Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
Udara di dalam menara pusat terasa sangat kontras dengan atmosfer pengap dan basah dari Hutan Kematian. Begitu pintu gerbang logam yang tebal itu tertutup dengan dentuman berat di belakang mereka, hawa dingin yang berasal dari dinding-dinding batu tua langsung menyergap kulit. Bau lumut dan tanah kering berganti dengan aroma lilin pembakaran dan samar-samar bau antiseptik dari ruang medis darurat.
Koridor menara itu luas, dengan langit-langit tinggi yang melengkung gila, menciptakan gema dari setiap langkah kaki sandal ninja yang berjalan di atasnya. Tim Guy dan Tim 8 berjalan berdampingan, melangkah perlahan menuju aula utama yang telah ditentukan oleh para Jounin pengawas.
Tenten melepaskan tas ranselnya dengan sekali sentakan, membiarkannya jatuh ke lantai batu dengan bunyi debukan yang cukup keras. Dia meregangkan kedua tangannya ke atas langit-langit, membiarkan sendi-sendi punggungnya mengeluarkan suara gemertak yang melegakan.
"Ahhhh! Demi Dewa Ninja, aku bersumpah lantai batu yang dingin ini terasa seratus kali lebih nyaman daripada ranjang empuk di rumahku saat ini!" Tenten mengembuskan napas panjang, wajahnya yang penuh noda debu kini menampakkan rona kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. "Setidaknya, di sini tidak akan ada lintah raksasa yang mencoba menghisap darahmu saat kamu memejamkan mata."
Kiba Inuzuka berjalan agak terseok di samping Akamaru yang kini sudah kembali ke atas kepalanya, menggonggong kecil dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Kiba melirik Tenten dengan cengiran khasnya yang agak dipaksakan karena menahan perih di pipinya. "Heh, kamu terlalu manja, Tenten. Hutan itu hanya halaman bermain yang agak berantakan saja. Benar kan, Akamaru?"
Akamaru merespons dengan gonggongan malas, seolah-olah memprotes bualan pemiliknya yang jelas-jelas hampir pingsan ketakutan saat dikepung ninja Otogakure tadi siang.
"Mengapa kamu berbohong, Kiba?" suara datar Shino Aburame memecah percakapan, membuat Kiba langsung menoleh dengan wajah cemberut. Shino membenarkan posisi kacamata hitamnya yang agak melorot dengan jari telunjuknya. "Karena jika ingatan seranggaku tidak salah, sepuluh menit sebelum Tim Guy datang, kamu sempat berbisik bahwa kita akan mati di tempat ini."
"Hei! Shino! Bisakah kamu diam saja untuk sekali ini?!" Kiba berteriak kesal, wajahnya memerah karena malu sementara tangannya menunjuk-nunjuk wajah Shino yang tetap flat tanpa ekspresi sedikit pun. "Itu... itu namanya taktik psikologis defensif! Kamu tidak tahu apa-apa tentang insting liar klan Inuzuka!"
Hinata Hyuga yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku rekan setimnya. Dia melirik sedikit ke arah Neji, yang berjalan di sisi paling luar koridor dengan pandangan mata yang lurus ke depan, seolah-olah menganggap semua suara di sekitarnya hanyalah angin lalu. Namun, Hinata bisa melihat ada perubahan kecil pada aura sepupunya—sesuatu yang terasa lebih berat dan penuh perenungan.
"L-Lee-san..." Hinata memberanikan diri untuk melangkah sedikit lebih cepat, menyamakan posisinya dengan Rock Lee yang berjalan dengan tangan terlipat di belakang kepala.
Lee menoleh, alis tebalnya terangkat gila saat dia memberikan senyuman ramah yang lebar. "Ada apa, Hinata-sama? Apakah luka di lenganmu masih terasa sakit? Jika iya, kita harus segera mencari ninja medis di aula depan!"
"A-ah, tidak... bukan itu," Hinata buru-buru melambaikan kedua tangannya di depan dada, wajahnya mendadak merona merah karena perhatian spontan dari Lee. Dia menundukkan kepalanya, jari-jarinya saling bertautan dengan gugup. "Aku hanya... ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi. Pertarunganmu tadi... sangat luar biasa. Aku belum pernah melihat seseorang bergerak secepat itu tanpa bantuan... bantuan teknik garis keturunan."
Lee menghentikan langkahnya sejenak, membuat Hinata ikut berhenti dengan wajah bingung. Di bawah kendali Reymond, mata bulat Lee menatap Hinata dengan intensitas yang berbeda—bukan lagi tatapan konyol, melainkan pandangan seorang petarung yang mengenali potensi tersembunyi.
"Darah dan garis keturunan hanyalah sebuah fondasi awal, Hinata-sama," kata Lee, suaranya merendah, memberikan kesan mendalam yang menggema di koridor batu yang sepi itu. "Apa yang kita bangun di atas fondasi itulah yang menentukan seberapa tinggi kita bisa berdiri. Kamu memiliki mata yang luar biasa, dan aku yakin... di dalam dirimu, ada kekuatan yang hanya sedang menunggu waktu untuk mekar dengan indahnya."
Hinata terpaku, matanya yang putih bersih melebar saat mendengar kata-kata tersebut. Kalimat itu terasa begitu tulus, sangat berbeda dengan tekanan konstan yang selalu dia terima dari ayahnya di kediaman klan Hyuga. "Meku... mekar...?"
Neji yang mendengar percakapan itu dari jarak beberapa langkah mendadak mendengus pelan, sebuah suara sinis yang memotong momen tersebut. "Kata-kata yang indah, Lee. Tapi kamu melupakan satu hal. Fondasi yang lemah tidak akan pernah bisa menahan beban menara yang tinggi. Beberapa orang dilahirkan untuk memimpin, dan beberapa lainnya dilahirkan untuk berlutut di bawah bayang-bayang. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa diubah oleh motivasi bodohmu."
Lee menoleh ke arah Neji, seringai tipis yang sarat akan teka-teki muncul di sudut bibirnya. "Kalau begitu, mari kita lihat, Neji. Di babak selanjutnya nanti... apakah dinding takdirmu yang akan mengurungku, ataukah tinju kerjaku yang akan menghancurkan dinding itu hingga menjadi debu."
Tenten menghela napas panjang melihat ketegangan yang kembali tercipta di antara kedua rekan setimnya. "Kalian berdua benar-benar tidak bisa beristirahat ya? Kita bahkan belum sampai di aula utama dan kalian sudah mulai menabuh genderang perang lagi."
Mereka akhirnya sampai di sebuah pintu kayu raksasa yang dijaga oleh dua orang Jounin dengan seragam lengkap Konoha. Salah satu Jounin, yang memiliki bekas luka horizontal di hidungnya, mengangguk kecil melihat kedatangan mereka. "Tim Guy dan Tim 8. Selamat atas keberhasilan kalian menyelesaikan babak kedua. Silakan masuk, perwakilan dari tim medis dan Hokage-sama sudah menunggu di dalam."
Begitu pintu besar itu terbuka, pemandangan sebuah aula raksasa dengan arsitektur kuno langsung menyambut mereka. Di ujung aula, berdiri tegak sang Hokage Ketiga, Hiruzen Sarutobi, dengan pipa rokoknya yang mengepulkan asap tipis, dikelilingi oleh barisan Jounin pembimbing dari berbagai desa ninja. Pertarungan yang sesungguhnya di dalam dinding menara ini akan segera dimulai.