Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Garis Kematian dan Keangkuhan yang Runtuh
Keheningan di lapangan Rumah Tahanan Seoul terasa begitu pekat, seolah waktu itu sendiri telah membeku. Angin pagi yang biasanya berhembus membawa debu kini seakan enggan bergerak, tertahan oleh tekanan energi sihir yang menguar dari sosok Han Do-Yoon.
Serbuk besi sisa kapak api yang dihancurkan Do-Yoon perlahan berjatuhan ke aspal, menghasilkan suara desisan halus. Bagi ratusan tahanan yang berdiri mematung di sekeliling lapangan, suara serbuk besi itu terdengar seperti lonceng kematian.
Di belakang Do-Yoon, Kang Tae-Ho masih berlutut dengan napas memburu. Tangan raksasanya yang gemetar menyentuh luka sayatan di dadanya. Rasa perih itu nyata, tetapi keterkejutan di benaknya jauh lebih besar. Sebagai pria yang memiliki Atribut Ketahanan bawaan tertinggi di penjara ini, Tae-Ho tahu betul seberapa berat dan panasnya kapak milik Hwang Jang-Ho.
Namun, pemuda berjas hitam di depannya ini baru saja menghancurkan senjata sihir tersebut hanya dengan remasan satu tangan. Tanpa mantra. Tanpa senjata. Murni menggunakan luapan energi berwarna segelap malam.
"Si... siapa kalian?" ulang Tae-Ho dengan suara parau.
Do-Yoon tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada kerumunan tahanan berseragam oranye. "Seseorang yang datang untuk memberimu pekerjaan yang lebih baik daripada menjadi perisai daging untuk orang-orang ini."
Yoo Ji-Ah melangkah maju, memposisikan dirinya di sisi kanan Do-Yoon. Kemeja putihnya berkibar pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu menurunkan ujung Pedang Panjang Besi Hitam-nya hingga menyentuh permukaan aspal.
Dengan tatapan sedingin es, Ji-Ah berjalan menyamping, menyeret ujung pedangnya dan mengukir sebuah garis lurus yang memisahkan Do-Yoon, Tae-Ho, dan para sipir dari ratusan tahanan yang ada di hadapan mereka.
Percikan api kecil dan debu aspal beterbangan setiap kali pedang itu menggores tanah, ditiup oleh aura angin berwarna hijau pucat yang kini menyelimuti seluruh tubuh Ji-Ah.
Gadis itu berhenti, lalu mengangkat pedangnya dan menunjuk lurus ke arah kerumunan penjahat tersebut.
"Ketua telah memberikan perintah," ucap Ji-Ah. Suaranya tidak keras, namun terdengar sangat jernih dan tajam, layaknya desingan pedang yang ditarik dari sarungnya. "Satu langkah melewati garis ini, dan kalian akan kehilangan kepala kalian."
Tidak ada satu pun tahanan yang berani bergerak. Beberapa dari mereka bahkan menelan ludah dan tanpa sadar melangkah mundur. Aura pembunuh yang memancar dari gadis cantik di hadapan mereka bukanlah gertakan kosong. Itu adalah aura seseorang yang telah mencabut nyawa tanpa ragu.
Di saat yang sama, dari arah reruntuhan tembok beton tempat Hwang Jang-Ho terlempar, terdengar suara batuk yang keras.
Bongkahan batu bata berjatuhan. Hwang Jang-Ho merangkak keluar dari tumpukan puing, wajah plontosnya kini berlumuran darah segar yang mengalir dari pelipisnya. Seragam tahanannya robek, memperlihatkan tato naga di dadanya yang kini tampak kotor oleh debu.
Rasa sakit di punggungnya luar biasa, namun rasa malu dan amarah yang mendidih di dalam dadanya jauh lebih menyakitkan. Di depan ratusan anak buahnya, ia, sang penguasa penjara, baru saja dilempar layaknya boneka kain usang.
"B-bajingan..." geram Hwang Jang-Ho, terhuyung bangkit berdiri. Matanya memerah, menatap tajam ke arah Do-Yoon. "Kau pikir... kau siapa, berani mencampuri urusanku?! Ini adalah wilayahku! Sistem memilihku!"
Do-Yoon memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria gemuk itu dengan tatapan menilai yang merendahkan.
"Sistem tidak memilih siapa pun, Hwang Jang-Ho," jawab Do-Yoon dengan nada datar dan lambat, sengaja membiarkan setiap kata meresap ke dalam pikiran semua orang di sana. "Sistem hanya melemparkan sepotong daging ke dalam kandang anjing, lalu menertawakan kalian yang saling menggigit untuk memperebutkannya."
"Tutup mulutmu!" raung Hwang Jang-Ho.
Pria itu memukul dadanya sendiri dengan kedua tangan. Seketika, pembuluh darah di leher dan lengannya menonjol keluar. Kulitnya berubah warna menjadi merah padam, dan uap panas mulai mengepul dari pori-pori tubuhnya.
[Peringatan! Pembangkit 'Hwang Jang-Ho' mengaktifkan keahlian: Amuk Darah Algojo (Tingkat Rendah).]
[Atribut Kekuatan Fisik target meningkat 30%, Atribut Ketahanan menurun 50%.]
Ini adalah kartu as milik pria itu. Sebuah keahlian yang menukar pertahanan dengan daya hancur mutlak. Keahlian inilah yang membuatnya berhasil membunuh monster di dalam penjara dengan mudah.
"Aku berada di Tingkat 12! Aku telah membunuh puluhan monster dan manusia sejak kemarin! Aku adalah penguasa mutlak tempat ini!" Hwang Jang-Ho berteriak histeris, kehilangan akal sehatnya karena amarah.
Tanpa memedulikan ketiadaan senjatanya, pria gemuk yang kini menyerupai monster merah itu berlari kencang ke arah Do-Yoon. Setiap langkahnya membuat aspal di bawahnya retak. Ia mengepalkan tangannya yang membesar, berniat menghancurkan kepala Do-Yoon dengan satu pukulan maut.
Melihat serangan mematikan itu, Kang Tae-Ho yang berada di belakang berseru panik. "Awas! Jika kau terkena pukulan itu, tulangmu akan hancur menjadi serbuk!"
Namun, Do-Yoon tidak bergeming. Ia bahkan tidak memanggil Bilah Penebas Malam-nya. Ia membiarkan lengannya tergantung rileks di sisi tubuhnya.
"Tingkat 12 di hari ketiga," gumam Do-Yoon pelan, matanya yang sekelam malam melacak pergerakan Hwang Jang-Ho dengan sangat mudah. "Sebuah pencapaian yang mengesankan untuk ukuran manusia biasa. Sayangnya... kau menghabiskan seluruh Poin Atributmu untuk sesuatu yang sia-sia."
Hanya dalam jarak satu meter, Hwang Jang-Ho mengayunkan tinjunya lurus ke wajah Do-Yoon. Angin berdesir keras akibat tekanan pukulan tersebut.
Alih-alih menghindar jauh, Do-Yoon hanya menggeser kepalanya ke kiri sejauh beberapa sentimeter. Kepalan tangan raksasa yang bercahaya merah itu menyambar udara kosong, hanya mengacak-acak poni rambut Do-Yoon.
Mata Hwang Jang-Ho melebar karena terkejut. Pukulannya meleset?
Sebelum ia bisa menarik kembali lengannya, Do-Yoon mengangkat tangan kirinya dan menampar pergelangan tangan Hwang Jang-Ho dengan punggung tangannya.
Gerakannya terlihat santai, layaknya seseorang yang sedang menepis lalat.
KRAAAK!
"AAARRGHHH!"
Jeritan penderitaan meledak dari mulut Hwang Jang-Ho. Tulang pergelangan tangannya patah seketika dengan sudut yang mengerikan akibat benturan tersebut. Kekuatan fisik Do-Yoon yang telah menembus angka empat puluh jauh melampaui efek peningkat kekuatan apa pun yang dimiliki oleh pria plontos itu.
Hwang Jang-Ho terhuyung ke depan karena momentum serangannya sendiri. Memanfaatkan hal itu, Do-Yoon mengangkat lutut kanannya tepat ke arah perut buncit sang mantan pembunuh berantai.
BUM!
Suara hantaman itu terdengar seperti dentuman drum raksasa. Hwang Jang-Ho memuntahkan banyak darah dan empedu. Matanya nyaris melotot keluar dari rongganya. Seluruh udara di paru-parunya terkuras habis.
Tubuh besarnya langsung ambruk, berlutut tepat di depan ujung sepatu bot Do-Yoon. Keahlian 'Amuk Darah Algojo'-nya seketika pudar, mengembalikan warna kulitnya menjadi pucat pasi.
Pertarungan itu berlangsung kurang dari tiga detik. Tidak ada kilatan sihir yang megah, tidak ada benturan yang menggetarkan bumi. Hanya dua gerakan sederhana dari Han Do-Yoon yang langsung meruntuhkan penguasa penjara itu ke titik terendah.
Jendela Sistem Rasi Bintang berkedip pelan.
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' tersenyum tipis. Ia mengagumi efisiensi gerakan Anda yang tanpa celah.]
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' menutup matanya, mendoakan belas kasihan bagi pria berdosa di bawah kaki Anda.]
[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' diam-diam menyetujui hukuman ini.]
Di sekeliling garis batas yang dibuat Ji-Ah, para tahanan mundur semakin jauh. Senjata-senjata darurat di tangan mereka bergetar. Harapan mereka untuk merajai wilayah ini musnah saat melihat sosok terkuat mereka dipecundangi tanpa perlawanan berarti.
Hwang Jang-Ho mencengkeram aspal dengan tangan kirinya yang tersisa. Sambil terbatuk darah, ia mendongak menatap Do-Yoon. Wajahnya yang beringas kini dipenuhi oleh kengerian dan keputusasaan.
"K-kau... monster apa kau ini..." rintih Hwang Jang-Ho.
Do-Yoon merunduk sedikit, menatap langsung ke dalam mata pria yang kalah itu. Tatapan Do-Yoon begitu dingin, hampa, dan tidak memiliki setitik pun simpati.
"Dunia lama yang kau benci memang sudah mati, Hwang Jang-Ho," ucap Do-Yoon dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh pria di bawahnya dan Kang Tae-Ho di belakang. "Tetapi kau salah jika berpikir bahwa hancurnya hukum berarti kau bisa menjadi raja sesukamu."
Do-Yoon menginjak punggung tangan kiri Hwang Jang-Ho, membuat pria itu kembali menjerit tertahan saat tulang jemarinya remuk satu per satu di bawah tekanan sepatu bot sang Pewaris Ketiadaan.
"Di dunia yang baru ini, ada predator yang jauh, jauh lebih besar dari serangga sepertimu," bisik Do-Yoon tanpa belas kasihan. "Dan kau baru saja membuat marah salah satu dari mereka."
Do-Yoon menegakkan tubuhnya, membiarkan Hwang Jang-Ho merintih dalam genangan darahnya sendiri. Ia kemudian mengalihkan pandangannya melewati garis batas, menatap ratusan tahanan yang kini sepenuhnya kehilangan semangat bertarung.
Ini adalah momennya. Waktu untuk menanamkan pondasi ketakutan dan kepatuhan mutlak sebelum ia mengambil alih Inti Wilayah.
jangan lupa hadir juga 😉