"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSINGKAPNYA RAHASIA BESAR
Sore hari menyelimuti kawasan Jakarta Selatan dengan rona langit jingga kemerahan. Sesuai janjinya dalam pesan singkat siang tadi, Arga Dirgantara mengemudikan mobil sedannya membelah kemacetan menuju gedung apartemen mewah milik Queen. Rasa muak setelah mengantar Keysha ke rumah sakit kandungan seolah menguap begitu saja, digantikan oleh letupan gairah dan desakan rindu untuk segera mendekap tubuh mungil mahasiswi cegil-nya.
Begitu sampai di depan unit apartemen Queen, Arga langsung mengetuk pintu dengan ritme yang teratur. Hanya dalam hitungan detik, pintu terbuka menampilkan sosok Queen yang sudah menunggunya dengan senyuman baby face-nya yang teramat manis dan menggoda.
"Sore, Pacar Baru Ganteng!" sapa Queen bar-bar, langsung menarik lengan kokoh Arga masuk ke dalam ruang tengah dan mengunci pintu rapat-rapat.
Sifat ugal-ugalan Queen langsung bergejolak. Hari ini hawa udara Jakarta terasa sangat gerah, membuat Queen hanya mengenakan bra katun hitam berenda yang mengekspos lekuk dada indahnya, dipadukan dengan celana pendek satin super minim yang memamerkan paha mulusnya.
Melihat penampilan vulgar nan seksi dari kekasih mudanya di bawah temaram lampu ruang tengah, kabut hasrat di dalam benak Arga seketika menyala hebat. Tanpa membuang waktu untuk berbasa-basi, Arga langsung menangkap pinggang ramping Queen, mengangkat tubuh ringan gadis itu, dan mendudukkannya di atas pangkuannya saat ia menghempaskan tubuh tegapnya di atas sofa satin.
"Queen... kamu bener-bener memancing monster di dalam diri saya," bisik Arga dengan suara bariton yang serak, napasnya mulai memburu pendek ngos-ngosan.
"Biarin, emang sengaja kok biar Bapak langsung skakmat," tantang Queen genit, jemari lentiknya dengan cepat menanggalkan satu per satu kancing kemeja Arga hingga pakaian bagian atas pria dewasa itu terlepas seutuhnya, mengekspos dada bidang berotot yang kokoh.
Dalam hitungan detik, kedua sejoli itu sudah larut dalam ciuman yang teramat brutal, panas, dan mendominasi. Arga melumat bibir ranum Queen dengan tuntutan posesif yang membakar, sementara tangan kekarnya meraba kulit punggung Queen yang halus. Queen melenguh pasrah di dalam pangkuan Arga, meremas rambut lebat sang kekasih, menenggelamkan diri mereka dalam pusaran gairah terlarang yang teramat candu di sore hari itu.
Sementara itu, di luar koridor, sebuah langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati unit apartemen Queen. Itu adalah Alya.
Gadis itu bener-bener tidak bisa menahan rasa penasarannya sejak melihat tanda merah di leher Queen pagi tadi di kampus. Didorong oleh rasa khawatir sekaligus ingin tahu siapa pria misterius yang telah merenggut kesucian sahabatnya, Alya nekat mendatangi apartemen Queen setelah jam kuliah usai.
Ting tong! Ting tong!
Alya menekan bel pintu apartemen dengan tidak sabaran. "Queen! Woi, Cegil! Buka pintunya! Gue tahu lo di dalem!" teriak Alya kencang.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
Alya mengernyitkan dahinya kesal. Ia kembali menekan tombol bel berturut-turut hingga lima kali. Ting tong! Ting tong! Ting tong! Namun, unit apartemen itu tetap bungkam seolah tidak ada penghuninya.
"Pasti lagi tidur nih anak, atau jangan-jangan lagi asyik pacaran di dalem?" gumam Alya curiga.
Berhubung Alya adalah sahabat karib yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri dan sangat sering menginap di apartemen ini, ia memiliki akses masuk khusus. Queen pernah mendaftarkan sidik jari dan memberikan kode kombinasi pintu apartemennya kepada Alya untuk situasi darurat. Dengan cekatan, Alya menekan rentetan angka di panel digital pintu ek tebal tersebut.
Pip-pip-pip... Klik.
Pintu apartemen terbuka pelan. Alya melangkah masuk ke dalam lobi kecil dengan santai. "Queen, lo budek ya?! Gue bel berkali-kali gak d—"
Kalimat Alya seketika tersangkut di tenggorokannya. Sepasang matanya membelalak sempurna, membeku di tempat dengan mulut yang terbuka lebar karena syok yang teramat luar biasa.
Di ruang tengah yang remang-remang, pemandangan vulgar terpampang nyata di depan matanya. Queen sedang duduk pasrah di atas pangkuan seorang pria bertubuh kekar tanpa baju, dan keduanya tengah saling memagut bibir dengan sangat brutal dan panas. Yang membuat jantung Alya seolah copot dari tempatnya adalah ketika pria tanpa atasan itu menolehkan wajah tegasnya dengan napas terengah-engah akibat terganggu.
Wajah tegas, rahang kokoh, dan netra elang yang sangat kaku itu...
"M-Mas Arga?!" pekik Alya dengan suara melengking histeris yang membelah keheningan apartemen.
Mendengar teriakan yang sangat familier itu, kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara tersebut seketika tersentak kaget. Hubungan intim mereka terputus seutuhnya. Arga dengan cepat menarik selimut kecil di sofa untuk menutupi tubuh polos Queen yang hanya mengenakan bra, sementara wajah tegas bapak-bapak usia 30 tahun itu seketika memerah padam karena tertangkap basah oleh adik kandungnya sendiri dalam posisi yang sangat tidak senonoh.
Queen tidak kalah syok. Ia mengerjapkan matanya bingung, menatap Alya lalu beralih menatap Arga yang tampak salah tingkah luar biasa.
"Al? Kok lo bisa masuk?" tanya Queen dengan suara serak pasca berciuman, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang. Namun, detik berikutnya otak Queen menangkap kejanggalan dari teriakan Alya tadi. "Tunggu... barusan lo panggil Pak Arga apa? Mas?!"
Alya melangkah maju dengan emosi yang campur aduk antara syok, tidak percaya, namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam mendadak membuncah rasa senang dan bahagia yang teramat sangat. Pria misterius berparfum mahal yang selama ini meninggalkan tanda di leher Queen ternyata adalah Arga, kakak kandungnya sendiri! Itu berarti Queen tidak berpaling ke pria lain, dan harapan Alya agar Queen menyelamatkan Arga dari Keysha bener-bener menjadi kenyataan!
"Iya, Queen! Dia kakak kandung gue! Pria kaku yang selama ini lo kejar-kejar, dosen killer yang lo taksir setengah mati ini adalah Mas Arga, abang kandung gue sendiri!" bongkar Alya blak-blakan dengan napas memburu.
Boom!
Pernyataan Alya laksana petir di siang bolong yang langsung menghantam otak Queen. Gadis cegil itu mematung dengan mulut setengah terbuka, menatap Arga dengan pandangan tidak percaya. "S-Sayang... beneran Alya adik kamu?"
Arga memejamkan matanya pasrah, memijat pelipisnya yang mendadak pening karena rahasia besar keluarganya kini telah terbongkar dengan cara yang paling memalukan di depan kekasih mudanya. "Ya. Alya adalah adik kandung saya, Queen. Kami sengaja merahasiakannya di kampus demi kenyamanan kuliahnya."
Alya langsung berkacak pinggang di depan sofa, menatap intens ke arah kakaknya dan sahabat dekatnya yang kini tampak seperti dua orang terdakwa yang tertangkap basah melakukan kriminal. Jiwa kepo Alya langsung merontak, meluncurkan rentetan pertanyaan beruntun seperti senapan mesin.
"Oke, sekarang jelasin ke gue! Sejak kapan kalian berdua punya hubungan kayak gini, hah?! Sejak kapan Mas Arga yang terkenal kaku kayak patung es bisa luluh sama cegil jenis Queen?! Terus tanda merah di leher Queen pagi tadi... itu beneran ulah Mas Arga juga kan?! Mas Arga sadar gak sih kalau Queen ini mahasiswi Mas sendiri?! Terus gimana nasib si Keysha nenek sihir itu di rumah?!" cecar Alya tanpa jeda dengan mata bulatnya yang berbinar-binar menuntut kejelasan.
Arga berdehem kaku, berusaha meraih kembali wibawanya yang sudah jatuh hancur berantakan di atas lantai apartemen. Ia mengambil kemejanya dan memakainya kembali dengan tergesa-gesa. "Alya, jaga bicaramu. Hubungan kami... privat. Dan jangan sebut nama wanita itu di sini."
Mendengar jawaban kaku dari kakaknya, Alya justru meledakkan tawa renyah yang teramat bahagia. Ia langsung melompat kecil dan duduk di kursi tunggal depan sofa, menatap Queen yang masih syok dengan senyuman miring yang menggoda.
"Wah, parah sih lo, Queen! Berarti selama ini gue temenan sama calon kakak ipar dong ya? Gila, selera abang gue ternyata liar juga kalau di balik pintu, sampai bikin lo jalan ngangkang kemarin pagi," goda Alya ugal-ugalan, membuat wajah Queen yang biasanya bar-bar kini mendadak merona merah sempurna karena malu luar biasa rahasia ranjangnya diledek oleh sahabatnya sendiri yang kini merangkap status sebagai calon adik ipar.
Di tengah situasi kacau namun penuh kehangatan tak terduga itu, Arga hanya bisa mengembuskan napas panjang pasrah, sementara Queen perlahan-lahan menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Arga. Rahasia besar telah tersingkap, namun ikatan tersembunyi di antara mereka justru terasa semakin erat, menantang, dan dipenuhi oleh benih-benih kebahagiaan baru yang siap tumbuh menghancurkan segala kepalsuan di masa lalu.