Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Astaga..."
Aurora menahan napas yang terasa semakin sesak. Jantungnya berdegup begitu keras hingga seolah hendak meloncat keluar dari dadanya.
"Apa hari ini benar-benar akan menjadi akhir hidupku?" batinnya gemetar.
Bayangan wajah orang tuanya yang telah tiada tiba-tiba memenuhi pikirannya.
"Ma... Pa... aku memang merindukan kalian. Tapi... jangan sekarang. Aku belum siap menyusul kalian."
Rasa takut yang menyelimuti Aurora kini jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
Di hadapannya, Kael perlahan mengangkat wajah.
Sepasang mata kelabu pria itu beralih menatap Aurora dengan sorot yang tajam dan sulit ditebak. Tatapan itu menyapu wajah gadis tersebut tanpa terburu-buru, seolah sedang mengamati setiap perubahan sekecil apa pun.
Aurora spontan menelan ludah.
Ia pernah melihat tatapan seperti itu di berbagai film—tatapan seseorang yang sedang berusaha memastikan apakah lawan bicaranya menyimpan sesuatu.
Kini ia sadar, berpura-pura tidak melihat atau tidak tahu apa-apa sudah bukan pilihan. Semuanya telah terlambat.
Tatapan Kael terlalu tajam untuk dikelabui.
Yang membuat Aurora semakin gugup adalah bercak merah yang menghiasi sisi wajah pria itu. Alih-alih mengurangi pesonanya, noda itu justru membuat aura dingin Kael tampak semakin liar dan mengintimidasi.
"Ya ampun... dalam situasi seperti ini aku masih sempat mengakui kalau dia tampan?" rutuk Aurora dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
Kael mengusap perlahan cipratan merah di pipinya dengan ujung jarinya, lalu membersihkannya menggunakan sapu tangan putih yang sedari tadi berada di saku jasnya.
Setelah itu, ia kembali menatap Aurora tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
"Apa yang sedang kau perhatikan?" tanyanya tenang, tetapi nada suaranya cukup rendah untuk membuat bulu kuduk Aurora meremang.
Aurora berdiri membeku di ambang pintu.
Bibirnya sedikit terbuka, namun tak satu kata pun berhasil keluar. Tenggorokannya terasa kering, sementara seluruh tubuhnya menegang.
Kedua lututnya mendadak kehilangan tenaga, seolah berubah selembek agar-agar yang tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
Napasnya terasa berat, sementara jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah memenuhi seluruh ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurora benar-benar memahami seperti apa rasanya berdiri begitu dekat dengan seseorang yang hanya dengan satu tatapan mampu membuat keberaniannya runtuh seketika.
Naluri pertamanya berteriak agar segera berlari, tetapi akal sehatnya menahan langkah itu.
Ia sadar, pria di hadapannya bukan orang biasa.
Jika ia berbalik dan mencoba melarikan diri, belum tentu ia sempat mencapai pintu keluar.
Dengan susah payah Aurora menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan gemetar yang mulai menguasai tubuhnya. Ia menundukkan pandangan, berharap pria itu tidak menganggapnya sebagai ancaman.
Keheningan memenuhi toilet yang dingin itu.
Hanya terdengar suara tetesan air dari keran yang belum benar-benar berhenti mengalir.
Kael memecah kesunyian tanpa menoleh.
"Apa kau memang suka berdiri di depan pintu?" ucapnya datar.
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat bulu kuduk Aurora meremang.
Pria itu kemudian mengangkat pandangan melalui pantulan cermin.
"Atau...kau juga ingin bernasib sama dengannya?" katanya pelan sambil melirik pria bertubuh gempal yang sudah terbujur kaku di lantai.
Aurora tersentak kecil. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Tenggorokannya terasa kering, seolah seluruh keberaniannya menghilang begitu saja.
Kael memperhatikannya beberapa detik.
"Lidahmu hilang?" tanyanya singkat, masih dengan nada yang tenang, nyaris tanpa emosi.
Aurora buru-buru menggeleng.
"T-tidak..." jawabnya lirih. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, "...aku hanya... ingin menggunakan toilet."
Untuk pertama kalinya sejak Aurora masuk ke ruangan itu, Kael memalingkan tubuhnya menghadap sang gadis.
Tatapannya tetap dingin, tetapi tidak menunjukkan niat untuk mendekat.
"Kalau begitu," ucapnya pelan, "selesaikan urusanmu. Anggap saja kau tidak melihat apa pun di ruangan ini."
Kalimat itu terdengar seperti izin.
Namun, bagi Aurora, kalimat tersebut lebih menyerupai sebuah peringatan.
Dengan kaki yang terasa lemas, ia memaksakan diri melangkah masuk. Setiap langkah terasa begitu berat. Saat melewati tubuh pria yang tergeletak di lantai, Aurora memalingkan wajahnya, berusaha keras agar tidak melihat lebih lama.
Meski demikian, ia tetap harus melangkahi tubuh itu untuk mencapai bilik toilet di sisi lain.
Tangannya gemetar ketika menyentuh gagang pintu.
Ia masuk ke dalam bilik, lalu menutup pintunya perlahan tanpa menimbulkan suara.
Baru setelah pintu tertutup rapat, Aurora menyandarkan punggungnya ke dinding. Kedua tangannya menutupi mulut, menahan napas yang nyaris berubah menjadi isak.
Di luar bilik, suasana kembali sunyi.
Aurora tidak tahu siapa sebenarnya pria menyeramkan itu.
Namun satu hal yang sangat ia yakini...
Malam ini, tanpa sengaja, ia telah masuk ke dalam dunia yang seharusnya tidak pernah ia lihat.
Aurora masih bisa merasakan tatapan itu.
Meski telah melangkah melewati Kael, nalurinya terus memaksanya menoleh. Dengan sudut matanya, ia menangkap pantulan pria itu melalui cermin besar di atas wastafel. Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya berdiri tenang dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, menatap Aurora melalui pantulan cermin seolah memastikan gadis itu tidak melakukan sesuatu yang gegabah.
Tatapan mereka sempat bertemu dalam pantulan itu.
Aurora buru-buru mengalihkan pandangan.
Ia mempercepat langkah menuju bilik toilet paling ujung. Jemarinya yang gemetar nyaris gagal memutar pengunci pintu. Begitu terdengar bunyi klik, seolah seluruh tenaga di tubuhnya ikut menghilang.
Tubuhnya meluruh perlahan hingga terduduk di atas kloset. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya tanpa sadar memegangi dada yang berdegup begitu keras.
"Astaga..." bisiknya lirih. "Baru kali ini aku merasa benar-benar berhadapan dengan kematian."
Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menenangkan diri.
Namun bayangan tubuh pria yang tergeletak di lantai terus memenuhi pikirannya.
Lalu wajah Kael.
Tatapan dingin pria itu.
Sikapnya yang terlalu tenang.
Dan kalimatnya yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan ancaman yang sulit dijelaskan.
Aurora bahkan mulai merasa detak jantungnya terlalu keras. Sesaat ia khawatir, jika suasana di luar benar-benar sunyi, mungkin Kael bisa mendengar gemuruh jantungnya dari balik pintu bilik.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan, memaksa dirinya bernapas lebih teratur.
"Tenang... jangan panik. Jangan membuatnya curiga."
Entah berapa lama Aurora bertahan di dalam bilik itu. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga setiap detik seolah berubah menjadi menit.
Lalu...
Suara pintu toilet kembali terbuka.
Aurora sontak membuka mata.
Ia menahan napas, memasang telinga.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki ruangan.
Bukan satu pasang.
Lebih dari itu.
Meski tak seorang pun berbicara, Aurora dapat membedakan irama langkah yang berbeda-beda. Ada yang berjalan mantap, ada pula yang berhenti sejenak sebelum kembali melangkah.
Paling tidak...
Ada tiga orang di luar sana.
Aurora mengernyit bingung.
"Siapa mereka?" batinnya.
"Pengunjung mall... atau orang-orang Om itu?"
Ia tidak berani membuka pintu sedikit pun untuk memastikan.
Di balik dinding tipis bilik toilet, Aurora hanya mampu memeluk dirinya sendiri, menunggu dalam diam.
Sementara di luar, suasana tetap sunyi.
Justru kesunyian itulah yang terasa paling menakutkan. Tidak ada percakapan, tidak ada suara kepanikan, seolah semua orang memahami apa yang harus dilakukan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aurora mulai menyadari satu hal yang membuat bulu kuduknya meremang.
Mungkin...
Pria itu tidak pernah benar-benar sendirian.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe