"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 #Rencana liburan
Mendapat bentakan ketus dan penolakan mentah-mentah dari Bara Fernandez tak lantas membuat seorang Jessica Arnaka kehilangan harga dirinya di tempat. Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu adalah produk dari kelas sosial atas dididik untuk selalu menjaga air muka di bawah tekanan seburuk apa pun. Alih-alih menangis, merajuk, atau menunjukkan raut tersinggung, Jessica justru mengulas senyum tipis dan terkontrol hingga hampir menyerupai sebuah topeng kesopanan yang sempurna.
Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat anggun, Jessica melangkah ke arah wastafel yang berada di dekat dapur bersih. Dia mengambil selembar kain bersih yang tertata rapi di sana, lalu mulai menyeka noda teh yang mengotori permukaan rok mahalnya dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada kepanikan, tidak ada getaran di jemarinya.
Saat kembali ke ruang tamu, Jessica mendudukkan dirinya kembali di atas sofa kulit dengan punggung yang tegak sempurna. Wajahnya kembali teduh, matanya jernih, dan seluruh pembawaannya tetap tenang seolah-olah penolakan kasar dari Bara beberapa detik lalu, serta fakta bahwa pria itu memperlakukannya seperti orang asing yang mengganggu, sama sekali tidak berhasil menggores egonya yang tinggi. Jessica tahu persis cara bermain cantik untuk memikat pria sedingin Bara Fernandez.
Melihat atmosfer ruangan yang sempat membeku dan mendingin akibat aura intimidasi dari sang adik ipar, Isyana segera berdehem lembut. Sebagai wanita yang memegang kendali atas banyak urusan keluarga, Isyana tentu tidak akan membiarkan rencana perjodohan yang sudah disusunnya runtuh begitu saja hanya karena perangai buruk Bara siang ini. Dia segera memutar otak untuk mencairkan suasana yang kaku itu.
"Bara," panggil Isyana dengan suara yang dibuat selembut mungkin, memecah keheningan yang sempat mencekam. "Kebetulan sekali, akhir pekan ini pak Tito mengajak kita untuk mengadakan liburan bersama. Kakak pikir, ini adalah ide yang sangat bagus setelah semua kesibukan bisnis yang menguras energi akhir-akhir ini."
Bara tidak menyahut. Pria itu hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Isyana dengan sepasang mata elang yang dingin dan tak terbaca.
"Kakak punya ide, kita semua akan pergi ke villa utama milik keluarga kita yang berada di dekat pantai," lanjut Isyana sembari melirik Jessica yang duduk di sampingnya penuh arti. "Pemandangan laut di sana sangat indah dan udaranya segar, cocok sekali untuk menenangkan pikiran."
Mendengar usulan liburan ini muncul dari Tito Sanjaya, papa dari Zevanya, kilat sensual yang sarat akan kelicikan langsung melintas dengan cepat di mata elang Bara. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario liar langsung terbentuk secara otomatis. Liburan bersama keluarga Sanjaya? Itu artinya, ceri manisku akan ikut juga.
Seketika itu juga, Bara langsung menyetujui rencana liburan itu di dalam hatinya. Alur ini benar-benar menguntungkannya. Dia akan memiliki waktu yang sangat luang, ruang yang privat, serta kesempatan tak terbatas untuk kembali mengurung Anya di bawah kuasanya, bermain-main di belakang punggung semua orang tanpa ada satu pun yang menaruh curiga.
Namun, binar kepuasan yang sempat menyala di kornea mata Bara meredup dengan cepat saat Isyana kembali melanjutkan kalimat ambisiusnya.
"Kakak juga sudah memutuskan untuk mengajak Jessica ikut bersama kita," ucap Isyana tanpa beban, seolah hal itu adalah keputusan paling mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Hitung-hitung sebagai bentuk penyegaran untuk Jessica. Lagipula, dia sudah terlalu lama tinggal di luar negeri dan belum banyak tahu tentang tempat-tempat liburan yang indah di negara ini. Kakak rasa tidak ada salahnya membawa Jessica agar suasana menjadi lebih ramai."
Jessica yang mendengar namanya disebut langsung menoleh ke arah Bara. Wanita matang itu mengulas senyuman manis yang memikat, menatap Bara dengan binar penuh harap yang tidak lagi ditutup-tutupi. "Iya, Bara. Aku bener-bener senang sekali waktu Tante Isyana menawarkan rencana ini padaku tadi. Aku harap, di liburan akhir pekan nanti, kita bisa memiliki waktu yang lebih luang untuk saling mengenal satu sama lain dengan lebih dekat."
Bara sama sekali tidak membalas senyuman itu. Alih-alih memberikan jawaban formal atau sekadar mengangguk sopan untuk menghargai wanita berusia dua puluh sembilan tahun yang modis itu, Bara justru melirik jam tangan pintarnya dengan gerakan dingin. Dia kemudian menatap kakak iparnya dengan tatapan lurus yang datar. Sebuah isyarat pengusiran halus yang terbungkus rapi dalam sikap profesional.
"Maaf, Kak," potong Bara dengan suara beratnya yang tidak membantah. "Aku harus pergi dari sini sekarang. Sebentar lagi aku ada pertemuan bisnis yang sangat penting dan mendesak dengan kolega asing. Aku tidak bisa terlambat."
Isyana yang sudah sangat hafal dengan tabiat keras kepala dan otoriter milik adik iparnya itu hanya bisa menghela napas panjang. Dia tahu, jika Bara sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, tidak ada satu pun orang yang bisa mendebatnya. Isyana pun segera bangkit berdiri dari sofa, merapikan tas jinjingnya.
"Oh, baiklah kalau memang begitu kondisinya. Ayo, Jessica, kita pulang sekarang. Kita tidak boleh mengganggu waktu berharga adik iparku yang sangat mencintai pekerjaan ini." ujar Isyana dengan sedikit nada menyindir, namun tetap menjaga wibawanya.
"Baik, Tante," sahut Jessica patuh. Dia ikut berdiri dari duduknya, memberikan anggukan kepala yang sangat sopan dan penuh hormat ke arah Bara sebelum melangkah mengekor di belakang Isyana.
"Reno!" panggil Bara dengan suara bariton yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
Dalam hitungan detik, tirai pembatas seolah terbuka dan sang asisten pribadi yang efisien itu sudah berdiri tegap di ambang pintu masuk penthouse. "Iya, Pak Bara?"
"Antar Kak Isyana dan Jessica sampai ke dalam mobil mereka di lobi bawah. Pastikan perjalanan mereka aman," perintah Bara mutlak.
"Baik, dimengerti, Pak." Reno segera membungkuk hormat, lalu berbalik untuk membukakan jalan serta menuntun Isyana dan Jessica menuju lift khusus.
Begitu siluet Isyana dan Jessica benar-benar menghilang di balik pintu besi penthouse yang tertutup rapat, topeng formal dan ekspresi kaku di wajah Bara runtuh seketika tanpa sisa. Keheningan kembali menguasai penthouse mewah itu, namun atmosfernya kini berubah menjadi jauh lebih pekat dan berhasrat.
Dengan langkah lebar, tegas, dan cenderung tergesa-gesa, Bara memutar tubuhnya. Dia berjalan lurus menuju ke arah kamar mandi pelayan yang terletak di sudut dekat dapur bersih, tempat di mana dia mengurung seekor anak kucing liar yang menggemaskan sejak beberapa puluh menit yang lalu.
Tok! Tok!
Bara mengetuk pintu itu sebanyak dua kali. Ketukan yang tidak sabar.
Dalam hitungan detik, terdengar bunyi klik nyaring dari dalam saat kunci pintu diputar. Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Anya yang berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis kuliahan itu melemparkan tatapan yang teramat malas, jengkel, dan tajam lurus ke arah sepasang mata Bara.
Bukannya merasa bersalah karena telah membuat Anya terkurung di dalam ruangan sempit dan pengap itu, Bara justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya, jenis senyuman misterius, nakal, dan teramat seksi yang selalu berhasil membuat pertahanan Anya goyah. Sifat iblis dan manipulatif dalam diri pria matang itu kembali mengambil alih kendali.
Bara maju satu langkah ke depan, menggunakan postur tubuhnya yang tinggi besar untuk mengurung tubuh mungil Anya tepat di ambang pintu kamar mandi. Aroma maskulin khas milik Bara yang bercampur dengan sisa-sisa gairah tadi langsung menyeruak, menjerat indra penciuman Anya.
Bara menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus pada wajah ketus Anya yang tampak memerah. "Bagaimana, Anya? Jantungmu baik-baik saja di dalam sana, hm? Tidak copot karena takut ketahuan berada di rumah paman dari tunanganmu?" bisik Bara dengan suara serak yang berat, mengalun begitu menggoda di indra pendengaran Anya.
Anya langsung memutar bola matanya malas, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menghindari tatapan intimidasi yang terlalu intens dari pria di hadapannya. "Gak usah nanya-nanya sok peduli deh, Om. Menyebalkan," sahut Anya ketus, berusaha keras menyembunyikan getaran gugup di suaranya.
Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan terlebih dahulu, tangan kekar Bara yang dipenuhi urat-urat tegas itu terulur dengan cepat. Dia mencengkeram pinggang ramping Anya dengan sekali sentakan kuat, menarik tubuh gadis itu tanpa perlawanan berarti hingga kembali menubruk dada bidangnya yang keras dan hangat. Sebuah dekapan yang teramat posesif, erat, dan sarat akan dominasi yang mengunci pergerakan Anya.
Bara sengaja mendekatkan belahan bibirnya tepat di atas daun telinga Anya yang sensitif, mengembuskan napas hangatnya di sana hingga menyebarkan sensasi menggelitik yang seketika membuat bulu kuduk Anya meremang hebat.
"Kamu marah karena aktivitas menyenangkan kita yang hampir mencapai puncak tadi terganggu oleh kedatangan mereka, hm?" Bara berbisik lembut, jemarinya perlahan mengelus pinggang Anya di balik pakaian gadis itu. "Jangan khawatir, Sayang... mereka sudah pergi. Kita bisa melanjutkannya kembali sekarang juga di tempat yang lebih nyaman."
Mendengar kata 'melanjutkannya' dan bagaimana santainya Bara bersikap setelah hampir tertangkap basah, rasa kesal dan sesak yang sejak tadi ditahan Anya di dalam kamar mandi pelayan langsung mencapai batasnya. Kalimat Isyana yang menyuruh Jessica untuk belajar menjadi istri terus berdengung di kepalanya bagai racun yang membakar ego dan harga dirinya. Anya merasa bodoh. Dia merasa dirinya hanya dijadikan pemuas nafsu sementara di saat Bara sudah disiapkan wanita berkelas seperti Jessica untuk menjadi istrinya.
Ckitt...
"Aw—!"
Bara meringis kecil, refleks mengendurkan cengkeraman tangannya pada pinggang Anya saat merasakan sebuah cubitan super dalam, bertenaga, dan penuh rasa dendam mendarat tepat di kulit pinggangnya. Anya benar-benar memutar jemarinya di sana tanpa ampun hingga membuat pria berdarah dingin itu mendesis kesakitan.
Anya segera mendorong dada bidang Bara dengan sisa kekuatannya, membuat jarak di antara mereka. Sepasang mata indahnya mendelik tajam, menatap Bara dengan napas yang memburu tidak teratur. Seluruh wajahnya memerah sempurna karena menahan kombinasi antara rasa malu, amarah yang membubung, serta... rasa cemburu yang begitu hebat namun gagal dia sembunyikan dengan baik.
"Lanjutkan saja sana dengan calon istri pilihan kakak iparmu itu, Om! Gak usah menyentuhku lagi!" ketus Anya dengan nada suara yang bergetar menahan luapan emosi yang sarat akan kekecewaan.
Bara terpaku sejenak, namun seringai kepuasan perlahan terbit di wajah tampannya saat menyadari ada nada kecemburuan yang begitu pekat dari kalimat ketus yang dilontarkan Anya. Pria itu menyukai reaksi ini. Sangat menyukainya.
Sebelum Bara sempat membuka suara untuk menanggapi atau kembali menarik tubuhnya, Anya dengan gerakan cepat menyambar tas kuliahnya yang sejak tadi tergeletak malang di atas karpet beludru dekat sofa tamu. Tanpa sudi melirik Bara sekali lagi, Anya memutar tubuhnya, melangkah lebar-lebar dengan menghentakkan kakinya kesal meninggalkan penthouse mewah tersebut. Pintu utama penthouse ditutupnya dengan dentuman keras yang menggema.
Sementara itu, di dalam ruangan yang kini kembali sepi, Bara Fernandez hanya berdiri diam sembari mengusap pelan bagian pinggangnya yang mulai terasa panas akibat cubitan maut Anya. Alih-alih marah karena ditinggalkan begitu saja, pria matang itu justru terkekeh rendah. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah pintu keluar dengan tatapan penuh kepuasan dan dominasi yang mutlak.
Bara tahu, anak kucing liarnya sudah mulai memakan umpan. Rasa cemburu yang membakar Anya hari ini adalah awal yang sempurna, dan liburan akhir pekan di pantai nanti akan menjadi panggung utama di mana Bara akan memastikan Anya tidak akan pernah bisa lepas lagi dari pesonanya.