah sebulan kemudian…

"Malam ini spesial, Lus. Percaya sama gue."

Itu yang Irawan katakan saat menjemputnya di kost. Ia datang dengan motor matic hitamnya, memakai jaket jeans yang membuatnya terlihat semakin macho. Rambutnya disisir rapi. Wangi parfumnya lebih kuat dari biasanya. Ia bahkan membawakan Lusi sekotak cokelat mahal bukan cokelat dari supermarket biasa, tapi dari toko cokelat impor di mall.

"Buat apa cokelat segala, Wan?"

"Buat kamu. Siapa lagi?"

Dan Lusi yang tidak pernah menerima hadiah dari laki-laki seumur hidupnya meleleh seperti lilin di bawah sinar matahari.

Sekarang, ia duduk di tepi kasur. Kamarnya bersih, tapi ada bau samar-samar yang tidak ia kenali bau manis yang aneh, seperti obat-obatan yang dicampur dengan parfum murahan. Lampu kamar diredupkan

Di luar, hujan semakin deras. Petir menyambar, menciptakan kilatan cahaya yang menerangi seluruh kamar sekejap. Lusi sedikit tersentak. Ia selalu takut petir sejak kecil.

"Tak usah takut. Ada gue."

Irawan duduk di sampingnya. Tangannya yang hangat menggenggam tangan Lusi. Bahunya menyentuh bahu Lusi. Dan perlahan, aroma parfumnya yang maskulin memenuhi seluruh indera Lusi.

"Lus..."

"Ya?"

"Lo tau kan, gue sayang sama lo?"

Lusi menunduk. Pipinya merah. "Aku juga..."

"Seberapa sayang?"

"Aku... aku rela ngelakuin apa aja buat Kakak."

Kata-kata itu keluar begitu saja. Tanpa dipikir. Tanpa ditimbang. Kata-kata yang jujur, tulus, dan bodoh. Kata-kata yang sudah ditunggu-tunggu Irawan sejak tiga bulan lalu.

"Buktiin."

Suara Irawan tiba-tiba serius. Matanya menatap Lusi dengan intensitas yang berbeda. Bukan tatapan hangat seperti biasanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang lapar.

Irawan meletakkan ponselnya. Ia menatap Lusi di hadapannya. Jemarinya menyentuh pipi Lusi, lalu turun perlahan ke leher, ke bahu, ke lengan.

Lusi memejamkan mata.

Sentuhan sederhana itu justru membuat benteng yang selama ini ia bangun runtuh sedikit demi sedikit.

"Maaf ya, Lus," bisiknya.

Ia kemudian mulai membuka satu per satu kancing baju Lusi. Perlahan. Hati-hati. Seperti membuka bungkus kado yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Di luar, petir menyambar lagi, menerangi kamar sekejap. Memperlihatkan wajah Lusi yang polos menggairahkan. Memperlihatkan tangan Irawan yang terus bekerja.

Setelah puas di daerah dada kini ia menurunkan tangannya kebawah sementara mulut masih agresif disana. Ini pertama kalinya Lusi melakukan, ia tampak malu-malu menuruti keinginan Irawan demi ‘bukti cinta’ itu.

Dan di bawah cahaya petir itu, Irawan melihat sesuatu di leher Lusi. Sebuah kalung kecil yang biasanya tersembunyi di balik jilbabnya. Sebuah liontin perak bergambar matahari dengan tujuh sinar, simbol kuno yang tidak ia kenali.

"Simbol apa ini?" gumamnya, menyentuh liontin itu.

Bzzzt!

Sengatan listrik kecil. Irawan menarik tangannya. Liontin itu terasa panas. Tidak seperti logam biasa. Ada sesuatu di dalamnya. Ada energi yang tidak ia mengerti.

Tapi Irawan tidak peduli. Ia tidak percaya hal-hal mistis. Ia hanya ingin bersenang-senang. Ia hanya ingin menuntaskan apa yang sudah ia rencanakan selama lima bulan.

[BERSAMBUNG…]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!