Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Proses masuk Arka ke Lestari Intimates berjalan lebih cepat dari perkiraannya. Liana mengomel bahwa bagian legal biasanya lambat seperti mobil tua, tetapi kali ini semua orang bergerak seolah Bianca sendiri berdiri di belakang mereka dengan pedang di tangan.
Setengah jam kemudian, Arka keluar dari gedung membawa kontrak konsultan, kartu akses, dan kunci Rolls-Royce Cullinan hitam milik Bianca.
Ia berhenti sebentar di depan lobi. Sinar matahari memantul di kaca gedung tinggi itu. Beberapa hari lalu, ia masih pelayan klub malam yang takut gaji dipotong kalau menjatuhkan gelas. Sekarang rekeningnya berisi uang yang dulu hanya bisa ia lihat di berita orang kaya, dan dua wanita berbahaya sama-sama memanggilnya sopir pribadi.
Hidupnya berubah cepat.
Terlalu cepat.
Arka menyimpan kunci dan kembali ke tempat Yulia. Perasaannya tidak tenang. Bima dipermalukan di rumah sakit, Raka dilempari uang, dan Jaya Harim tidak mungkin diam selamanya. Arka punya uang, tetapi belum punya kekuatan yang cukup untuk membuat semua orang menunduk.
Begitu sampai di lantai apartemen Yulia, suara pecahan kaca terdengar dari ujung koridor.
Wajah Arka langsung dingin.
Pintu unit Yulia terbuka paksa. Ruang tamu berantakan. Dua pria berbadan besar menahan lengan Yulia, sementara Pak Mahendra tergeletak di lantai dengan darah di pelipis. Seorang pria berwajah penuh bekas luka menginjak bahu pria tua itu.
"Aku tanya sekali lagi," kata pria bekas luka itu. "Barang itu di mana?"
"Aku tidak tahu," jawab Pak Mahendra dengan susah payah.
Pria itu tertawa dingin. "Kalau begitu, anakmu yang cantik ini mungkin bisa membantu ingatanmu."
Salah satu anak buahnya mendorong Yulia ke meja makan. Yulia berusaha bangun, tetapi bahunya ditekan kuat. Ketakutan di matanya membuat dada Arka seperti tersiram api.
Pintu unit dihantam dari luar.
Arka masuk seperti badai. Dua tendangan cepat menghantam pinggang dua pria yang memegang Yulia. Mereka terlempar ke dinding dan jatuh tanpa sempat berteriak panjang. Arka menarik Yulia ke belakangnya.
"Siapa yang menyentuh dia?"
Yulia memegang bajunya dari belakang, tubuhnya masih gemetar.
Pria bekas luka menyipitkan mata. "Kamu siapa?"
"Orang yang akan membuatmu menyesal datang."
Pria itu menerjang dengan pukulan berat. Ia jelas bukan preman jalanan biasa. Namun di mata Arka, gerakannya masih terlambat setengah napas. Arka menangkap pergelangan tangannya, memutar, lalu membanting tubuh besar itu ke meja kaca.
Brak.
Kaca pecah. Pria itu terbaring di antara serpihan, wajahnya berubah dari ganas menjadi terkejut.
Arka maju satu langkah. "Masih mau tanya barang?"
Pria bekas luka memegangi dadanya dan bangkit dengan susah payah. Ia akhirnya sadar bahwa informasi mereka tentang Arka sudah basi.
"Mundur!"
Anak buahnya menyeretnya keluar. Arka tidak mengejar. Ia lebih dulu membantu Pak Mahendra duduk, memeriksa luka, lalu menyalurkan sedikit qi untuk menstabilkan napas pria tua itu.
Saat ruang tamu akhirnya tenang, Yulia baru menangis.
"Ayah, mereka mencari apa? Kenapa semua orang menuntut sesuatu darimu?"
Pak Mahendra diam lama. Arka juga tidak mendesak. Ia tahu jawaban itu mungkin lebih besar daripada urusan Raka dan Bima.
Akhirnya, Pak Mahendra menghela napas.
"Yulia, ada hal yang tidak pernah Ayah katakan. Aku dan ibumu dulu bukan hanya guru. Kami polisi, unit narkotika. Bertahun-tahun lalu, kami menyusup ke jaringan Jaya Harim."
Ruangan menjadi sunyi.
Arka langsung menegakkan punggung. Polisi penyamar narkotika bukan orang biasa. Mereka berjalan di tempat paling gelap, sering tanpa nama, tanpa tepuk tangan, dan tanpa jaminan pulang hidup-hidup.
Pak Mahendra bercerita. Ia dan istrinya menghabiskan lebih dari dua tahun untuk mendekati jaringan Jaya, mengumpulkan bukti narkoba, pencucian uang, jalur distribusi, dan orang dalam yang melindungi mereka. Saat operasi besar hampir dilakukan, kontak utama mereka meninggal mendadak. Dalam perjalanan ke titik temu cadangan, mobil mereka dihantam.
Ibu Yulia meninggal di tempat.
Rekan yang seharusnya menerima bukti juga tidak selamat.
Pak Mahendra hidup, tetapi jatuh koma bertahun-tahun.
Yulia menutup mulut, air matanya tidak berhenti. Selama ini ia mengira kematian ibunya hanya kecelakaan buruk. Ternyata di baliknya ada perang yang tidak pernah ia lihat.
"Buktinya sekarang di mana?" tanya Arka.
Pak Mahendra menatapnya. "Tidak ada padaku. Sebelum kecelakaan, aku sudah merasa situasi bocor. Aku menyembunyikan salinan terakhir di dalam hadiah ulang tahun milik putri rekanku yang gugur."
Jantung Arka bergerak lebih cepat. "Siapa nama putri itu?"
Pak Mahendra menatap Arka lama. "Dia memakai marga ibunya. Namanya Bianca."
Arka langsung terdiam.
Bianca Lestari.
Wanita yang diminta Maya untuk ia dekati. Wanita yang baru saja membayarnya satu miliar. Wanita yang mungkin menyimpan senjata paling berbahaya untuk menjatuhkan Jaya tanpa tahu apa pun.
Yulia mengangkat wajahnya yang basah. "Kamu mengenalnya?"
"Hari ini aku baru keluar dari kantornya."
Pak Mahendra menggenggam sandaran sofa. "Kalau dia benar anak itu, dia mungkin tidak tahu apa yang dia simpan. Tapi Jaya sudah mencari bukti itu bertahun-tahun. Kalau dia sadar benda itu ada di tangan Bianca, wanita itu akan sangat berbahaya."
Arka melihat pintu rusak dan kaca yang berserakan.
"Tempat ini tidak bisa dipakai lagi."
Yulia masih pucat. "Kita pindah sekarang?"
"Sekarang cari tempat aman. Malam ini pindah sementara. Besok aku cari tahu soal Bianca."
Yulia menatapnya. Masih ada takut di matanya, tetapi kali ini ia tidak ragu.
"Aku ikut keputusanmu."
Arka mengeluarkan ponsel untuk menghubungi agen properti dan keamanan. Dulu, jika pintu rumahnya rusak, ia hanya bisa memikirkan biaya perbaikan. Sekarang ia tahu uang tidak menyelesaikan semua hal, tetapi setidaknya uang membuat orang yang ia lindungi tidak harus tidur di balik pintu yang sudah hancur.