NovelToon NovelToon
SISTEM WINGER

SISTEM WINGER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Pemain Terhebat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.

#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah yang Tak Terlupakan

Hari kedua training camp dimulai dengan sesi pemeriksaan medis menyeluruh—pengecekan kondisi fisik, riwayat cedera, hingga tes kebugaran jantung yang dilakukan oleh tim medis federasi di ruang klinik kompleks pelatnas. Alex mengantre bersama pemain-pemain lain, menunggu giliran dengan perasaan biasa saja, menganggap ini sekadar prosedur rutin.

"Alex Pratama," panggil seorang petugas administrasi, memeriksa map berisi berkas-berkas pemain. "Silakan ke ruang tiga, isi dulu formulir riwayat kesehatan keluarga sebelum pemeriksaan."

Alex mengangguk, melangkah masuk ke ruangan kecil yang hanya berisi meja dan dua kursi. Seorang pria berseragam staf medis federasi duduk di seberang meja, rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, wajahnya menunduk sibuk menyusun berkas.

"Duduk dulu, Dek," kata pria itu tanpa mengangkat kepala, suaranya terdengar familiar dengan cara yang aneh, meski Alex tak bisa langsung mengenali dari mana. "Kita isi formulirnya bareng-bareng ya."

Alex duduk, mengambil pena yang disodorkan. "Baik, Pak."

"Nama lengkap?"

"Alex Pratama."

"Nama orang tua?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Alex terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ibu, Siti Aminah. Kalau ayah..." Alex ragu, "udah lama nggak ada kabar, Pak. Pergi waktu saya masih kecil."

Pena di tangan pria itu berhenti bergerak. Untuk beberapa detik, keheningan aneh menggantung di ruangan kecil itu.

"Dari mana asalmu, Dek?" tanya pria itu, suaranya sedikit berubah, lebih pelan dari sebelumnya.

"Padang, Pak. Tepatnya dari daerah pinggiran, deket kompleks—"

"Kompleks Perumahan Aur Kuning?"

Alex mengangkat kepala, terkejut. "Iya, Pak. Kok Bapak tau?"

Pria itu akhirnya mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Alex benar-benar melihat wajah itu secara utuh—wajah yang, meski sudah menua dan dipenuhi kerutan yang tak pernah dia lihat sebelumnya, memiliki bentuk mata dan garis rahang yang begitu familiar, seolah menatap bayangannya sendiri lewat cermin waktu bertahun-tahun ke depan.

Jantung Alex berhenti sejenak.

"Alex..." suara pria itu bergetar, tangannya yang memegang pena mulai gemetar hebat. "Kamu... Alex kecil?"

Ruangan itu terasa tiba-tiba menyempit, udara seolah menghilang dari paru-paru Alex. Dia menatap wajah di depannya, mencoba mencocokkan dengan potongan-potongan ingatan samar masa kecilnya yang selama ini dia coba lupakan—ingatan tentang seorang pria yang dulu menggendongnya berlari di pantai, yang mengajarinya menendang bola pertama kali di halaman rumah petak mereka, sebelum kemudian menghilang tanpa jejak selama lebih dari satu dekade.

"...Pak?" suara Alex nyaris tak terdengar, tenggorokannya tercekat oleh emosi yang begitu tiba-tiba menghantam tanpa peringatan. "Bapak... ayah saya?"

Pria itu—yang kini terlihat jelas nama di seragamnya, *dr. Hendra Wijaya, Staf Medis Federasi*—menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak, bahunya bergetar menahan sesuatu yang tak lagi bisa dia sembunyikan.

"Ayah minta maaf," katanya akhirnya, suaranya pecah oleh tangis yang tertahan bertahun-tahun. "Ayah nggak pernah nyangka bakal ketemu kamu kayak gini... dan dalam kondisi kayak gini pula."

Alex duduk membeku di kursinya, ribuan pertanyaan yang selama bertahun-tahun terkubur dalam dan tak pernah dia ucapkan kini menggelegak naik ke permukaan—kenapa dia pergi, kenapa tak pernah mengirim kabar, kenapa membiarkan ibunya berjuang sendirian membesarkan dua anak dengan tangan yang selalu basah oleh air sabun cucian orang lain.

"Kenapa..." suara Alex bergetar hebat, air mata yang tak bisa lagi dia tahan mulai mengalir deras, campuran antara amarah yang telah lama terpendam dan kerinduan yang tak pernah benar-benar hilang meski dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk melupakannya. "Kenapa Bapak pergi? Kenapa nggak pernah kasih kabar sama sekali? Ibu sendirian ngerawat kita berdua, Pak!"

Hendra menunduk dalam, air matanya sendiri mengalir tanpa dia coba sembunyikan lagi. "Ayah tau, Ayah nggak punya alasan yang cukup buat maafin diri Ayah sendiri, apalagi minta kamu maafin Ayah. Tapi ada cerita panjang di balik semua itu, Nak. Cerita yang selama ini Ayah kubur dalam-dalam karena rasa bersalah yang nggak pernah hilang."

Pintu ruangan tiba-tiba diketuk, seorang petugas administrasi menyembulkan kepala. "Dokter Hendra, ada pemain lain yang harus diperiksa. Waktu sesi hampir habis."

Hendra mengangguk cepat, menyeka air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengembalikan wajahnya ke ekspresi profesional meski matanya masih memerah jelas. Dia menatap Alex sekali lagi, tatapan penuh permohonan yang tak terucap.

"Alex," katanya cepat, suaranya berbisik agar tak terdengar petugas di pintu, "kita nggak bisa bicara sekarang, tapi Ayah janji, Ayah akan jelasin semuanya. Malam ini, jam sembilan, di taman belakang asrama. Tolong... beri Ayah kesempatan itu."

Alex duduk terpaku, dadanya masih bergejolak hebat oleh emosi yang belum sepenuhnya dia pahami sendiri—antara ingin lari menjauh sejauh mungkin, atau justru ingin mendengar setiap kata penjelasan yang selama bertahun-tahun tak pernah dia dapatkan.

"...Iya, Pak," jawabnya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, sebelum bangkit berdiri dengan langkah gontai keluar dari ruangan kecil itu, meninggalkan pria yang selama ini hanya menjadi bayangan samar dalam ingatannya—kini nyata, kini nyata dan begitu dekat, di tempat paling tak terduga yang pernah dia bayangkan.

```

[NOTIFIKASI SISTEM]

Mental: 82 → 45 (Fluktuasi Ekstrem Terdeteksi)

Penyebab: Guncangan emosional mendadak akibat pengungkapan identitas figur keluarga

Peringatan: Sistem mendeteksi ketidakstabilan psikologis signifikan. Performa fisik dan mental Host dalam 24 jam ke depan berisiko terpengaruh drastis.

```

Alex berjalan menyusuri koridor kompleks pelatnas dengan langkah yang terasa berat, pikirannya kosong sekaligus dipenuhi ribuan pertanyaan sekaligus. Sore itu, sesi latihan taktik akan segera dimulai, dan dia harus tampil di depan Coach Bagus serta puluhan pesaing lain yang berambisi merebut satu dari dua puluh tiga tempat di skuad final.

Namun untuk pertama kalinya sejak sistem itu hadir dalam hidupnya, Alex tidak yakin apakah dia mampu fokus sepenuhnya pada lapangan—karena jauh di dalam dadanya, pertanyaan yang telah dia kubur bertahun-tahun kini menuntut jawaban yang tak lagi bisa dia tunda, dan jawaban itu menunggu di taman belakang asrama, tepat pukul sembilan malam ini.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Otw
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
the misterius author 🐐: jangan lupa bintang 5 nya bg biar semangat up nya bg 🙏
total 3 replies
Protocetus
Novel yang menarik from Zero to Hero
Protocetus
Semangat2
the misterius author 🐐: makasih bg bintang 5 nya
total 1 replies
Protocetus
Wuih jadi keinget Manhwa namanya Build Up. Si MC berusaha menghancurkan tembok penghalang dirinya.
Protocetus
Divisi berapa ini min?
the misterius author 🐐: devisi 3 kak
total 1 replies
the misterius author 🐐
bantu support nya kak bg kalau mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!