"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Sang Dosen
Yuna melangkah menaiki anak tangga satu demi satu dengan tubuh gemetar. Tangan kanannya meraba lengan kiri, tempat di mana jemari kokoh Labib baru saja mencengkeramnya. Rasanya masih panas dan berdenyut nyeri. Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan suaminya kini luruh satu-satu, membasahi pipinya yang pucat.
Di bawah tangga, Labib berdiri mematung. Pandangannya terpaku pada telapak tangannya sendiri, lalu beralih menatap punggung rapuh Yuna yang perlahan menghilang di balik pintu kamar utama.
Deg.
Seketika, gelombang penyesalan yang teramat besar menghantam dada pria 31 tahun itu. Kemarahan dan rasa cemas yang menumpuk semalaman sempat membuat naluri protektif dan otoritasnya meledak begitu saja. Labib baru menyadari bahwa gadis yang dihadapinya bukan lagi mahasiswa tangguh di ruang sidang, melainkan seorang anak perempuan berusia 21 tahun yang baru saja kehilangan pelindung utamanya—dan kini, ia justru menjadi orang yang memberikan rasa sakit itu.
Di balik pintu kamar
Cklek.
Yuna menutup pintu kamar rapat-rapat. Ia melangkah lemas menuju lemari, mengambil sepotong kaus rumahan longgar, lalu berganti pakaian dengan gerakan lambat karena lengan kirinya terasa kaku saat digerakkan. Hatinya terasa teriris peri. Selama ini, almarhum ayahnya tidak pernah sekalipun membentak, apalagi bermain fisik padanya. Perlakuan kasar Labib tadi benar-benar menorehkan luka baru di atas kedukaannya yang belum pulih.
Setelah berganti baju, Yuna duduk di tepi ranjang. Ia menggulung lengan kaus kirinya ke atas untuk memeriksa kondisinya.
Napas Yuna tertahan. Di kulitnya yang putih bersih, kini tercetak jelas guratan merah keunguan berbentuk polalima jari. Cengkeraman Labib tadi ternyata begitu kuat hingga menyisakan memar yang mulai membiru.
"Jahat..." bisik Yuna lirih, air matanya menetes tepat di atas memar tersebut. Rasa perih di kulitnya tidak seberapa dibanding rasa kecewa yang memenuhi dadanya. Ia mengira Labib adalah malaikat pelindung seperti yang dikatakan ibunya, namun hari ini pria itu berubah menjadi sosok asing yang menakutkan.
Yuna berjalan pelan menuju meja rias, mencari salep pereda memar yang untungnya selalu ia bawa di dalam tas kecilnya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengoleskan krim dingin itu ke lengannya yang cedera, mencoba meredakan rasa sakit yang berdenyut-denyut.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang pelan dan ragu terdengar dari luar.
Yuna langsung tersentak, refleks menurunkan kembali gulungan lengan kausnya untuk menyembunyikan memar itu. Jantungnya kembali berdegup kencang, diselimuti rasa trauma yang tiba-tiba muncul setelah kejadian di bawah tadi. Ia tidak bersuara, hanya menatap pintu kamar dengan pandangan waswas.
Pintu kamar perlahan terbuka setelah ketukan ketiga yang tak kunjung mendapat sahutan. Labib melangkah masuk dengan sangat perlahan. Kemeja formal biru navy-nya kini sudah digantikan oleh kaus abu-abu santai, namun ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya hilang—kini berganti dengan raut penyesalan yang mendalam.
Yuna refleks beringsut mundur di kursi meja riasnya, menatap Labib dengan sepasang mata yang sembap dan merah. Pandangan waspada dan takut yang tersorot dari mata istrinya itu laksana tamparan keras bagi ego Labib.
Labib menghentikan langkahnya dua meter di depan Yuna, sengaja memberi jarak agar gadis itu tidak merasa terancam. Ia melihat sisa-sisa air mata di pipi Yuna, dan pandangannya beralih pada tabung salep memar yang tergeletak di atas meja rias.
"Yuna," panggil Labib, suaranya kini begitu rendah, serak, dan kehilangan seluruh nada otoriter yang ia gunakan di bawah tadi. "Buka lengan bajumu. Saya mau lihat."
Yuna menggeleng cepat, semakin merapatkan lengan kirinya ke dada. "Nggak apa-apa, Mas. Nggak usah."
Melihat penolakan itu, Labib menghela napas berat. Pria 31 tahun itu menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di lantai di hadapan kursi Yuna, membuat posisi mereka kini sejajar. Di kampus, ia adalah dosen yang mendikte nilai; namun di kamar ini, di depan gadis yang baru dinikahinya sembilan hari, ia hanyalah seorang suami yang merasa gagal.
"Maafkan saya," ucap Labib tulus, matanya menatap Yuna dengan kelembutan yang dalam. "Tadi saya lepas kendali karena cemas setengah mati memikirkan kamu. Tapi itu bukan alasan untuk mengasari istri saya sendiri. Tolong, izinkan saya lihat lenganku."
Mendengar kata 'maaf' dan melihat ketulusan di mata suaminya, benteng pertahanan Yuna runtuh. Air matanya kembali mengalir. Dengan perlahan dan sedikit meringis, ia mengangkat gulungan lengan kausnya, memperlihatkan jejak keunguan yang kontras di kulit putihnya.
Labib menegang. Rahangnya mengatup rapat saat melihat buah dari kekasarannya sendiri. Jari-jarinya yang panjang bergerak perlahan, menyentuh pinggiran memar itu dengan sangat hati-hati, seolah takut gerakannya akan menyakiti Yuna lebih jauh.
"Ini pasti sangat sakit," bisik Labib lirih. Pria itu mengambil tabung salep di meja, mengeluarkan sedikit isinya ke ujung jarinya, lalu mulai mengoleskannya ke memar Yuna dengan gerakan memijat yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Sentuhan dingin dari salep dan kehangatan jari Labib membuat debaran di dada Yuna berangsur tenang. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa haru yang aneh.
"Mas... Mas Labib jahat banget tadi," adu Yuna dengan suara parau khas anak manja yang sedang mengadu pada ayahnya. "Papa aja nggak pernah begitu sama Yuna."
Labib menghentikan gerakannya sejenak, mendongak menatap Yuna, lalu mengecup sekilas punggung tangan kanan Yuna yang bebas. "Saya tahu. Saya salah, Yuna. Saya berjanji, demi almarhum ayahmu dan demi dirimu, ini adalah kali pertama dan terakhir saya menggunakan fisik. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Labib menutup kembali tabung salep tersebut, lalu menggenggam kedua tangan Yuna. "Tapi, tolong berjanjilah pada saya satu hal. Jangan pernah matikan ponselmu lagi. Jangan pernah menghilang tanpa kabar. Kamu tidak tahu seberapa hancurnya pikiran saya semalaman menebak-nebak apakah kamu baik-baik saja di luar sana."
Yuna menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Rasa bersalah kini gantian merayapi hatinya karena telah membuat suaminya sekhawatir itu hanya karena ego cemburunya.
"Iya, Mas. Yuna minta maaf juga karena nggak izin," cicit Yuna pelan.
Labib tersenyum tipis, sebuah senyuman lega yang membuat ketampanannya kembali. Ia berdiri, lalu mengusap sisa air mata di pipi Yuna. "Sekarang, istirahatlah sejenak. Kuliah siangmu jam satu, kan? Nanti siang, saya sendiri yang akan mengantarmu ke kampus. Tidak ada bantahan."