"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Debu di Atas Pedang Kayu
Aroma tajam dari kayu pinus yang terbakar dan sejuknya embun pegunungan menyengat hidung Wei Changqing.
Sensasi itu begitu asing. Selama enam puluh tahun terakhir dalam hidupnya, udara yang ia hirup selalu berbau karat dan darah, abu mayat yang terbakar, dan racun mesiu dari medan perang Jianghu.
Ia membuka matanya perlahan. Dinding kayu yang lapuk, atap jerami yang miring dengan sarang laba-laba di sudutnya, serta sinar mentari pagi yang menerobos lewat celah jendela. Suara kicauan burung berpadu dengan teriakan berirama dari puluhan anak muda yang sedang berlatih kuda-kuda di halaman luar.
"Hiaa! Ha! Hiaa!"
Changqing bangkit dari ranjang kayu yang berderit keras. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya berbekas kapalan tipis—tangan seorang pemuda yang rajin berlatih, namun belum pernah merenggut nyawa manusia. Tidak ada bekas luka sabetan pedang beracun di lengan kirinya. Tidak ada kulit keriput yang dimakan usia.
Pria yang di masa depan ditakuti sebagai Mata Pedang Hijau itu gemetar. Jarinya menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang begitu kuat—jantung seorang pemuda berusia sembilan belas tahun.
"Aku... benar-benar berhasil," bisik Changqing. Suaranya tidak lagi serak dan berat seperti kakek tua, melainkan jernih dan penuh tenaga muda.
Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap sebelum tertimpa oleh beban ingatan yang berat. Changqing memejamkan matanya. Di dalam benaknya, bayangan senja berdarah di Gunung Langit Menangis masih terasa begitu nyata. Senyum terakhir Shen Yue sebelum wanita itu menghembuskan napas di pelukannya seolah baru terjadi lima menit yang lalu.
"Shen Yue... kau masih hidup di dunia ini. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menunggu di dalam bayang-bayang. Aku tidak akan membiarkan dunia menghancurkan mu."
Changqing menarik napas dalam-dalam, mencoba mengalirkan hawa murni ke pusat perutnya.
Seketika, ia tersenyum pahit. Aliran tenaga dalam di tubuh mudanya terasa begitu sempit dan lambat, seperti sungai kecil yang tersumbat lumpur. Fisiknya saat ini berada tepat di tingkat Pendekar Menengah Tahap 3.
Bagi sekte kecil seperti Sekte Lembah Bambu Biru tempatnya bernaung, tingkat ini sudah dianggap sebagai murid senior yang berbakat. Namun bagi Changqing yang pernah mencapai puncak Pendekar Nirwana, tenaga dalam ini terasa sangat rentan.
“Fisikku lemah, meridianku masih sempit,” batinnya sambil menggerakkan jari-jarinya dengan pola aneh. “Tapi...”
Saat ia memusatkan pikirannya, udara di dalam kamar kecil itu mendadak turun beberapa derajat. Sebuah aura yang sangat tajam, tak kasat mata namun mampu membuat bulu kuduk berdiri.
Meskipun tenaga dalamnya menyusut drastis, Kesadaran Jiwa dan Niat Pedangnya tetap utuh! Di dalam sepasang mata pemuda itu, sebuah kilatan cahaya hijau zamrud berputar sekilas sebelum kembali disembunyikan.
Brak!
Pintu kamar didorong terbuka dengan kasar. Seorang pemuda bertubuh gempal dengan seragam abu-abu sekte masuk sambil membawa pedang kayu latihan di pundaknya. Dia adalah Zhou Hao, rekan seperguruannya yang paling akrab di masa muda.
"Changqing! Kau ini niat latihan atau tidak?!" seru Zhou Hao sambil memegangi pinggang. "Paman Guru Lin sudah mengabsen di lapangan! Kalau kau terlambat lima menit lagi, kau bisa disuruh menimba air dari sumur bawah lembah sampai pinggangmu patah!"
Melihat wajah Zhou Hao yang segar dan sehat, sahabat yang di masa depan mati mengenaskan dengan kepala terpenggal pada tahun ketiga perang sekte, mata Changqing sempat memanas. Namun dengan cepat ia menguasai diri dan menyunggingkan senyum santainya.
"Aku kesiangan karena memikirkan cara mengalahkan mu di tanding latih nanti Hao," kata Changqing sambil menyambar pedang kayu yang bersandar di dinding.
"Cih, mimpi! Minggu lalu kau kalah tiga langkah dariku!" balas Zhou Hao tertawa. "Cepat keluar!"
Halaman utama Sekte Lembah Bambu Biru dipenuhi oleh sekitar tiga puluh murid yang penuh dengan keringat yang membasahi lantai batu. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan wajah tegas. Itu adalah Paman Guru Lin, seorang praktisi tingkat Pendekar Tinggi Tahap 1. Di masa lalu, Changqing menganggap Paman Guru Lin adalah sosok yang sangat hebat dan tak tertandingi.
Namun kini, saat Changqing melangkah masuk ke halaman, pandangannya berubah total.
Tanpa perlu mengaktifkan Mata Pedang Hijau, mata Changqing sudah melihat kebenaran alamiah. Ia melihat bahu kiri Paman Guru Lin sedikit miring karena cedera lama yang tidak dirawat dengan baik. Ia melihat aliran napas Paman Guru Lin tertahan di detik keempat setiap kali beliau memperagakan jurus Pedang Bambu Menyapu Angin.
‘Ada tujuh belas celah fatal dalam posisi berdiri Paman Guru,’ analisis Changqing. ‘Jika aku menggunakan ranting pohon dan menusuk titik di bawah ketiak kirinya dengan tenaga Pendekar Rendah sekalipun, beliau akan tumbang.’
Changqing segera menundukkan kepalanya, menyembunyikan tatapan matanya yang terlalu tajam dan menganalisis. Ia tahu, hukum nomor satu bagi dirinya saat ini adalah: Jangan menunjukan kebenaran sebelum waktunya.
"Wei Changqing! Karena kau datang paling akhir, maju ke tengah lapangan!" bentak Paman Guru Lin sambil menunjuk dengan sarung pedangnya. "Tunjukkan pemahamanmu tentang jurus ke-empat, Bambu Menunduk Badai. Zhou Hao, jadi lawan latihnya!"
"Baik, Paman Guru!" Zhou Hao melompat ke tengah lapangan dengan semangat, memasang kuda-kuda kokoh. "Jangan menangis kalau pedang kayumu patah lagi, Changqing!"
Para murid lain mulai bersorak memberi semangat.
Changqing berjalan dengan langkah ringan ke tengah lapangan. Ia mengangkat pedang kayunya. Dalam ingatan otot mudanya, jurus Bambu Menunduk Badai adalah jurus bertahan yang mengandalkan ayunan keras untuk menangkis.
‘Jurus dasar yang kasar dan membuang banyak tenaga,’ batin Changqing. ‘Kalau aku menangkis serangan Zhou Hao dengan cara biasa, pedang kayu ini pasti retak. Tapi kalau aku menunjukkan teknik Nirwana, Paman Guru akan curiga.’
"Aku datang!" teriak Zhou Hao.
Tubuh gempal Zhou Hao melesat maju. Pedang kayunya menebas dari atas ke bawah dengan tenaga penuh tingkat Pendekar Menengah Tahap 3. Angin bergemuruh tipis. Bagi murid lain, tebasan itu cepat dan bertenaga.
Namun di mata Changqing, gerakan Zhou Hao terasa sangat lambat—seperti seekor keong yang merayap di atas lumpur.
Changqing tidak mundur. Bahkan ia tidak mengerahkan tenaga dalam yang besar. Di detik tepat sebelum pedang Zhou Hao mengenai bahunya, pergelangan tangan Changqing berputar hanya dua inci. Pedang kayunya menyusup di sudut yang sangat mustahil, tidak membentur mata pedang Zhou Hao, melainkan menempel di bagian pangkal tumpul pedang lawan.
Srrk!
Dengan sedikit gesekan lembut yang memanfaatkan berat badan Zhou Hao sendiri, Changqing menuntun pedang lawan menyimpang ke samping. Sebelum Zhou Hao sempat menyadari keseimbangannya hilang, ujung pedang kayu Changqing sudah berhenti tepat satu milimeter di depan tenggorokan Zhou Hao.
Angin berhembus. Daun bambu gugur melintasi lapangan.
Seluruh halaman mendadak hening. Zhou Hao mematung dengan mata terbelalak, sementara keringat dingin menetes dari pelipisnya. Ia bahkan tidak melihat bagaimana pedang Changqing tiba-tiba sudah ada di lehernya.
Paman Guru Lin yang berdiri di pinggir lapangan sampai maju dua langkah, matanya menyipit dengan tajam. "Teknik mengalihkan tenaga lawan? Tidak... itu tadi bukan sekadar keberuntungan. Anak ini... sudut tebasannya begitu sempurna!"
Menyadari ia sedikit terlalu presisi, Changqing segera menarik pedangnya, lalu sengaja membuat kakinya sedikit tersandung seolah-olah ia hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Ia menggaruk kepalanya sambil tertawa canggung.
"Wuih! Hampir saja aku jatuh! Beruntung sekali tebasanku tadi pas kena celah pedangmu, Hao!" seru Changqing dengan nada kekanak-kanakan.
Hening pecah menjadi tawa para murid. "hahahahah"
"Cih! Dasar hoki!" gerutu Zhou Hao sambil mengelus dada, meyakini bahwa Changqing hanya kebetulan menang karena beruntung.
Paman Guru Lin kembali tenang, meskipun jauh di lubuk hatinya ia masih merasa ada sesuatu yang aneh dari ketenangan Wei Changqing tadi. "Cukup main-mainnya! Kembali ke barisan dan teruskan latihan!"
Changqing kembali ke barisan belakang. Ia menatap langit biru di atas lembah bambu. Langkah pertama telah dimulai. Ia berhasil menyembunyikan taringnya.
Kini, pikirannya mulai tertuju pada agenda yang sesungguhnya: Kota Lembah Hitam. Tempat di mana Akar Perang ketiga—bocah jenius yang kelak menjadi pembantai aliran sesat, Baii Ling—sedang berada dalam bahaya besar dalam beberapa hari ke depan.
"Waktu kita tidak banyak," bisik hati Changqing. "Roda takdir sudah mulai berputar."
lanjutkan Thor.....👍👍🙏