NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Gerbang Tanpa Nama

BAB 34: Penjaga Gerbang Tanpa Nama

Suara gema dari pintu perunggu yang perlahan terbuka masih memenuhi lorong batu ketika Ethan melangkah keluar dari bayangan. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, sementara Liu Xinya mengikuti beberapa meter di belakang dengan tangan tetap menggenggam gagang pedang.

Ruangan bundar itu kembali sunyi.

Dua sosok berjubah hitam yang berdiri di depan gerbang tidak menunjukkan tanda-tanda panik. Salah satunya, yang bertubuh lebih tinggi, tetap membelakangi Ethan.

"Instingmu lebih tajam daripada laporan yang kami terima," katanya tenang.

Ethan tidak menjawab.

Tatapannya justru mengamati gerbang perunggu.

Segel-segel Dao yang terukir di permukaannya bukan berasal dari era dunia modern. Bahkan sebagian simbol itu telah punah sebelum kehidupan pertamanya mencapai Alam Raja Abadi.

"Ini benar-benar bukan makam biasa."

Sosok kedua akhirnya berbalik.

Usianya tampak sekitar dua puluh lima tahun, berwajah tampan dengan mata abu-abu yang dingin. Jubah hitamnya sederhana, tanpa lambang organisasi apa pun.

"Dia memang Ethan Mahendra."

Pria tinggi itu akhirnya ikut berbalik.

Yang mengejutkan Ethan bukan wajahnya.

Melainkan matanya.

Sepasang mata berwarna emas pucat, seperti naga yang sedang tertidur.

Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik.

Tak seorang pun berbicara.

Liu Xinya merasakan tekanan aneh memenuhi ruangan. Seolah dua pendekar yang telah bertempur ribuan kali sedang saling membaca gerakan sebelum pedang terhunus.

Pria bermata emas itu akhirnya tersenyum tipis.

"Aku mulai mengerti."

"Mengerti apa?" tanya Ethan singkat.

"Kenapa Cermin Karma hancur."

Alih-alih menyerang, pria itu justru mundur selangkah.

"Kami bukan musuhmu."

"Semua orang selalu mengatakan kalimat itu sebelum mencoba membunuhku."

Nada suara Ethan tetap datar.

Pria muda bermata abu-abu terkekeh kecil.

"Aku suka cara berpikirmu."

Namun pria bermata emas mengangkat tangan, menghentikannya.

"Perkenalkan."

"Aku Kael."

"Dia Orion."

"Tidak perlu nama keluarga?"

"Kami sudah lama tidak menggunakannya."

Jawaban itu membuat Ethan semakin waspada.

Tidak menggunakan nama keluarga hanya memiliki dua kemungkinan.

Mereka berasal dari organisasi yang telah melupakan identitas dunia luar...

atau...

Mereka hidup jauh lebih lama daripada manusia biasa.

"Kalian berasal dari mana?"

Kael memandang pintu perunggu.

"Dari tempat yang sama dengan gerbang ini."

Jawaban yang sengaja dibuat kabur.

Ethan tidak mengejar.

Kalau seseorang datang dengan identitas palsu, pertanyaan sebanyak apa pun tidak akan menghasilkan jawaban sebenarnya.

Pintu perunggu akhirnya terbuka sepenuhnya.

Udara dingin mengalir keluar.

Namun bukan dingin biasa.

Itu adalah aura Dao yang begitu murni hingga membuat qi di tubuh Liu Xinya bergetar sendiri.

Lorong di balik gerbang dipenuhi obor biru yang menyala tanpa bahan bakar.

Di kedua sisinya berdiri ratusan patung batu.

Semuanya mengenakan mahkota berbeda.

Masing-masing memegang senjata yang tidak sama.

Pedang.

Tombak.

Busur.

Kipas.

Kapak perang.

"Ada tiga ratus enam belas patung..." gumam Ethan.

Kael meliriknya.

"Kau menghitungnya?"

"Tidak."

"Hanya melihat."

Kael tertawa pelan.

"Menarik."

Mereka memasuki lorong itu bersama.

Tidak ada yang benar-benar mempercayai pihak lain.

Ethan berjalan paling belakang.

Dengan begitu ia bisa mengawasi semua orang sekaligus.

Beberapa saat kemudian...

Liu Xinya memperhatikan sesuatu.

"Patung-patung ini..."

"Matanya."

Semua mata patung mengarah ke tengah lorong.

Seolah sedang mengawasi setiap langkah mereka.

Orion berkata pelan,

"Jangan menyentuh apa pun."

"Kenapa?"

"Karena mereka belum benar-benar mati."

Ucapan itu baru selesai ketika terdengar suara retakan kecil.

Krek...

Salah satu patung menggerakkan jarinya.

Lalu...

Patung kedua.

Ketiga.

Keempat.

Seluruh lorong dipenuhi suara batu yang bergesekan.

Liu Xinya langsung mencabut pedangnya.

"Kita dikepung!"

Namun Ethan justru mengangkat tangan.

"Jangan bergerak."

Semua patung berhenti.

Mereka tidak menyerang.

Mereka hanya memandang.

Ethan mengamati pola ukiran di lantai.

Kemudian ia berkata pelan.

"Ini bukan formasi pembunuh."

"Lalu?"

"Formasi penghormatan."

Kael tersenyum.

"Akhirnya ada orang yang menyadarinya."

Ethan melangkah maju.

Tidak lurus.

Ia mulai berjalan mengikuti pola tertentu.

Kadang ke kanan.

Kadang serong.

Kadang mundur satu langkah.

Liu Xinya mengikutinya tanpa bertanya.

Kael dan Orion saling berpandangan.

"Lima ratus tahun pengalaman..."

gumam Orion.

"...tidak mungkin dipalsukan."

Ethan mendengar kalimat itu.

Namun wajahnya tetap datar.

Mereka berhasil melewati lorong tanpa membangunkan satu pun penjaga batu.

Di ujung lorong terdapat aula raksasa.

Langit-langitnya tidak terlihat.

Di tengah aula berdiri sebuah jam matahari hitam setinggi belasan meter.

Jarumnya tidak bergerak.

Namun bayangannya terus berubah.

Di sekelilingnya terdapat sembilan pintu batu.

Masing-masing dihiasi lambang berbeda.

Kael berhenti.

"Sampai di sini jalan kita berbeda."

Ethan mengamati sembilan pintu itu.

Setiap pintu memancarkan Dao yang berbeda.

Api.

Air.

Petir.

Pedang.

Bayangan.

Ruang.

Waktu.

Kehidupan.

Kematian.

Tatapannya akhirnya berhenti pada pintu berlambang bayangan.

Segel Pertama di dalam tubuhnya berdetak pelan.

"Seperti dugaanku."

Kael memperhatikan perubahan kecil itu.

"Pintu memilihmu."

"Bukan."

Ethan menggeleng.

"Aku yang memilih pintunya."

Tiba-tiba...

Seluruh aula bergetar.

Jam matahari hitam mulai bergerak.

Jarumnya berputar sendiri.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Lalu berhenti tepat mengarah ke langit.

Suara tua menggema dari segala arah.

"Pewaris terdeteksi."

Semua orang menegang.

"Verifikasi dimulai."

Cahaya putih turun dari langit-langit.

Namun cahaya itu tidak hanya menyinari Ethan.

Kael.

Orion.

Bahkan Liu Xinya ikut terselimuti.

"Ini tidak benar," gumam Kael.

"Seharusnya hanya satu."

Suara tua itu kembali berbicara.

"Ditemukan..."

"...empat kandidat."

Mata Ethan sedikit menyipit.

Empat?

Ia menghitung cepat.

Dirinya.

Kael.

Orion.

Lalu...

Tatapannya perlahan beralih kepada Liu Xinya.

Wanita itu juga tampak terkejut.

"Aku?"

Suara tua melanjutkan.

"Pewarisan akan dimulai setelah seluruh kandidat berkumpul."

Kael langsung mengangkat kepala.

"Seluruh?"

"Masih ada?"

Belum sempat ada yang menjawab.

Ledakan keras mengguncang aula.

BOOOOM!!

Salah satu dinding batu runtuh.

Debu memenuhi udara.

Puluhan sosok berjubah putih menerobos masuk.

Di belakang mereka muncul pasukan pemburu iblis.

Disusul para kultivator Sekte Langit Astra.

Mereka semua berhasil menemukan jalan menuju aula.

Dalam sekejap...

Suasana berubah menjadi tegang.

Pemimpin Keluarga Yue menatap Ethan.

"Kau lagi."

CEO muda Langit Astra tersenyum tipis.

"Takdir kita memang sering bertemu."

Wanita pemimpin pemburu iblis memandang Kael dan Orion dengan wajah berubah.

"Itu mustahil..."

"Kalian masih hidup?"

Kael hanya membalas dengan senyum tipis.

Namun sebelum siapa pun bergerak...

Suara tua itu kembali menggema.

Lebih keras dari sebelumnya.

"Jumlah kandidat belum lengkap."

"Mengaktifkan prosedur pemanggilan terakhir."

Seluruh lantai aula menyala.

Sembilan pintu batu terbuka bersamaan.

Dari balik pintu paling gelap...

Perlahan terdengar suara langkah kaki.

Tok...

Tok...

Tok...

Aura yang keluar begitu berat hingga semua kultivator, bahkan para tetua dari keluarga kuno, tanpa sadar mundur satu langkah.

Sesosok pria berjubah hitam perlahan muncul dari kegelapan.

Rambutnya panjang berwarna perak.

Wajahnya nyaris identik...

dengan Ethan Mahendra.

Bedanya, kedua matanya benar-benar hitam tanpa bagian putih sedikit pun.

Ia menatap Ethan tanpa ekspresi.

Lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh aula membeku.

"Akhirnya... aku menunggumu selama lima ratus tahun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!