Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Jangan Pulang ke Luka Lama
Hendra menunggu di depan lobi apartemen Ratna sejak pukul tujuh malam.
Hujan baru saja berhenti. Aspal masih basah, lampu parkiran memantul di genangan kecil. Ratna melihatnya begitu mobil Arga berhenti di tepi jalan.
Tubuhnya langsung kaku.
Arga mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Ia menoleh pada Ratna.
"Mau aku turun?"
Ratna hampir menjawab, "Tidak perlu, Pak Arga." Namun kata itu tertahan di tenggorokan.
Makan malam dua hari lalu masih terasa jelas. Pengakuan Arga. Cara pria itu berkata ia tertarik bukan karena kasihan. Cara ia tidak menuntut jawaban.
Ratna menggenggam tasnya.
"Arga," ucapnya pelan, masih terasa asing di lidah.
Arga menatapnya. Ada perubahan kecil di wajahnya, begitu halus sampai orang lain mungkin tidak melihat. Tapi Ratna melihat.
"Ya?"
"Aku bicara dulu. Kalau dia mulai memaksa, baru kamu turun."
Arga mengangguk.
"Baik, Ratna."
Namanya diucapkan tanpa "Bu". Tanpa jarak kantor. Sederhana. Hangat. Ratna merasa jantungnya bergerak aneh, tapi ia memaksa diri membuka pintu.
Hendra langsung berdiri tegak.
"Ratna."
"Kenapa kamu di sini?"
Hendra melihat ke arah mobil Arga. Rahangnya mengeras.
"Kamu pulang diantar dia lagi?"
"Jawab pertanyaanku."
Hendra menarik napas, mencoba menahan emosi. Wajahnya tampak lebih tua dalam beberapa minggu terakhir. Garis di dahinya makin dalam, matanya lelah.
"Aku ingin bicara baik-baik."
"Kamu bisa menghubungi Siska."
"Aku tidak mau bicara dengan pengacara. Aku mau bicara dengan kamu. Kita pernah hidup bersama hampir tiga puluh tahun, Ratna. Apa semuanya harus lewat orang lain?"
Ratna menatapnya lama.
Dulu kalimat seperti itu akan membuatnya lunak.
Kita pernah hidup bersama.
Ya. Mereka memang pernah hidup bersama. Tapi hidup bersama tidak sama dengan diperlakukan dengan benar.
"Lima menit," kata Ratna.
Hendra tampak lega.
"Terima kasih."
Mereka berdiri di dekat taman kecil apartemen. Arga masih di mobil, cukup jauh untuk memberi ruang, cukup dekat untuk membuat Hendra tidak berani menyentuh.
Hendra melirik ke mobil itu.
"Dia mengawasiku seperti aku penjahat."
"Kamu pernah mencoba merebut ponselku."
"Aku emosi."
"Aku tahu. Itu masalahnya."
Hendra menahan diri.
"Ratna, aku sudah berpikir. Aku salah. Aku akui. Clara... hubungan itu berjalan terlalu jauh. Aku tidak membenarkan. Tapi kamu tahu bagaimana hidup kita dulu. Aku merasa sendirian. Kamu sibuk dengan rumah, dengan Mama, dengan Raka, dengan Bima. Kita seperti bukan suami istri lagi."
Ratna hampir tidak percaya.
"Jadi karena aku sibuk mengurus keluargamu, kamu mencari perempuan lain?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Hendra gelagapan.
"Aku hanya ingin bilang, kesalahan ini tidak sepenuhnya hitam putih."
Ratna tersenyum tipis.
"Tentu. Bagi orang yang bersalah, semuanya selalu abu-abu."
Wajah Hendra memerah.
"Aku sudah bilang aku salah."
"Kamu bilang salah karena ketahuan. Bukan karena menyesal sejak dulu."
"Aku menyesal sekarang."
"Bagus. Nikmati penyesalanmu. Tapi jangan pakai itu untuk menarikku pulang."
Hendra menatapnya dengan mata merah.
"Aku masih sayang kamu."
Ratna terdiam.
Kalimat itu datang terlambat. Terlalu terlambat sampai tidak lagi menemukan tempat untuk mendarat.
"Sayang yang mana, Hen? Sayang yang membiarkan aku kerja dua tempat? Sayang yang menyembunyikan Clara dua belas tahun? Sayang yang membiayai sekolah Alif sementara uang les Bima telat?"
Hendra menunduk.
"Aku bisa memperbaiki."
"Tidak semua yang pecah harus diperbaiki. Ada yang memang harus dibuang karena melukai tangan setiap kali dipegang."
Hendra mengangkat wajah.
"Kamu bicara begitu karena Arga."
Ratna menatapnya tajam.
"Jangan sebut dia untuk mengecilkan keputusanku."
"Kamu dekat dengannya."
"Aku dekat dengan orang yang menghormatiku. Itu hal yang asing bagimu, jadi kamu mengira pasti ada maksud kotor."
Hendra seperti ditampar.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu ponsel Ratna bergetar.
Pesan dari nomor baru.
Clara.
Ratna membukanya di depan Hendra. Sebuah foto muncul: Clara, Hendra, dan Alif di depan taman bermain. Foto lama, tapi jelas sengaja dikirim. Di bawahnya tertulis:
"Mas Hendra boleh pura-pura menyesal di depan Mbak, tapi keluarganya yang lain tetap ada."
Ratna menunjukkan layar itu pada Hendra.
"Ini keluargamu yang lain sedang mengingatkanku."
Wajah Hendra berubah pucat.
"Aku tidak tahu dia mengirim itu."
"Aku percaya. Kamu memang sering tidak tahu apa yang dilakukan perempuan-perempuan yang kamu sakiti."
Ratna mematikan layar.
"Lima menit selesai."
"Ratna, tunggu."
"Tidak."
Ia berbalik menuju lobi.
Hendra melangkah hendak mengikuti, tapi pintu mobil Arga terbuka.
Arga turun. Tidak tergesa, tidak mengancam, tapi cukup membuat Hendra berhenti.
"Pembicaraan selesai," kata Arga.
Hendra tertawa pahit.
"Kamu senang sekarang?"
Arga menatapnya datar.
"Tidak. Saya hanya memastikan Ratna bisa masuk dengan tenang."
Ratna berhenti sejenak saat mendengar namanya.
Hendra juga mendengarnya. Tanpa "Bu". Tanpa jarak.
Wajahnya menegang.
Ratna tidak menoleh.
Ia masuk ke lobi, melewati satpam yang menyapa sopan, lalu berdiri di depan lift dengan dada berdebar.
Beberapa detik kemudian Arga masuk, menjaga jarak.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Ratna menatap angka lift yang turun.
"Tidak sepenuhnya."
"Mau aku temani sampai atas?"
Ratna menoleh.
Arga tidak memaksa. Hanya menawarkan.
"Tidak. Aku bisa."
"Baik."
Lift terbuka.
Ratna masuk, lalu menahan pintu dengan tangan.
"Arga."
"Ya?"
"Terima kasih karena tidak mengambil alih."
Arga mengangguk.
"Aku sedang belajar berdiri di tempat yang tepat."
Pintu lift tertutup pelan.
Ratna menyandarkan punggung pada dinding lift.
Hendra datang membawa masa lalu.
Clara datang membawa luka.
Arga berdiri membawa ruang.
Dan untuk saat ini, ruang itulah yang paling Ratna butuhkan.
Di dalam lift, Ratna melihat bayangannya sendiri pada pintu baja. Matanya lelah, rambutnya sedikit berantakan, tapi ada sesuatu yang berbeda pada cara ia berdiri. Dulu setelah bertemu Hendra, ia selalu pulang dengan rasa bersalah. Seolah semua kerusakan rumah tangga mereka tetap menjadi tugasnya untuk diperbaiki.
Malam itu tidak.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Raka masuk.
"Ma, Papa tadi datang?"
Ratna menatap layar cukup lama. Ia tidak ingin lagi menyembunyikan semua hal dari anak yang sudah dewasa, tapi ia juga tidak mau menyeret Raka ke pertengkaran orang tua setiap kali Hendra membuat ulah.
"Iya. Sudah selesai. Jangan khawatir."
Balasan Raka datang cepat.
"Aku yang harusnya minta Mama jangan khawatir, ya?"
Ratna tersenyum pahit.
"Kita belajar sama-sama."
Saat pintu lift terbuka, ia melangkah keluar dengan napas yang belum sepenuhnya ringan. Di belakangnya, suara Hendra sudah tidak terdengar. Di depannya, apartemen kecil itu menunggu tanpa aroma rokok, tanpa suara televisi terlalu keras, tanpa pria yang pulang membawa tuntutan.
Untuk pertama kalinya, sepi terasa seperti hak milik.
Ratna menaruh tas di sofa dan membuka jendela sedikit. Angin malam masuk membawa suara jalan raya. Ia berdiri lama di sana, membiarkan kota menjadi saksi bahwa malam ini ia tidak mengejar siapa pun, dan tidak meminta siapa pun mengejarnya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃