NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:318.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Pagi itu, kediaman keluarga besar Revan yang biasanya tenang berubah menjadi medan perang. Suara rem mobil yang berdecit kencang di depan pagar rumah Mama Revan menandakan kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Revan turun dari mobil dengan wajah yang hancur, diikuti Meisya yang terisak-isak sambil menyeret koper merahnya.

"Mama! Mama tolong!" teriak Revan begitu memasuki ruang tamu.

Mama Revan yang sedang menikmati teh paginya bersama Tiara hampir tersedak. Ia terbelalak melihat anak laki-laki kebanggaannya datang dengan koper besar, seperti gelandangan yang terusir dari istananya sendiri.

"Revan? Meisya? Apa-apaan ini?!" Mama Revan bangkit berdiri, wajahnya penuh kecemasan.

"Adila, Ma... Adila mengusir kami. Dia mengeluarkan surat perjanjian pra-nikah dan menyita rumah itu secara sepihak. Aku tidak punya akses lagi ke sana!" ucap Revan dengan suara gemetar.

Tiara yang berada di samping mamanya berteriak histeris, "Apa?! Mbak Adila benar-benar melakukan itu? Dia gila! Itu rumah Mas Revan juga!"

"Secara hukum, itu rumah dia, Tiara!" bentak Revan frustrasi. "Aku bodoh sudah menandatangani surat itu dulu!"

Meisya langsung menjatuhkan diri ke pelukan Mama Revan, tangisannya pecah sesenggukan. "Tante... hiks... Meisya tidak punya tempat tinggal sekarang. Mas Revan juga diusir karena membela Meisya. Mbak Adila jahat sekali, dia tidak peduli dengan kondisi Meisya yang sedang hamil..."

Mama Revan mengelus punggung Meisya, namun matanya menatap tajam ke arah Revan. "Sudah, jangan menangis. Kalian tinggal di sini! Mama tidak akan membiarkan wanita sombong itu menang. Biarkan dia tinggal sendirian di rumah besar itu sampai dia membusuk karena kesepian!"

Namun, suasana hangat"itu tidak bertahan lama. Ketika koper-koper Meisya mulai masuk ke kamar tamu rumah Mama Revan, realitas mulai menghantam. Rumah Mama Revan tidak seluas rumah Adila. Meisya yang terbiasa dengan fasilitas mewah di rumah Adila mulai mengeluh karena AC di kamar tamunya tidak sedingin yang ia mau. Revan pun hanya bisa duduk melamun di ruang tengah, meratapi nasibnya yang kehilangan segalanya hanya dalam satu malam.

Sementara itu, di Rumah Sakit Pusat, suasana terasa sangat berbeda. Adila datang tepat waktu, penampilannya sempurna tanpa cacat sedikit pun. Ia mengenakan kemeja biru muda yang dipadukan dengan jas putih kedokterannya yang bersih. Tidak ada raut kesedihan atau mata sembab. Sebaliknya, Adila nampak jauh lebih segar dan bercahaya, seolah baru saja melepaskan beban seberat gunung dari punggungnya.

Saat jam istirahat tiba, Adila, Maya, dan Sari berkumpul di kafetaria pojok yang agak sepi.

"Dila, sumpah ya, kamu kelihatan beda banget hari ini," buka Maya sambil menyeruput es kopinya. "Kenapa? Ada kabar gembira? Si parasit itu akhirnya pingsan beneran?"

Adila tersenyum tipis, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Dia sudah perg dan Revan juga."

Sari yang sedang mengunyah siomay hampir tersedak. "Maksudmu? kok bisa? secepat itu!"

"Tadi pagi pukul enam, aku mengusir mereka berdua. Semua barang Revan dan Meisya sudah keluar dari rumahku. Aku juga sudah melayangkan gugatan cerai secara resmi melalui pengacara keluarga," ucap Adila dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang melaporkan jadwal operasi.

"APA?!" Maya dan Sari berteriak berbarengan, membuat beberapa perawat di meja sebelah menoleh.

"Dila! Gila kamu hebat banget!" Maya menggebrak meja pelan dengan wajah berbinar. "Akhirnya! Akhirnya tumor itu diangkat juga!"

"Gimana ceritanya? Kok bisa Revan mau keluar? Dia kan keras kepala kayak batu!" tanya Sari penasaran.

Adila menceritakan secara detail tentang perjanjian pra-nikah yang ia keluarkan, tentang wajah pucat Revan saat tahu dia akan kehilangan aset, hingga drama koper yang diseret Bi Ijah ke pintu pagar.

"Mampus!" Sari mengumpat dengan keras. "Rasakan itu! Makanya jadi laki-laki jangan plin-plan! Punya istri berlian kayak kamu malah milih kerikil yang pura-pura hamil anak orang lain. Dan si Meisya itu... aduh, aku ingin sekali melihat mukanya pas diusir. Pasti kayak tikus kejepit!"

"Sumpah, Dila, aku bangga banget sama kamu," Maya memegang tangan Adila dengan haru. "Wanita itu kalau sudah disakiti emang harusnya begini. Jangan mau diinjak-injak terus pakai alasan 'bakti sama suami'. Bakti itu untuk suami yang tahu diri, bukan yang memelihara pelakor di depan mata!"

"Betul!" Sari menimpali. "Terus Revan gimana pas kamu usir?"

"Dia memohon-mohon," sahut Adila dengan tawa hambar. "Dia bilang Meisya akan dipindahkan ke rumah mamanya saja asal dia boleh tetap tinggal bersamaku. Lucu, kan? Dia baru sadar setelah semuanya terlambat. Aku bilang ke dia, aku sudah muak melihat dia memegang tangan Meisya di rumah sakit kemarin. Diagnosisku sudah final: dia bukan lagi laki-laki yang layak jadi suamiku."

"Kurang ajar banget emang si Revan itu," Maya menggelengkan kepala. "Tapi Dila, kamu harus hati-hati. Mertuamu itu pasti nggak akan tinggal diam. Dia pasti bakal menyerangmu lewat sosial media atau bahkan datang ke rumah sakit ini lagi."

Adila menyesap tehnya dengan tenang. "Biarkan saja. Aku sudah menyiapkan tim hukum yang kuat. Dan soal rumah sakit... aku punya Dr. Adrian. Sepertinya dia tahu lebih banyak dari yang kita duga."

Mendengar nama Dr. Adrian, Maya dan Sari langsung berpandangan dengan wajah usil.

"Ngomong-ngomong soal Dr. Adrian," Sari menyenggol lengan Adila. "Kamu sadar nggak sih kalau kemarin dia bener-bener belain kamu di depan mereka? Itu Ice Prince rumah sakit lho, Dila. Dia nggak pernah urusin masalah pribadi orang lain sebelumnya."

Adila terdiam sejenak. Ingatan tentang kopi kaleng dingin dan kalimat dr. Adrian soal server CCTV kembali terngiang di kepalanya. "Dia memang aneh. Tapi setidaknya, dia sekutu yang berguna saat ini."

"Bukan cuma berguna, Dila. Dia kayaknya naksir deh!" Maya menggoda.

"Hus! Jangan sembarangan," Adila menyela, meski pipinya sedikit merona. "Aku baru saja mau cerai, jangan bahas laki-laki lain dulu."

"Justru itu! Buang yang lama, ambil yang berkualitas!" canda Sari.

Tiba-tiba, suara interkom rumah sakit berbunyi, memanggil nama Dokter Muda Adila untuk segera kembali ke bangsal Obgyn. Adila berdiri, merapikan jasnya, dan menatap kedua sahabatnya.

"Aku kembali kerja dulu. Hari ini jadwalku padat, dan aku tidak ingin membuang satu detik pun untuk memikirkan orang-orang dari masa laluku itu."

Adila berjalan keluar dari kafetaria dengan langkah mantap. Di koridor, beberapa koas dan perawat menyapanya, dan ia membalas dengan senyuman ramah yang tulus. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Adila tidak lagi merasa ada beban yang menyeret kakinya. Ia merasa bebas, berkuasa, dan siap menghadapi apa pun yang terjadi selanjutnya.

Di sisi lain rumah sakit, tanpa Adila sadari, Dr. Adrian berdiri di balik jendela kaca ruangannya, menatap sosok Adila yang berjalan di taman rumah sakit. Ia memegang sebuah map yang berisi data pendaftaran gugatan cerai yang baru saja masuk ke sistem pengadilan agama.

"Pilihan yang tepat, Adila," gumam Dr. Adrian dengan suara dinginnya yang misterius. "Tumor memang harus segera dibuang sebelum menjadi kanker yang mematikan."

1
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
Eric ardy Yahya
MAMPUS KAU REVAN , makanya jadi orang jangan kayak MONYET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!