NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Jebakan di Pabrik Tua

Pagi itu, mansion keluarga Alvaro kembali dipenuhi kesibukan.

Setelah memastikan Sofia berada di tempat yang aman dengan pengawalan ketat, Aurora akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Namun, pikirannya masih dipenuhi rasa cemas.

Ia tahu Raven sedang menyembunyikan sesuatu.

Tatapan pria itu sejak membaca surat misterius semalam terlihat berbeda.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

Dan penuh tekad.

Di ruang kerja, Raven berdiri di depan jendela sambil memegang surat tersebut.

"Kalau ingin mengetahui siapa pembunuh Matteo Alvaro, datanglah sendiri ke Pabrik Tua Black River. Datang sendirian."

Leo masuk membawa beberapa dokumen.

"Tuan, anak buah kita sudah menyelidiki lokasi itu."

"Hasilnya?"

"Pabrik itu sudah terbengkalai selama belasan tahun."

"Bagaimana dengan penjagaan?"

"Terlalu sepi."

Raven tersenyum tipis.

"Itu artinya mereka memang sedang menungguku."

Leo menggeleng.

"Jangan datang."

"Aku harus datang."

"Kalau ini jebakan?"

"Kalau memang jebakan, aku akan menghancurkannya."

Leo menghela napas panjang. Ia tahu keputusan Raven tidak akan bisa diubah.

Siang harinya...

Aurora sedang memeriksa kondisi Elena di ruang medis.

Luka di bahu wanita itu mulai membaik.

"Apa masih sakit?" tanya Aurora.

"Sedikit."

Aurora mengganti perban dengan hati-hati.

Elena memperhatikan wajah Aurora.

"Kenapa kau tetap tinggal di sini?"

"Aku tidak punya pilihan."

"Kau bisa membencinya."

"Aku memang membencinya."

"Lalu kenapa kau terus menolong Raven?"

Aurora terdiam.

Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Mungkin karena Raven berkali-kali melindunginya.

Atau mungkin karena ia mulai melihat sisi lain dari pria yang dianggap monster oleh semua orang.

Sebelum Aurora sempat menjawab, Elena berkata pelan,

"Jangan terlalu dekat dengannya."

"Kenapa?"

"Orang-orang yang dicintai Raven selalu berakhir menderita."

Kalimat itu membuat Aurora membeku.

Menjelang sore...

Raven mengenakan jas hitam dan memasukkan pistol ke balik pinggangnya.

Ia hendak keluar ketika Aurora menghadangnya.

"Kau mau ke mana?"

"Ada urusan."

"Urusan apa?"

"Bukan sesuatu yang perlu kau ketahui."

Aurora menggeleng.

"Kau mau pergi ke tempat yang disebut dalam surat itu, kan?"

Raven terdiam.

Aurora menebaknya dengan tepat.

"Itu berbahaya."

"Aku tahu."

"Kalau kau tahu, kenapa tetap pergi?"

Raven melangkah mendekati Aurora.

"Karena mungkin di sanalah jawaban yang selama ini kucari."

Aurora menggigit bibir.

"Kalau begitu... biarkan aku ikut."

"Tidak."

"Aku dokter."

"Justru karena itu."

"Aku bisa membantumu kalau kau terluka."

Raven menggeleng pelan.

"Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya."

Ucapan itu membuat Aurora terpaku.

Untuk pertama kalinya, Raven mengakui bahwa ia ingin melindunginya.

Tanpa sadar, wajah Aurora memerah.

Raven berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

Pabrik Tua Black River.

Bangunan besar yang dipenuhi besi berkarat itu tampak sunyi.

Tidak ada suara.

Tidak ada manusia.

Raven masuk seorang diri sesuai isi surat.

Langkah kakinya bergema di dalam bangunan kosong.

"Tunjukkan dirimu!" serunya.

Tak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian...

Klik!

Puluhan lampu mendadak menyala bersamaan.

Dari berbagai sudut, lebih dari lima puluh pria bersenjata muncul sambil mengarahkan senapan ke arah Raven.

Di lantai dua, Vittorio De Luca berdiri sambil bertepuk tangan.

"Selamat datang."

Raven tersenyum tipis.

"Jadi benar ini jebakan."

"Aku tidak pernah bilang bukan."

Vittorio menatap Raven dengan penuh kemenangan.

"Kau terlalu mudah ditebak."

Raven mengeluarkan pistolnya.

"Kalau hanya sebanyak ini..."

"...kalian masih belum cukup."

Belum sempat anak buah Vittorio menembak, lampu di seluruh pabrik tiba-tiba padam.

Gelap gulita.

"Apa yang terjadi?" teriak salah satu pria.

Suara tembakan langsung menggema.

Dor!

Dor!

Dor!

Jeritan memenuhi ruangan.

Satu per satu anak buah Vittorio tumbang.

Vittorio mengernyit.

"Mustahil..."

Lampu kembali menyala beberapa detik kemudian.

Puluhan anak buahnya telah terkapar di lantai.

Namun Raven juga sudah tidak berada di tempat semula.

"Tuan! Dia di belakang!"

Seorang penjaga baru saja berteriak ketika Raven muncul dari balik bayangan dan menembaknya tepat di dada.

Dor!

Vittorio tersenyum kecil.

"Menarik..."

Namun senyum itu perlahan menghilang ketika sebuah suara wanita terdengar dari pintu masuk pabrik.

"Raven!"

Raven menoleh cepat.

Matanya langsung membelalak.

"Aurora?"

Aurora berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

Ia ternyata diam-diam mengikuti Raven.

Sebelum Raven sempat memarahinya, sebuah titik laser merah tiba-tiba muncul di dada Aurora.

Seorang penembak jitu telah mengincarnya dari kejauhan.

"Merunduk!" teriak Raven.

Namun semuanya sudah terlambat.

Suara tembakan memecah keheningan.

Dor!

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!