NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Cacat

Wanita Yang Kubuat Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat
Popularitas:74.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."

Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

[ Hai ]

[ Sudah tidur? ]

Setelah berfikir lama, jam 11 malam, Elang mengetik pesan pada Ilona. Nomor yang ia dapat dari bio instagram cewek itu yang memang tertera untuk kepentingan pemesanan buket.

Ia tak bisa tidur, terus kepikiran Ilona. Rasanya pengen datang ke rumah cewek itu, melihat kondisinya sekarang, tapi alasan apa yang ia buat jika benar-benar kesana.

Sampai pagi, pesan itu jangankan dibalas, dibaca saja belum.

Tangan Elang gatal, ingin menekan tombol call, namun nantinya pasti bingung, mau ngomong apa.

Sepanjang hari, Elang terus memantau pesannya. Akhirnya centang dua biru, tapi tidak dibalas. Haruskah ia mengirim pesan lagi? Lebih spesifik, seperti menanyakan kabar, dan menyebut namanya. Ilona pasti tidak tahu kalau itu pesan darinya. Tapi...ah, apa gak dikira sok kenal nanti. Bagaimana kalau Ilona ilfeel?

Satu hari, dua hari, hingga hari Sabtu, pesan itu diabaikan. Minggu, besok dia akan menemui Ilona di taman.

"Surprise!"

Elang kaget saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba dibuka. Alisya muncul, dengan sebuah tas bekal di tangannya.

"Pasti kagetkan, aku tiba-tiba datang tanpa ngasih tahu?" Alisya tertawa cekikikan. Setelah menutup pintu, ia menghampiri Elang di kursinya, meletakkan kotak bekal ke atas meja, lalu memeluknya erat. "Kangen..." Setelah acara lamaran, mereka belum pernah ketemu, Alisya liburan ke luar negeri bersama dua teman baiknya.

"Kapan pulang?"

"Semalam."

"Kok gak minta dijemput?"

"Cie... kangen ya." Alisya tersenyum, mengecup pipi Elang. "Aku juga kangen banget."

"Kamu bawa apa?" Elang menatap tas bekal di mejanya.

"Astaga, hampir lupa. Aku tadi masak spaghetti kesukaan kamu. Makan bareng yuk!" Ia membukan tas bekal, mengeluarkan kotak makan dari sana lalu membuka. Aroma dari spaghetti seketika menguar ke indra penciuman.

Ting

Mendengar suara notif dari ponselnya, Elang buru-buru mengambil benda itu dan mengeceknya. Kecewa, ternyata bukan balasan dari Ilona.

Kening Alisya mengkerut. "Kamu lagi nungguin pesan seseorang?"

"Hah!" Elang gelagapan, hampir lupa jika ada Alisya disana. "A, aku... nungguin pesan dari klien."

"Oh..."

Alisya mengajak Elang menuju sofa, makan bersama disana. Ia menceritakan banyak hal, tentang liburannya di Korea dengan teman-temanya. Namun sepanjang cerita, ia merasa Elang sama sekali tidak menanggapi.

"Yank," panggil Alisya. "Kamu kok kayak gak dengerin aku sih?"

"Denger kok." Elang tersenyum.

"Aku tadi, nonton konser siapa disana?"

Elang panik, tak tahu jawabanya. Ia memang disini, tapi tidak dengan fikirannya. Mendengarkan Alisya bicara, tapi tak ada yang masuk ke otaknya.

"Tuh kan!" Alisya mendengus kesal.

"Black Pink." Jawab Elang asal.

Alisya membuang nafas kasar. "Kamu itu sebenarnya mikirin apa sih?"

"Sa, salah ya." Elang tersenyum kecut. "Sorry." Diraihnya pinggang Alisya, menarik ke arahnya, lalu mengecup pipinya. "Jangan cemberut dong." Ia menggulung spaghetti menggunakan garpu, lalu menyuapi Alisya.

"Besok nonton yuk, ada film bagus."

"Besok?" Elang menelan ludahnya susah payah. Ia ingin bertemu Ilona besok, tapi menolak ajakan Alisya, yang ada gadis itu akan makin marah nantinya. "Malam aja ya."

Alisya mengangguk. Ia tak lagi cemberut setelahnya.

...----------------...

Minggu pagi, jam 06.00 WIB, Elang sudah ada di taman. Ia jogging sembari menunggu Ilona. Berkali-kali ia melihat jam tangannya, karena yang ditunggu tak kunjung datang sampai matahari naik. Jam 8, jam 9, hingga jam 10, Ilona tak muncul.

Elang gelisah, takut terjadi sesuatu pada Ilona.

Ia meninggalkan taman, bukan untuk pulang, melainkan menuju rumah Ilona.

Setelah pintu rumah warna putih yang ia ketuk terbuka, Elang terpaku. Ilona yang membuka, gadis itu berdiri dengan bantuan tongkat. Cantik, meski tidak sempurna.

"Elang." Ilona kaget. "Ada apa ya?"

Elang gugup. Tadi di perjalanan, ia sudah memikirkan alasan, tapi sekarang otaknya tiba-tiba ngeblank, ia lupa.

Ilona terlihat bingung. "Elang," panggilnya lagi.

"I, iya. A, aku lewat."

Ilona tersenyum kecut, merasa aneh dengan jawabannya.

"Mak, maksudku. Aku kesini." Melihat ekspresi bingung Ilona, Elang makin gugup. "Ma, maksudku aku pesan bunga. Iya, itu." Ia tersenyum. "Aku kesini untuk pesan bunga. Buket maksudnya."

"Oh..." Meski masih merasa aneh dengan ekspresi dan bahasa tubuh Elang, Ilona berusaha untuk tidak berfikir macam-macam. "Silakan masuk." Ia minggir, membuka pintu lebar-lebar.

Elang bernafas lega, berjalan menuju sofa, duduk disana.

"Untuk siapa? Tunangan kamu?" Ilona menyusul, duduk di sofa lain.

"Bu, bukan."

"Wah...jangan-jangan..."

"Untuk Mama," potong Elang cepat.."Mamaku ulang tahun hari ini."

"Yah, kenapa gak pesan kemarin, biar aku buatin dulu, kamu tinggal ambil aja."

"Aku udah WA, tapi kamu gak balas."

Ilona mencoba mengingat-ingat, kapan Elang mengirim WA padanya.

"Aku gak nulis nama sih, mungkin kamu gak nggeh. Aku cuma...ngetik 'hai'."

"Oh..." Ilona akhirnya ingat. "Lain kali, kasih nama. Aku emang gak pernah membalas pesan gak jelas. Maaf ya."

"Gak papa, aku yang salah."

"Oh iya, ini buketnya mau kamu ambil nanti atau gimana?"

"Apa aku boleh ikutan membuat? Aku ingin merangkai sendiri bunga untuk Mamaku." Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya, melainkan untuk mengobrol dengan Ilona.

Ilona tersenyum. "Tentu." Ia lalu mengajak Elang masuk ke dalam, ke ruang keluarga tempat ia menyimpan bunga artifisial dan peralatan membuat buket. Ibunya yang sedang menonton TV, menoleh mendengar suara derap langkah.

"Siapa, Lon?" Bu Ella berdiri, menatap Elang.

"Ini Elang Bu, temannya Ken. Dia kesini untuk memesan buket."

"Siang, Tante." Elang menghampiri, menyalami Bu Ella.

"Mamanya ulang tahun, dia mau merangkai sendiri buket untuk Mamanya," ujar Ilona.

"MashaAllah." Bu Ella mengusap lengan Elang. "Beruntung sekali Mama kamu, punya anak laki-laki yang perhatian dan menyayanginya. Ya udah, silakan duduk. Ibu ke kamar dulu ya," pamitnya.

Ilona berjalan menuju rak, namun saat hendak memindahkan kardus peralatannya ke meja, ia sedikit kesusahan karena memegang tongkat. Mau minta tolong sungkan, terpaksa berusaha meski sulit.

"Biar aku aja." Elang yang melihat, segera mengambil alih pekerjaan Ilona. "Apa lagi yang harus diambil?" tanyanya setelah meletakkan kardus tadi ke atas meja.

"Kamu mau bunga segar atau artifisial?"

"Segar kalau ada."

"Mama kamu, sukanya bunga apa?"

"Hah!" Elang bingung karena tidak tahu. "Bu, bunga...matahari."

Ilona terdiam beberapa saat, berfikir sekaligus membayangkan. Membuat buket bunga matahari segar, belum pernah ia lakukan selama ini. Belum pernah ada yang order juga. Kalau buket bunga matahari artifisial, baru ada. Ia menggeleng pelan. "Gak punya."

Elang tersenyum kecut. Kenapa juga harus bunga matahari yang ia sebut. Gara-gara keseringan ngemil kuaci nih, mantengin bungkusnya yang gambar bunga matahari. "Bunga apa aja deh."

"Oh iya, bunga segarnya ada di ruang tamu, di pojokan. Em... bisa minta ambilin." Sungkan, tapi tak ada pilihan lain.

Elang mengangguk, lalu pergi ke ruang tamu untuk mengambil bunga. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan seember bunga segar yang tangkainya direndam air, meletakkan di samping kaki meja.

"Maaf ya, ngerepotin kamu."

"Aku malah suka kok, direpotin kamu."

Ilona tersenyum, faham itu hanya basa-basi belaka, karena mustahil ada orang yang suka direpotkan. Ia mengajak Elang duduk bersebelahan di sofa, mengajarinya merangkai bunga. Stok bunganya terbatas, hanya tinggal mawar, krisan dan baby breath, tapi untungnya Elang tidak keberatan.

Dengan sabar, Ilona mengajari Elang step by step, mulai dari memotong ujung tangkai. Karena Elang menginginkan buket simpel, ia tak mengunakan busa kering. Rencananya tangkai bunga hanya akan diikat jadi satu, lalu dibungkus dengan cello bening dan diberi pita. Untuk ibu-ibu, sepertinya lebih cocok.

Elang tampak kaku sekali saat pertama kali memotong tangkai.

"Potong miring. Biar nyerap air saat nanti dipindahkah ke wadah sama Mama kamu." Ilona memberi satu contoh.

Elang nurut, melakukan sesuatu arahan dan contoh yang diberikan Ilona. Tangan besarnya yang biasa memegang pena, gemetar saat memotong.

"Aduh."

Ilona refleks menoleh. Ia melihat jari Elang berdarah.

"Ketusuk duri mawar." Elang merutuki kecerobohannya.

Ilona meraih sehelai tisu di atas meja, mengusap darah di ujung jari Eliana.

Tangan mereka bersentuhan beberapa detik. Elang membeku, jantungnya berdebar kencang. Buru-buru Ilona menarik tangannya saat sadar.

"Maaf, aku suka tiba-tiba panik kalau lihat darah." Ilona membuang muka, malu, takut dianggap lancang karena sudah memegang tangan Elang.

Hening, suasana cangggung.

Ceklak... cklak...

Hanya terdengar suara gunting yang dipakai Elang.

Sudah hampir 5 menit mereka sama-sama diam. Dan sudah beberapa tangkai bunga yang telah dipotong Elang.

Akhirnya Elang buka suara. Ragu-ragu. Suaranya pelan banget.

"Hari ini, kenapa kamu gak ke taman?"

Ilona menoleh. "Kamu...nyari aku disana?"

Elang mengangguk.

"Stok bunga cuma sedikit, jadi aku gak jualan." Ilona berbohong. Sebenarnya ia sedang tak bersemangat melakukan apa-apa.

"Kamu... baik-baik aja?" Elang menatap Ilona.

"Setelah... setelah putus dari Arya," lanjutnya.

"Dari mana kamu tahu?"

"Kenan. Kamu...bisa tidurkan?"

Ilona tersenyum kecut. "Apa mataku terlihat jelas."

"Hem," Elang mengangguk. "Kayak panda."

Ilona tertawa, namun matanya berkaca-kaca.

"Gak perlu pura-pura baik-baik saja di depanku."

"Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" Ilona membuang muka, menyeka air mata yang lolos begitu saja.

"Dia gak layak kamu tangisi."

"Kamu benar. Dia sudah bahagia sekarang. Dia mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna dariku."

"Kamu sempurna Ilona." Elang menarik kedua bahu Ilona agar menatapnya.

"Tidak usah terlalu menghiburku, aku cukup tahu diri."

Elang menunduk, dadanya sesak. Ilona yang berusaha kuat, justru membuatnya semakin merasa bersalah.

"Aku cuma wanita cacat. Wanita yang bisanya hanya merepotkan. Mungkin, aku memang tidak layak untuk dicintai."

Elang menggeleng cepat, melepaskan bahu Ilona, membuang muka, tak sanggup menatap gadis itu dengan muka sendunya. Ia menarik nafas panjang, berusaha mengurangi sesak di dada.

"Setiap orang berhak untuk bahagia dengan pilihan hidupnya. Begitu pula dengan Arya. Pilihannya sudah tepat," Ilona terkekeh pelan. "Bersamaku, hanya akan membuat ia kerepotan nantinya." Tawanya makin sumbang. "Aku saja yang tidak sadar diri, berharap terlalu banyak padanya. Sepertinya, menua bersama bunga-bunga, tidak buruk juga." Matanya menatap nanar bunga di atas meja. "Setidaknya, mereka tidak akan pernah mempermasalahkan tentang kondisi fisikku."

Kalimat demi kalimat bernada pasrah tersebut, membuat Elang semakin di dera rasa bersalah. Telapak tangannya mencengkeram pinggiran sofa, dadanya sesak.

"Astaga!" Ilona buru-buru menyeka air mata. "Maaf, kok malah jadi cerita masalah pribadi gini." Ia meraih beberapa bunga di atas meja yang sudah dipotong, merangkainya jadi satu. "Cukup belum, atau mau ditambah lagi?"

Elang menoleh, bukan menatap bunga yang ditunjukkan Ilona, tapi menatap wajah gadis itu. Lama, dalam, sampai yang ditatap gugup.

"Ilona, maukah kamu menikah denganku?"

1
RosMa🌹🌹🌹
Ilona masih trauma..
RosMa🌹🌹🌹
Bisa jujur gak kamu Lang..
RosMa🌹🌹🌹
😅😅😅😅😅
RosMa🌹🌹🌹
aku pun sama takutnya sama kayak kamu Ken...
RosMa🌹🌹🌹
😅😅😅😅
RosMa🌹🌹🌹
jangan jatuh cinta sama Elang ya Ilo...
RosMa🌹🌹🌹
betul tuh keluarga si elang kaya harta tapi miskin hati
Felycia Fernandez
😭 ternyata dia punya trauma kk
Sitichodijahse RCakra
sedih bngt part ini😭
Siti Arbaati
waduh, elaaang....kok jadi aku yang baper 😄
Patrick Khan
walah elang yaopo iki 🤣🤣🤣ilona malah berbunga2 engk😁😁
Hani Ekawati
Aku baru inget, sosok ayahnya Ilona belum dimunculkan ya? kemaren baru diceritakan klo ayahnya pensiunan tentara tapi belum ada muncul ngobrol bareng Ilona. Pengen tau reaksi ayahnya Ilona pas ngeliat si Belang.😂
yutantia 10: Ayahnya sudah meninggal kak.
total 1 replies
Hani Ekawati
Dih dasar buaya 🙄 ngambil kesempatan dalam kesempitan 🙄
Hani Ekawati
Minta maaf yang dimaksud Elang bukan itu, Ilona.
Hani Ekawati
Sekarang kamu bisa lihat kan Lang dampak yang kamu akibatkan dari tabrak lari kamu, selain Ilona kehilangan satu kaki, Ilona juga mengalami trauma berat. Bisa kamu bayangkan Lang bagaimana dampak psikologis Ilona pas awal awal Ilona kehilangan satu kaki.
Hani Ekawati
Ilona mengalami trauma berkepanjangan
Septi
walah... 🤦🏻
Sugiharti Rusli
makanya banyak orang juga terlibat cinlok yah kalo masih pada jomblo sih ga masalah, kalo salah satu atau dua" nya sudsh menikah yang bahaya kan dan terjadi perselingkuhan tuh akhirnya,,,
Sugiharti Rusli
bisa jadi dari sini cinta mulai berkembang pada mereka b-2, jadi istilah dulu 'witing tresno jaranan soko kulino' yah terjadi sama mereka
Sugiharti Rusli
asal jangan nanti dipergoki oleh ibunya Ilona saja tuh mereka,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!