NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham Di Tengah Malam

Malam mulai menyelimuti Alexander Manor.

Setelah mengantar Andrea hingga ke pintu depan, Ralph berdiri beberapa saat di teras.

Mobil wanita itu perlahan menghilang di balik gerbang besi.

Ralph mengembuskan napas pelan.

Hari itu terasa sangat panjang.

Ia hendak menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang tertunda.

Namun langkahnya terhenti ketika melewati kamar Emma.

Pintu kamar itu sedikit terbuka.

Ralph mengerutkan kening.

"Kenapa tidak dikunci?"

Ia mengetuk pelan.

Tok.

Tok.

"Ella?"

Tidak ada jawaban.

Ralph mendorong pintu sedikit.

Ruangan itu remang-remang.

Hanya cahaya televisi yang masih menyala menerangi kamar.

Pandangannya langsung tertuju ke arah sofa dekat jendela.

Emma tertidur di sana.

Tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis.

Rambut pirangnya sedikit berantakan menutupi sebagian wajah.

Remote televisi masih berada di samping tangannya.

Ralph menghela napas kecil.

"Baru beberapa menit menonton sudah tertidur."

Ia berniat memanggil Hannah.

Namun setelah berpikir sejenak...

Ralph melangkah mendekat.

Kalau dibiarkan tidur di sofa semalaman, tubuh Emma pasti akan terasa pegal keesokan harinya.

Dengan hati-hati ia membungkukkan badan.

Satu tangan menopang punggung Emma.

Satu tangan lagi berada di bawah lututnya.

Lalu...

Perlahan ia mengangkat tubuh istrinya.

Ringan.

Jauh lebih ringan daripada yang ia bayangkan.

Emma bergumam pelan dalam tidurnya.

Namun tidak terbangun.

Ralph berjalan menuju tempat tidur.

Tatapannya sesekali jatuh pada wajah Emma yang terlihat jauh lebih tenang saat tertidur.

Tidak ada tatapan tajam.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada amarah.

Wanita itu tampak begitu damai.

"Kalau sedang tidur..."

gumam Ralph pelan.

"...kau memang tidak menyebalkan."

Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat tipis.

Ralph mulai menurunkan tubuh Emma ke atas kasur.

Namun tepat saat punggung Emma menyentuh kasur...

Kelopak matanya perlahan terbuka.

Butuh beberapa detik bagi Emma untuk menyadari keadaan.

Lalu...

Dilihatnya wajah Ralph yang berada sangat dekat.

Mata Emma langsung membelalak.

"Apa.."

Refleks.

Buk!

Buk!

Buk!

Kedua tangannya spontan memukul dada Ralph.

"Hei!"

Ralph sama sekali tidak menduga reaksi itu.

Karena kehilangan keseimbangan...

Tubuhnya ikut terdorong ke depan.

Bruk!

Mereka berdua jatuh di atas tempat tidur.

Emma semakin panik.

"Jangan dekat-dekat!"

Ia kembali mendorong bahu Ralph.

"Kau sengaja, ya?!"

Ralph segera menopang tubuhnya agar tidak benar-benar menimpa Emma.

"Sengaja apa?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!"

Emma menatapnya dengan wajah memerah.

"Kau mau berbuat yang aneh-aneh denganku!"

Kalimat itu membuat Ralph terdiam.

Beberapa detik.

Lalu wajahnya berubah datar.

"Jadi..."

ucapnya perlahan.

"...kau mengira aku sengaja masuk ke kamarmu untuk berbuat mesum?"

Emma yang masih panik langsung menjawab,

"Iya, kau sengaja memanfaatkan disaat aku tertidur pulas!"

Tatapan Ralph mendadak menjadi lebih tajam.

Ia bangkit sedikit, menjaga jarak yang pantas, tetapi tetap menatap Emma.

"Itu sebuah penghinaan."

Emma ikut terdiam.

Ralph melanjutkan dengan suara tenang namun tegas.

"Bagaimana mungkin kau menuduhku seperti itu?"

"Aku memang masuk ke kamar ini."

"Aku memang mengangkatmu."

"Karena kau tertidur di sofa."

Ia berhenti sejenak.

"Lagipula..."

Nada suaranya semakin rendah.

"...kau adalah istriku."

Emma membeku.

"Secara hukum."

"Secara agama."

"Secara keluarga."

"Aku tidak perlu menyelinap untuk melakukan sesuatu kepada istriku sendiri."

Kalimat itu menghantam Emma.

Baru kali ini ia benar-benar tersadar.

Benar.

Di mata Ralph...

Ella adalah istrinya yang sah.

Ucapan Ralph tidak terdengar sebagai ancaman.

Lebih seperti bantahan terhadap tuduhan yang menurutnya sangat tidak adil.

Emma langsung gugup.

"O-oh..."

Pikirannya bekerja cepat.

Ia hampir saja membuat keadaan semakin buruk.

Lalu tiba-tiba...

Emma mengusap wajahnya.

Tatapannya berubah bingung.

"Hah...?"

Ia berkedip beberapa kali.

Kemudian menatap Ralph seolah baru benar-benar sadar.

"Kau..."

Ralph mengernyit.

"Ada apa?"

Emma mengembuskan napas lega dengan dramatis.

"Astaga..."

"Aku kira..."

"Kau siapa?"

Ralph terdiam.

"Aku baru bangun."

Emma menggaruk pelan kepalanya.

"Aku bermimpi ada orang asing masuk ke kamar."

"Mungkin karena itu aku refleks memukulmu."

Ia menundukkan kepala.

"Maaf."

Ralph menatap Emma beberapa saat.

Alasan itu terdengar masuk akal.

Emma memang baru saja terbangun dari tidur.

Setelah beberapa detik...

Ekspresi Ralph akhirnya sedikit melunak.

"Lain kali..."

"Kunci pintumu kalau kau sedang tidur."

Emma mengangguk cepat.

"Iya."

"Dan jangan tidur di sofa."

"Baik."

Ralph berdiri.

Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat insiden barusan.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Istirahatlah."

Pintu kamar pun tertutup.

Klik.

Begitu Ralph benar-benar pergi...

Emma langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

Lalu menutup wajahnya dengan bantal.

"Ya Tuhan..."

bisiknya pelan.

"Hampir saja..."

Ia mengacak rambutnya frustrasi.

"Sedikit lagi aku bisa membongkar semuanya."

Di sisi lain, Ralph berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang.

Namun sudut bibirnya perlahan terangkat.

Entah mengapa...

Melihat Emma panik, marah, lalu buru-buru mencari alasan barusan justru terasa... menggemaskan.

Dan tanpa ia sadari...

Wanita yang beberapa hari lalu masih ia anggap hanya pasangan dalam sebuah pernikahan tanpa cinta...

Kini perlahan memenuhi hampir seluruh isi pikirannya.

Emma masih terduduk di atas tempat tidur.

Bantal yang tadi ia gunakan menutupi wajah kini tergeletak di sampingnya.

Ia mengembuskan napas panjang berkali-kali.

"Tenang..."

gumamnya lirih.

"Tenang, Emma."

Namun semakin ia berusaha menenangkan diri...

Semakin jelas dua kejadian memalukan hari itu berputar di kepalanya.

Ciuman singkat di ruang CEO.

Lalu...

Insiden di kamar barusan.

Emma memukul pelan dahinya sendiri.

"Kenapa semua hal memalukan terjadi dalam satu hari?"

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba...

Bzzz...

Ponselnya yang berada di atas nakas bergetar.

Emma menoleh.

Layar ponsel menyala.

Ella Calling...

Emma langsung menegakkan tubuhnya.

Tangannya refleks ingin meraih ponsel itu.

Namun berhenti di tengah jalan.

Ia menggigit bibir bawahnya.

"Aduh..."

"Aku belum siap."

Kalau sekarang ia mengangkat telepon...

Ella pasti langsung bertanya bagaimana keadaan disini.

Dan Emma tahu...

Ia tidak mungkin bisa menceritakan semua kejadian hari ini dengan wajah datar.

Terutama...

Tentang ciuman Ralph.

Dan insiden ketika Ralph menggendongnya ke tempat tidur.

Emma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Memalukan..."

Ponsel itu masih terus berdering.

Beberapa detik.

Lalu berhenti sendiri.

Ruangan kembali sunyi.

Emma memandang layar yang perlahan menggelap.

"Maaf, Ella."

bisiknya pelan.

"Malam ini aku benar-benar belum sanggup menjelaskan apa pun."

Ia mengambil ponselnya.

Jarinya sempat membuka ruang percakapan mereka.

Beberapa kali ia mengetik sesuatu.

"Maaf."

Hapus.

"Aku baik-baik saja."

Hapus.

"Nanti saja kita bicara."

Hapus lagi.

Pada akhirnya...

Emma mengunci kembali layar ponselnya tanpa mengirim satu pesan pun.

"Besok saja."

katanya pelan kepada dirinya sendiri.

"Aku akan bilang kalau aku ketiduran."

Itu memang bukan kebohongan sepenuhnya.

Ia benar-benar sempat tertidur.

Hanya saja...

Bukan itu alasan sebenarnya mengapa ia tidak berani menerima panggilan Ella malam ini.

Untuk pertama kalinya sejak pertukaran kehidupan mereka dimulai...

Emma merasa bersalah kepada saudari kembarnya.

Bukan karena gagal menjalankan perannya.

Melainkan karena batas antara kehidupan Ella dan kehidupannya sendiri mulai perlahan menjadi kabur.

Dan Emma tidak tahu...

Sampai kapan ia masih mampu menjaga rahasia itu tanpa melukai hati siapa pun.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!