NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 ~ Tidak Menyembunyikan Apapun

Garra tidak menoleh sedikit pun. Tangannya tetap sibuk mengaduk bubur yang perlahan mulai mengental di dalam panci.

"Membuat sarapan."

Bi Rum mengerjap beberapa kali. "Tuan... biar saya saja."

"Tidak usah."

"Tapi—"

"Saya yang akan membuatnya."

Jawaban Garra tetap singkat, namun tidak memberi ruang untuk dibantah.

Bi Rum hanya bisa menghela napas pelan. Ia sudah sangat mengenal sifat tuannya. Sekali Garra memutuskan sesuatu, tidak akan mudah diubah.

Wanita paruh baya itu akhirnya mendekat ke meja dapur.

"Kalau begitu... apa ada yang bisa saya bantu?"

Garra menoleh sekilas ke arah rak bumbu.

"Garam."

Bi Rum segera mengambilnya dan menyerahkan ke tangan Garra. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali meminta lada bubuk, disusul minyak wijen, lalu daun bawang yang sudah diiris halus.

Tanpa banyak bicara, Bi Rum membantu menyiapkan semua yang dibutuhkan. Sesekali ia hanya memperhatikan Garra yang memasak dengan gerakan tenang dan terampil.

"Tuan ternyata pandai memasak," gumamnya tanpa sadar.

"Aku hanya membuat bubur."

"Tetap saja..." Bi Rum tersenyum tipis. "Sudah lama saya tidak melihat Tuan masuk dapur."

Garra tidak menanggapi. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk. Setelah memastikan suhunya tidak terlalu panas, ia meletakkan mangkuk itu di atas nampan bersama segelas air hangat dan obat yang tadi diresepkan dokter.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Garra mengangkat nampan tersebut lalu melangkah keluar dapur.

Bi Rum hanya memandangi punggung pria itu hingga menghilang di balik tangga. Entah sejak kapan... Garra menunjukkan rasa pedulinya yang begitu besar pada Hezlin. Bukan melalui kata-kata, melainkan lewat tindakan.

Namun meski begitu, bi Rum adalah orang ikut bahagia melihat semua perubahan tersebut.

••

Tok...

Tok...

Garra mengetuk pintu kamar Hezlin dua kali sebelum membukanya perlahan.

Di dalam, Hezlin tampak duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya hingga pinggang. Pandangannya langsung beralih ke arah pintu saat melihat Garra masuk sambil membawa sebuah nampan.

Keningnya berkerut pelan.

"Apa itu?"

Garra berjalan mendekat, lalu meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang.

"Dokter bilang kamu tidak boleh terlambat makan." jawabannya singkat.

Tanpa basa-basi, ia mengambil mangkuk itu kembali, mengaduknya pelan agar uap panasnya sedikit berkurang.

Hezlin mengernyit saat Garra menyendok bubur itu.

"Aku bisa makan sendiri."

Garra tidak menanggapi. Ia meniup bubur di sendok itu beberapa kali hingga uap panasnya berkurang, lalu kembali mengangkatnya ke depan bibir Hezlin.

"Buka mulutmu."

Hezlin menghela napas pelan. Tatapannya bertemu dengan sorot mata Garra yang tetap datar, namun penuh ketegasan. Ia tahu, percuma membantah. Pria itu tidak akan menyerah sebelum keinginannya dituruti.

Perlahan, Hezlin membuka mulutnya. Garra baru menyuapkan bubur itu dengan gerakan hati-hati, memastikan suhunya tidak lagi terlalu panas sebelum sesendok berikutnya kembali ia siapkan.

Hezlin mengunyah pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Garra.

Pria itu kembali mengambil sesendok bubur, meniupnya sebentar, lalu menyuapkannya lagi. Tidak ada percakapan. Garra hanya terus mengulang gerakan yang sama hingga setengah mangkuk bubur itu habis.

Hezlin makan dalam diam. Sesekali matanya melirik ke wajah Garra yang tetap datar, tak menunjukkan ekspresi berlebih, hanya fokus menyendok nasi ke mangkuknya.

Hingga entah suapan yang keberapa Hezlin akhirnya menggeleng pelan. "Aku sudah kenyang."

Garra menatapnya sebentar, sebelum meletakkan sendok ke dalam mangkuk dan menaruhnya ke meja kecil di samping ranjang. Lalu ia mengambil gelas berisi air hangat, menaruhnya perlahan di tangan Hezlin.

"Minumlah."

Hezlin menurut tanpa protes. Garra juga memberikan beberapa vitamin yang diberikan oleh dokter tadi. Beberapa tegukan ia ambil, lalu meletakkan kembali gelas itu ke tempatnya. Suasana kembali hening, hanya penuh dengan sesuatu yang belum sempat mereka ucapkan.

Garra masih duduk di tepi ranjang, tak beranjak. Hezlin menarik selimut sedikit lebih rapat, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kepala ranjang, lalu bertanya dengan suara yang nyaris berbisik.

"Pergilah. Aku bisa merawat diriku sendiri. Bukankah kamu juga harus pergi ke kantor?"

Garra tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi menyentuh tepi selimut sempat terhenti, lalu perlahan ia mengalihkan pandangan ke arah Hezlin.

"Tidak."

Hezlin menoleh sedikit, tak percaya. "Tapi kamu pasti punya banyak pekerjaan hari ini."

"Ervan akan mengurusnya." Jawabannya singkat, tegas, seolah hal itu adalah keputusan yang sudah bulat sejak awal, tak ada ruang untuk diperdebatkan.

Hezlin mengernyit pelan. "Kenapa?"

Kali ini Garra diam lebih lama. Tatapannya turun perlahan, berhenti sejenak pada perut Hezlin yang tertutup selimut, lalu naik kembali menatap mata istrinya lebih lembut dari sebelumnya, meski masih tersembunyi di balik ketenangannya.

"Karena kesehatanmu lebih penting."

Hezlin tertegun. Ia hanya menatap Garra lama sekali.

Pria yang selama ini hidupnya selalu berputar di antara tumpukan pekerjaan, jadwal padat, dan tanggung jawab yang tak berujung... kini dengan mudah menunda semuanya, hanya untuk tetap diam di sini. Di sampingnya.

Hezlin menunduk perlahan. Ujung jarinya meremas pinggiran selimut dengan lemah.

Ia tahu. Ia tahu betul di balik tatapan itu, di balik semua perhatian yang tiba-tiba ini, bukan ia yang menjadi alasannya.

Tapi nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam sana. Calon penerus yang selama ini mungkin diharapkan Garra, atau sekadar tanggung jawab yang harus ia jaga sebagai ayah.

Hati Hezlin terasa sesak, meski senyum tipis tak sengaja terbit di bibirnya, senyum yang getir, penuh kepahitan yang tak bisa ia ucapkan.

"Kamu tidak perlu berbohong, Garra..." suaranya begitu pelan, nyaris tak terdengar. Matanya tak berani menatap lagi, terpaku pada lipatan selimut di atas perutnya sendiri. "Aku tahu kamu di sini bukan untukku."

Ia menghela napas panjang, membiarkan kenyataan itu menghantam dadanya sekali lagi.

"Kamu hanya ingin memastikan janin ini baik-baik saja, kan?"

Suasana kembali hening seketika. Garra membeku. Tatapannya mengunci wajah Hezlin yang menunduk, seolah baru saja mendengar hal yang paling tidak terduga keluar dari mulut wanita itu.

Garra tidak langsung bicara. Napasnya tertahan sejenak, lalu ia menghela napas pelan. Bukan kesal, tapi seolah baru menyadari betapa dalamnya keraguan yang selama ini bersembunyi di hati Hezlin.

Tangannya bergerak perlahan, menyentuh ujung jari Hezlin yang masih meremas selimut dengan gemetar. Ia genggam lembut, namun cukup kuat agar wanita itu mau mendongak sedikit.

"Kamu salah," ucapnya tenang, namun tegas. "Aku di sini karena kamu."

Hezlin menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Garra..."

"Dengar aku," potong Garra pelan, tatapannya tak lepas dari wajah istrinya. "Anak ini bagian dari kamu. Tapi alasan aku tinggal, alasan aku takut... itu kamu. Hanya kamu."

Ia mendekat sedikit, suaranya merendah seolah tak ingin ada orang lain yang mendengarnya selain mereka berdua.

"Jangan pernah berpikir aku hanya menjaga janin itu. Aku menjaga kamu. Karena tanpa kamu, keberadaan anak ini pun tak ada artinya bagiku."

Hezlin tertegun. Air mata yang tadi ditahannya akhirnya menetes perlahan di pipi. Ia belum pernah melihat Garra bicara sejelas ini, sejujur ini tanpa topeng, tanpa alasan lain.

Garra mengusap air mata itu dengan punggung tangannya, gerakannya begitu hati-hati seolah takut ia akan hancur seketika.

"Tetaplah di sini bersamaku, Hezlin. Dan percayalah.. aku tidak menyembunyikan apa pun darimu."

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!