NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXXIV - Terasing

Dua hari setelah konferensi pers Radit dan Kirana, keluarga Wijaya mengadakan pertemuan tertutup di kediaman mereka, dan Valerie dipanggil untuk hadir di dalam pertemuan tersebut. Ia duduk di kursi tunggal di tengah ruang keluarga, ayah dan ibunya berdiri berhadapan dengannya seperti sedang menyidang seorang terdakwa.

"Kamu tau berapa banyak kolega bisnis Papa yang telepon dua hari terakhir?" ayahnya bertanya, suaranya dingin. "Semua nanya hal yang sama. Benar nggak anak Papa yang bocorin foto itu ke media?"

Valerie tidak menjawab, hanya menatap lantai di depannya.

"Papa nggak nyangka kamu bisa ngelakuin hal rendahan kayak gini," ayahnya melanjutkan. "Bukan cuma bikin malu diri sendiri, kamu bikin malu keluarga. Klien-klien besar mulai mempertanyakan integritas kita gara-gara kelakuan kamu."

"Aku Cuma —" Valerie mencoba bicara, tapi ibunya memotong lebih dulu.

"Kamu cuma apa, Val?" ibunya bertanya tajam. "Cuma mau balas dendam karena Radit nggak pilih kamu? Sekarang lihat akibatnya. Papamu mau tarik semua investasi kita dari Wibowo Group. Hubungan bisnis yang udah dibangun sama kakekmu, hancur dalam semalam gara-gara kamu."

"Aku nggak nyangka bakal jadi seburuk ini, Ma," Valerie berkata pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku cuma nggak mau kehilangan Radit."

"Kamu udah kehilangan dia jauh sebelum semua ini terjadi, Val," ayahnya menjawab, suaranya lebih tenang tapi tidak kalah menusuk. "Yang kamu lakuin cuma bikin semua orang tau, dan bikin kita ikut menanggung akibat dari kesalahan yang kamu buat sendiri."

"Mulai hari ini," ayahnya berkata, suaranya tegas, "kamu nggak akan mewakili keluarga Wijaya di acara publik mana pun. Papa juga udah bicara sama pengacara keluarga soal kemungkinan tuntutan hukum dari pihak Radit. Kalau itu Radit bener-bener bawa masalah ini ke meja hijau, kamu yang harus tanggung sendiri konsekuensinya."

Valerie mengangkat wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis di depan kedua orang tuanya. "Jadi apa yang harus aku lakuin sekarang, Pa, Ma?"

"Pergi dulu dari Jakarta," ayahnya berkata. "Papa udah atur, kamu bisa tinggal di rumah keluarga di Bandung sementara waktu, sampai semua ini reda. Papa nggak mau ada wartawan yang masih ngejar-ngejar kamu tiap hari."

"Berapa lama?" Valerie bertanya, suaranya kecil.

"Papa belum tau," jawabnya singkat. "Tergantung seberapa cepat orang-orang lupa sama semua ini."

Ibunya duduk di sofa, menatap Valerie dengan kemarahan, tapi tetap terlihat lembut, seperti ada kekhawatiran yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. "Val, Mama nggak habis pikir kenapa kamu bisa senekat ini. Kamu anak yang selalu Mama banggain, selalu tau batasan."

"Aku juga nggak nyangka bisa jadi kayak gini, Ma," Valerie menjawab, suaranya bergetar. "Tapi setiap kali aku liat Radit sama Kirana, rasanya kayak semua yang aku punya lagi direbut pelan-pelan, dan aku nggak tau harus ngapain..."

"Ngelawan dengan cara ngehancurin orang lain bukan jawabannya, Val," ibunya berkata, suaranya lebih pelan sekarang. "Kamu harusnya belajar dari kesalahan ini, kamu harus terima konsekuensi yang akan datang nantinya."

Valerie tidak menjawab. Ia berdiri dari kursinya, berjalan menuju kamarnya tanpa berkata sepatah kata pun, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdiri di ruang keluarga.

...****************...

Malam itu, Valerie mengemasi barang-barangnya sendirian di kamarnya. Ia ingin melakukannya sendiri, menolak tawaran bantuan dari asisten rumah tangga yang biasanya selalu mendampinginya. Dengan cara itu, ia merasa, itu adalah bentuk terakhirnya untuk merasa memegang kendali atas sesuatu.

Ponselnya menyala di atas ranjang, notifikasi media sosial terus bermunculan, sebagian besar berisi komentar yang mengejek tentang dirinya. Ia mematikan ponsel itu, memasukkannya ke dalam tas tanpa membaca lebih lanjut.

Ia membuka lemari pakaiannya, memilih beberapa potong baju secara asal, tidak lagi memikirkan kecocokan warna atau gaya seperti biasa ia lakukan. Semua itu sudah terasa tidak penting lagi.

Di meja riasnya, ia melihat foto lama dirinya bersama Radit, diambil saat acara keluarga setahun lalu, sebelum semua rencananya bersama Dimas dimulai. Waktu itu, ia masih percaya kalau cukup waktu dan usaha bisa membuat Radit membalas perasaannya. Ia mengambil foto itu, menatapnya lama, lalu meletakkannya kembali menghadap ke bawah, ia merasa tidak sanggup jika harus terus memandanginya.

Di tengah mengemasi baju, tangannya berhenti pada sebuah kotak kecil di sudut lemari — kotak berisi undangan pertunangannya dengan Radit yang belum sempat disebar, tercetak di sana nama mereka berdua yang berjajar rapi di atas kertas berwarna emas. Ia menatap kotak itu lama, lalu memasukkannya ke dalam laci paling bawah, ia merasa tidak sanggup membuangnya, tapi juga tidak mau untuk membawanya.

Ia berhenti sejenak di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri. Perempuan yang ia lihat di sana terasa asing — bukan Valerie yang selama ini ia kenal, yang selalu tampil sempurna di setiap acara, yang selalu tau harus berkata apa di depan orang lain.

"Aku harus mulai dari mana lagi?" gumamnya pelan.

Tidak ada yang menjawab. Kamar itu kosong, hanya suara koper yang ia tutup dengan resleting yang mengisi keheningan.

Keesokan paginya, mobil keluarga sudah menunggu di depan rumah untuk mengantarnya ke Bandung. Tidak ada satu pun teman yang menghubunginya sejak berita itu pecah. Semua temannya menghilang begitu saja, seolah tidak pernah ada.

Sopir keluarga membukakan pintu mobil untuknya. Valerie melirik sekali lagi ke arah rumah yang selama ini menjadi tempatnya tumbuh besar, mengingat semua kenangan yang pernah ia rasakan di sana — ulang tahunnya yang keenam belas, malam ia dinyatakan lulus kuliah, bahkan hari ia pertama kali diperkenalkan pada rencana pertunangan dengan Radit — sebelum akhirnya masuk dan duduk di kursi belakang.

...****************...

Valerie duduk di kursi belakang mobil, menatap jalanan Jakarta yang perlahan berganti menjadi jalan tol menuju Bandung. Ia merasa lebih kosong dari yang pernah ia rasakan sebelumnya, seperti semua yang selama ini ia perjuangkan runtuh dalam waktu singkat.

Sopir yang mengantarnya sesekali melirik lewat kaca spion, tapi tidak berani bertanya apa-apa. Valerie menyandarkan kepalanya ke jendela, memperhatikan gedung-gedung Jakarta yang perlahan menghilang, digantikan hamparan sawah dan perbukitan.

Ia mengingat kembali masa kecilnya, sebelum semua tekanan soal pertunangan dan status keluarga, sebelum ia belajar bahwa cinta bisa jadi alat tawar-menawar antara dua keluarga besar.

Ada bagian dari dirinya yang ingin menyalahkan orang tuanya atas semua ini, tapi bagian lain tau, keputusan untuk membocorkan foto itu murni datang dari dirinya sendiri. Tidak ada orang lain yang memaksanya menekan tombol kirim malam itu.

Ponselnya, yang sudah ia matikan semalam, kini menyala kembali di dalam tasnya. Ia menyalakannya lagi tanpa alasan, mungkin hanya untuk merasa masih terhubung dengan dunia yang baru saja ia tinggalkan.

DRRT.

Ponselnya bergetar di dalam tas. Nomor yang tidak ia kenal muncul di layar. Ia ragu sesaat sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Halo?"

"Selamat siang, Nona Valerie," suara di seberang terdengar tenang dan formal, milik seorang pria yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Saya menghubungi atas nama Pak Hartono Wibowo."

Valerie terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat. "Ada apa Pak Hartono menghubungi saya lewat orang lain?"

"Beliau tidak bisa menghubungi Anda secara langsung untuk saat ini, mengingat situasi yang sedang berlangsung," suara itu menjawab, nadanya tetap tenang. “Tapi beliau ingin saya sampaikan, ada tawaran yang mungkin menarik untuk Anda."

"Tawaran apa?" Valerie bertanya, mencoba menahan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.

"Bukan sesuatu yang bisa saya jelaskan lewat telepon," suara itu menjawab. "Pak Hartono mengusulkan pertemuan, di tempat dan waktu yang bisa Anda tentukan sendiri. Beliau bilang, ini bisa jadi kesempatan yang menguntungkan untuk Anda berdua."

"Kenapa Pak Hartono tiba-tiba mau ketemu saya?" Valerie bertanya, curiga mulai menyelimuti rasa penasarannya. "Setelah semua yang terjadi, saya kira keluarga Wibowo ingin menjaga jarak sejauh mungkin dari saya."

"Itu pertanyaan yang lebih baik ditanyakan langsung ke beliau, Nona," suara itu menjawab, nadanya tidak berubah sedikit pun. "Yang bisa saya katakan, kepentingan Pak Hartono saat ini kebetulan sejalan dengan kepentingan Anda, dan beliau percaya pertemuan ini akan menguntungkan kalian berdua."

Valerie menatap keluar jendela mobil, pikirannya berputar cepat. Bagian dari dirinya tau, apa pun yang ditawarkan Hartono pasti punya kepentingan tersembunyi. Tapi bagian lain, bagian yang sudah kehilangan segalanya, tidak punya banyak pilihan untuk menolak tawaran itu.

"Saya akan pikirkan," Valerie menjawab akhirnya.

"Saya akan hubungi lagi dalam beberapa hari," suara itu berkata sebelum sambungan telepon terputus.

Valerie menatap layar ponselnya yang kembali gelap, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum punya jawaban. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah meninggalkan istana keluarga Wijaya, ada sesuatu selain rasa hampa yang mulai tumbuh di dalam dirinya — entah itu harapan, atau justru jebakan baru yang belum bisa ia kenali.

1
MayAyunda
cerita bagus aku suka
Scheiv
Greget bangetttt sumpah benci sama hartono😭
MayAyunda
lanjut kak
ArsyilaQi
keren nih
Arni Arlinawati pratiwi
bau bau cowo yang patah hati nih.. udah embat aja thor di bikin cowok lu thor, sian..
Arni Arlinawati pratiwi
udah dit.. balikan lagi jug, /Tongue/
author_rabbit18✍︎
deg-degan ini pasti
Ade Chubi
karya yg bagus bikin deg deg an sport jantung
Cilia: Makasih banyak kak review nya❤️
total 1 replies
Nnisa
semangat kak 😍💪
author_rabbit18✍︎
jodoh kali
MayAyunda
awal aja sudah keren ..lanjut ..👍👍
Arni Arlinawati pratiwi
hah.. gak ngeri lagi sama pembawaan narasi mu kak.. nangis aku, kalau kaka orang sunda makin bangga aja aku.. /Cry/
Arni Arlinawati pratiwi: kan suhuuuuuu.. butuh elmu na thor lah, hayang jiga kitu, lah..
total 2 replies
Arni Arlinawati pratiwi
suka nanget ih bawain narasinya, author suhu dengan sebidang ilmu.. lah aku apalah daya ku minim pencerahan, 🤣🤣🤣
Cilia: Terimakasih udah suka❤️ yuk bisa riset2 biar bikin cerita kakak jadi lebih menarik😆
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kayaknya aku tau deh kemana ceritanya.. tapi simak lagi yu, seru nih.. kepo tetep, /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
ketemu mantan ya anda..!
Arni Arlinawati pratiwi
lah malah jadi musuh, saingan kerjaan
Cilia: Ada plot twist nanti mak, lanjut baca terus yaahh
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kan bener.. 🤭
Arni Arlinawati pratiwi
emmm.. mantan toh, /Chuckle/
Scheiv
🥹
Scheiv
Betul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!