Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepasang Sayap Iblis
Sonja berdiri termenung di teras kamarnya. Mata sendunya menatap hamparan pepohonan pinus yang mengelilingi kastil. Dari lantai tiga, pemandangan Hutan Fork terlihat begitu luas, sejauh mata memandang hanya deretan pohon pinus yang menjulang tinggi, sama seperti saat dulu ia tinggal bersama Alea.
Tanpa sadar, nama wanita itu kembali terlintas di benaknya. Bagaimana keadaan Alea sekarang? Apakah luka akibat serangan Arthur sudah pulih?
Sonja mengembuskan napas pelan. Seharusnya ia membenci Arthur atas semua kebohongan dan kekejamannya. Namun, entah mengapa perasaan itu tak pernah benar-benar tumbuh. Yang justru memenuhi pikirannya adalah wajah Cassa yang terus menempel pada Arthur.
Pemandangan saat sarapan tadi kembali terbayang jelas. Ketika ia sedang menikmati makanan bersama Arthur, Cassa tiba-tiba datang lalu tanpa malu merangkul lengan pria itu, seolah sengaja ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Meski Arthur sama sekali tidak menanggapi tingkah wanita itu, rasa kesal tetap menguasai hati Sonja hingga ia memilih meninggalkan ruang makan lebih dulu. Terlalu larut dalam pikirannya, Sonja tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara berat itu membuat Sonja sedikit terkejut. Dia menoleh sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah hutan.
"Sonja..."
"Jangan menggangguku. Aku sedang menikmati pemandangan."
"Berbaliklah dan tatap aku." Nada perintah Arthur membuat Sonja mendengus pelan. Dengan enggan ia berbalik menghadap pria itu.
Tanpa berkata apa-apa, Arthur meraih kedua tangan Sonja dan melingkarkannya di lehernya."Berpeganganlah erat."
"Untuk apa?"
"Aku akan menunjukkan pemandangan yang jauh lebih indah." Belum sempat Sonja bertanya lagi, tubuhnya tiba-tiba terangkat dari lantai.
Refleks Sonja memekik kaget dan memeluk leher Arthur sekuat tenaga. Sesaat kemudian matanya membulat tak percaya. Arthur sedang terbang.
Sepasang sayap hitam yang besar membentang megah di punggung pria itu. Bulu-bulunya berkilau diterpa cahaya matahari, terlihat begitu gagah sekaligus menakjubkan.
"A,apa itu sungguhan?" bisik Sonja dengan napas tercekat."Kau memiliki sayap?"
Arthur tersenyum tipis."Tentu saja sungguhan. Kalau tidak percaya, sentuhlah."
Dengan ragu Sonja mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh bulu hitam itu dengan hati-hati. Matanya kembali melebar."Halus sekali."
Meski mengepakkan sayapnya perlahan, Arthur tanpa sadar mempererat pelukannya agar Sonja tetap merasa aman."Meski kekuatan terkutuk ini belum sepenuhnya bangkit, aku sudah mampu menggunakan Black Wing's."
Sonja mengusap lembut bulu-bulu hitam itu, seolah takut merusaknya."Indah sekali."
Melihat kekaguman di wajah Sonja, senyum Arthur semakin lebar. Inilah yang memang ia inginkan. Namun, di balik semua itu, tersimpan tujuan lain yang belum diketahui gadis tersebut. Setelah beberapa saat, Arthur kembali mendarat. Napasnya terdengar sedikit lebih berat daripada biasanya.
"Kau kelelahan?" tanya Sonja.
"Hmm..." Arthur merebahkan kepalanya di pangkuan Sonja, menikmati lembutnya rambut panjang gadis itu yang sesekali menyentuh wajahnya.
Mengeluarkan Black Wing's menguras hampir separuh tenaganya. Itulah sebabnya ia jarang sekali memperlihatkan sayap itu kepada siapa pun.
"Arthur..."
"Hmm?"
"Apa Alea juga memiliki sayap sepertimu?"
Arthur membuka matanya."Tidak."
"Kenapa?"
"Karena Black Wing's hanya dimiliki olehku."
"Kenapa hanya kau?"
Arthur tersenyum hambar."Karena aku mewarisi kekuatan terkutuk itu, walaupun belum sempurna tetapi cukup untuk memiliki sayap iblis."
Sonja terdiam. Ia menunduk menatap Arthur yang masih bersandar nyaman di pangkuannya.
"Belum sempurna? Apa karena kau belum meminum darahku?"
"Benar." Jawaban itu meluncur tanpa keraguan.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?"
Arthur perlahan bangkit hingga kini mereka duduk saling berhadapan."Melakukan apa?"
"Meminum darahku."
Tatapan Arthur langsung berubah tajam."Jangan mulai lagi."
Sonja menelan ludah.
Dalam hati ia sempat berharap Arthur benar-benar telah mengubur dendamnya kepada Pangeran Alex."Kalau kau tidak meminum darahku, kau tidak akan memperoleh kekuatan itu. Berarti kau juga tidak akan bisa menyerang Alea." Seketika senyum kecil muncul di wajah Sonja. "Baguslah. Berarti kau mulai melupakan dendammu."
Arthur mengembuskan napas panjang."Aku benci membicarakan soal ini." Suaranya terdengar jauh lebih dingin."Aku tetap akan membangkitkan kekuatan terkutuk itu. Dendam tetaplah dendam, Sonja. Aku tidak mungkin melupakannya begitu saja."
Sonja terdiam.
"Tetapi aku tidak akan menggunakan darahmu." Ucapan itu membuat Sonja kembali mengangkat kepalanya.
"Aku sudah menemukan cara lain." Arthur mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. "Dan aku membutuhkan sedikit bantuanmu."
"Maksudmu?"
"Kalau kau membantuku dengan sukarela, kau akan memperoleh separuh kekuatan itu."
Sonja mengernyit.
"Bahkan kau bisa memiliki sayap sepertiku."
Mata Sonja membelalak."Maksudmu kau akan mengubahku menjadi vampir?"
Arthur menggeleng pelan."Aku tidak akan pernah mengubahmu menjadi monster haus darah."
"Lalu bagaimana mungkin aku memiliki kekuatan vampir?"
"Kau tetap manusia." Arthur menyunggingkan senyum tipis."Hanya saja, manusia dengan kekuatan yang melampaui manusia biasa."
Sonja menatap Arthur lekat-lekat."Jadi sejak awal kau sengaja memperlihatkan sayapmu agar aku bersedia membantumu?"
Senyum Arthur semakin lebar."Gadis pintar."
"Bagaimana caranya?"
"Nanti." Arthur bangkit berdiri sambil kembali menatap hutan yang membentang di hadapan mereka."Belum saatnya kau mengetahui semuanya."
***
"Apa kalian melihatnya? Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ternyata kabar itu bukan sekadar rumor. Pangeran benar-benar memiliki sayap hitam," ucap Greg dengan tatapan terpaku. Kekaguman terpancar jelas dari wajahnya. Baru kali ini dia melihat langsung sepasang sayap legendaris itu.
"Ini sudah kedua kalinya aku melihat itu, Pangeran memang sangat jarang memperlihatkan kedua sayapnya," sahut Victoria.
"Luar biasa, padahal dia bahkan belum meminum darah gadis manusia itu," gumam Greg, masih tak henti-hentinya memuji pemimpinnya.
"Dia adalah seorang Alpha. Apa kau lupa? Bahkan tanpa kekuatan terkutuk itu pun, dia sudah sangat kuat," jelas Victoria.
"Pangeran sepertinya benar-benar sedang jatuh cinta," tebak Yuno akhirnya.
"Apa maksudmu?" tanya Greg, belum memahami ucapan sahabatnya.
"Mengeluarkan Black Wing's bisa menguras habis tenaganya. Aku yakin sekarang dia sedang kelelahan. Bayangkan saja, hanya untuk membuat Sonja terkesima, dia rela melakukan hal seperti itu," jelas Yuno sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Vampir sekuat dia ternyata bisa bertekuk lutut karena seorang manusia biasa. Pantas saja sampai sekarang Pangeran belum juga meminum darah Sonja," timpal Victoria.
Tanpa mereka sadari, sesosok wanita cantik berdiri tak jauh dari sana, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ketiga vampir itu. Wanita itu adalah Cassa.
Rasa perih seketika menyelimuti hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca saat mendengar ucapan Yuno yang mengatakan bahwa Arthur telah jatuh cinta kepada Sonja. Apa yang dikatakan Yuno memang benar. Black Wing's dapat menguras habis kekuatan Arthur. Sayap terkutuk milik iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya itu bukanlah kekuatan yang bisa digunakan sembarangan. Namun yang paling menyakitkan bagi Cassa bukanlah kenyataan bahwa Arthur telah melemah. Melainkan alasan di baliknya.
Arthur rela mempertaruhkan tenaganya hanya untuk membuat Sonja terkesima. Kenapa harus seorang manusia? Kenapa bukan dirinya? Sonja hanyalah manusia lemah yang bahkan tidak memiliki kekuatan apa pun. Gadis itu hanya akan menjadi beban bagi Arthur. Lalu apa yang sebenarnya ada di pikiran Arthur hingga dia memilih Sonja?
Dengan hati yang hancur, Cassa berjalan menuju kamarnya. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar percakapan mereka. Begitu pintu kamar tertutup, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Isak tangis memenuhi ruangan, meluapkan seluruh rasa sakit yang selama ini dipendamnya.
"Putriku, sudahlah." Suara itu membuat Cassa menoleh. Entah sejak kapan Damian sudah berdiri di dalam kamarnya.
"Ayah." Tangis Cassa pecah semakin keras.
"Sudah. Hentikan tangisanmu."
"Sejak pertama kali aku melihat gadis itu, aku sudah tahu..." Cassa terisak. "Aku sudah tahu kalau suatu hari nanti aku akan kehilangan Arthur."
Ratapan putrinya membuat hati Damian ikut tersayat."Tolong hentikan tangisanmu, Cassa."
Cassa menggeleng pelan, air matanya terus mengalir."Ayah aku sangat mencintainya."
***
Dua vampir cantik dengan kepribadian yang saling bertolak belakang itu tampak mengawasi Hutan Fork, wilayah yang menjadi sarang para werewolf.
"Lea, apa kau yakin mencium aroma Sonja di hutan ini? Kau tahu kan, tempat apa ini?" tanya Elleanor sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aroma Sonja sangat kuat dari sini."
"Mungkin saja kau salah. Yang kucium hanya bau busuk para werewolf."
"Aku yakin Sonja ada di sekitar hutan ini," jawab Alea dingin. Wanita itu sudah sangat mengenali aroma Sonja. Ia pernah meminum darah gadis itu, sehingga mampu merasakan keberadaannya."Ayo. Kita harus memastikan."
"Tunggu, Lea. Kita harus melaporkannya lebih dulu kepada Pangeran Alex."
Alea mendengus pelan. Kesabarannya sudah habis. Sonja harus segera ditemukan sebelum semuanya terlambat. Elleanor kemudian memejamkan mata. Ia mulai menghubungi Pangeran Alex melalui telepati.
Sementara itu, Alea kembali menarik napas panjang. Arthur bukanlah vampir biasa. Dari jarak sejauh apa pun, pria itu mampu merasakan kehadiran musuh, terlebih jika mereka sudah berada sedekat ini.
"Kalau kau tidak mau masuk, biar aku saja. Kau tunggu di sini."
"Tidak! Jangan membuatku marah, Lea!" bentak Elleanor, mulai kehilangan kesabaran.
"Kalian sedang bertengkar, ya?"
Suara itu membuat Alea dan Elleanor tersentak. Tiga vampir yang merupakan bawahan Arthur telah berdiri di hadapan mereka. Beberapa werewolf juga ikut mengepung dari berbagai arah.
"Halo, Elle sayang, lanjutkan saja pertengkaran kalian. Kami cuma ingin menonton," ujar Yuno dengan seringai jahil.
Elleanor memutar bola matanya. Mengapa ia selalu saja harus berhadapan dengan makhluk mesum itu?
"Kau makin cantik saja, Elle."
"Diam, brengsek!" balas Elleanor ketus.
Greg dan Victoria hanya bisa menahan tawa. Rupanya Yuno memang tidak pernah jera menggoda Elleanor.
"Jangan buang waktu, Yuno," potong Victoria dengan nada dingin. "Pangeran sudah menunggu kedua pengintai ini, jadi kita harus selesaikan secepatnya."