Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Cinta yang Tak Mengenal Masa Lalu
Sisa malam itu berlalu dalam keheningan yang penuh kewaspadaan. Tidak ada yang berani tidur nyenyak. Warga desa bergantian berjaga di depan rumah masing-masing, sementara Dika dan beberapa pemuda tetap mengelilingi rumah Pak Harun. Laras duduk di beranda, menatap ke arah bukit tempat suara tawa dingin itu terdengar terakhir kali. Bayangan wajah orang yang dulu ia percaya sebagai tangan kanannya, orang yang ia kira sudah mati bertahun-tahun lalu, kini kembali menghantuinya dengan jelas.
“Kau mengenal suara itu, bukan?” tanya Dika pelan saat duduk di sebelahnya, menyodorkan segelas air hangat.
Laras menerima gelas itu, namun tidak segera meminumnya. Ia mengangguk pelan, matanya menatap pantulan cahaya lampu minyak di dalam air. “Namanya Arga. Dulu dia adalah orang yang paling aku percaya. Aku mengangkatnya menjadi pemimpin kedua di Kerajaan Bayangan, melatihnya sendiri, menyelamatkan nyawanya berkali-kali. Dia berjanji akan menjaga aturan dan menjaga kedamaian jika sesuatu terjadi padaku. Tapi ternyata… dia yang mengambil alih kekuasaanku, dia yang memutarbalikkan fakta, dan dia yang kini memburuku.”
“Kenapa dia begitu dendam padamu?” tanya Dika lagi.
“Karena dia tidak pernah puas,” jawab Laras dengan suara berat. “Dia mengira aku meninggalkan kekuasaan karena meremehkan semua yang ia inginkan. Dia mengira aku bersembunyi di sini karena pengecut. Dan yang paling menyakitkan… dia menyebarkan berita bahwa aku dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang desa ini, agar pasukan Taring Hitam mau membantunya tanpa bertanya.”
Keesokan paginya, kabut sudah hilang digantikan matahari yang bersinar terang menyinari hamparan sawah dan sungai. Namun suasana di desa tetap tidak tenang. Laras memutuskan untuk berbicara dengan warga secara terbuka di lapangan tengah. Ia menceritakan siapa Arga sebenarnya, apa kebohongan yang disebarkannya, dan bagaimana cara mereka menghadapi musuh yang bermain licik ini.
“Arga tidak akan berhenti sampai dia melihat aku menyerah atau mati,” kata Laras dengan lantang. “Tapi dia juga takut. Dia takut jika pasukannya tahu kebenaran, takut jika kekuasaannya runtuh. Jadi kelemahan terbesarnya bukan pada pedang atau siasat perangnya, tapi pada kebohongan yang dia bangun.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya salah satu warga tua.
“Aku akan pergi ke tempat persembunyiannya,” jawab Laras tegas. “Aku akan menghadapinya langsung. Tapi aku tidak akan pergi sendirian. Dan sebelum itu, kita harus membuktikan pada pasukan Taring Hitam bahwa mereka telah ditipu.”
Rencana pun disusun dengan matang. Sore itu juga, Laras dan Dika berangkat menyusuri jejak yang ditinggalkan pasukan Taring Hitam saat mundur kemarin malam. Dengan keahlian membaca jejak yang masih tajam, Laras bisa menebak arah pergerakan mereka, jenis senjata yang dibawa, bahkan kondisi fisik mereka saat berjalan. Mereka menyusuri pinggir sungai yang berkelok, menembus hutan pinus yang lebat, hingga akhirnya tiba di sebuah gua tersembunyi di balik tebing batu yang ditumbuhi tanaman merambat tebal—tempat yang dulu pernah ia pilih sebagai pos rahasia darurat.
Dari kejauhan, mereka melihat ada penjaga di mulut gua. Itu adalah dua orang anggota Taring Hitam yang kemarin bertarung dengannya. Laras memberi isyarat pada Dika untuk tetap diam, lalu ia berjalan perlahan keluar dari persembunyiannya, berjalan tegak tanpa senjata di tangan.
“Berhenti!” bentak salah satu penjaga, segera mengangkat senjatanya. “Mundur atau kami serang!”
“Aku tidak datang untuk berkelahi,” kata Laras dengan suara tenang namun berwibawa, persis seperti suara pemimpin yang dulu mereka kenal. “Aku datang untuk membuktikan sesuatu. Kalian semua diperintah oleh kebohongan. Arga bukanlah pemimpin sah kalian, dia adalah pengkhianat yang mengambil kesempatan saat aku memilih pergi.”
“Kau pembohong!” seru penjaga yang lain. “Kau yang membunuh saudara-saudara kami dan kabur! Kau yang mengkhianati janji!”
“Siapa yang memberitahu kalian itu?” tanya Laras tajam. “Apakah kalian melihatnya sendiri? Apakah kalian mendengar pengakuan dari orang yang melihat kejadian itu?”
Kedua penjaga itu terdiam. Keraguan mulai terlihat di mata mereka. Di saat itu, terdengar suara langkah kaki bergegas dari dalam gua. Pemimpin pasukan kemarin malam muncul, diikuti oleh puluhan orang lain. Mereka mengelilingi Laras, namun tidak langsung menyerang.
“Kau berani datang ke sini sendirian?” tanya pemimpin itu dingin. “Untuk apa? Untuk memohon ampun?”
“Untuk membebaskan kalian dari kebodohan,” jawab Laras tegas. “Dulu aku membuat aturan: tidak ada pengejaran bagi yang ingin hidup damai. Aturan itu dilanggar oleh Arga. Dia tidak peduli pada kalian, dia hanya peduli pada kekuasaannya sendiri. Bukankah kalian merasa aneh? Kenapa dia tidak pernah ikut bertarung di garis depan? Kenapa dia selalu menyuruh kalian mengambil risiko terbesar?”
Pemimpin itu menggeram marah dan memberi perintah untuk menangkapnya, namun beberapa orang di belakangnya ragu melangkah maju. Di tengah kekacauan itu, sebuah panah melesat cepat lagi—kali ini diarahkan tepat ke arah pemimpin pasukan itu!
Semua orang terkejut. Laras bergerak cepat menangkis anak panah itu dengan sebilah kayu yang ia temukan di tanah, namun ia tahu siapa pelakunya.
“Itu dia! Itu cara Arga!” seru Laras lantang. “Dia membunuh siapa saja yang mulai ragu padanya! Dia takut kalian tahu kebenaran!”
Dika yang sejak tadi bersembunyi di balik tebing kini berteriak memberi kode, dan dari balik pepohonan keluar beberapa orang warga desa yang membawa bukti—benda-benda milik rekan mereka yang konon dibunuh oleh Laras, namun ternyata ditemukan di tempat persembunyian Arga. Mereka juga membawa surat-surat palsu yang berisi perintah untuk memutarbalikkan fakta.
Saat itu juga, keraguan di hati pasukan Taring Hitam berubah menjadi kemarahan. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka diperalat. Namun di tengah kekacauan itu, suara tawa dingin Arga terdengar dari atas tebing. Ia berdiri di sana dengan busur panah di tangan, wajahnya penuh kebencian yang meluap.
“Kalian semua bodoh!” teriaknya. “Aku yang membuat kalian kuat! Aku yang memberi kalian tempat bernaung! Dan kau, Laras… kau hanya pengecut yang lebih memilih hidup sebagai petani daripada memegang takhta yang seharusnya kau lindungi!”
“Takhta itu tidak dibangun dengan darah dan ketakutan, Arga!” balas Laras. “Kau menginginkan kekuasaan tapi tidak pernah mengerti tanggung jawabnya!”
Arga tidak menjawab. Ia segera melompat turun dengan gerakan yang sangat lincah, kini memegang sebilah pedang panjang yang berkilau tajam. Ia langsung menyerang Laras dengan amarah yang tak terkendali. Pertarungan pun terjadi di mulut gua itu—pertarungan antara dua orang yang pernah saling mengenal setiap gerakan, setiap kelemahan, dan setiap kekuatan satu sama lain.
Arga bertarung dengan liar dan penuh dendam, sementara Laras bertarung dengan tenang dan terkendali. Ia menghindari serangan mematikan itu, berusaha menahan emosi lamanya agar tidak kembali menguasai dirinya. Dika berusaha membantu, namun Laras menyuruhnya menahan pasukan yang masih setia pada Arga atau menghalangi mereka yang berniat ikut campur.
“Kau tidak berhak memegang pedang itu!” bentak Laras saat berhasil menepis serangan Arga yang hampir mengenai dadanya. “Pedang itu aku berikan padamu untuk melindungi, bukan untuk menindas!”
“Melindungi siapa? Orang-orang lemah yang tidak tahu berterima kasih?” Arga tertawa pahit. “Dulu kau berjanji kita akan mengubah dunia! Tapi kau lari begitu saja!”
“Aku tidak lari,” jawab Laras tegas. “Aku mencari cara yang benar. Dan sekarang aku menemukannya. Kekuatan bukan untuk menaklukkan, tapi untuk menjaga.”
Dalam satu gerakan cepat, Laras menjatuhkan pedang dari tangan Arga, lalu menahannya di tanah tanpa melukainya. Ia menatap mata pria itu lekat-lekat. “Berhenti, Arga. Tidak ada yang perlu dibuktikan lagi. Semua orang sudah tahu kebenarannya.”
Arga meronta-ronta sejenak, lalu perlahan tenang. Tatapannya yang penuh api perlahan meredup, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Ia menatap puluhan pasukan yang kini menatapnya dengan pandangan kecewa dan marah. Ia sadar, ia sudah kalah—bukan karena kalah dalam pertarungan fisik, tapi karena kalah dalam memegang kepercayaan.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat saat mereka berjalan kembali menuju desa. Arga tidak dibawa sebagai musuh yang diikat erat, melainkan sebagai orang yang tersesat yang akhirnya dihadapkan pada kebenaran. Pasukan Taring Hitam berjalan diam di belakang mereka, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke jalan kegelapan, dan berjanji akan mempertimbangkan tawaran untuk hidup damai seperti warga desa lainnya.
Di depan rumah kayu tempat Laras tinggal, Dika berhenti dan menatap wanita itu dengan bangga. “Kau melakukannya. Kau tidak hanya melindungi desa ini, kau juga menyelamatkan banyak orang dari kesalahan.”
Laras tersenyum lemah namun lega. “Perjalanan ini belum selesai sepenuhnya. Tapi untuk pertama kalinya, aku tahu ke mana arah tujuanku. Dan aku tidak sendirian.”
bersambung...