NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.

Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.

Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.

Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.

Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !

Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.

baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Kafe Tanpa Milky

...​Malam itu, Arkan masuk ke Dark Moon Maid Cafe dengan langkah yang mantap....

... Dia mengenakan jas hitam yang rapi, seperti biasa. ...

...Begitu pintu kafe terbuka, suara musik yang ceria dan sapaan para pelayan langsung menyambutnya....

...​"Selamat datang, Tuan!" sapa seorang pelayan dengan ramah....

...​Arkan tidak membalas sapaan itu. Dia hanya mengangguk singkat dan langsung berjalan menuju lantai dua, ke arah ruang VVIP nomor satu yang biasa dia gunakan. ...

...Pikirannya sudah tertuju pada teh hangat dan obrolan ringan dengan Milky yang bisa membantunya melupakan penatnya pekerjaan di kantor....

...​Begitu sampai di depan pintu ruang VVIP, Arkan berhenti. Dia tidak mengetuk, tapi langsung mendorong pintu tersebut....

...​Ruangan itu kosong. Gelap dan sunyi....

...​Arkan mengernyitkan dahi. ...

...Dia masuk ke dalam dan menyalakan lampu. Meja marmer di tengah ruangan masih bersih, tidak ada cangkir teh yang sudah siap, dan tidak ada sosok Milky yang biasa menyambutnya dengan senyum lebar....

...​Arkan keluar lagi dan mendapati Manajer Tedi sedang berjalan di koridor....

...​"Tedi!" panggil Arkan dengan suara tegas....

...​Manajer Tedi segera datang menghampiri. "Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"...

...​"Di mana Milky?" tanya Arkan langsung....

...​Manajer Tedi tampak gugup. Dia menggosok tangannya sendiri....

... "Oh, itu... Tuan. Milky tidak masuk malam ini."...

...​Arkan menatap tajam ke arah Tedi. ...

..."Kenapa? Saya sudah bayar biaya eksklusif bulan ini. Kenapa dia tidak ada?"...

...​"Iya, saya tahu, Tuan," jawab Tedi sambil menunduk. ...

..."Tapi Milky tadi siang mengirim pesan. Dia bilang dia sedang sakit dan tidak bisa bekerja untuk hari ini. Dia minta maaf sekali."...

...​Arkan diam....

... Rasa kesal muncul di dadanya. Dia melirik ke arah pintu ruangan VVIP yang terbuka....

... "Sakit? Sakit apa?"...

...​"Dia tidak menjelaskan secara detail, Tuan. Katanya hanya kelelahan biasa," jawab Tedi....

...​Arkan menghela napas panjang. Dia tidak membalas ucapan Tedi. Dia langsung masuk kembali ke dalam ruang VVIP dan menutup pintu dengan cukup keras, meninggalkan Tedi yang berdiri kebingungan di luar....

...​Di dalam ruangan, Arkan duduk di sofa. ...

...Dia menatap meja kosong di depannya. Ruangan ini terasa sangat luas dan sepi. ...

...Biasanya, Milky akan masuk dalam hitungan detik setelah dia duduk, membawa teh dan memulai obrolan yang menurut Arkan awalnya konyol, tapi sekarang justru sangat dia nantikan....

...​Tiba-tiba, seorang pelayan lain mengetuk pintu dan masuk. Itu bukan Milky....

...​"Permisi, Tuan. Apa Tuan ingin memesan sesuatu? Atau ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan sopan....

...​Arkan menatap pelayan itu dengan tatapan dingin. "Saya tidak minta bantuan kamu."...

...​"Tapi Tuan, saya pelayan yang bertugas malam ini untuk—"...

...​"Saya bilang keluar!" potong Arkan dengan suara meninggi....

...​Pelayan itu terkejut dan segera keluar dari ruangan sambil menunduk minta maaf....

... Arkan menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata. Dia merasa sangat frustrasi. ...

...Dia sudah membayangkan malam ini akan berjalan seperti biasa, tapi ternyata rencananya gagal total....

...​Arkan mengambil ponselnya. Dia berniat mengirim pesan kepada sekretarisnya, Rania, untuk menanyakan kondisi kesehatannya. ...

...Tapi kemudian dia berhenti....

... Kenapa aku harus peduli sama dia? Dia juga sedang sakit di rumah. Mungkin dia sedang istirahat, pikirnya....

...​Arkan meletakkan kembali ponselnya. ...

...Dia menatap cangkir teh kosong di depannya. Tanpa Milky, teh ini rasanya tidak ada gunanya. Dia menyadari bahwa dia sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan pelayan itu. ...

...Milky adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa rileks setelah seharian menghadapi tekanan di kantor....

...​Arkan memanggil pelayan lagi. Kali ini pelayan yang berbeda datang....

...​"Tuan?"...

...​"Saya ingin minum wiski. Sediakan botolnya di sini. Dan setelah itu, jangan ada yang berani masuk ke ruangan ini lagi," kata Arkan dengan nada datar....

...​"Baik, Tuan."...

...​Tak lama kemudian, wiski pun datang. Arkan meminumnya sendiri. Dia duduk di ruangan itu dalam kegelapan yang sunyi....

... Dia mencoba mengerjakan beberapa hal di ponselnya, tapi dia tidak bisa fokus. Pikirannya terus kembali ke Rania....

...​Apakah Rania juga sedang sakit parah?...

...​Arkan tidak bisa berhenti memikirkan Rania. Dia teringat bagaimana Rania pingsan tadi pagi di kantornya. ...

...Dia teringat wajah pucat Rania saat dia memberinya bubur. Dan sekarang, dia memikirkan Milky yang juga tidak masuk karena sakit....

...​Apakah ini kebetulan? tanya Arkan dalam hati....

...​Arkan segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Rania adalah sekretaris magang yang payah, dan Milky adalah pelayan kafe yang ceria. Mereka adalah dua orang yang sama sekali berbeda....

...​Arkan meminum wiskinya lagi. Dia merasa sangat hampa. ...

...Dia merasa seperti ada yang hilang dari harinya. Tanpa Milky, kafe ini terasa seperti tempat yang membosankan dan berisik....

... Dia tidak peduli lagi dengan biaya eksklusif yang sudah dia bayar mahal. Dia hanya ingin Milky ada di depannya, menertawakan hal-hal kecil, dan menyeduh teh untuknya....

...​Dia melihat ke arah pintu. Dia berharap pintu itu terbuka dan Milky muncul dengan wig cokelatnya dan senyum stroberinya. Tapi tidak ada yang datang....

...​Arkan merasa sangat bodoh. Dia, seorang CEO sukses yang disegani banyak orang, merasa sangat kesepian hanya karena seorang pelayan tidak masuk kerja. Dia merasa seperti pria yang kehilangan arah....

...​Dia mencoba menonton beberapa video di ponselnya, tapi dia cepat bosan. ...

...Dia mencoba menelepon rekannya untuk membicarakan bisnis, tapi dia tidak punya tenaga....

...​Arkan akhirnya hanya duduk di sana, menatap dinding. Dia menyesali keputusannya untuk datang ke kafe malam ini. Seharusnya dia tetap di rumah atau di kantor mengerjakan sesuatu yang lebih berguna....

...​Waktu terasa berjalan sangat lambat. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam....

... Biasanya, jam segini Milky sudah menceritakan banyak hal tentang mimpinya atau tentang teman-teman di kafenya. Arkan biasanya akan mendengarkan dengan malas, tapi diam-diam dia menikmati itu....

...​Arkan berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia melihat ke arah jalanan Jakarta yang ramai. Banyak orang yang sedang bersenang-senang di malam Minggu ini, sementara dia terjebak di ruangan yang sepi ini....

...​Dia kembali duduk di sofa dan melihat ponselnya lagi. Dia benar-benar ingin menelepon Rania. Dia ingin tahu apakah sekretarisnya itu sudah makan atau belum....

...​Dia mengetik pesan singkat: 'Kamu sudah makan?'...

...​Tapi kemudian dia menghapusnya. 'Jangan terlihat terlalu peduli, Arkan,' gumamnya pada diri sendiri....

...​Dia mengetik lagi: 'Pastikan besok kamu sudah sehat untuk masuk kerja.'...

...​Dia menghapusnya lagi....

...​Arkan membuang ponselnya ke atas meja. Dia merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa dia harus pusing dengan hal ini? Dia adalah pria yang tidak peduli dengan perasaan orang lain, tapi sekarang dia merasa kacau hanya karena seseorang tidak masuk kerja....

...​Arkan meminum sisa wiskinya dan berdiri. Dia tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. Dia merasa ruangan ini semakin menyesakkan....

...​Dia berjalan keluar dari ruangan VVIP tanpa melihat ke belakang. Dia melewati Manajer Tedi yang sedang berjaga di dekat tangga....

...​"Tuan, mau pulang?" tanya Tedi dengan sopan....

...​"Ya," jawab Arkan singkat....

...​"Besok Tuan akan datang lagi?" tanya Tedi dengan hati-hati....

...​Arkan berhenti sejenak. Dia tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya berjalan keluar kafe dan menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan....

...​Arkan masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya di jok. Dia menutup matanya. Dia berharap besok saat dia masuk ke kantor, dia akan melihat Rania sudah sehat dan kembali bekerja. Dan dia juga berharap besok malam, dia akan melihat Milky kembali menyambutnya di kafe....

...​Arkan menyadari satu hal malam ini: dia benar-benar membutuhkan kedua orang itu di hidupnya. Rania untuk mengurus pekerjaannya, dan Milky untuk mengurus hatinya. Dia tidak tahu apakah dia bisa bertahan jika salah satu dari mereka terus menghilang....

...​Mobil itu pun melaju membelah malam Jakarta, membawa Arkan pergi meninggalkan kafe yang terasa sangat hampa bagi dirinya. Dia hanya bisa berharap besok pagi akan membawa kabar baik....

1
Watini Salma
kalau sekarang MLM Minggu berarti besok kantor libur dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!