SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan yang Menolak Pewaris
Bab 27: Warisan yang Menolak Pewaris
Kabut hitam yang menyelimuti ruang utama makam perlahan berputar mengikuti denyut energi yang keluar dari singgasana batu di tengah aula.
Seluruh ruangan dipenuhi ukiran naga hitam yang seolah hidup. Mata mereka memantulkan cahaya merah redup, mengawasi setiap makhluk yang berani melangkah lebih jauh.
Ethan Mahendra berdiri beberapa langkah dari singgasana.
Tatapannya tenang.
Namun pikirannya bekerja cepat.
"Ini bukan makam biasa."
Energi yang memenuhi tempat itu terlalu murni.
Bahkan di Dunia Kultivasi, hanya makam milik seorang Raja Abadi atau Kaisar Abadi yang mampu mempertahankan tekanan spiritual selama ribuan tahun.
Tetapi...
Ada sesuatu yang tidak cocok.
Energi ini...
Tidak sepenuhnya berasal dari dunia modern.
Seolah-olah ruang ini dipotong langsung dari dunia lain lalu disegel ke dalam bumi.
Di belakang Ethan, Maya mengusap darah di sudut bibirnya.
"Aku tidak suka tempat ini."
Suara gadis itu nyaris berbisik.
"Tempat ini seperti... hidup."
Ethan tidak membantah.
Karena ia merasakan hal yang sama.
Bukan aura pembunuh.
Melainkan...
Kesadaran.
Seseorang sedang memperhatikan mereka.
Langkah kaki bergema.
Bukan milik Ethan.
Bukan pula Maya.
Melainkan suara dari balik singgasana.
Tok...
Tok...
Tok...
Kabut terbelah.
Seorang lelaki tua muncul perlahan.
Rambutnya putih panjang.
Jubah hitam bersulam naga.
Matanya kosong tanpa bola mata, hanya cahaya abu-abu yang berputar seperti pusaran.
Namun tubuhnya transparan.
Roh.
Bukan manusia hidup.
Maya langsung bersiap.
Pedangnya terhunus.
"Siapa kau?"
Roh tua itu tidak menjawab.
Tatapannya hanya tertuju kepada Ethan.
Lama.
Sangat lama.
Lalu bibirnya bergerak.
"...lima ratus tahun."
Suara itu serak.
"...akhirnya kau kembali."
Maya membelalakkan mata.
"Kalian saling mengenal?"
Ethan justru menggeleng pelan.
"Aku belum pernah melihatnya."
Namun...
Nada suara itu terasa aneh.
Seolah berasal dari masa yang telah lama hilang.
Roh tua itu tersenyum tipis.
"Tentu saja kau tidak mengingatku."
"Karena saat itu... kau bahkan belum menjadi Kaisar."
Jantung Maya berdegup keras.
Sedangkan Ethan tetap diam.
Kalimat itu terlalu berbahaya.
Bagaimana roh ini mengetahui masa lalunya?
"Ethan Mahendra."
"Itu bukan nama pertamamu."
"Tetapi jiwamu tidak berubah."
Kabut di sekitar roh mulai bergetar.
Bayangan demi bayangan muncul di udara.
Gunung yang hancur.
Langit dipenuhi petir emas.
Laut darah.
Puluhan ribu kultivator berlutut.
Di atas mereka...
Berdiri seorang pria berjubah hitam.
Pedang panjang di tangan kirinya.
Langit sendiri seperti tunduk.
Maya menatap bayangan itu dengan napas tercekat.
"Itu..."
Roh tua mengangguk.
"Bayangan masa lalu."
Tatapan Ethan tidak berubah.
Namun dalam hatinya muncul gelombang kecil.
Itu memang dirinya.
Ketika masih menjadi Kaisar Bayangan.
Tetapi...
Pemandangan itu bukan perang terakhir yang ia ingat.
Berarti...
Masih ada bagian sejarah yang hilang.
"Aku adalah Penjaga Makam."
"Namaku Xu Ran."
"Aku melayani Kaisar Bayangan pertama."
Kalimat itu membuat Ethan akhirnya sedikit mengernyit.
Pertama?
Berarti...
Ada lebih dari satu Kaisar Bayangan.
Xu Ran melanjutkan.
"Gelar Kaisar Bayangan bukan milik satu orang."
"Itu adalah warisan."
"Masing-masing pewaris dipilih oleh makam."
Maya memandang Ethan.
"Kau tidak pernah tahu?"
Ethan menjawab singkat.
"Tidak."
Saat hidup sebelumnya, ia memperoleh gelar itu setelah menaklukkan seluruh musuh.
Tak seorang pun pernah menjelaskan asal-usulnya.
Xu Ran tertawa pelan.
"Tentu."
"Pewaris terakhir memang keras kepala."
"Dia tidak pernah suka mendengar cerita lama."
Singgasana batu mulai bergetar.
Retakan cahaya hitam muncul.
Perlahan...
Lantai terbuka.
Dari dalam muncul sebuah peti batu sepanjang dua meter.
Peti itu dipenuhi rantai emas.
Di setiap rantai terdapat segel kuno.
Xu Ran menunduk.
"Warisan menunggumu."
"Tetapi..."
Tatapannya berubah tajam.
"Warisan tidak pernah diberikan cuma-cuma."
Seketika tekanan luar biasa memenuhi ruangan.
Boom!
Maya langsung berlutut.
Dadanya sesak.
Bahkan bernapas terasa sulit.
Tubuh Ethan juga terasa berat.
Namun ia tetap berdiri.
Xu Ran mengangkat satu tangan.
"Jika ingin menerima warisan..."
"Kalahkan penjaga terakhir."
Retakan muncul di peti batu.
Suara logam berderit menggema.
Lalu...
Rantai satu demi satu putus.
Dentang!
Dentang!
Dentang!
Aura mengerikan meledak keluar.
Kabut berubah menjadi pusaran hitam.
Sebuah tangan perlahan keluar dari dalam peti.
Kulitnya seperti batu obsidian.
Dipenuhi tulisan emas.
Sesosok pria tinggi bangkit.
Matanya tertutup kain hitam.
Di punggungnya tergantung pedang raksasa.
Xu Ran berkata pelan.
"Dia tidak hidup."
"Tidak mati."
"Hanya menjalankan satu tugas."
"Penjaga Warisan."
Mata Ethan menyipit.
Aura penjaga itu...
Berada jauh di atas Alam Pengumpulan Qi.
Namun belum mencapai Alam Inti Emas.
Kemungkinan...
Alam Pendirian Fondasi Bintang Tiga atau Empat.
Perbedaan kekuatan terlalu besar.
Maya menggertakkan gigi.
"Bagaimana mungkin kita menang?"
Xu Ran tidak menjawab.
Penjaga batu mengangkat pedangnya.
Sekali ayunan.
BOOM!!
Lantai sepanjang puluhan meter pecah.
Gelombang angin menghantam Ethan dan Maya.
Mereka melompat ke dua arah berbeda.
Debu memenuhi ruangan.
Ethan segera menganalisis.
"Gerakannya lambat."
"Tetapi tenaga fisiknya luar biasa."
"Pedangnya terlalu berat."
"Aku tidak boleh bentrok langsung."
Penjaga menyerbu.
Langkahnya mengguncang tanah.
Ethan bergerak memutar.
Pedang batu kembali turun.
Ledakan demi ledakan menghancurkan lantai.
Namun...
Tak satu pun mengenai Ethan.
Maya memanfaatkan kesempatan itu.
Ia membentuk tiga segel tangan.
Belasan bilah es melesat.
Crack!
Seluruhnya hancur bahkan sebelum menyentuh tubuh penjaga.
"Itu mustahil!"
Maya menggigit bibir.
Pertahanan monster itu terlalu keras.
Ethan memperhatikan lebih saksama.
Lalu matanya berhenti pada kain hitam yang menutupi mata penjaga.
"...begitu."
Ia akhirnya mengerti.
"Itu bukan penutup."
"Itu segel."
Xu Ran tersenyum tipis.
"Kau memang berbeda."
Penjaga kembali menyerang.
Namun kali ini Ethan justru maju.
Maya berteriak.
"Ethan!"
Pedang raksasa turun.
Sesaat sebelum mengenai tubuhnya...
Ethan menggeser tubuh hanya beberapa sentimeter.
Pedang menghantam lantai.
Dalam sepersekian detik...
Tangannya menyentuh kain hitam itu.
Robek!
Segel terlepas.
Untuk pertama kalinya...
Penjaga membuka mata.
Bukan mata manusia.
Melainkan dua bola cahaya putih.
Tubuhnya tiba-tiba berhenti.
Pedangnya terjatuh.
Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang.
Xu Ran menutup mata.
"Akhirnya..."
"Seribu tahun..."
"Tugasmu selesai."
Tubuh penjaga berubah menjadi partikel cahaya.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada jeritan.
Hanya keheningan.
Maya terpaku.
"Kau... tahu kelemahannya sejak awal?"
Ethan menggeleng.
"Tidak."
"Aku hanya melihat ada sesuatu yang tidak wajar."
"Lalu mencobanya."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Padahal keputusan tadi membutuhkan keberanian luar biasa.
Jika salah...
Ia pasti mati.
Saat penjaga menghilang...
Peti batu terbuka sepenuhnya.
Di dalamnya tidak ada senjata.
Tidak ada kitab.
Hanya...
Sebuah cincin hitam sederhana.
Tidak memancarkan aura sedikit pun.
Xu Ran berkata lirih.
"Itulah Cincin Bayangan."
"Artefak warisan setiap Kaisar."
Ethan mengambilnya.
Begitu cincin menyentuh jarinya...
Seluruh makam berguncang hebat.
BOOOOM!!
Lautan energi hitam menyembur dari segala arah.
Maya terpental beberapa meter.
Xu Ran justru tersenyum.
"Warisan telah memilih."
"Tetapi..."
Wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
Tatapannya mengarah ke langit-langit makam.
"Terlambat."
Ethan ikut mendongak.
Retakan besar muncul di kubah batu.
Namun...
Bukan karena kekuatan makam.
Melainkan...
Seseorang sedang menghancurkannya dari luar.
Ledakan kedua terdengar.
KRAAAAK!
Langit-langit runtuh.
Batu sebesar rumah berjatuhan.
Di balik debu...
Muncul enam sosok berjubah putih.
Di dada mereka terdapat lambang matahari emas.
Pemimpin mereka melangkah ke depan.
Seorang pria paruh baya dengan rambut perak dan tombak panjang.
Tatapannya langsung tertuju pada cincin di tangan Ethan.
"Jadi..."
"Kami tidak terlambat."
Pria itu tersenyum dingin.
"Serahkan Warisan Kaisar Bayangan."
"Atau seluruh makam ini akan menjadi kuburan kalian."
Xu Ran memucat.
Suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
"...Sekte Surya Putih."
"Mereka akhirnya menemukan tempat ini..."
Ethan menggenggam cincin hitam itu erat-erat.
Sementara jauh di dalam cincin tersebut...
Sebuah suara kuno perlahan terbangun.
"Pewaris... bersiaplah."
"Perang yang menghancurkan dua dunia... akan dimulai sekali lagi."