Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ujian para pencipta
Setelah pertemuan dengan Penjaga Awal, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Aula Arsip Kuno yang biasanya menjadi tempat paling aman bagi para dewa kini terasa asing.
Karena satu hal telah berubah.
Atlas dan Oliver tidak lagi mencari jawaban tentang masa lalu.
Mereka kini menjadi bagian dari rahasia terbesar yang pernah disembunyikan dunia.
JALAN MENUJU LAPISAN TERTINGGI
Sang Penguasa Singgasana berdiri di depan gerbang cahaya yang tertinggal.
"Aku tidak pernah berpikir pintu ini akan terbuka lagi."
Oliver menatap gerbang itu.
"Jadi tempat itu benar-benar ada?"
Raka mengangguk.
"Lapisan Tertinggi."
"Tempat di mana hukum dunia pertama kali dibuat."
Atlas menggenggam pedangnya.
"Dan kita harus pergi ke sana."
Sang Penguasa menatapnya.
"Kau tahu risikonya?"
Atlas menjawab tanpa ragu.
"Kalau kita tidak pergi, mereka akan terus menentukan nasib dunia dari tempat yang tidak bisa kita jangkau."
PERINGATAN SANG ALGOJO
Algojo berdiri di samping mereka.
"Kalian harus memahami satu hal."
"Lapisan Tertinggi bukan tempat untuk mencari kekuatan."
"Itu tempat untuk diuji."
Oliver menatapnya.
"Diuji oleh siapa?"
Algojo menjawab:
"Oleh diri kalian sendiri."
GERBANG PENCIPTAAN
Atlas dan Oliver berdiri di depan gerbang cahaya.
Simbol merah dan biru pada tubuh mereka mulai bersinar.
Gerbang itu tidak terbuka karena kekuatan mereka.
Melainkan karena darah mereka dikenali.
Suara kuno terdengar.
"Pewaris Aurelian terdeteksi."
"Memulai proses pengujian."
Cahaya menyelimuti mereka.
DUNIA TANPA KEKUATAN
Ketika membuka mata...
Atlas tidak lagi berada di Alam Dewa.
Ia berdiri di sebuah kota biasa.
Tidak ada energi.
Tidak ada sihir.
Tidak ada dewa.
Tidak ada perang.
Ia melihat dirinya sendiri.
Sebagai manusia biasa.
Tanpa pedang.
Tanpa warisan.
Tanpa kekuatan.
Sementara itu...
Oliver berada di tempat berbeda.
Ia berdiri di sebuah dunia yang dipenuhi jam dan aliran waktu.
Di hadapannya terdapat ribuan versi dirinya.
Masa lalu.
Masa kini.
Masa depan.
UJIAN ATLAS
Suara tanpa wujud terdengar.
"Atlas Valtherion."
"Jika kekuatanmu diambil..."
"siapa dirimu?"
Atlas melihat tangannya.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada simbol.
Tidak ada warisan.
Namun anehnya...
ia tidak merasa kehilangan.
"Aku tetap Atlas."
Suara itu bertanya lagi.
"Tanpa kekuatan?"
Atlas mengangguk.
"Aku bukan menjadi pelindung karena memiliki kekuatan."
"Aku memiliki kekuatan karena aku memilih menjadi pelindung."
UJIAN OLIVER
Di tempat lain, Oliver melihat masa depan.
Dalam satu jalan...
ia menjadi penguasa waktu.
Dalam jalan lain...
ia mengubah seluruh sejarah.
Namun setiap perubahan membuat sesuatu yang lain hilang.
Suara itu bertanya:
"Jika kau memiliki kekuasaan untuk mengubah semuanya..."
"apa yang akan kau pilih?"
Oliver melihat bayangan ibunya.
Ia bisa mengembalikannya.
Ia bisa mengulang hari-hari bahagia.
Namun ia tahu...
itu bukan kehidupan yang nyata.
Oliver menutup matanya.
"Aku tidak ingin dunia yang sempurna karena aku memaksa waktu."
"Aku ingin dunia yang tetap berjalan karena orang-orang memilih untuk menjaganya."
DUA JAWABAN
Di Lapisan Tertinggi...
dua cahaya muncul.
Merah.
Dan biru.
Suara kuno terdengar.
"Pewaris pertama memahami tanggung jawab."
"Pewaris kedua memahami penerimaan."
"Ujian pertama selesai."
Namun sebelum Atlas dan Oliver sempat bereaksi...
dunia di sekitar mereka berubah.
Sebuah bayangan besar muncul.
Dan kali ini...
bahkan mereka merasakan tekanan yang berbeda.
Suara itu berkata:
"Ujian berikutnya adalah menghadapi hal yang paling kalian takutkan."
Dunia di sekitar Atlas dan Oliver berubah.
Kota kosong yang sebelumnya mereka lihat menghilang.
Digantikan oleh ruang tanpa batas.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Hanya sebuah tempat yang dipenuhi bayangan.
Suara dari Lapisan Tertinggi kembali terdengar.
"Kekuatan bukan ujian terbesar."
"Rasa takut kalianlah yang menentukan apakah kalian pantas membawa warisan."
UJIAN ATLAS — KEHILANGAN TERBESAR
Atlas berdiri sendirian.
Di hadapannya muncul sebuah pemandangan yang membuat tubuhnya membeku.
Sebuah rumah kecil.
Rumah tempat ia dan Oliver tumbuh bersama ibu mereka.
Pintu terbuka.
Dan dari dalam...
ibunya keluar.
Wanita yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui kenangan.
"Atlas."
Suara itu membuat hatinya bergetar.
"Ibu..."
Ibunya tersenyum.
"Kau terlihat sudah dewasa."
Atlas tidak bergerak.
Karena jauh di dalam dirinya...
ada bagian yang masih berharap semua ini nyata.
Ibunya berjalan mendekat.
"Kau bisa berhenti sekarang."
"Kau tidak perlu membawa perang ini."
"Kau bisa kembali menjadi manusia biasa."
Atlas menatap rumah itu.
Ia bisa memilih.
Meninggalkan semua kekuatan.
Meninggalkan perang.
Hidup kembali bersama ibunya.
Namun perlahan ia menyadari sesuatu.
Ada yang salah.
Tatapan ibunya terlalu sempurna.
Tidak ada kesedihan.
Tidak ada kenangan pahit.
Hanya kebahagiaan yang dibuat-buat.
Atlas menutup matanya.
"Ini bukan ibu."
Bayangan itu terdiam.
"Kenapa?"
Atlas menggenggam tangannya.
"Karena ibu yang sebenarnya tidak akan memintaku meninggalkan orang-orang yang membutuhkan perlindungan."
Cahaya merah muncul.
Rumah itu perlahan runtuh.
Bayangan ibunya tersenyum.
"Kau telah memahami."
UJIAN OLIVER — MASA LALU YANG INGIN DIUBAH
Di tempat lain...
Oliver berdiri di depan sebuah jam raksasa.
Jarumnya bergerak mundur.
Sebuah pintu waktu terbuka.
Dan dari dalamnya...
muncul hari terakhir bersama ibunya.
Oliver melihat dirinya yang lebih muda.
Melihat keluarganya.
Melihat momen sebelum semuanya berubah.
Suara dari Lapisan Tertinggi terdengar.
"Kau memiliki kemampuan untuk mengubah ini."
"Kembalikan waktu."
"Hilangkan rasa sakit."
Oliver terdiam.
Tangannya bergetar.
Karena inilah keinginan terdalam yang selama ini tidak pernah ia katakan.
Namun kemudian ia melihat sesuatu.
Jika ia mengubah masa lalu...
Atlas tidak akan pernah menemukan kekuatannya.
Para pewaris tidak akan pernah bangkit.
Dan dunia yang sekarang membutuhkan mereka akan kehilangan kesempatan.
Oliver menatap bayangan masa lalunya.
"Aku merindukan masa itu."
"Tapi aku tidak akan menghancurkan masa kini hanya karena aku tidak bisa melepaskan masa lalu."
KEBENARAN TENTANG KEKUATAN
Jam raksasa berhenti.
Suara itu kembali terdengar.
"Banyak pemilik kekuatan waktu gagal dalam ujian ini."
"Mereka mencoba memperbaiki masa lalu sampai mereka kehilangan masa depan."
Oliver mengangguk.
"Aku mengerti sekarang."
"Waktu bukan sesuatu yang harus dikendalikan."
"Waktu adalah sesuatu yang harus dijaga."
PERTEMUAN KEMBALI
Setelah melewati ujian mereka masing-masing, Atlas dan Oliver kembali berada di ruang kosong.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke Lapisan Tertinggi...
mereka bisa melihat satu sama lain.
Oliver tersenyum kecil.
"Kau juga melihat sesuatu?"
Atlas mengangguk.
"Ibu."
Oliver terdiam.
"Lalu?"
Atlas menatapnya.
"Aku memilih jalan kita."
Mereka berdiri bersama.
Dua pewaris terakhir.
Dua garis keturunan.
Namun sebelum ujian selesai...
suara baru terdengar.
Lebih tua.
Lebih kuat.
"Kalian berhasil melewati rasa takut."
"Namun kalian belum menghadapi kebenaran."
PINTU TERAKHIR
Di depan mereka muncul sebuah pintu raksasa.
Tidak memiliki ukiran.
Tidak memiliki simbol.
Hanya satu kalimat tertulis di permukaannya.
"LIHATLAH AWAL DARI SEGALANYA."
Atlas menatap pintu itu.
Oliver menarik napas.
Mereka tahu...
di balik pintu tersebut terdapat jawaban terakhir.
Tentang Aurelian.
Tentang para dewa.
Dan tentang alasan dunia diciptakan.
Pintu raksasa di hadapan Atlas dan Oliver berdiri dalam keheningan.
Tidak ada energi.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada tanda bahaya.
Namun justru itu yang membuat mereka lebih waspada.
Karena pintu itu bukan dibuat untuk menahan musuh.
Pintu itu dibuat untuk menyimpan sebuah kebenaran.
AWAL DARI SEGALANYA
Atlas menyentuh permukaan pintu.
Seketika seluruh ruangan bergetar.
Simbol merah muncul.
Oliver ikut menyentuhnya.
Simbol biru muncul.
Dua warisan yang selama ribuan tahun terpisah akhirnya membuka jalan bersama.
Pintu perlahan terbuka.
Di baliknya bukan ruangan.
Melainkan...
sebuah lautan cahaya.
Mereka melangkah masuk.
Dan untuk pertama kalinya...
mereka melihat awal penciptaan dunia.
Tidak ada Alam Dewa.
Tidak ada manusia.
Tidak ada kegelapan.
Hanya sebuah sumber cahaya besar yang menjadi asal dari seluruh kehidupan.
KISAH PARA PENCIPTA
Sebuah suara terdengar.
"Sebelum para dewa ada..."
"sebelum dunia memiliki nama..."
"hanya ada keseimbangan."
Cahaya berubah.
Muncul gambaran tentang makhluk pertama yang menjaga sumber penciptaan.
Mereka bukan dewa.
Mereka bukan manusia.
Mereka adalah penjaga hukum pertama.
Namun seiring waktu...
beberapa penjaga mulai percaya bahwa mereka berhak mengatur semua kehidupan.
Mereka menciptakan para dewa.
Mereka memberikan kekuatan.
Lalu perlahan...
para dewa mulai menganggap diri mereka sebagai pemilik dunia.
KESALAHAN PERTAMA
Atlas melihat gambaran masa lalu.
Para dewa pertama menciptakan aturan.
Mereka menentukan siapa yang boleh memiliki kekuatan.
Siapa yang harus tunduk.
Dan siapa yang harus dilupakan.
Oliver mengepalkan tangan.
"Jadi semua konflik ini..."
"berawal dari keinginan untuk mengendalikan?"
Suara itu menjawab:
"Ya."
AURELIAN VALTHERION
Kemudian sebuah sosok muncul.
Seorang pendekar muda.
Aurelian.
Leluhur pertama mereka.
Berbeda dari gambaran sebelumnya.
Kali ini mereka melihat seluruh kebenaran.
Aurelian bukan pemberontak.
Ia adalah seseorang yang dipercaya oleh para pencipta.
Karena ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki banyak makhluk.
Kemampuan untuk memilih.
Aurelian diberikan kekuatan besar.
Namun ia menolak menjadi penguasa.
Ia berkata:
"Kekuatan yang hanya dimiliki oleh satu pihak akan menjadi kehancuran."
"Dunia membutuhkan penjaga, bukan raja."
LAHIRNYA DUA WARISAN
Karena itu, Aurelian membagi kekuatannya.
Satu menjadi Penjaga Langit.
Untuk melindungi dunia dari ancaman luar.
Satu menjadi Penjaga Waktu.
Untuk menjaga keseimbangan perjalanan kehidupan.
Namun para dewa takut.
Karena selama darah Aurelian masih ada...
tidak ada yang bisa menguasai dunia sepenuhnya.
UJIAN TERAKHIR
Suara dari Lapisan Tertinggi kembali terdengar.
"Atlas Valtherion."
"Oliver Valtherion."
"Sekarang kalian mengetahui kebenaran."
"Apa yang akan kalian lakukan?"
Di hadapan mereka muncul dua pilihan.
Pilihan pertama:
Mengambil kekuatan penciptaan.
Menjadi makhluk tertinggi.
Memiliki kendali atas seluruh dunia.
Pilihan kedua:
Mengembalikan kekuatan itu.
Tetap menjadi manusia.
Dan membiarkan dunia menentukan jalannya sendiri.
Atlas melihat kekuatan itu.
Kemudian melihat tangannya.
"Aku tidak ingin menjadi penguasa."
"Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang menggunakan kekuatan untuk menghancurkan orang lain."
Oliver tersenyum.
"Kalau semua orang memilih menjadi dewa..."
"maka siapa yang akan mengingat bagaimana rasanya menjadi manusia?"
HASIL UJIAN
Cahaya memenuhi seluruh ruangan.
Suara itu terdengar untuk terakhir kalinya.
"Kalian telah memahami inti dari warisan Aurelian."
"Kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menciptakan atau menghancurkan."
"Melainkan kemampuan untuk memilih."
Simbol baru muncul di tangan Atlas dan Oliver.
Bukan simbol dewa.
Bukan simbol manusia.
Melainkan simbol keseimbangan.
PEWARIS KESEIMBANGAN TELAH DIAKUI.
AKHIR BAB 12
Ketika Atlas dan Oliver keluar dari Lapisan Tertinggi...
mereka kembali ke Alam Dewa.
Namun sesuatu telah berubah.
Mereka bukan lagi sekadar pewaris.
Mereka telah mengetahui seluruh kebenaran.
Namun sebelum mereka sempat berbicara...
langit Alam Dewa kembali retak.
Bukan karena Penghancur Lapisan.
Melainkan karena sesuatu yang baru muncul.
Sebuah suara terdengar dari celah dimensi.
"Jika kalian telah menemukan kebenaran..."
"maka saatnya kalian mengetahui pengkhianatan terakhir."
Atlas menggenggam pedangnya.
Oliver melihat aliran waktu yang berubah.
Karena perang mereka belum berakhir.
Bahkan mungkin...
perang sebenarnya baru dimulai.