NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Elegan di Hari Pertama Sekolah

Pagi hari di kawasan Jakarta Selatan dilingkupi oleh cuaca yang cerah. Halaman depan Jakarta International Kindergarten sekolah taman kanak-kanak elit yang baru saja dibeli sahamnya oleh Arthur tampak dipadati oleh deretan mobil sport dan SUV mewah kelas premium. Hari ini adalah upacara penyambutan murid baru, sebuah ajang tidak resmi bagi para ibu-ibu sosialita ibu kota untuk memamerkan kekayaan, tas rajutan desainer Paris, dan perhiasan berkilau mereka.

​Sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di depan lobi utama sekolah. Pintu belakang terbuka, dan Elena melangkah keluar dengan keanggunan yang mutlak. Hari ini, dia sengaja memilih setelan kasual namun sangat berkelas: sebuah celana jins putih ketat dipadukan dengan kemeja sutra berwarna biru langit dan kacamata hitam. Di kedua tangannya, Elena menggandeng Leon dan Lia yang tampak sangat menggemaskan mengenakan seragam sekolah baru mereka. Leon dengan gaya angkuhnya tetap memakai topi hitam kesayangannya (yang kali ini tidak terbalik), sementara Lia terus tersenyum riang sambil memeluk boneka kelinci kecilnya.

​"Wah, lihat siapa yang datang," sebuah suara melengking yang sarat akan nada sinis tiba-tiba terdengar dari arah koridor lobi.

​Elena menghentikan langkahnya, menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Di hadapannya, berdiri sekelompok wanita paruh baya dengan pakaian bermerek berlebihan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pemimpin geng tersebut adalah tiffany, seorang sosialita papan atas yang juga merupakan sahabat karib dari mantan tunangan Arthur di masa lalu.

​Tiffany melipat tangannya di depan dada, menatap Elena dengan pandangan menilai yang penuh penghinaan. "Aku pikir aku salah lihat. Ternyata benar, wanita penyusup yang diusir dari keluarga Arkananta lima tahun lalu karena skandal perselingkuhan. Bagaimana bisa wanita sepertimu memiliki nyali untuk menginjakkan kaki di sekolah internasional seketat ini? Dan anak-anak itu... apakah mereka hasil dari... hubungan gelapmu dulu?"

​Mendengar kata 'hubungan gelap', cengkeraman tangan Leon di jemari Elena seketika mengerat. Sepasang mata elang bocah kecil itu berkilat dingin, menatap Tiffany seolah-olah wanita itu adalah serangga pengganggu yang siap dia hancurkan sistem komputernya. Namun, Elena dengan cepat menepuk bahu Leon, menenangkannya. Elena maju satu langkah, menatap Tiffany dengan senyuman formal yang sangat dingin.

​"Mulut Anda tampaknya butuh dicuci dengan antiseptik, Nyonya Tiffany," ucap Elena dengan nada suara yang teramat tenang namun tajam bagai silet. "Reputasi saya sebagai desainer internasional dari Milan diakui secara hukum di seluruh dunia. Sedangkan Anda... seingat saya, perusahaan suami Anda baru saja mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang di pengadilan pekan lalu. Apakah tas Hermes yang Anda jinjing itu asli, atau hasil sewaan untuk menutupi kebangkrutan?"

​"Kamu...!!" Wajah Tiffany seketika memerah padam karena malu dan marah. Rahasia kebangkrutan suaminya yang ditutup-tutupi kini dibongkar di depan belasan wali murid lainnya yang mulai berbisik-bisik. "Dasar wanita tidak tahu diri! Pengawal! Di mana keamanan sekolah ini?! Bagaimana bisa jalang seperti dia diizinkan masuk dan merusak atmosfer sekolah?!"

​"Siapa yang Anda sebut jalang, Nyonya Tiffany?"

​Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan menggelegar tiba-tiba memotong makian Tiffany, menggema di seluruh area lobi dan seketika membungkam seluruh keributan.

​Sosok Arthur Arkananta melangkah masuk dengan aura dominasi yang luar biasa menakutkan. Dia mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, memancarkan karisma seorang penguasa tertinggi. Tatapan mata elangnya yang merah karena kemarahan langsung tertuju pada Tiffany, membuat wanita sosialita itu spontan mundur dua langkah dengan tubuh yang gemetar ketakutan.

​"T-Tuan Arthur...?" bisik Tiffany dengan suara yang mendadak mencicit.

​Arthur mengabaikan Tiffany. Dia berjalan mendekati Elena, lalu di depan ratusan pasang mata yang menonton dengan penuh rasa syok, Arthur membungkuk dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening Elena. "Maaf aku terlambat, Sayang. Rapat pemegang saham tadi sedikit menyita waktuku," ucap Arthur dengan suara yang sengaja dibuat terdengar sangat lembut namun terdengar jelas oleh semua orang.

​Elena sempat membeku, wajahnya merona merah karena terkejut dengan tindakan agresif Arthur yang tiba-tiba memamerkan kemesraan di depan umum. Namun, dia tahu Arthur sedang memasang badan untuk melindunginya.

​Arthur kemudian berbalik menatap Tiffany dan gengnya, senyumannya hilang seketika, digantikan oleh ekspresi berdarah dingin yang mematikan. "Nyonya Tiffany, perlu Anda ketahui bahwa wanita yang baru saja Anda hina adalah Eleanor Vance, pemilik saham utama tunggal dari yayasan sekolah internasional ini yang baru saja aku balik nama atas namanya pagi ini. Dan anak-anak ini... adalah Leon dan Lia Arkananta, ahli waris tunggal yang sah dari seluruh kekayaan Grup Arkananta."

​Kasak-kusuk!

​Suasana lobi langsung gempar. Para ibu-ibu sosialita yang tadinya ikut menatap sinis Elena kini langsung menutup mulut mereka dengan wajah pucat pasi. Menghina Elena sama saja dengan mencari mati dengan menghancurkan bisnis keluarga mereka sendiri di tangan Arthur.

​"Evan!" panggil Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari Tiffany.

​Asisten pribadi Arthur, Evan, langsung maju dengan sigap. "Ya, Tuan Besar?"

​"Batalkan seluruh kontrak kerja sama pasokan material dari perusahaan suami Nyonya Tiffany di proyek resor Bali kita detik ini juga. Dan blacklist nama anak mereka dari sekolah ini. Aku tidak ingin ada anak dari keluarga yang tidak berpendidikan berada di dekat putra dan putriku," perintah Arthur dengan nada dingin yang mutlak.

​"Baik, Tuan!"

​"T-Tuan Arthur, saya mohon maaf! Saya tidak tahu! Tolong jangan lakukan itu pada bisnis suami saya!" Tiffany menangis histeris, merangkak memohon di lantai, namun Arthur tidak peduli sedikit pun. Dia merangkul posesif pinggang Elena, sementara tangan satunya menggandeng Lia, dan berjalan masuk menuju ruang aula utama upacara penyambutan dengan dagu terangkat.

​Leon yang berjalan di belakang mereka sengaja menoleh ke arah Tiffany yang sedang menangis, memberikan sebuah senyuman miring yang penuh kemenangan sebelum mengutak-atik tabletnya untuk mematikan AC di area ruang tunggu sosialita.

​Upacara penyambutan murid baru berjalan dengan sangat lancar dan penuh kemewahan. Setelah acara selesai dan anak-anak masuk ke kelas mereka masing-masing untuk sesi perkenalan dengan guru, Elena dan Arthur berjalan berdua di sepanjang koridor sekolah yang sepi.

​Elena melepaskan rangkulan tangan Arthur di pinggangnya dengan sentakan pelan, meskipun batinnya tidak bisa memungkiri rasa puas atas perlindungan yang diberikan Arthur tadi. "Terima kasih untuk yang tadi, Arthur. Tindakanmu membuat mereka tidak akan berani mengganggu Leon dan Lia lagi."

​Arthur memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Elena dengan binar mata yang kembali lembut. "Aku tidak hanya melindungi anak-anak kita, Elena. Aku melindungi wanita yang aku cintai. Aku sudah berjanji di bawah hujan semalam, aku akan merangkak dari bawah untuk mendapatkanmu kembali."

​Elena memalingkan wajahnya, menyembunyikan debaran jantungnya yang kembali berpacu cepat. "Jangan berharap terlalu tinggi, Tuan Arkananta. Fokusku sekarang hanyalah membesarkan si kembar dan menyelesaikan proyek desain kita."

​Elena melangkah menuju mobil SUV-nya yang terparkir di area luar. Namun, saat dia membuka pintu kemudi, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda asing yang terselip di wiper kaca mobilnya. Sebuah amplop hitam polos tanpa nama pengirim.

​Elena mengernyitkan dahi, mengambil amplop tersebut dan membukanya dengan rasa penasaran. Di dalamnya, terdapat sebuah foto lama dari masa lima tahun lalu yang memperlihatkan Elena sedang menangis di jalanan, namun yang membuat bulu kuduk Elena meremang adalah sebuah tulisan tangan berwarna merah darah di balik foto tersebut:

​“Ratu yang kembali ke takhta... akan lebih mudah untuk dijatuhkan kembali ke dalam jurang. Nikmatilah kebahagiaan semu ini, Elena. Karena aku sudah kembali ke Jakarta untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu.”

​Tangan Elena seketika bergetar hebat, wajah cantiknya memucat seputih kertas. Surat kaleng itu... aura kegelapan dan dendam di dalamnya terasa begitu nyata.

​Arthur yang melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Elena langsung berlari mendekat, merebut kertas tersebut dari tangan Elena. Saat membaca tulisan merah tersebut, sepasang mata elang Arthur langsung menggelap, memancarkan kemarahan dan naluri protektif yang luar biasa membara.

​"Mantan tunanganku... dia sudah kembali ke negara ini," bisik Arthur dengan suara baritonnya yang mengeras, mengepalkan surat itu hingga hancur di dalam tinjunya. Badai baru yang jauh lebih kejam tampaknya baru saja mulai mengintai kebahagiaan keluarga kecil mereka yang baru saja menyatu.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!